
Mendengar pengakuan Lilis Chana merasa janggal sebab berbeda dengan penjelasan yang di berikan oleh Stefan.
“Mungkin kak Sarah keluar saat kau enggak lihat,” ucap Chana.
“Bisa jadi nyah, tapi kalau nyonya memang meninggalkan rumah, pasti sendal kesayangan nyonya yang ada di rak sandal pintu utama di bawa kemana pun nyonya pergi.” Lilis mengatakan kebiasaan majikannya.
Chana pun semakin di buat bingung dengan penjelasan Lilis.
“Coba nanti aku tanya mas Stefan.” Chana menjadi penasaran dengan keberadaan madunya itu.
“Iya nyonya,” sahut Lilis.
Chana yang lapar pun bergegas untuk makan meski itu masih keadaan subuh.
Kemana dia pergi? Kalau di pikir-pikir mana mungkin dia pergi meninggalkan rumah besarnya ini? batin Chana.
Chana yang sedang mengunyah nasinya pun tiba-tiba ingat dengan daging busuk yang baru saja ia buang.
Enggak mungkinkan mas Stefan membunuh kak Sarah? batin Chana.
Kecurigaan Chana pun semakin mencuat saat mengingat perkataan Stefan bahwa ia akan menjadikan Chana ratu satu-satunya di hidupnya.
Aku harus menyelidikinya, batin Chana.
Chana pun bangkit dari duduknya dan menyudahi makannya meski belum habis.
“Nyonya mau kemana?” tanya Lilis.
“Ke kamar,” ucap Chana.
Kemudian Chana mengambil kantong plastik bekas tempe yang ada di atas meja, kemudian ia bergegas untuk mengambil kembali daging yang ia buang.
Sesampainya di kamar Chana melihat Stefan masih tertidur pulas.
Chana pun diam-diam mengambil daging yang ada di tong sampah dengan menggunakan kertas yang ada di antara tumpukan sampah itu.
“Eh? Apa ini?” Chana menemukan topi hitam yang tak asing baginya.
“Kok bisa mirip dengan yang di pakai penyusup itu?” Chana pun menyakini kalau yang ingin mencelakainya selama ini adalah Stefan. Seketika bulu kuduknya berdiri.
“Tapi waktu kejadian mas Stefan kan masih di Italia?” Chana semakin di buat pusing dengan penemuannya pagi itu.
Chana yang tidak merasa aman di rumah itu pun mengambil tas kerjanya selagi Stefan belum bangun.
Chana juga tak lupa membawa topi dan daging yang akan ia cari tahu siapa pemiliknya.
__ADS_1
“Aku harus segera pergi.” Chana yang ingin beranjak dari kamar tiba-tiba di kejutkan oleh Stefan yang telah bangun.
“Mau kemana kau?!” pekik Stefan.
Mendengar suara suaminya jantung Chana menjadi berdebar kencang.
“A-aku mau pulang ke rumah mas, karena baju kerja ku yang bersih ada disana,” ucap Chana.
“Hari ini kau enggak boleh kemana-mana, temani aku di rumah,” ujar Stefan.
“Tapi akukan enggak libur mas? Nanti kalau aku di pecat bagaimana?”Chana terus berupaya agar bisa keluar dari rumah itu.
“Biar saja, lagi pula aku memang ingin kau berhenti kerja. Chana, biar aku yang cari uang, kau cukup di rumah saja, dandan yang cantik.” Stefan yang cemburuan ingin mengikat istrinya agar tak kemana pun.
“Enggak mas, apoteker itu adalah pekerjaan impian ku, cita-cita ku! Enak saja mas menyuruh ku untuk berhenti kerja, enggak mau!” Chana menolak permintaan suaminya.
Kemudian Stefan turun dari ranjang dan mendatangi Chana yang berdiri di dekat pintu.
“Istri ku, tugas utama mu itu mengurus suami mu, selagi aku mampu mencari nafkah, tolong tetap di rumah, abdikan dirimu hanya untuk ku seorang, mungkin selama ini kita enggak punya anak karena kau terlalu lelah.” Stefan terus membujuk Chana agar mau berhenti bekerja.
Chana yang tak bisa membantah keinginan Stefan terpaksa mencari akal.
“Baiklah, tapi izinkan aku keluar baik-baik dari sana mas, mas sendiri pasti tahu itikad kerjakan? Kalau aku memang harus resign, setidaknya aku memberikan surat pengunduran diriku, mas enggak keberatankan?”
Stefan yang tahu peraturan kerja pun faham dengan yang di maksud istrinya.
“Iya mas.” Chana yang dapat izin untuk pergi ke rumah sakit merasa senang bukan main.
“Ayo, kita mandi dulu.” Stefan pun menarik tangan Chana menuju kamar mandi.
Chana yang ingin lolos pun menuruti keinginan Stefan.
🏵️
Tepat pada pukul 08:00 pagi, Leon yang akan masuk gerbang rumah sakit melihat Chana sedang berbicara dengan Stefan.
Deg!
Hati Leon seketika hancur apa lagi saat itu Stefan mengecup kening Chana.
“Nanti ku jemput.” setelah mengatakan itu Stefan masuk ke dalam mobilnya.
Leon yang terbakar api cemburu pun masuk ke dalam rumah sakit tanpa menklakson Chana yang ia lewati.
Chana yang melihat mobil Leon merasa senang, meski ia memendam rasa kecewa saat Leon jalan bersama Lisa.
__ADS_1
“Entah kenapa aku jadi bersemangat melihat dia,” gumam Chana.
Chana yang ingin menyerahkan daging serta topi yang baru saja ia bawa dari rumah suaminya dan Sarah segera menuju ruangan forensik.
Sesampainya ia di depan ruangan Cipto, Chana langsung mengutarakan niatnya.
“Dok, aku mau minta tolong untuk mencari tahu ini daging apa dan juga DNA pemilik topi ini,” ucap Chana.
“Dapat dari mana?” tanya Cipto.
“Nanti akan ku ceritakan kalau hasilnya sudah keluar, jangan katakan pada siapapun soal ini.” Chana percaya Cipto dapat menjaga rahasia sebab Cipto adalah orang yang sangat menjaga privasi setiap pasien yang ia tangani.
”Baiklah, akan langsung ku kerjakan, kebetulan hari ini aku lagi senggang,” ucap Cipto.
“Terimakasih banyak.” setelah itu Chana kembali ke ruang farmasi untuk bekerja.
🏵️
Stefan yang kembali ke rumah melihat Lilis yang sedang duduk di teras.
“Hei! Sedang apa kau disini?” Stefan tidak suka dengan keberadaan Lilis disana.
“Suami ku belum datang menjemput tuan, dia masih setengah jalan.” wajah Lilis yang begitu menyedihkan membuat Stefan tak tega mengusirnya detik itu juga.
“Baiklah, tapi kau tak boleh masuk ke dalam rumah, bawa barang-barang mu kesini.” Stefan yang tak ingin ada kesalahan tidak mengizinkan Lilis untuk beraktivitas dalam rumah.
“Siap tuan.” Lilis pun masuk ke dalam rumah untuk mengambil koper yang ada dalam kamarnya. Setelah itu ia keluar lagi dan duduk di teras.
Stefan yang akan berangkat kerja menemui Lilis.
“Aku ingin sebelum aku pulang kau sudah tidak ada disini, mau suami mu datang atau tidak kau wajib angkat kaki,” ucap Leon.
“Iya tuan, maaf sudah menyusahkan tuan.” Lilis menundukkan kepalanya saat Stefan lewat di hadapannya.
Setelah Stefan pergi Lilis mengelus dadanya yang dari tadi berdetak kencang karena takut pada Stefan.
“Pada hal dulu tuan orangnya lemah lembut dan baik hati pada semua orang.” Lilis tak mengerti mengapa majikannya berubah drastis dalam waktu singkat.
“Aku kan memang sudah tidak bekerja disini lagi, sepertinya enggak ada salahnya kalau aku mengambil Kenangan-kenangaan dari rumah ini.” Lilis yang butuh uang lebih ingin mencuri barang berharga milik majikannya.
Ia pun beranjak menuju halaman belakang karena ia tidak mengunci pintu dapur.
“Pasti emas nyonya banyak di lemarinya.” Lilis kegirangan saat akan melakukan aksinya. Terlebih di rumah itu hanya ada ia sendiri.
...Bersambung......
__ADS_1