
Leon dan Lisa pun melanjutkan makan mereka hingga selesai.
Setelah itu Leon memberikan uang satu juta untuk Lisa.
“Ini,” Leon meletakkannya tepat di hadapan Lisa.
“Ini apa dok?” tanya Lisa dengan perasaan bingung.
“Ongkos pulang, maaf aku enggak bisa mengantar mu.” kemudian Leon bangkit dari duduknya.
“Aku senang bisa menghabiskan waktu bersama mu malam ini.” setelah itu Leon meninggalkan Lisa untuk pergi terlebih dahulu.
“Tega banget sih dok, pada hal aku enggak butuh uang.” Lisa merasa sedih dengan sikap Leon padanya.
🏵️
Leon yang sedang menyetir memikirkan ekspresi Chana yang melihatnya jalan dengan Lisa.
“Kenapa kau begitu berarti? Pada hal kau sudah berulang kali mengecewakan aku.” Leon marah pada dirinya yang tak dapat melupakan Chana.
Leon yang tak bisa menahan rasa rindu di hatinya mengambil handphonenya dan mendial nomor Chana.
🏵️
Stefan yang baru selesai mandi mendengar handphone istrinya berdering.
Ketika Stefan memeriksanya, seketika raut wajahnya berubah jadi masam.
“Ternyata bicara baik-baik enggak ada gunanya padanya.” Stefan pun mengangkat panggilan Leon.
Ada apa dok? Istri ku sedang mandi, apa perlu ku panggilkan? 📲 Stefan.
Tidak usah, maaf sudah menggangu waktunya pak,📲 Leon.
Iya, dan tolong jangan pernah hubungi istri ku kalau bukan jam kerja, karena itu sangat tidak pantas! Stefan.
Baiklah, maafkan saya, 📲 Leon.
Stefan yang tak suka Leon langsung mematikan sambungan teleponnya.
Ceklek!
Suara pintu kamar mandi yang terbuka membuat Stefan menoleh ke sumber suara.
“Siapa yang menelepon mas?” tanya Chana sebab ia melihat Stefan memegang handphonenya dengan sangat erat.
“Mantan mu!” pekik Stefan.
“Oh.” Chana yang ingin memakai baju pun membuka lemari yang ada di kamar itu.
Drakkkk!!!
__ADS_1
Ketika Chana melihat baju-baju yang ada dalam lemari amarahnya kembali memuncak.
“Jadi mas ingin aku memakai baju-baju kak Sarah?!” Chana memelototi Stefan.
“Pakai saja, kalau mau yang baru besok kita beli,” ucap Stefan.
“Enggak! Untuk apa aku memakai barang yang bukan punya ku!” Chana yang tak bisa di ajak kerja sama membuat Stefan hilang kesabaran.
“Heh!” Stefan menarik kasar tangan Chana.
“Lepas!” Chana mencoba melepas tangannya.
“Diam! Jangan cari masalah dengan ku Chana! Harusnya kau bersyukur dan berterimakasih karena aku sudah menyelamatkan mu dari jalanan dan menyayangi mu selama ini!” Stefan menunjuk kasar ke wajah Chana.
“Tapi kita menikah berdasarkan perjanjian,” ucap Chana.
Plak!
Stefan yang sudah tak tahan melayangkan satu tamparan.
Chana yang mendapat tindakan kekerasan itu memegang pipinya yang terasa sakit.
“Hufff!!!” Stefan menghela napas panjang, karena ia menyesal telah menyakiti istrinya.
”Maafkan aku.” Stefan memeluk Chana yang matanya memerah menahan air mata.
“Aku benci kau!” pekik Chana.
“Ayo tidur.” Stefan menuntun Chana untuk naik ke atas ranjang. Lalu Stefan meletakkan kepala Chana di pangkuannya.
“Sebenarnya kau kurang ajar, aku bisa memaklumi karena aku sangat mencintai mu.” Stefan pun mengelus rambut panjang Chana hingga wanita cantik itu tertidur dalam tangisnya.
Stefan yang lelah pun meletakkan kepala Chana ke atas bantal, setelah itu ia berbaring di sebelah Chana.
“Mimpi indah sayang.” Stefan mengusap air sisa air mata Chana dengan ibu jarinya.
🏵️
Aminah yang akan masuk rumah melihat mobil putranya datang.
“Leon, kok baru pulang sekarang nak?” sapa Aminah yang berdiri di teras.
Namun Leon yang banyak masalah di kepalanya tak mendengar ibunya bicara apa.
“Ibu?” Leon terkejut saat melihat ibunya ada di hadapannya.
“Leon, ada apa nak?” Aminah memegang pundak putranya.
“Enggak ada apa-apa bu, aku hanya lelah,” ucap Leon.
“Jujur Leon, jangan bohongi ibu nak.” Aminah pun menuntun tangan putranya untuk duduk di kursi besi yang ada di sebelah pintu utama.
__ADS_1
“Ibu enggak akan suka mendengarnya,” ucap Leon.
“Apa ini soal dia?” Aminah tahu itu tentang Chana.
“Iya bu, maafkan aku yang sudah durhaka pada ibu dan ayah, aku sudah mencoba tapi aku tetap tak bisa berpaling dari Chana, aku terlanjur cinta padanya bu.” Leon Sedih karena telah mengecewakan ibunya.
Puk puk!
Aminah menepuk punggung Leon dengan lembut.
“Kau baru mencoba beberapa hari nak, nanti juga terbiasa, ibu akan membantu mu, besok kita bertemu di kafe @saya_muchu karena ibu ingin mengenalkan seorang gadis cantik dan juga baik untuk mu, dia juga sangat bagus agamanya, tidak pernah pacaran, wanita hijaber dan sudah naik haji, pasti Rukia akan bisa membuat mu lupa pada perempuan itu.” Aminah begitu membanggakan putri sahabat lamanya.
“Terserah ibu saja.” Leon pasrah dengan apa yang ibunya katakan.
“Bagus nak, ibu yakin dia adalah wanita yang terbaik untuk mu.” Aminah yakin kalau Rukiah bisa membawa Leon ke jalan yang benar.
“Iya bu, aku percaya pada ibu.” setelah itu Leon dan Aminah bangkit dari duduk mereka dan masuk ke dalam rumah
🏵️
Keesokan harinya Chana yang bangun dari tidurnya bangkit dari ranjang dan menurunkan kakinya ke lantai.
“Eh, apa ini?” Chana merasa menginjak benda lunak.
Saat ia menyingkirkan kakinya dan mengambil sesuatu yang baru ia injak, Chana pun mengernyitkan dahinya sebab itu adalah sebuah daging kecil yang baunya sangat menyengat di hidung.
“Apa ini?” Chana yang merasa pusing dengan aroma daging itu pun memutuskan untuk membuangnya ke tong sampah yang ada di kamar itu.
Setelah itu Chana keluar menuju dapur untuk melihat sesuatu yang bisa di makan disana.
Sesampainya ia, Chana pun melihat Lilis yang sedang memasak ikan tuna goreng.
“Apa kau art disini?” sapa Chana yang ingin berkenalan dengan Lilis.
“Eh, nyonya.” Lilis tersenyum canggung.
“Saya Chana, apa kau sudah lama kerja disini?” Chana bertanya sebagai basa-basi semata.
“Iya nyonya, tapi kami semua telah di pecat, saya belum pulang karena suami saya belum datang karena motornya mogok dan enggak ada bengkel di jalan yang ia lewati nyonya,” terang Lilis.
Mendengar penyataan Lilis hati Chana menjadi bertanya-tanya.
“Kenapa kalian semua di pecat?” Chana ingin tahu apa yang terjadi sebenarnya.
“Entahlah, pada hal kami semua enggak punya salah apapun, kata tuan nyonya tak menyukai kami, nyonya... aku sangat butuh uang untuk membayar hutang, tolonglah nyonya, katakan pada nyonya Sarah dan tuan untuk tetap mempekerjakan ku.” Lilis berharap Chana mau membantunya.
“Aku bisa katakan pada tuan, tapi tidak untuk kak Sarah, karena kak Sarah sudah enggak di rumah ini lagi,” ujar Chana.
“Apa? Sejak kapan nyonya pergi? Karena sejak tuan pergi membawa koper besar malam itu, nyonya masih ada di kamar,” terang Lilis.
...Bersambung......
__ADS_1