Buaya Darat Yang Terhormat

Buaya Darat Yang Terhormat
Rencana


__ADS_3

🥀Pada hal aku telah menyerahkan segalanya


Termasuk rasa percaya ku pada mu


Meski aku tahu hatimu palsu


Namun aku bersedia membohongi hati ku


Menyayangi mu membuat ku menyakiti orang sekitar ku


Merusak masa depan ku


Termasuk iman ku kepada Tuhan ku


Meski begitu kau tetap tak memilih ku


Jadi pendamping hidup mu🥀


Chana pun menepi sejenak untuk melihat siapa yang memanggil nomornya.


“Leon?” Chana yang butuh teman bicara langsung mengangkat panggilan itu.


Halo? 📲 Chana.


Halo Chana, kau dimana? Kenapa enggak masuk kerja?” 📲 Leon.


Maaf, tadi aku baru dari kantor polisi, 📲 Chana.


Ada urusan apa kau kesana? 📲 Leon.


Mas Stefan di tangkap polisi, hiks... 📲 Chana.


Mendengar Chana menangis Leon menjadi cemas.


Chana, kau pulang kemana? Nanti aku akan kesana untuk menemui mu, 📲 Leon.


Ke rumah ku, 📲 Chana.


Oke, kalau begitu aku tutup dulu, nanti saja kita lanjut cerita kalau aku sudah sampai di rumah mu, 📲 Leon.


Iya, kalau begitu aku tutup dulu karena aku masih di jalan, 📲 Chana.


Baiklah, pelan-pelan saja bawa motornya, kalau kau enggak sanggup, naik taksi saja, motor mu tinggalkan saja disitu, 📲 Leon.


Aku masih bisa kok, 📲 Chana.


Ya sudah, hati-hati di jalan sayang, 📲 Leon.


Iya sayang, 📲 Chana.


Setelah sambungan telepon terputus Chana pun melajukan kembali motornya.


🏵️


Leon yang ada di ruangannya merasa tak tenang, ia sangat penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi pada Stefan dan Chana.

__ADS_1


“Apa Chana di pukul Stefan karena ketahuan selingkuh?” Leon yang belum mendapat keterangan lebih lanjut dari Chana malah membuat persepsi sendiri.


🏵️


Stefan yang ada di penjara mengingat raut wajah Chana yang datar.


“Hati mu memang batu.” Stefan kasihan pada dirinya yang berjuang untuk orang yang tidak menghargai dirinya.


Ia yang masih dalam pengaruh obat tidur menyenderkan punggungnya ke dinding.


Ini adalah karma untuk ku karena sudah menyakiti Sarah, batin Stefan.


Ia sama sekali tidak menyalahkan Chana atas semua sikap sadisnya.


“Semoga dia dapat membahagiakan mu.” Stefan ikhlas karena ia sendiri sadar kalau dirinyalah yang terlalu bodoh selama ini.


“Aku pakai hati sedangkan kau tidak.” Stefan yang merasa sendiri merebahkan tubuhnya di atas tikar plastik yang ia duduki seraya mengingat kembali kenangannya dengan Chana.


🏵️


Malam harinya Leon telah sampai di rumah Chana.


Ia yang baru masuk melihat 2 koper besar berada di ruang tamu.


“Kau mau kemana?” tanya Leon.


“Pindah, ini bukan rumah ku, Leon.” Chana menatap nanar ke arah Leon yang ada di hadapannya.


“Iya kau benar? Aku harus bantu apa?” Leon tahu Chana butuh pertolongan darinya.


“Tentu, tapi sebelum kesana aku mau tahu apa yang terjadi sebenarnya,” ucap Leon.


“Mas Stefan di tangkap karena telah membunuh istri pertama dan artnya namanya Lilis, dan kau tahu penyusup yang datang kesini adalah suruhan kak Sarah, aku tahu itu waktu mas Stefan di interogasi,” terang Chana.


Mendengar cerita Chana Leon merasa ngeri karena kekasihnya selama ini hidup dengan laki-laki psikopat.


“Untunglah kau baik-baik saja, ku pikir dia menyakiti mu.” Leon memeluk erat Chana.


“Tapi aku merasa bersalah dan juga sedih, karena dia jadi seperti itu karena ku, andai aku dan mas Stefan enggak pernah bertemu pasti semua masih baik-baik saja,” ujar Chana.


“Jujur ku katakan kau memang perempuan jahat yang pernah ku kenal, tapi entah kenapa kau itu sangat sulit untuk di lupakan, Chana kalau Allah mengizinkan kita untuk berjodoh, tolong jadilah orang yang lebih baik lagi, jangan egois juga, terbuka dan banyak sabar.” Leon menasehati kekasihnya karena ia takut Chana berbuat sesuatu yang bisa membuat hubungan mereka renggang lagi.


“Iya aku mengerti, maafkan aku sudah menyakiti mu selama ini.” Chana memeluk Leon untuk melepas rasa sedihnya.


Leon menepuk lembut punggung Chana, agar wanita cantik itu merasa tenang.


“Sudah, jangan menangis lagi, untuk ke depan jadilah manusia yang berguna bagi orang lain.” Leon mengecup kening Chana.


Setelah itu mereka pun berangkat menuju kosan.


Setelah menempuh perjalanan selama beberapa saat Leon dan Chana sampai di tujuan.


Chana pun masuk kamar untuk meletakkan tasnya.


Leon pun datang menyusul seraya menarik dua koper milik Chana.

__ADS_1


Chana masih terlihat sedih membuat Leon berinisiatif untuk memeluk Chana dari belakang.


“Aku akan katakan pada ibu dan ayaj mengenai hubungan kita.” Leon ingin jujur pada orang tuanya meski keduanya akan marah besar padanya.


“Apa kau yakin?” Chana takut jika Aminah menentang hubungan mereka.


“Iya, aku siap menerima segala resiko yang akan terjadi, andai aku tidak menerima harta warisan orang tua ku, apa kau masih mau bersama ku?” Leon bertanya demikian karena ia ragu seorang Chana yang mata duitan akan meninggalkannya.


“Makan sepiring pun aku mau asal itu dengan mu.” Chana yang sangat mencintai Leon bersedia merintis dari 0 jika lelaki pujaan hatinya jatuh miskin.


“Benarkah? Chana, yang membeli rumah sakit Medika Raya ibu ku, bukan aku, apa kau yakin mau hidup susah? Karena sudah jelas ayah dan ibu akan mem-blacklist kita berdua dimana-mana.” Leon mempertegas keputusan Chana agar ia bisa yakin meninggalkan keluarganya andai tak di restui.


“Aku yakin dan siap mendampingi mu dalam suka dan duka, lagi pula aku punya tabungan, nanti kita bisa beli tanah di perkampungan, terus kita bertani, Leon... yang ku inginkan sekarang dan seterusnya menua bersama mu.” mata Chana begitu berbinar saat mengatakannya.


“Memangnya kau bisa main tanah?” Leon ragu sebab ia dan Chana tak pernah menggeluti bidang bercocok tanam.


“Tenang saja, kan ada tutorial di YouTube, kita pasti bisa!” Chana mengecup pipi Leon dengan sangat antusias.


Melihat semangat Chana yang begitu berapi-api Leon pun percaya jika mereka berdua bisa menjadi orang sukses meski tanpa bantuan orang tuanya.


“Baiklah, kalau begitu aku pulang dulu,” ucap Leon.


“Kok buru-buru banget?” Chana yang masih rindu Leon tak ingin cepat-cepat berpisah.


“Karena aku ingin membicarakannya pada kedua orang tua ku,” ujar Leon.


“Ya sudah, semangat ya sayang, apapun keputusan orang tua mu aku selalu bersama mu.” Chana tersenyum manis pada Leon.


“Aku pulang sekarang, kunci pintu rapat-rapat.” ketika Leon akan pergi Chana menahan tangannya.


“Cium dulu baru boleh pergi.” Chana menggenggam erat tangan Leon seolah menyiratkan sesuatu.


“Jangan sekarang tunggu kita halal dulu.” kemudian Leon mengecup mesra bibir Chana.


“Tambah besar atau tetap segitu?” Chana mengedipkan mata kanannya pada Leon.


Plak!


Leon yang kesal memukul pelan kepala Chana.


“Sakit!!” Chana memegang bekas pukulan Leon.


“Makanya jangan macam-macam, kan jadi bangun.” Leon yang takut khilaf bergegas keluar dari kamar Chana.


Leon yang telah ada di luar pintu mendapat pertanyaan konyol dari Chana.


“Apa kau pernah melakukannya dengan yang lain selama ini?” Chana penasaran dengan kehidupan Leon selama 9 tahun terakhir.


“Bodoh! Meski pun aku pencinta wanita tapi hanya satu wanita yang akan ku perlakukan layaknya istri, pertama dengan mu, terakhir juga dengan mu, selama ini aku puasa menahan diri dari perbuatan salah itu, apa kau puas?” ucap Leon.


“Terimakasih banyak, aku berjanji akan setia pada mu, tidak akan pernah meninggalkan mu apapun yang terjadi.” Chana tersenyum lepas.


“Oke, ku pegang janji mu.” setelah itu Leon pun beranjak meninggalkan kosan Chana.


...Bersambung......

__ADS_1



__ADS_2