Buaya Darat Yang Terhormat

Buaya Darat Yang Terhormat
Egois


__ADS_3

“Mau apa kau kesini?” Chana menyusul langkah Leon yang menuju dapur.


“Aku haus, tolong buatkan air dingin.” Leon yang lelah setelah mengantar Meri ingin segera menyegarkan dahaganya yang kering.


Lalu Chana yang benci Leon mengambil sebuah gelas kaca dari rak piringnya, setelah itu membuka kulkas dan mengambil air dalam botol Marjan.


Currr!!!


Setelah gelas terisi penuh Chana meletakkan air dingin pesanan Leon di atas meja.


Tuk!


“Orang kaya kalau haus itu minumnya di New Zeland, kalau kepanasan ke kutub Utara, ini malah ke kosan orang miskin!” Chana mengkritik halus sikap Leon yang menyusahkannya.


“Dirimu lebih susah di jangkau di banding negara apapun di dunia ini.” kemudian Leon meneguk air dingin spesial buatan Chana tanpa melepaskan pandangannya dari gadis cantik itu.


Gluk gluk gluk!


Tuk!


Leon meletakkan gelasnya kembali di atas meja.


“Tidak ku sangka, kau masih tinggal disini.” seketika sorot mata Leon menjadi muram.


“Memangnya aku mau kemana lagi?” Chana yang tak punya tujuan lain dan repot jika harus mengangkut barang-barangnya ke tempat baru memutuskan untuk tetap tinggal di kosan yang telah di lunasi Leon.


Leon pun bangkit dari duduknya kemudian berdiri tepat di hadapan Chana.


“Kalau mau pergi jangan tanggung-tanggung Dianna, sekalian kau tinggalkan kosan ini.” Leon menyinggung sang kekasih yang telah lama absen di sekolah.


Sontak Chana membuang wajahnya dan menjauh dari Leon.


“Aku sudah berhenti, sebaiknya jangan ganggu aku lagi.” Chana yang ingin membersihkan diri menuju kamarnya.


“Kenapa?” Leon lupa kelemahan kekasihnya.


“Karena aku enggak mampu, rencananya aku ingin mengumpulkan uang sebelum masuk tahun ajaran baru, karena aku ingin masuk ke SMA umum.” ucap Chana seraya mengambil handuk warna lilac yang ia gantung di belakang pintu kamarnya.


“Kau tidak boleh berhenti!” Leon tak ingin kehilangan Chana lagi.


“Kenapa? Apa urusan mu?” Chana mulai marah karena ia tak suka di atur-atur oleh Leon.

__ADS_1


“Karena kau masih ada sisa kontrak dengan ku.” alasan tak mengenakan dari Leon membuat Chana tersinggung.


“Bukannya kita sudah putus?” Chana merasa perpisahan mereka yang tanpa melanjutkan komunikasi apapun adalah tanda kalau hubungan mereka telah berakhir.


“Siapa bilang?” Leon menggenggan kedua bahu Chana.


“Aku dan keadaan, apa kau enggak sadar yang kau lakukan pada ku itu sangat kejam? Tanpa mendengar penjelasan ku kau malah memikirkan banyak hal tentang ku?!” Chana yang masih menyimpan sakit hati malah menangis.


“Habis kau murahan, memangnya 2 orang yang kau dekati itu lebih kaya dariku?” Leon yang terus terang tak sadar jika kata-katanya membuat orang lain naik darah.


“Keluar kau dari sini?!” Chana menunjuk kasar ke arah pintu.


“Enggak mau, aku baru sampai!” Leon tak ingin pergi karena masih rindu.


“Kalau begitu aku yang pergi!” Chana yang ingin beranjak di hentikan oleh Leon.


“Kau boleh kemana pun asal sisa gaji yang kau terima serta barang-barang yang kau yang kau dapat dari ku kau tinggalkan, termasuk baju yang kau pakai.


Chana memegang kaus oblong seharga 2 juta yang di beli oleh Leon.


“Enak saja!” Chana tak mungkin sanggup keluar tanpa memakai apapun.


“Kalau tak mau ku tagih sebaiknya kau masuk sekolah lagi, perbaiki cara kerja mu sebagai pacar ku.” Leon yang bosan berbasa-basi langsung memeluk Chana.


“Ayo baikan orang miskin.” Leon mengajak Chana menjalin hubungan kembali dengannya.


“Enggak! Pulang sana! Aku enggak butuh kau lagi.” Chana yang sudah bekerja merasa telah bisa mencukupi kehidupannya.


Lalu Leon memijat pelipisnya yang terasa sakit akibat Chana yang susah di atur.


“Baiklah, aku akan pergi setelah kau memberi ku makan.” Leon mencoba banyak alasan agar lebih lama bersama Chana.


“Boleh, seporsi 200 ribu!” Chana menilai segalanya dengan uang, tujuannya agar tabungannya cepat banyak dan ia bisa menata kehidupan yang baru.


“Ku beli 1 juta perpiring asal kau izinkan aku makan setiap hari kesini.” Leon


tawar ke atas untuk masakan Chana yang rasanya jauh dari rasa enak.


“Boleh deh.” kemudian Chana mengambil nasi dan sayur sawi hijaunya yang baru matang dari dalam panci.


Setelah itu Chana meletakkannya di hadapan Leon.

__ADS_1


Mata Leon menatap seksama lauk yang hanya ada satu macam di piringnya.


“Kau pikir aku kambing? Untuk 1 juta aku cuma dapat nasi sama sawi hijau?” Leon marah bukan karena menunya kurang enak. Tapi ia merasa iba pada kekasihnya yang makanannya kurang bergizi.


“Kau tahu sendiri kalau ini bukan restoran, jadi jangan menuntut apapun pada ku.” Chana yang inggin membersihkan diri menuju kamar mandi.


“Setelah aku selesai mandi ku harap kau tak disini lagi, aku juga enggak mau kau datang kesini setiap hari.” setelah mengatakan itu Chana masuk ke dalam kamar mandi yang letaknya ada di sebelah kamarnya.


Leon yang di usir secara tidak hormat merasa dongkol.


“Enak saja! Kau pikir bisa memperlakukan aku dengan seenaknya?!” Leon yang kesal melahap masakan kekasihnya yang rasanya hambar.


“Piuh! Apa ini? Enggak ada garamnya sama sekali!” Leon yang ingin menambah asin di piringnya bangkit dari duduknya lalu menuju dapur.


Matanya yang indah pun sibuk mencari garam dalam wadah plastik kecil yang memiliki tutup.


“Dimana sih? Masa iya, dia enggak punya garam juga? Bukannya dulu aku memberinya uang belanja?” karena tak mendapat apa yang ia inginkan, Leon pun kembali ke meja makan minimalis kekasihnya.


“Iya juga sih, akukan hanya kasih 10 juta buat keperluan dapur, jelas saja sudah habis, tapi... selain itukan aku kasih 50 juta, yang benar saja garam 5 ribu sebungkus enggak bisa dia beli.” Leon tak habis pikir dengan Chana yang tak mau membeli bahan pangan penting itu.


Ia yang tak ingin memakan sisa nasinya lagi malah berpikir 2 kali, sebab itu adalah masakan kekasihnya.


Setelah penuh pertimbangan akhirnya ia menghabiskan nasinya sampai tak tersisa.


5 menit kemudian, Chana yang telah selesai mandi keluar dengan kepala di gulung handuk, baju teng top dan celana potong di atas lutut.


“Syukurlah dia sudah pergi.” Chana merasa senang, meski sebenarnya ia berharap Leon memohon untuk tetap tinggal lebih lama.


Chana yang ingin memakai bedak pun masuk ke dalam kamarnya.


Namun saat ia membuka pintu kamar, ia syok berat melihat Leon yang telah berbaring di atas ranjangnya.


“Haaah! Sedang apa kau disitu?!” Chana membentak Leon yang telah membelinya ranjang empuk itu 4 bulan yang lalu.


“Kau lihat sendiri aku lagi apa, pakai nanya lagi!” jawab Leon.


Kemudian Chana mendatangi Leon yang sedang meluruskan otot-ototnya.


“Pulang sana!” Chana menarik tangan Leon, sebenarnya bukan untuk mengusir, melainkan melepas rindu yang ada di dalam dadanya.


Tangannya masih hangat seperti dulu, batin Chana.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2