
“Bagiamana Leon? Apa kau suka dengan Rukiah?” Aminah penasaran dengan jawaban putranya.
“Enggak bu,” jawab Leon dengan jujur.
“Loh, kok bisa nak? Kau lihat sendirikan tadi, Rukiah orangnya baik, sopan santunnya bagus, cantik dan juga tinggi, kalau menurut ibu Rukiah sudah lebih dari cukup untuk menjadi calon istri mu,” Aminah mengatakan pendapatnya.
“Ibu benar, sayangnya aku enggak ada rasa apapun padanya,” ucap Leon.
“Hum? Kalau soal itu sih wajar saja nak, namanya juga baru bertemu, seiring berjalannya waktu kau pasti bisa membuka hatimu untuk Rukiah, pacaran setelah menikah itu juga seru loh nak.” Aminah berkata demikian karena dirinya juga di jodohkan dengan suaminya.
“Aku belum bisa memutuskannya sekarang bu, karena menikah adalah urusan sakral.” Leon yang telah pacaran lagi dengan Chana menolak halus perjodohan yang ibunya lakukan dengan Rukiah.
“Pelan-pelan saja nak.” Aminah tak terlalu menekan anaknya, karena ia tahu kalau Leon belum bisa melupakan Chana.
“Iya bu,” sahut Leon.
🏵️
Chana yang telah selesai berbicara dengan Artnya masuk ke dalam kamar untuk memeriksa keadaan suaminya.
“Mas?” Chana menuju ranjang.
“Sayang.” Stefan menggenggam tangan Chana.
“Mas, tangan mu kok panas banget.” walau ia tak mencintai Stefan namun rasa manusiawi dalam dirinya tak tega bila melihat suaminya menderita.
“Aku hanya demam biasa sayang, nanti juga sembuh kok, aku sudah minum obat.” walau badannya terasa tidak nyaman dan sulit bergerak, Stefan tak mau pergi ke rumah sakit, sebab ia takut ada yang melihat mayat yang ada di bawah ranjangnya.
“Mas, nanti tambah parah loh, ayo kita berobat dulu,” ujar Chana.
“Aku sudah minum Proris sayang, jangan berlebihan begitu dong, jalan kesana sudah membuang waktu ku, lebih baik aku istirahat, ya kan?” kemudian Stefan menepuk-nepuk ranjang.
Puk puk!
“Duduk disini.” Stefan tak mau menyentuh Chana karena ia takut istrinya tertular.
“Iya mas.” Chana pun duduk di sebelah Stefan.
“Chana, kau mungkin akan bosan mendengar ini, tapi aku benar-benar sangat mencintai mu, apapun yang ku lakukan itu semua demi kebahagiaan mu.” Stefan mengungkapkan isi hatinya agar Chana tak meninggalkannya.
“Aku tahu mas dan aku sangat berterimakasih pada mu.” Chana mengelus puncak kepala Stefan.
“Ayo kita tidur.” Stefan pun menggeser tubuhnya ke sebelah dinding.
Kemudian Chana berbaring dan menatap ke arah Stefan.
“Tidurlah mas, mudah-mudahan besok demam mu sudah turun,” ucap Chana.
“Iya sayang ku.” kemudian Stefan memejamkan matanya. Begitu pula dengan Chana.
Aku akan pergi setelah Chana tidur nyenyak, batin Stefan.
Ia yang belum membuang mayat Lilis tak bisa menunda lebih lama lagi.
__ADS_1
3 jam kemudian setelah Chana tertidur pulas Stefan membuka matanya. Lalu ia menoleh ke sebelahnya.
“Aku harus berangkat sekarang.” perlahan Stefan turun dari atas ranjang dengan mata tetap fokus pada istrinya yang sedang tidur, tangan jenjang Stefan menarik tubuh Lilis yang ada di bawah ranjang sekuat tenaga.
Srekkk.. Srekk!
Lilis yang lumayan berat menimpulkan bunyi gesekan ke lantai.
Deg deg deg!
Jantung Stefan berdebar dengan sangat kencang, karena ia takut ketahuan oleh istrinya.
Sreek!!!
Dengan susah payah akhirnya Stefan berhasil mengeluarkan tubuh Lilis.
“Harus pakai apa ku bawa mayat ini?” Stefan tak tahu cara membawa jasad Lilis keluar dari kamar itu.
Di tengah kebingungannya Stefan pun ingat kalau ada kain putih di dalam lemari.
Stefan dengan cepat menuju lemari dan membuka pintunya dengan sangat pelan.
Krieeett...
Setalah itu Stefan mengambil kain panjang tersebut dan bergegas menuju Lilis.
Stefan yang waspada membalut tubuh Lilis dengan cepat seraya sesekali melihat ke arah Chana.
Selama perjalanan menuju mobil Stefan melihat ke kiri dan kanan karena ia takut jika ada yang melihatnya membawa sesuatu yang bisa saja membuat orang lain curiga.
Stefan yang telah sampai ke mobil memasukkan paksa tubuh Lilis tepatnya di bangku bagian belakang kemudi.
Setelah itu ia masuk dan melaju kencang meninggalkan rumahnya.
“Hufft!!” Chana mengela napas panjang karena menahan jantungnya yang berdebar kencang.
Ternyata suara gesekan tubuh Lilis yang tadi berhasil membuat Chana bangun.
Ia juga melihat dengan jelas aksi suaminya meski hanya membuka kelopak matanya sedikit saja.
“Gila!” Chana membeku karena tak menyangka tidur bersama mayat malam itu.
“Bukan tidak mungkin kalau aku juga akan di bunuh kalau ketahuan selingkuh.” Chana yang takut menjadi korban selanjutnya menghubungi polisi.
Chana pun menceritakan semua yang ia lihat dan ketahui pada sang polisi.
Sekarang suami ibu pergi ke arah mana? 📲 Polisi.
Saya kurang tau pak, yang jelas suami saya pakai mobil B1219, 📲 Chana.
Baiklah, kami akan segera menyelidikinya, 📲 Polisi.
Setelah sambungan telepon terputus Chana merasa lega.
__ADS_1
“Kau harus tertangkap, karena orang jahat harus di adili.” Chana merasa senang karena sebentar lagi Stefan masuk penjara.
🏵️
Pukul 03:00 Stefan sampai di rumah keduanya dan Sarah.
Ia pun turun dan mengeluarkan jasat Lilis dari dalam mobil.
“Kali ini juga harus berhasil.” Stefan pun meletakkan tubuh Lilis ke dalam tong sampah.
Setelah itu Stefan menyiram artnya dengan bensin.
Surr!!
“Maaf Lis, aku terpaksa membunuh mu untuk menyelamatkan masa depan ku.” kemudian Stefan menyalakan korek api yang selalu ia bawa kemana-mana.
Cetek!
Warr!!
Si jago merah pun melahap tubuh Lilis yang tak bernyawa.
“Semoga ini yang terakhir, aku enggak mau melakukannya lagi ya Tuhan.” Stefan berniat untuk taubat.
Seperti sebelumnya Stefan kembali menunggu hingga Lilis jadi debu.
Stefan yang belum pulih kali itu masuk ke dalam rumah untuk istirahat.
“Nanti juga habis sendiri seperti sebelumnya.” kemudian Stefan masuk ke dalam rumah untuk tidur.
Setelah 30 menit Stefan meninggalkan halaman belakang, seorang bapak-bapak paruh baya yang baru pulang kerja melihat api besar melahap tembok rumah Stefan.
“Wah! Kebakakar nih!” Celetuk Dion yang tinggal tak jauh dari rumah Stefan.
Dion yang takut api itu merambat kemana-mana memutuskan untuk menelepon polisi.
Halo pak, tolong datang ke jalan XX no 8 ada rumah yang terbakaran pak, 📲 Dion.
Siap pak, kami akan kesana sekarang juga, 📲 polisi.
Setelah melaporkan peristiwa itu Dion pun memanggil orang-orang untuk sama-sama memadamkan api di rumah Stefan yang sebentar lagi akan merambat ke tiang listrik.
Stefan yang ada dalam rumah semakin tertidur nyenyak. Ia pikir semua berjalan dengan lancar.
“Ayo, Ayo! Sebelum apinya pergi ke rumah juga.” Dion pun menuntun orang-orang untuk masuk ke dalam rumah melalui pagar rumah yang terbuka.
Warga yang datang pun melihat kalau mobil Stefan terparkir di depan pintu utama.
“Ya Tuhan, jangan-jangan pemilik rumah sedang tidur, cepat selamatkan orang yang ada di dalam rumah!” titah Dion.
...Bersambung......
__ADS_1