
“Aku salah, ku pikir aku tak perlu dirimu, ku kira aku dapat melupakan mu, ternyata aku keliru, kau lebih dari segalanya.” Chana memeluk Leon yang ia rindukan.
“Kau lebih dari sekedar yang ku bayangkan.” Chana mengencangkan pelukannya.
“Apa yang kau inginkan?” Leon tahu kalau Chana membutuhkan sesuatu darinya.
“Aku mau semuanya, hati mu dan juga uang mu.” jawab Chana tanpa ada dusta.
Leon yang juga merindukan kekasihnya tentu membuka pintu hatinya selebar-lebarnya.
“Kalau begitu, kau tak boleh berhubungan dengan lelaki mana pun, kecuali aku.” Leon membalas pelukan Chana.
“Sesuai yang kau minta.” keduanya pun saling berpelukan untuk melepas rasa rindu di hati mereka.
Karena hari sudah siang, Leon pun mengajak kekasihnya untuk makan bersama.
“Ayo, kita ke meja makan.” Leon melepas pelukannya lalu merangkul bahu Chana.
“Iya sayang.” untuk pertama kalinya Chana memanggil Leon dengan sebutan mesra.
Leon yang mendengar itu langsung merasa bahagia.
Pada hal yang lain juga memanggil ku sayang, entah kenapa telinga ku lebih nyaman kalau itu keluar dari mulut Chana, batin Leon.
Sesampainya di meja makan, keduanya pun di layani oleh Lili, asisten rumah tangga yang bertanggung jawab mengolah dapur.
Pasangan muda itu pun makan di iringi obrolan ringan, sampai pada saat Chana mengutarakan niatnya yang ingin melanjutkan pendidikannya.
“Aku mau sekolah lagi.” ucap Chana seraya memasukkan nasi ke mulutnya.
“Itu bagus,” sahut Leon.
“Tapi aku sudah absen hampir 2 bulan, dan aku tidak punya uang untuk membayar SPP dan mengejar ketinggalan ku.” Chana tahu Leon dapat membereskan segalanya.
“Iya, tidak masalah.” Leon mengerti kalau Chana ingin meminta bantuannya.
“Apa tawaran mu yang waktu itu masih berlaku?” Chana yang masih belia bersedia memberikan dirinya untuk kekasihnya demi uang, sebab ia ingin lulus dari sekolah bergengsi itu dengan tenang.
Leon yang mendengar kata-kata Chana merasa terperangah.
Andai Chana tak mengatakan itu, ia pasti mau membantu tanpa di bayar sepeserpun.
“Kenapa? Apa kau sudah tak menginginkan aku lagi? Bukankah kau bilang kau mau membayar ku kalau aku mau tidur dengan mu?” Chana makin memperjelas maksudnya karena ia berpikir diamnya Leon merupakan pertanda kekasihnya tak mencintainya lagi
Murahan, batin Leon.
“Baiklah, kau mau di bayar perbulan atau sekali main?” Leon memutuskan untuk mengikat Chana agar tak pergi dengan orang lain.
Mungkin ini jalannya, biar dia menjadi milik ku selamanya, batin Leon.
“Selesai langsung bayar.” Chana memilih tunai, sebab ia takut kalau Leon tak membayarnya jika menunggu satu bulan.
Leon menelan salivanya bulat-bulat, sebab Chana yang berwajah lugu sekarang terlihat liar di matanya.
__ADS_1
“Baik, kalau kau masih gadis akan ku bayar berapapun kau minta, tapi kalau tidak, harga mu mentok 30 juta buka dasar,” ucap Leon.
“Benarkah?” senyum sumringah Chana membuat Leon sedih.
“Tapi aku punya pilihan kalau kau mau,” ucap Leon.
“Apa?” tanya Chana.
“Menikah dengan ku secara sirih.” Leon memberikan pilihan karena ia ingin menyelamatkan harga diri kekasihnya.
“Aku belum siap menikah.” Chana menolak karena ia tak ingin di kekang oleh Leon, ia juga berpikir kalau dirinya masih terlalu muda mengikat janji di mata Tuhan.
“Terserah kau saja.” Leon meletakkan sendok yang ia pakai ke ke atas piringnya, sebab percakapan yang baru saja mereka lakukan terasa berat hingga membuatnya kenyang.
Sedang Chana terlihat menikmati makanan yang ada di piringnya. Leon pun menatap Chana tanpa henti hingga selesai makan.
“Ayo!” Leon bangkit dari duduknya.
“Kemana?” tanya Chana dengan wajah bingung.
“Ke kamar ku, bukannya kita mau bercinta?” Leon tersenyum nakal.
“I-iya.” sahut Chana dengan tatapan ragu.
Meski ada rasa sesal di dalam hatinya, namun ia yang ingin balas dendam pada keluarga ayahnya terpaksa mengikuti kemana kaki Leon melangkah.
Menjadi orang sukses adalah cara terbaik untuk balas dendam, batin Chana.
Leon yang melihat Chana melamun langsung mengelus puncak kepala Chana yang berdiri di sebelahnya.
Ting!
Saat pintu Lift terbuka Chana dan Leon masuk ke dalamnya.
Kemudian Leon menekan tombol nomor dua, setelah pintu lift tertutup rapat, Leon menoleh ke arah Chana
Chana pun tersenyum canggung dengan wajah memerah karena malu.
Chana yang terlihat manis membuat hasrat Leon memuncak.
Lelaki tampan itu pun mengecup bibir merah merona yang membuat jantungnya selalu berdebar-debar.
Chana yang mendapat serangan mendadak syok bukan main.
Sebab itu pertama kali mereka ciuman bibir selama pacaran.
Deg deg deg!
Jantungnya berdebar dengan sangat kencang, ia pun melihat dengan kedua matanya, Leon mengrcupnya dengan penuh penghayatan.
Kenapa dia menutup matanya? batin Chana.
Saat ia masih bingung tiba-tiba pintu lift terbuka lebar.
__ADS_1
Ting!
Sontak Leon membuka matanya, Chana yang berdebar-debar menundukkan pandangannya. Sebab ia merasa silau jika bertemu mata langsung dengan Leon.
Leon pun dapat melihat Chana kalau Chana menjadi salah tingkah karenanya.
“Kau akan menyesal jika tidak menikmatinya.” setelah mengatakan itu Leon mengecup bibir Chana kembali seraya menggiring tubuh wanita cantik itu keluar dari dalam lift.
Chana yang melihat banyak art lalu lalang dan bersih-bersih merasa malu sampai ke ubun-ubun.
Ia pun mencoba mendorong tubuh Leon yang terus memegang kendali atas dirinya.
“Lepas!” ucap Chana dengan suara orang mirip berkumur-kumur.
Namun Leon tak mau menuruti permintaan kekasihnya, karena ia tak perduli dengan pandangan orang sekitar.
Para art yang melihat kenakalan majikan mereka hanya membiarkannya begitu saja, sebab itu bukan urusan mereka.
Leon yang berhasil membawa Leon masuk ke dalam kamar yang pintunya terbuka lebar makin liar bergerilya di mulut kekasihnya.
Cup cup cup!
Saliva Chana yang terasa manis membuat Leon makin ke tagihan untuk menyeruput pengecap gadis cantik lagi dan lagi.
Bruk!
Leon mendorong tubuh Chana ke atas ranjang.
“Haah... haah!!” napas Chana terengah-engah karena perbuatan nakal kekasihnya.
“Kau enak juga.” ucap Leon seraya membuka T-shirt putih yang ia pakai.
“I-iya.” jawab Chana dengan kikuk, sebab ia tak tahu harus mengatakan apa lagi.
“Apa duda itu sudah pernah mencium mu?” tanya Leon penasaran.
“Duda?” Chana yang tak tahu maksud Leon bangkit dari tidurnya.
“Sudahlah, lupakan saja, lagi pula itu privasi mu dengannya.” tanpa mendengarkan penjelasan Chana, Leon malah menyimpulkan sendiri apa yang telah terjadi.
“Leon, kau salah paham aku...” Chana yang berusaha meluruskan segalanya langsung di hentikan oleh kekasihnya.
“Bukan urusan ku, kau tak perlu mengatakan apapun.” Leon yang egois karena cemburu membungkam mulut kekasihnya.
Chana yang tak bisa menyampaikan apa yang ingin ia katakan memilih diam.
Yang penting cair, batin Chana.
Leon yang kini bertelanjang dada duduk di pinggir ranjang tepat di sebelah Chana. Lalu ia membelai rambut indah kekasihnya.
“Kau cantik.” kemudian Leon mengecup pipi kekasihnya.
“Kalau aku memang cantik, kenapa kau masih menduakan ku?” pertanyaan Chana membuat Leon tersenyum getir, sebab ia merasa Chana tak berhak menanyakan hal itu.
__ADS_1
“Jangan campuri urusan ku.” kemudian Leon merebahkan kembali tubuh Chana ke ranjang, lalu ia menimpa tubuh gadis cantik itu.
...Bersambung......