
Jantungnya berdetak dengan kencang ketika mengetahui kekasihnya hamil.
“Aku harus pulang.” Leon meletakkan mikropon nya di atas meja.
“Kenapa?” tanya Devi, sebab kepergian Leon begitu mendadak.
“Ada urusan penting.” Leon yang ingin menemui Chana langsung keluar dari room karaoke tersebut.
Ia pun pergi ke parkiran untuk mengambil motor, kemudian tancap gas menuju kosan Chana.
15 menit kemudian Leon yang telah tiba mengetuk pintu kosan Chana.
Ceklek!
Chana membuka pintu dengan mata yang bengkak.
Leon yang tahu itu karena calon bayinya memeluk Chana dengan erat.
“Aku enggak ingin anak ini, hiks...” Chana menangis sesungukan.
Kemudian Leon melepas pelukannya. ”Aku akan menikahi mu, akan ku katakan pada kedua orang tua ku, mungkin selama kita di bawah umur, pernikahan kita akan di rahasiakan dulu, tapi setelah tamat SMK, kita akan adakan nikah ulang dan resepsi,” ujar Leon.
“Leon, aku masih muda, masa depan ku masih panjang, aku enggak mau menghabiskan waktu ku untuk menjadi seorang istri, ibu dan juga menantu yang baik di keluarga mu, tolong... aku juga punya cita-cita yang ingin ku raih, masih banyak tempat yang ingin ku kunjungi, intinya aku tidak siap!” Chana memaparkan semua alasannya.
“Kau hanya perlu menganggur satu tahun, soal mengurus anak tugas mu hanya menyusui dan tidur dengannya kalau malam, selebihnya akan kita titip ke pengasuh,” ujar Leon.
Leon ingin anak itu tetap hidup, sebab keluarganya yang susah mendapat keturunan pasti bahagia mendapat kabar baik itu meski keadaannya hamil di luar nikah.
“Tidak! Andaikan kita jadi, tidak ada yang bisa menjamin kalau kau bisa menahan dirimu untuk tidak selingkuh, kau pikir aku enggak tahu kelakuan mu di luar?!” Chana pun memperlihatkan pesan dari pacar Leon.
“Aku cuma cari hiburan karena aku jenuh dengan kelakuan mu,” ucap Leon.
“Sudahlah, jangan paksa aku menjadi istri mu.” Chana yang lelah berniat menuju kamarnya.
“Kalau sampai kau menggugurkan anak itu, kau akan menyesal! Tiada maaf untuk mu! Lagi pula aku bingung dengan mu, meski pun aku sudah berbuat baik, aku tetap salah di mata mu, pada hal yang menawarkan diri pada ku kau kan?!” kali itu Leon memarahi Chana.
“Itu semua karena kau selingkuh! Kau buaya!” terang Chana.
“Tapi aku tidak pernah memanfaatkan wanita mana pun untuk kepentingan nafsu ku belaka, aku menjalin hubungan dengan kalian karena saling membutuhkan, aku butuh hiburan kalian butuh uang!” pekik Leon.
“Jadi kau tidak merasa buaya?” Chana menatap tajam mata Leon.
“Ya aku memang buaya, bedanya dengan yang lain, aku terhormat karena setiap yang ku lakukan ada nilainya, tidak ada yang gratis, coba! Lelaki mana yang mau menabur uang pada pacarnya? Paling selesai pakai bungkus dan buang!” penuturan Leon yang tidak meleset dari kenyataan membuat Chana bungkam.
__ADS_1
“Chana, jangan banyak debat dengan ku, karena aku tidak akan memberi mu toleransi, kalau kali ini kau cari gara-gara lagi pada ku, jadi pikirkan baik-baik sebelum mengambil tindakan.” Leon memberi peringatan besar pada kekasihnya
Setelah itu lelaki tampan itu pulang ke rumahnya dengan perasaan kesal.
“Semakin di sayang semakin kurang ajar! Akan ku beri kau pelajaran sampai kau menyesal seumur hidup mu, kau pikir aku rugi kalau kita berpisah?!” Leon mengoceh untuk meluapkan isi hatinya.
🏵️
Di dalam kamar Chana memikirkan dalam-dalam apa yang di katakan Leon,
“Kalau om dan tante tahu keadaan ku, pasti mereka akan semakin merendahkan ku.” Chana yang terlalu memikirkan masa depan dan pandangan orang lain malah nekat menggugurkan kandungannya yang baru berusia 5 minggu.
Satu minggu kemudian, Leon pun mendatangi Chana yang sedang menggiling rempah-rempah untuk membuat obat batuk di ruang praktik.
“Kemana saja kau 5 hari ini? Telepon lu juga enggak di angkat, apa kau kurang enak badan?” Leon mengkhawatirkan Chana sebab gadis cantik itu sedang hamil.
“Aku menggugurkannya, untuk itu aku perlu libur untuk memulihkan diri.” ucap Chana dengan suara yang redup.
“A-apa?” Leon tak menyangka jika gadis seperti Chana tidak hanya haus uang tetapi juga bersifat kejam.
“Maafkan aku Leon.” ucap Chana tanpa memikirkan perasaan Leon.
“Bahkan binatang saja menyayangi anaknya, bagaimana seorang makhluk sempurna seperti mu tak memikirkan rasa sakit yang di rasakan anak mu sendiri?” mata Leon memerah karena menahan emosi dalam hatinya.
Ia yang ingin meledak menarik tangan Chana untuk mencari tempat yang cocok untuk mengobrol.
Sesampainya di ruang kelas yang tak di pakai Leon membanting tubuh Chana ke dinding.
“Itu bukan hanya anak mu! Bisa-bisanya hati mu tak ragu saat menggugurkannya, walau pun aku kurang ajar, tapi aku tidak akan pernah kepikiran untuk menghabisi nyawa siapapun, termasuk darah daging ku sendiri! Tapi kau!” tangan Leon yang gatal memukul dinding yang ada di atas kepala Chana.
Aura Leon yang menakutkan membuat Chana menelan salivanya, ia juga tak berani menatap mata Leon.
“Bersihkan punya mu ke rumah sakit, jangan sampai kau kena penyakit serius.” Leon memilih pergi karena ia takut khilaf dan menghajar kekasihnya.
Chana yang baru pertama kali melihat Leon marah merasa gentar.
Ia pun memegang dadanya yang bergetar hebat.
“Maafkan aku.” Chana menyesal dengan yang ia lakukan, namun apa boleh buat, nasi telah menjadi bubur.
Saat ia ingin duduk di kursi yang ada di dekatnya, dering teleponnya pun berbunyi.
Halo, Raya? 📲 Chana.
__ADS_1
Kak, ada kabar buruk, 📲 Raya.
Kabar buruk apa?! 📲 Chana.
Ternyata tanah yang kita beli surat-suratnya palsu, penjualnya sudah kabur kak, 📲 Raya.
Apa? 📲 Chana.
Maafkan aku kak, aku yang salah, aku akan bertanggung jawab tapi kakak sabar dulu ya, karena aku tak punya uang sekarang, 📲 Raya.
Seketika Chana lemas mendengar berita buruk itu, handphonenya pun terjatuh ke lantai.
“Hiks...” ia pun menatap nanar ke arah Leon pergi.
“Apa ini karma instan untuk ku?” Chana meneteskan air matanya.
Uang yang ia kumpulkan dengan menjual harga dirinya raib seketika.
Ia yang tergunjang dan masih belum pulih total dari trauma pengguguran bayinya pingsan di tempat.
Bruk!
Bangun-bangun Chana telah berada di rumah sakit, saat ia menoleh ke sebelahnya ia pun melihat Leon tertidur pulas di atas bangku.
“Maafkan aku, Leon.” Chana mengelus puncak kepala kekasihnya.
Pada hal aku sudah jahat padanya, tapi dia tetap baik pada ku, hiks...” Chana menitikkan air matanya.
Leon yang mendengar isak tangis kekasihnya langsung terbangun.
“Bagian mana yang sakit?” Leon berpikir jika kekasihnya ada keluhan di bagian tertentu.
“Tidak.” Chana geleng-geleng kepala, lalu ia menggenggam tangan Leon.
“Beri aku kesempatan sekali lagi, aku menyesal dengan semua perbuatan buruk ku pada mu.” Chana berharap kalau Leon dapat menerimanya kembali.
“Hufff...” Leon menghela napas panjang karena kehilangan calon bayinya masih membuatnya berduka.
“Aku sudah memaafkan mu.” Leon yang gerah melihat Chana mencoba melepaskan genggaman kekasihnya.
Namun Chana yang tak ingin kehilangan malah mengencangkan pegangannya.
“Jangan tinggalkan aku, aku tak punya siapapun selain dirimu.” Chana yang baru sadar akan arti Leon untuknya tak ingin jika lelaki itu berpaling sungguhan padanya.
__ADS_1
“Ini tidak mudah, beri aku waktu untuk menenangkan diri.” Leon yang menerima banyak luka dari Chana tak bisa memberikan keputusan apapun saat itu, karena ia sangat terpukul dengan sikap Chana yang tak ada ketulusan padanya.
...Bersambung......