
Sarah yang masih berjuang hidup memukul-mukul lengan Stefan dengan sisa tenaganya yang masih ada.
“Oh... Kau belum sadar juga ya, baiklah! Mungkin akan lebih baik kalau kau menghadap sang pencipta sekarang.” Stefan yang telah kehilangan akal sehatnya menekan leher Sarah dengan sekuat tenaganya.
Tek!
Hingga telinganya pun mendengar suara retakan.
Seketika Stefan sadar dari kegilaannya. Ia pun melihat dengan seksama wajah Sarah yang kini pucat pasif lidah menjulur ke depan dan mata melotot ke atas.
“Sarah!” Stefan melepas kedua tangannya dari leher Sarah yang kini tidak bernyawa.
“Ya Allah, apa yang telah ku lakukan?!” seketika Stefan menyesal telah melakukan perbuatan jahat itu pada istrinya.
“Apa yang harus ku lakukan sekarang?” Stefan yang kalang kabut tak tahu harus berbuat apa, terlebih para art tadi menyaksikan pertikaian mereka.
“Gawat! Bagaimana ini? Tidak, tidak! Orang lain tak boleh tahu soal ini.” Stefan pun memikirkan cara terbaik untuk menyembunyikan mayat Sarah agar tak di ketahui orang lain.
Stefan pun menghela napas panjang, setelah itu ia merebahkan tubuh Sarah ke atas ranjang dan menyelimutinya layaknya orang tidur.
“Maafkan aku, Sarah.” Stefan mengusap mata istrinya yang terbuka lebar.
Kemudian Stefan keluar dari dalam kamar dengan tenang seolah tak ada apapun yang terjadi.
“Mulai besok kalian tidak bekerja disini lagi, gaji kalian akan ku kirim ke rekening kalian malam ini.” Stefan memecat ketiga Artnya demi menghilangkan saksi.
Para Art yang menerima keputusan mendadak itu langsung syok.
“Ada apa tuan? Kenapa kita di berhentikan tiba-tiba?” Lena memberanikan diri untuk bertanya.
“Karena nyonya tidak ingin kalian ada disini, sudahlah kalian enggak boleh banyak tanya, dan jangan pernah kalian menceritakan apapun yang terjadi di rumah ini di luar sana, karena kalau sampai kami mendengar kabar tak enak itu maka aku dan istri ku akan menuntut kalian.” ancaman Stefan berhasil membuat 3 art itu ketakutan.
“Siap tuan.” sahut ketiganya, lalu para art Stefan pun kembali ke kamar mereka masing-masing karena saat itu sudah larut malam.
Stefan yang telah membereskan satu masalah masuk lagi dalam kamar.
“Harus ku apakan mayat ini? Apa ku buat kecelakaan mobil, keracunan atau bunuh diri?” Stefan bingung harus merekayasa peristiwa apa yang cocok untuk kematian Sarah.
Ia juga harus ektra hati-hati dalam memilih keputusan, sebab itu bisa mempengaruhi masa depannya.
“Ya Allah bantu aku berpikir, tolong beri juga aku petunjuk untuk memilih keputusan apa.” Stefan yang gegabah merasa ingin gila akan ulahnya sendiri.
Ia yang tak ingin ketahuan dengan cepat mengambil koper biru tua besar miliknya yang ada di sebelah lemari bajunya dan Sarah.
Setelah itu ia pun memindahkan Badan Sarah ke dalam koper.
Tubuh Sarah yang jenjang tentu saja tidak muat dalam koper itu.
__ADS_1
Stefan yang harus serba cepat tak kehabisan akal.
Ia pun menekuk paksa tubuh Sarah hingga telinga bidangnya berulang kali mendengar suara bunyi tulang patah.
Tek tek tek!
Setelah bersusah payah Stefan pun bisa menata tubuh Sarah agar pas di dalam koper tersebut.
Reeeetttt...
Stefan menarik kancing kopernya hingga tertutup rapat.
Setelah persiapan selesai Stefan keluar dari dalam kamar seraya menarik kopernya dengan ekspresi keberatan.
Ternyata salah satu artnya melihat Stefan keluar dari rumah majikannya.
“Ternyata tuan dan nyonya memilih bercerai.” Lilis berpikir jika isi koper itu adalah baju-baju tuannya.
Sedangkan Stefan yang merasa dirinya aman memasukkan koper miliknya ke bagasi mobil.
Setelah itu ia masuk ke dalam mobil dan bergegas meninggalkan rumah istrinya.
“Aku harus membuang mayat ini kemana? Astaga Tuhan!!” Stefan menggigit ujung jarinya karena resah.
“Apa ku bakar saja?” Stefan yang mendapat ide itu pun langsung melajukan mobilnya menuju rumah keduanya dan Sarah yang letaknya ada di pinggir kota.
🏵️
Namun berkali-kali Chana mendial nomor Leon, sang mantan tetap tak mau menerima panggilan darinya.
“Sudah jelas dia marah pada ku, apa sih yang ku pikirkan.” Chana menyesal telah sembrono di masa lalu.
Ambisi untuk terlihat berwibawa membuatnya terjebak dalam hubungan yang membuat ia tak bahagia.
“Apa Leon akan mau membantu ku kalau aku mau cerai dari mas Stefan?” Chana yang jual mahal kini ingin mengejar kembali cinta Leon.
“Aku bicara besok saja deh dengannya.” Chana yang mementingkan diri sendiri tak sadar sudah menyakiti banyak hati demi mencapai apa yang ia inginkan.
🏵️
Leon yang ada di kamarnya melihat layar handphonenya.
“Terlalu sulit untuk kita bersatu, kalau aku melayani mu, pasti aku akan menentang ibu ku, Chana... kenapa kita harus bertemu kalau untuk saling menyakiti?” Leon memijat pelipisnya yang terasa sakit.
Leon yang lapar pun menuju dapur, saat ia telah sampai ke dapur, ia bertemu dengan Aminah yang masih tak mau bicara padanya.
“Apa ibu mau makan?” Leon menyapa duluan karena ia ingin berdamai dengan ibunya.
__ADS_1
“Mata mu bisa lihatkan sendirikan?” Aminah meminum air yang baru saja ia ambil.
“Bu, maaf atas kesalahan yang telah ku lakukan, aku sadar kalau perbuatan ku selama ini tidak benar .” Leon pun mendatangi ibunya yang berdiri di sebelah dispenser.
“Aku sayang ibu.” Leon memeluk Aminah sebagai pelepas rasa sedih yang ada dalam hatinya.
Aminah yang sudah lama tak melakukan kontak fisik dengan anaknya tiba-tiba menjadi luluh.
“Iya nak.” Aminah menepuk-nepuk punggung Leon dengan lembut.
Setelah itu Leon melepas pelukannya, dan saat itu Aminah pun melihat mata putranya memerah seperti menahan tangis.
“Leon, apa kau ada masalah nak?” Aminah seolah dapat merasakan duka yang putranya pendam.
“Enggak apa-apa bu.” Leon yang ingin makan meranjak ke meja makan.
Apa ini karena Chana? batin Aminah.
“Nak, kalau ada masalah cerita pada ibu, jangan pernah sungkan.” Aminah ingin tahu apa yang membuat anaknya bersedih.
“Iya bu.” Leon tersenyum pada ibunya, karena setidaknya ada hal baik yang ia dapatkan hari itu.
“Ya sudah, ibu ke kamar dulu ya.” Aminah pun berjalan menuju kamar.
“Ibu pasti enggak mau tahu jika itu soal Chana.” Leon yang ingin melupakan tentang kekasihnya memilih untuk makan.
Apa aku harus membuka hati pada wanita lain? batin Leon.
🏵️
Stefan yang baru sampai di rumah keduanya dan Sarah pun bergegas untuk turun.
Kemudian ia menarik kopernya menuju halaman belakang rumah.
“Ini memang tempat yang pas.” suasana sepi tak ada tetangga membuat Stefan leluasa untuk mengeksekusi jasad Sarah.
Treeett!!!
Stefan pun membuka kancing kopernya di sebelah tong sampah model semen zaman dulu.
Setelah koper terbuka lebar, ia pun mengeluarkan tubuh Sarah.
Ketika ia meletakkan badan Sarah yang telah terlipat-lipat ke tong sampah ia pun terkejut saat melihat mata Sarah membelalak kembali setelah ia tutup.
...Bersambung......
__ADS_1