
Chana yang di tinggal senyum-senyum sendiri. Ia merasa sangat bahagia setelah sekian lama merana.
“Semoga kami bisa melewati segalanya.” Chana pun menutup pintu kosannya, lalu ia beranjak menuju kamar untuk istirahat.
🏵️
Leon yang baru sampai ke rumah menemui ibunya yang ada di dapur.
“Bu,” ucap Leon.
“Kau sudah pulang? Sini makan dulu.” Amina yang baru selesai makan menyeka sudut bibirnya dengan tisu.
Lalu Leon pun masuk dan duduk di kursi yang ada di sebelah ibunya.
“Kau pasti lapar kan?” ujar Amina.
“Iya bu, tapi sebelum makan aku ingin bicara pada ibu,” ujar Leon.
“Kau mau bicara apa nak?” Amina pun siap untuk mendengar cerita anaknya.
“Hufff!!” Leon menghela napas panjang karena ia merasa berat untuk mengatakannya.
“Apa ada masalah?” Amina khawatir karena Leon terlihat gelisah.
“Bu, aku dan Chana pacaran lagi dan kami berencana untuk menikah setelah...”
“Stop!” Amina menghentikan putranya yang belum selesai bicara karena ia tak menyukai topik itu.
“Tutup mulut mu, kau pasti sudah tahukan apa jawaban ibu?” mata Amina membulat sempurna karena merasa geram.
“Bu, dia akan cerai dengan suaminya, tolong restui pernikahan kami.” Leon menggenggam kedua tangan ibunya yang terlihat syok.
“Kau pernah memikirkan perasaan ibu dan ayah enggak sih? Setelah ibu berkata dari
A sampai Z otak mu enggak dapat mencerna dan memahami apa yang kita bahas berulang-ulang selama ini, Leon! Ibu enggak akan pernah mau memiliki hubungan apapun dengan dia!” Amina yang panas melihat putranya memilih pergi dari dapur.
“Ya Tuhan, bagaimana ini?” Leon memijat pelipisnya yang terasa sakit.
Sementara Amina yang baru sampai ke kamar bertemu suaminya yang baru selesai mandi.
“Kau kenapa?” Pratama merasa aneh melihat wajah istrinya yang tiba-tiba masam.
__ADS_1
“Si Leon pa, enggak jelas banget jadi orang! Sekarang A besok bisa jadi B!” Amina yang pening duduk di pinggir ranjang.
“Memangnya kenapa bu? Apa yang terjadi?” Prama penasaran dengan alasan istrinya menjadi marah-marah.
“Masa dia bilang ingin menikahi Chana setelah resmi bercerai dengan suaminya, gila banget kan pa? Pada hal banyak wanita lain di dunia ini, entah apa yang dia lihat dari perempuan rusak itu!” pekik Amina.
“Terus bagaimana bu?” Pratama bingung harus melakukan apa agar putranya mau menjauhi Chana.
“Kalau nekat menikahi perempuan itu, dia harus angkat kaki dari rumah ini, seluruh aset, atm, kartu kredit, rumah sakit ibu cabut! Ibu juga akan blacklist mereka berdua dimana-mana biar tahu rasa, terserah saja dia mau hidup di jalanan atau di hutan, sejak lahir hidup enak pasti enggak akan tahan lma hidup susah!” ujar Amina.
“Apa ibu tega? Bagaimana kalau dia mati kelaparan atau mencuri demi sesuap nasi?” Pratama mengatakan kemungkinan terburuk yang akan terjadi apabila membuang putra mereka yang kaya sejak lahir.
“Biarkan saja, itu akibatnya kalau durhaka pada orang tua.” Amina yang keras kepala tak perduli dengan nasib putranya jika ia mencekal rejekinya.
“Bu, jangan terlalu keras, dia darah daging mu loh.” Pratama tak rela jika putranya menderita.
“Makanya ayah bantu ngomong! Kasih paham ayah, biar anak mu itu bisa mikir mana yang baik dan buruk, orang tua enggak mungkin mendorong anak- anaknya ke jurang karena sudah jelas disana ada berbahaya!” Amina merasa stres karena ulah putranya.
“Kita hanya punya anak satu, tapi nakalnya minta ampun, andai ibu punya dua atau tiga sudah ibu tendang dia jauh-jauh hari!” Amina yang terbakar amarah meluapkannya pada suaminya.
“Sudah, sebaik ibu istirahat biar ayah yang bicara dengan Leon,” ujar Pratama.
“Iya-iya.” untuk menghindari ocehan istrinya Pratama yang telah selesai pakai baju bergegas keluar kamar menuju dapur.
Sesampainya Pratama ia pun melihat Leon yang sedang termenung.
“Leon.” Pratama menepuk pundak putranya lalu duduk di kursi bekas istrinya tadi
“Ayah?” Leon menoleh ke arah Pratama.
“Ayah sudah dengar dari ibu mu tolonglah nak jangan buat kami pusing, terutama ibu mu, carilah wanita lain,” pinta Pratama.
“Berat ayah, aku sudah terlanjur cinta dan aku tidak akan bisa hidup sampai tua kalau bukan dengannya, ayah mengertilah yang menjalani itu aku, apa menurut ayah lebih baik menikahi orang yang tidak kita sayangi?” Leon tanya pendapat ayahnya.
“Ayah dan ibu juga begitu,” ujar Pratama.
“Syukur kalau waktu bisa membuat aku menerima istri ku itu, bagaimana kalau aku tidak bisa dan tetap mencari Chana? Apa selingkuh itu lebih indah dari pada menghindari masalah besar itu sejak dini?” pernyataan Leon membuat Pratama berpikir keras.
“Leon...”
“Ayah, aku ingin menikah sekali seumur hidup, Chana memang buruk dan citranya enggak tidak bagus, tapi hati ku enggak akan baik-baik saja kalau kehilangan dia lagi.” isi hati Leon yang begitu tulus membuat Pratama bungkam.
__ADS_1
Ia juga bisa melihat betapa putanya mencintai wanita yang tak ada nilai lebihnya di mata mereka.
Leon benar juga, kalau dia selingkuh keluarganya pecah belah dan yang jadi korban nantikan cucu-cucu ku, batin Pratama.
“Kalau begitu terserah kau saja, yang penting jangan ada omongan yang tidak mengenakkan saat kau telah menikahinya, baik buruknya wanita itu kau pendam sendiri, karena kami enggak akan mau tahu.” Pratama pasrah akan pilihan putranya.
“Terimakasih banyak yah.” Leon senang karena telah mendapat restu dari ayahnya.
“Ayah harap kau bahagia dengan keputusan mu ini,” ujar Pratama.
“Iya yah, aku minta tolong untuk membujuk ibu agar mau merestui hubungan kami,” pinta Leon.
“Insya Allah nak.” setelah itu Pratama beranjak menuju kamar.
Leon yang telah mengantongi restu ayahnya tersenyum bahagia, ia pun memberitahu kabar bahagia itu pada kekasihnya melalui pesan elektronik.
Ayah sudah luluh, semoga ibu juga begitu, ✉️ Leon.
🏵️
Ceklek!
Pratama yang masuk ke dalam kamar melihat istrinya yang masih bangun duduk di atas ranjang.
“Apa katanya?” tanya Amina seraya menoleh ke arah suaminya.
Kemudian Pratama pun duduk di sebelah istrinya yang masih cemberut.
“Bu, ayah merestui hubungan mereka,” ucap Pratama.
“Papa serius?” Amina menatap tak percaya pada suaminya.
“Iya, karena di larang-larang juga enggak akan ada gunanya, gimana kalau kita tetap bersikukuh dia malah enggak mau menikah? Atau kalau dia terpaksa menikah karena kehendak kita dia selingkuh? Yang sengsara siapa? Bu, terserah anak kita saja mau menikah dengan siapa, yang penting dia bahagia.” Pratama mengatakan pendapatnya.
“Ayah mudah banget ya berubah pikiran, enggak konsisten, pokoknya ibu enggak mau.” Amina yang merajuk berbaring ke ranjang seraya membelakangi suaminya.
“Kalau begitu kau tidak akan melihat anak mu satu-satunya bersanding di pelaminan, coba bayangkan kira-kira orang bilang apa soal keluarga kita?” ucap Pratama.
Amina yang mendengar perkataan suaminya merasa gelisah, ia yang menjunjung tinggi kehormatan keluarga takut jika di cibir oleh para tamu undangan yang datang.
...Bersambung......
__ADS_1