Buaya Darat Yang Terhormat

Buaya Darat Yang Terhormat
Calon Mertua


__ADS_3

Malam itu Amina tak dapat tidur dengan tenang sebab ia berpikir keras akan keputusan suaminya.


Rese banget pria tua ini, enggak kompak, Dasar! Ayah dan anak selalu membuat ku susah! batin Amina.


🏵️


Pagi harinya Chana yang off kerja mengunjungi Stefan di penjara.


Ia pun membawa banyak makanan untuk suaminya. Tak lama Stefan pun datang menemuinya.


Chana yang terlihat cantik membuat rasa rindu Stefan terobati.


“Untuk apa kau kesini?” tanya Stefan yang duduk di hadapan Chana.


“Untuk menyerahkan ini.” Chana meletakkan surat cerai di hadapan Stefan.


Wajah Stefan jadi merah padam saat membacanya.


“Hum!” Stefan tertawa getir karena Chana benar-benar seperti monster kali itu di matanya.


“Mas cukup tanda tangan, biar pengacara yang mengurusnya,” ucap Chana.


“Chana, kau memang luar biasa, pada hal aku baru saja masuk penjara.” Stefan geleng-geleng kepala.


“Lebih cepat lebih baik mas, aku sudah lama menantikan perceraian ini, mohon maafkan aku karena terus memberi luka di hatimu,” ujar Chana.


“Baiklah, menolak pun sepertinya enggak akan berguna, pastinya kau akan gunakan segala cara untuk lepas dariku.” dengan hati terluka dan menahan rasa sedih yang mengoyak harga dirinya, Stefan akhirnya menanda tangani surat cerai yang di bawa istrinya.


Setelah itu Chana mengambilnya dan memasukkannya ke dalam tasnya.


“Dengar ya mas, aku tidak akan mengambil harta mu sedikit pun, jadi kau masih bisa menikmatinya setelah kau keluar dari sini.” kemudian Chana menyodorkan oleh-olehnya pada suaminya.


“Hanya ini yang bisa ku berikan untuk mu, aku juga tidak akan mengunjungi mu lagi, selamat tinggal mas.” kemudian Chana yang tak berperasaan bangkit dari duduknya.


Stefan yang menerima kekejaman secara batin itu menitihkan air matanya.


Sakit! Tapi apa boleh buat aku yang bodoh karena terlanjur mencintai orang yang tak pernah melihat ke tulisan hatiku, batin Stefan.


“Terimakasih untuk segalanya mas Stefan.” setelah itu Chana meninggalkan Stefan yang berurai air mata.


Ia pun melihat kepergian Chana yang sebentar lagi akan menjadi mantan istrinya dan segala keindahan yang selama ini ia lalui masih tergambar jelas di ingatannya.


“Chana, kau adalah wanita yang berhasil membuat ku tenggelam dalam dosa dan berakhir dalam kesendirian.” Stefan yang kini kehilangan cahaya hidupnya menjadi prustasi.


🏵️


Chana yang berada di parkiran terbayang akan raut wajah Stefan.


“Kau harus kuat Chana, lagi pula yang kau jalani selama ini hanyalah hubungan kontrak.” Chana berbicara pada dirinya sendiri.


Ia yang ingin pulang pun mendapat telepon dari Leon.


Halo sayang? 📲 Chana.


Kau lagi dimana? 📲 Leon.


Lagi di jalan mau pulang ke rumah, 📲 Chana.

__ADS_1


Jangan langsung ke rumah ku saja, ayah dan ibu ingin bertemu dengan mu, 📲 Leon.


Mendengar kabar mendadak itu seketika Chana menjadi panik, sebab ia tak punya persiapan apapun untuk bertemu keluarga suaminya.


Enggak bisa besok ya sayang? 📲 Chana.


Sekarang saja, mumpung suasana hati ibu lagi bagus, 📲 Leon.


Ya sudah, aku harus bawa apa nih? 📲 Chana.


Apa saja yang bisa di makan, 📲 Leon.


Baiklah, 📲 Chana.


Chana yang buru-buru pun mematikan telepon dari Leon, setelah itu ia melajukan motornya dengan kecepatan maksimal.


Saat dalam perjalanan Chana melihat toko buah.


Ia pun berhenti sejenak untuk membeli jeruk, apel, mangga dan jambu.


Setelah itu ia melaju kembali, ketika akan sampai di area perumahan Adipati, Chana pun baru ingat kalau Leon sangat suka makanan pedas, sontak ia menghentikan motornya di pinggir jalan yang menjual bakso dan mie ayam.


Pasti Leon enggak jauh beda dengan ibu atau ayahnya, batin Chana.


“Pak, bakso 3 bungkus, cabainya harus banyak, jangan pakai saus,” ucap Chana.


“Siap kak.” sahut abang tukang bakso.


Setelah menunggu selama 10 menit pesanan Chana pun selesai di bungkus.


Chana yang buru-buru memberikan uang 100 ribu untuk penjualnya.


“Kurang kak! Astaga, kembalian apanya, seporsi kan 50 ribu.” karena area itu adalah tempatnya para sultan berkumpul jadi harga bakso si abang pun naik level.


Sementara Chana yang telah sampai di gerbang rumah Leon langsung menekan bel.


Ting tong!


Sontak satpam yang berjaga di pos satpam keluar dan menemui Chana.


“Anda siapa ya?” tanya Supra.


“Calon mantu, cepat buka pintunya pak, panas banget nih!” pinta Chana.


“Baik non.” meski tak percaya namun Supra tetap membuka pagar untuk Chana.


Setelah itu Chana membawa motornya menuju pintu utama.


Sebelum masuk Chana membuka helmnya dan merapikan rambutnya.


Di rasa sudah cukup cantik Chana pun melangkah menuju pintu utama.


“Assalamu'laikum.” Chana mengucap salam di mulut pintu yang telah terbuka lebar.


Lalu Winda sang art pun datang menemui Chana.


“Walaikum salam, silahkan masuk non.” Winda menuntun Chana menuju ruang tamu.

__ADS_1


Ketika telah Chana sampai ia pun melihat Leon dan kedua orang tua kekasihnya telah duduk di sofa yang memang sengaja menunggunya.


Deg!


Jantung Chana berdebar dengan sangat kencang.


Ada sedikit rasa takut di hatinya saat melihat wajah Pratama dan Amina.


“Selamat siang om, tante.” Chana menjabat tangan calon mertuanya dengan sangat sopan.


Amina yang masih risih dengan Chana menampilkan wajah jutek.


“Apa di jalan macet?” tanya Pratama.


“Enggak om, alhamdulillah jalanan sepi, ini ada sedikit oleh-oleh om.” Chana pun meletakkan oleh-oleh yang ia bawa di atas meja yang ada di hadapan mereka bersama.


“Apa itu?” tanya Amina.


“Hanya buah dan bakso pedas tante,” jawab Chana.


Amina yang suka pedas langsung tergiur dan ingin segeta memakannya, tapi ia harus menjaga gengsinya karena moto Amina tidak akan pernah menyukai kekasih putranya itu.


“Chana, apa kau sudah makan sayang?” ucap Leon dengan lembut.


Sontak Amina dan Pratama menoleh ke arah Leon, sebab putra mereka tak pernah terlihat romantis dengan wanita yang mereka jodohkan selama ini.


“Belum sayang.” sahut Chana dengan tersenyum manis.


Amina dan Pratama menjadi malu sendiri melihat tingkah dua anak muda yang ada di hadapan mereka.


Dasar anak-anak enggak tahu tata kerama, batin Amina.


Leon seperti tidak tahu tempat saja? batin Pratama.


“Ayah, ibu kita makan sekarang ya, kasihan Chana pasti dia sangat kelaparan,” ujar Leon.


Melihat putranya yang perhatian pada Chana membuat Amina jengkel.


“Ayo!” Amina pun bangkit dari duduknya begitu pula dengan ketiganya.


Lalu Leon menggenggam tangan Chana menuju dapur.


Hal itu membuat Amina dan Pratama geleng-geleng kepala.


“Apa itu Leon yah?” bisik Amina pada suaminya.


“Tentu saja, ternyata anak kita benar-benar sayang pada wanita itu,” ujar Pratama.


“Menurut mama Leon sudah sakit jiwa, perempuan jelek begitu malah di taksir,” ucap Amina.


Lalu mereka pun mengikuti langkah keduanya dari belakang.


“Kenapa enggak naik taksi saja kesini? Kau pasti lelah naik motor.” Leon mengelus puncak kepala Chana.


“Enggak apa-apa sayang, lagi pula tadi dekat kok.” Chana menggenggam tangan Leon yang ada di kepalanya.


...Bersambung... ...

__ADS_1



__ADS_2