
Malam harinya Chana yang baru selesai mengirim laporan stok obat yang kurang di rumah sakit pada atasannya menutup laptopnya karena ia ingin segera tidur, sebab esok hari ia harus bekerja.
“Besok kalau dia masih menggoda ku akan ku katakan langsung pada Jesika, pada hal sudah mau menikah tapi masih sempat-sempatnya mengajak aku bersama lagi, apa semua laki-laki memang begitu? Selalu saja mengambil kesempatan di saat ada kelonggaran.” Chana yang lelah pun langsung naik ke atas ranjang untuk istirahat.
🏵️
Keesokan harinya, Chana yang akan berangkat kerja melihat sebuah kotak paket di depan pintu rumahnya.
“Apa ini?” Chana yang penasaran pun mengambil kotak tersebut dari atas lantai.
“Untuk Chana, hum? Apa ini dari Leon?” lalu Chana membuka kotak yang tak ada nama pengirimnya itu.
“Akh!!” Chana spontan melempar kotak itu karena ternyata isinya adalah bangkai anak kucing yang leher dan kepalanya terpisah.
“Allahu Akbar! Apa ini?” Chana bertanya-tanya siapa orang yang tega menerornya dengan mengorbankan hewan lucu itu.
“Apa ini kerjaan ibunya Leon? Tapi apa itu mungkin? Pada hal dia sudah datang langsung melabrak ku.” seraya mencari pelakunya, Chana pun mengambil cangkul tamannya untuk menggali lubang.
“Dasar enggak punya hati! Kalau benci pada ku jangan sampai mengorbankan makhluk bernyawa juga dong! Tapi... itu artinya dia sangat membenci ku.” Chana menjadi was-was akan keselamatannya.
Chana yang penasaran pun melihat cctv yang ada di atas pintunya lewat handphonenya untuk melihat siapa orang yang telah mengantar kotak duka itu padanya.
Ia pun memutar mundur rekaman cctv-nya di mulai dari saat ia akan tidur tadi malam.
“Kalau enggak salah itu sekitar jam 00:40 malam.” ketika Chana fokus memperhatikan rekaman, ia pun melihat di jam 01:02 ada seseorang dengan setelan serba hitam mulai dari celana, jaket, topi dan juga kaca mata datang ke depan pintunya dengan membawa kotak persegi empat.
Setelah itu seseorang yang tak di ketahui jenis kelaminnya itu apa, pergi meninggalkan rumah Chana.
“Bagaimana bisa perumahan elit begini bisa kecolongan? Bukannya kalau ada orang yang tak di kenal masuk ke sini harus menyerahkan KTP dulu?” Chana yang tak ingin kejadian itu terulang lagi segera menuju pos satpam yang ada di pintu gerbang perumahan dengan mengendarai motor metiknya.
Bremmmm!!
Sesampainya ke pos satpam Chana pun mendatangi 3 satpam yang ada di pos jaga.
“Pak, saya mau tanya ini pada kalian.” Chana pun menunjukkan rekaman cctv-nya dan juga isi kotak tersebut.
“Tadi malam ya? Ada sih bu, katanya dia tukang paket ekspres, karena ibu memesan obat maag, kita pikir itu darurat, makanya kita membiarkannya masuk begitu saja,” terang si satpam.
“Gimana sih pak! Kenapa enggak minta KTPnya dulu? Kalau saya sampai celaka tadi malam bagaimana? Apa orang bapak-bapak mau tanggung jawab?!” Chana memarahi ketiga satpam yang jauh lebih tua darinya.
“Maaf bu, kami salah, kami berjanji enggak akan mengulanginya lagi.” ucap salah satu satpam yang mewakili ketiganya.
__ADS_1
“Menurut orang bapak yang datang tadi malam perempuan atau laki-laki?” Chana berharap ia mendapat sedikit petunjuk.
“Perempuan bu, dia memakai motor bebek Yamaha dengan nomor plat 1997,” ucap si satpam.
Mendapat informasi baik itu Chana merasa senang, karena ia mendapat sedikit titik terang mengenai orang jahat yang akan mencelakainya.
“Terimakasih banyak pak, tolong banget ya, lain kali kalian harus melalukan pekerjaan kalian dengan baik, kalau ada kendaraan atau orang yang tak kalian masuk kesini! Minta tanda pengenalnya.” setelah menasehati para satpam itu, Chana langsung berangkat kerja.
“Awas saja kalau sampai dapat, akan ku beri perhitungan pada orang iseng itu!” Chana tak terima ia di perlakukan demikian.
35 menit kemudian Chana sampai ke rumah sakit.
“Untung aku enggak terlambat.” Chana pun absen finger di mesin digital yang ada di pintu masuk ruang farmasi. Setelah itu ia memakai jas kerjanya.
“Tumben kau terlambat.” ucap Rena, karena Chana selalu datang lebih dalu dari pada dirinya.
“Ada sedikit urusan Ren,” ucap Chana.
Setelah itu Chana dan Rena pun melayani orang-orang yang datang mengambil obat pada mereka.
🏵️
“Aku sudah siap, semoga saja kali ini aku beneran bisa hamil,” ucap Sarah.
“Aamiin sayang.” kemudian Stefan yang memakai piyama abu rokok duduk di sebelah istri pertamanya.
“Kau juga harus minum.” Sarah memberi satu tablet pada Stefan.
“Iya sayang.” Leon pun mengambil obat dan air minum yang ada di tangan Sarah.
Gluk gluk gluk!
Setelah menelannya Stefan memeluk Sarah dengan erat.
“Kalau kali ini juga gagal, aku akan menceraikan mu,” ucap Sarah.
”Sayang! Apa yang kau katakan?!” Stefan syok mendengar keputusan Sarah.
“Aku yakin kau tak bahagia hidup dengan ku, makanya aku ingin membebaskan mu mas.” Sarah lelah dengan kehidupan pernikahan mereka yang tak kunjung di karuniai anak.
“Tidak, kita akan bersama selamanya.” namun Stefan yang tak punya apapun takut jika dirinya kehilangan harta kekayaan Sarah yang sudah lama ia kelola.
__ADS_1
“Jangan mas, kau berhak memilih jalan mu.” Sarah yang paham perasaan suaminya tetap ingin melepas pria yang telah bersamanya selama 8 tahun itu.
“Jangan bodoh! Mana mungkin aku meninggalkan mu! Kita sudah berjanji di hadapan Tuhan untuk selalu bersama, akad nikah yang ku ucapkan bukan puisi Sarah!” Stefan mencium kening istrinya.
“Terimakasih karena sudah setia pada ku mas.” Sarah merasa senang karena Stefan tetap ingin bersamanya.
“Sama-sama sayang,” sahut Stefan.
Dasar perempuan sialan! Aku kan belum selesai membalik nama semua aset-aset mu jadi atas nama ku, pergi sekarang hanya akan menjadikan ku gembel! batin Stefan.
Meski Stefan sendiri sudah jijik bersebelahan dengan Sarah setiap waktu, tapi ia harus bersabar demi menguasai semua harta istri tuanya.
🏵️
Pada pukul 12:00 siang, waktunya istirahat bagi shift pagi, Chana yang dari tadi tak melihat Leon merasa heran.
Biasanya sudah duduk di kursi dia, batin Chana.
“Ayo Chan!” ujar Rena.
“Ah, iya.” siang itu Chana makan bersama Rena di kantin rumah sakit.
“Eh, kau sudah tahu belum kalau dokter Leon sudah punya calon istri?” Rena menceritakan gosip yang baru ia dengar tadi pagi.
“Sudah,” sahut Chana.
“Ku pikir belum, namanya kalau enggak salah Jesika, tapi aku ragu mengenai kebenaran cerita itu,” ucap Rena.
“Kenapa?” tanya Chana.
“Karena dokter Leon selalu mendekati mu, kau enggak ada main di belakang calon istrinya si dokter kan?” pertanyaan Rena membuat Chana menatap tajam pada rekan kerjanya itu.
“Mana mungkin aku melakukan itu, kami hanya mengobrol biasa.” Chana tak suka di sebut perusak hubungan orang meski saat ini posisinya perebut suami orang.
“Kau benar juga sih, tapi entahlah, ku lihat dokter Leon masih sangat mencintai mu.” Rena yang ahli dalam masalah perasaan tahu betul kondisi hati Leon saat ini.
...Bersambung......
__ADS_1