Buaya Darat Yang Terhormat

Buaya Darat Yang Terhormat
Tangan Pembawa Berkah


__ADS_3

Sesampainya di meja makan Leon pun duduk di sebelah Chana dan Amina bersebelahan dengan Pratama.


Chana yang akan jadi menantu pun berinisiatif untuk melayani keluarga calon suaminya.


Kemudian ia pun bangkit dari duduknya dan mengambil piring yang ada di atas meja.


“Kau mau apa?” tanya Leon.


“Mengambil nasi,” sahut Chana seraya memegang piring.


“Tidak usah, kau duduk saja.” Lalu Leon menarik tangan Chana untuk duduk kembali.


Kemudian Leon mengambil piring dan nasi untuk kekasihnya.


Amina dan Pratama yang melihat putra mereka melakukan itu syok bukan main, pasalnya Leon yang serba di layani malah melayani wanita kelas rendah seperti Chana.


Wah! Hebat juga dia, batin Amina.


Ia cukup kagum dengan Chana yang bisa menguasai putranya yang sangat nakal.


Kekagetan mereka tak cukup sampai disitu karena Leon mengambil lauk untuk gadis yang mereka benci itu.


“Harus habis ya.” Leon mengelus tangan kanan Chana yang memegang sendok.


Chana yang mendapat tatapan sinis dari Amina yang sedang mengambil nasi menjadi canggung dan tak nyaman.


Namun Leon yang tak mengerti situasi malah menunjukkan kasih sayangnya di hadapan kedua orang tuanya.


Ini sudah enggak benar, pasti Leon di pelet, batin Amina.


Ternyata putra ku tulus mencintai wanita ini enggak apa-apalah yang penting dia bahagia, soal masa lalu semua orang juga punya aib masin-masing, batin Pratama.


“Kapan kalian akan menikah?” Pratama penasaran dengan kelanjutan hubungan putranya.


“Setelah Chana resmi bercerai dengan Stefan yah,” ujar Leon.


“Benarkah?” Pratama mengangguk paham.


“Pastikan enggak ada masalah, nanti kalau belum beres malah di tuntut orang lagi,” ujar Amina.


“Tenang saja bu, kami akan mengurus segalanya.” Leon tersenyum pada ibunya.


Setelah itu mereka semua pun makan siang bersama.


30 menit kemudian mereka yang telah selesai makan beranjak menuju ruang tamu untuk mengobrol.


Amina yang berjalan paling depan tanpa sengaja menginjak ujung dressnya yang menyeret ke lantai hingga membuat ia tersandung dan jatuh.


“Ibu!” ucap Leon.


Lalu mereka bertiga pun sama-sama membantu Amina untuk berdiri.


“Pergelangan kaki ibu sepertinya terkilir.” Amina mengeluh karena merasakan sakit yang luar biasa.


“Biar ku periksa tante.” Chana yang pernah belajar mengurut pun meminta Leon untuk menggendong Amina ke sofa.


“Aku butuh minyak angin Leon,” ucap Chana.


Lalu Leon dengan sigap mengambilnya dan menyerahkannya pada Chana.


Selanjutnya Chana mulai mengoles minyak tersebut di pergelangan kaki Amina.


“Pelan-pelan!” Amina merasa sakit meski Chana menyentuhnya dengan lembut.


“Iya bu, tenang saja.” kemudian Chana mengurut pergelangan kaki Amina yang ternyata uratnya kejepit.


Rupanya sentuhan tangan Chana dapat membuat rasa sakit di kaki Aminah berkurang.


Bahkan setelah sakitnya hilang Amina malah ketagihan, sebab ia yang pakai heels kemana-mana sering merasa telapak kakinya tersiksa.


“Bagaimana tan? Apa sudah baikan?” tanya Chana memastikan.


“Belum, masih sakit, oh ya kaki yang ini juga ikut tersandung tadi, tolong di urut juga.” Amina berbohong karena ia masih ingin merasakan pijatan tangan Chana.


“Baik tante.” Chana yang masih memiliki tenaga penuh melanjutkan ke kaki kiri Amina.


Pratama yang tahu kalau itu hanya siasat Amina agar di pijat lebih lama mengajak putranya main bulu tangkis di lapangan olah raga yang ada di sisi barat rumah mereka.


“Ayo,” ucap Pratama.

__ADS_1


“Tapi yah, ibukan masih sakit.” Leon tak tega jika meninggalkan ibunya.


“Sudah, itu urusan wanita, tenang saja karena semua pasti baik-baik saja.” Pratama yang sudah lama kenal istrinya pun tahu kalau Chana telah berhasil satu langkah memasuki ruang hati istrinya.


“Aku ada di halaman samping, kalau sudah selesai datang kesana ya,” ucap Leon.


“Iya,” sahut Chana.


Setelah itu Leon dan ayahnya beranjak pergi meninggalkan kekasih dan ibunya di ruang tamu.


Aduh pijatan anak ini enak banget sih? Rasanya seluruh sakit di kaki ku jadi hilang, batin Amina.


“Hei.” Amina menggoyang kaki kirinya yang sedang di pegang Chana.


“Iya tan?” sahut Chana.


“Ayo ke kamar,” ujar Amina.


”Untuk apa tan?” tanya Lira dengan perasaan aneh.


“Tolong pijat seluruh tubuh ku.” tanpa menunggu persetujuan Chana Amina bangkit dari duduknya.


“Ayo ikuti aku!” ujar Amina.


“I-iya tan.” Chana tersenyum sebab itu adalah lampu hijau untuknya.


Berkat kelihaian tangannya perlahan-lahan Amina dapat menerima Chana dengan segala kekurangannya.


Amina juga tambah kagum dengan Chana yang tahu banyak obat dan juga bisa memasak ikan panggang manis pedas untuknya.


Pada saat keluarga Leon mengundang Chana makan malam, Chana pun memasak makanan favorit Amina di kosannya seperti opor ayam, dendeng sapi, ayam bakar dan bumbu pecel.


Makan malam kali itu membuat diet Amina kebablasan dan selama makan Amina terus melihat ke arah Chana.


Enggak apa-apa deh punya menantu janda yang penting pintar masak dan memanjakan tubuh ku, batin Amin.


Semakin hari hubungan antara Chana makin dekat berkat bantuan Leon yang selalu mengatakan apa yang di sukai dan tak di sukai ayah dan ibunya pada kekasihnya.


4 Bulan kemudian setelah masa iddah Stefan dan Chana habis, Chana dan Leon pun melangsungkan pernikahan yang di hadiri banyak tamu undangan.


Amina yang dulu benci Chana kini malah membanggakannya pada teman-temannya.


Chana yang akhirnya bersanding di pelaminan bersama Leon merasa bahagia tiada.


Ia pun menggenggam tangan Leon dengan sangat erat seolah tak ingin melepasnya lagi.


Malam harinya setelah keduanya telah berada dalam kamar Leon yang telah di dekorasi dengan indah, Chana memeluk Leon yang telah yang kini sudah menjadi suaminya.


“Sudah lama sekali ya.” ucap Chana seraya mengecup dagu lancip Leon.


“Iya, kau benar.” meski mereka sudah sering bercinta namun entah kenapa kali itu Leon grogi dan canggung saat akan melakukan malam pertama yang sebenarnya dengan Chana.


“Oh ya, minum itu dulu.” Chana pun menunjukkan ke obat penyubur yang ada di atas meja.


“Apa ini?” tanya Leon seraya melihat pil merah muda itu dengan seksama.


“Resep agar punya banyak anak, hehehe!” uc


sahut Chana seraya mengecup leher Leon.


“Geli tahu!” Leon yang belum siap menyatu malah terus di goda oleh Chana.


”Cepat minum! Katanya keluarga mu butuh keturunan selusin!” Chana tertawa seraya membuka kancing celana Leon.


“Iya-iya.” lalu Leon meminum obat yang di beli Stefan untuk Chana.


Gluk gluk gluk!


Setelah selesai Leon mencium kepala Chana yang sibuk karaokean.


“Chana.” Leon memanggil nama istrinya.


“Iya sayang?” sahut Chana seraya duduk dengan benar.


“Jangan pergi dari ku lagi, maaf kalau aku sudah membuat luka di hatimu selama ini.” Leon pun memeluk Chana dan mencium daun telinga Chana yang putih bersih.


“Aku juga, maaf karena aku sempat menikah dengan laki-laki lain, mulai sekarang aku akan mengabdikan hidup ku pada mu sampai aku mati.” setelah saling mencurahkan isi hati, Chana dan Leon pun menyatu dalam cinta yang sudah lama mereka nanti-nanti.


Satu bulan kemudian saat Leon dan Chana sedang berada di atas ranjang, Chana pun memberi amplop putih pada suaminya.

__ADS_1


“Apa ini?” tanya Leon dengan penasaran penuh.


“Buka saja,” jawab Chana.


Leon yang tak berpikir macan-macam pun membuka amplop tersebut dan mengeluarkan isinya yang ternyata adalah tespek yang menunjukkan 2 garis biru.


“Kau hamil lagi sayang?!” Leon begitu antusias menanyakannya.


“Iya sayang,” sahut Chana.


“Alhamdulillah!!” Leon yang merasa bersyukur langsung keluar kamar meninggalkan Chana.


“Ibu! Ayah istri ku hamil.” Leon pun menerobos masuk ke kamar orang tuanya tanpa permisi.


Brak!


Suara pintu yang terbuka kencang membuat Amina dan Pratama terbangun.


“Ada apa Leon?!” Amina pikir terjadi sesuatu karena wajah putranya begitu bersemangat.


“Chana hamil bu, ku rasa dia mengandung anak kembar.” ucap Leon dengan sembarang.


“Yang benar kau?!” Pratama senang bukan main mendengar kabar yang belum tentu benar itu.


“Iya ayah, mungkin kembar 5,” ucap Leon.


“Alhamdulillah akhirnya kita punya keturunan banyak yah.” Amina yang bahagia turun dari ranjang dan bergegas ke kamar putra dan menantunya untuk menemui Chana.


Chana yang tengah mengandung pun mendapat perhatian lebih dari seluruh anggota keluarga.


Namun saat di periksa ke dokter kandungan ternyata Chana hanya mengandung satu bayi saja.


Amina sempat bersedih namun ia tak marah pada menantunya karena ia yakin suatu saat Chana bisa memberikan mereka cucu lagi.


🏵️


Stefan yang ada di penjara pun mengetahui kabar kehamilan Chana yang di siarkan melalui berita di tv.


Ia pun tersenyum kecut karena yang berhasil mengisi rahim wanita jahat itu adalah Leon bukan dirinya.


“Mujur sekali nasib mu Chana.” Stefan twrtawa getir, hatinya sungguh kecewa dan tak terima Chana mengandung anak Leon, Meksi begitu ia tak bisa berbuat apapun karena dirinya kini tak berdaya dan bukan siapa-siapa Chana lagi.


🏵️


9 bulan kemudian Chana pun melahirkan anak pertamanya yang berjenis kelamin lami-laki, semua orang bersuka cinta menyambut malaikat kecil itu ke dunia.


“Namanya Adipati Arsya Gani.” Pratama sang kakek memberi nama indah itu untuk cucu pertamanya.


Oek... oek!!


Arsya kecil menangis dengan kencang saat Pratama menimangnya.


Semua orang yang ada di ruangan Chana di rawat menangis haru, terlebih Amina karena ke khawatirannya selama ini hilang.


Akhirnya kami memiliki pewaris, batin Amina.


Kebahagiaan keluarga itu pun lengkap, baik Amina dan Pratama begitu menyayangi Chana dan Arsya.


Chana yang mendapat perlakuan istimewa itu merasa terharu, karena Amina dan Pratama memperlakukannya layaknya putri kandung.


Rasa rindu pada kedua orang tuanya yang telah tiada pun terobati berkat kasih sayang orang tua suaminya.


Malam harinya ketika Leon dan Chana akan tidur Chana pun memeluk suaminya dengan erat.


“Aku sangat mencintai mu dan keluarga mu,” Chana mengungkapkan isi hatinya.


“Kami juga mencintai mu, terimakasih telah memberi si kecil untuk kami, jadilah ibu dan istri yang baik Chana.” Leon pun membalas pelukan istrinya.


“Iya sayang, kau juga harus jadi ayah dan suami yang setia,” pinta Chana.


“Itu sudah pasti,” sahut Leon.


Saat keduanya ingin bercumbu mesra tiba-tiba Arsya menangis.


“Hahaha... gagal lagi deh.” Chana tertawa karena putra mereka sering kali merusak suasana romantis ibu dan ayahnya.


“Mungkin dia pipis, ayo kita periksa.” Leon dan Chana pun bekerja sama mengurus bayi mereka yang mungil dan Lucu.


Tamat.

__ADS_1


__ADS_2