Buaya Darat Yang Terhormat

Buaya Darat Yang Terhormat
Kemesraan Ini


__ADS_3

“Wah! Kau benar-benar anak orang kaya! Ku pikir hanya gosip semata,” Chana tertawa riang.


Puk!


Chana menepuk punggung Leon yang menjadi pahlawan untuknya di saat susah.


“Tentu saja, kalau kau butuh uang tambahan katakan saja, aku siap memberikannya pada mu, asal bayarannya setimpal.” ucap Leon penuh makna.


“Apapun akan ku lakukan, asal kau mau memberi ku uang yang banyak, hehehe...” setelah satu bulan menderita akhirnya Chana menemukan bahagianya.


Terimakasih ya Allah, kau telah mengirim laki-laki baik ini pada ku, batin Chana.


Ia sangat bersyukur Leon datang di saat yang tepat.


“Ayo!” Leon mengulurkan tangannya pada Chana.


“Apa?” ucap Chana.


“Pegang tangan ku.” Leon tersenyum pada pacar barunya.


“Jangan, nanti kita kena tegur.” Chana menolak karena takut menjadi pusat perhatian orang-orang.


“Sekarang kau milik ku.” Leon menggenggam tangan mulus Chana tanpa permisi.


“Ta-tapi...” Chana yang ingin menolak langusung di bungkam oleh Leon.


“Kau sudah ku bayar sebulan penuh, jadi kau harus melakukan apa yang ku mau,” ucap Leon


Chana yang sadar akhirnya menuruti kemauan lelaki terlanjur kaya itu.


Keduanya pun menuju kelas dengan saling berpegangan tangan.


Kemesraan keduanya pun mendapat banyak sorotan mata, baik dari para siswa mau pun guru.


Aryo sang kepala sekolah yang melihat pemandangan janggal tak mencerminkan nilai positif itu pun langsung menegur pasangan muda yang baru menjalin kisah asmara.


“Hei, kalian berdua!” Aryo melambaikan tangannya.


Chana dan Leon sadar kalau panggilan itu untuk mereka.


“Ya ampun! Pak kepala.” Chana mencoba melepas tangannya dari Leon.


“Kau ngapain sih?! Aku lagi menikmati tangan mu yang mulus,” pekik Leon.


“Apa mata mu buta? Pak kepala akan marah pada kita.” raut takut terpancar di wajah Chana, hal itu membuat Leon tertawa.


“Hahaha... jangan takut.” Leon dengan percaya diri mendatangi Aryo tanpa melepas genggaman tangannya pada Chana.

__ADS_1


Chana makin jantungan dengan keberanian Leon yang di ambang batas orang normal.


“Ada apa pak?” tanya Leon tanpa merasa bersalah.


“Tangan kalian, lepas!” pekik Aryo.


“Enggak bisa pak,” ucap Leon.


Sikap Leon membuat Chana syok, ia yang tak berdaya bisa jadi sasaran empuk gurunya.


“Leon, ini sekolah bukan ranah pacaran, kalau kau bapak biarkan bermesraan bebas, maka yang lain akan meniru perilaku mu, bapak enggak bisa berat sebelah, kau tahukan?” Aryo berharap Leon mengerti keadaan.


“Tapi aku masih nyaman memegang tangannya pak, kami baru pacaran loh, apa bapak tidak mau memberi selamat pada kami?” Leon yang menjadi donatur utama di sekolah itu membuat dirinya dapat berkata apapun pada siapa saja.


“Leon, pak Aryo benar, maaf ya pak kami salah.” Chana menundukkan kepalanya pada sang kepala sekolah.


“Lihat, pacar mu saja mau mengerti,” ucap Aryo.


“Kalau aku lepaskan sekarang memangnya kau mau tangan mu ku pegang selama 12 jam?” tanya Leon.


“Iya-iya! Dua hari dua malam juga enggak masalah.” Chana mengangguk setuju karena ia pikir kekasihnya hanya bercanda.


“Oke.” Leon pun melepas tangan Chana karena sudah ada kesepakatan.


“Nah, begini baru benar, tolong jaga sikap kalian selama di area sekolah.” Aryo merasa lega karena Leon mau di ajak kerja sama.


🏵️


Mendengar kata-kata penuh makna dari Leon membuat Aryo menggaruk kepalanya.


“Permisi pak.” Chana yang di tinggal menyusul kekasihnya.


“Astaga!!! Bisa hancur semuanya, pada hal pembangunan laboratorium baru saja di mulai, masih butuh banyak dana sampai selesai 100%.” Aryo menjadi bingung.


Membiarkan Leon berbuat sesuka hati maka akan mencoreng citra sekolahnya yang sudah standar internasional.


Jika mempertahankan aturan sekolah maka ia akan kehilangan sumber uangnya, karena tiap kali Leon memberikan dana bantuan, ia akan mengantongi sebenar 40% dari jumlah yang di berikan Leon.


“Sial! Anak itu makin seenaknya.” Aryo mengepal tangannya karena kesal.


🏵️


Malam harinya, setelah selesai pesta dansa Leon menggenggan tangan Chana di dalam mobil mewahnya.


“Kau sudah 2 jam memegang tangan ku, apa kau tidak bosan?” ucap Chana sebagai alasan karena ia lelah bergenggaman tangan dengan kekasih barunya.


“Kata mu 2 hari 2 malam juga bisa, gimana sih, baru 2 jam malah minta lepas!” Leon tersenyum getir.

__ADS_1


“Enggak beneran jugakan kita pegangan sampai selama itu?!” Chana kesal dengan Leon yang begitu keras kepala.


“Enggak mau tahu, pokoknya tangan kita enggak boleh lepas.” Leon tak mau menerima jika Chana ingkar janji.


“Tapi aku harus pulang sekarang, nanti tante dan om ku marah.” Chana yang kini tinggal dengan adik ayahnya tak di izinkan kalau pulang terlalu malam.


“Tunggu sebentar.” Leon menyandarkan kepalanya di bahu Chana yang indah.


“Ini sudah jam 21:00, belum lagi pulang ke rumah, kalau aku di usir gimana?” Chana mengatakan resiko apabila ia melanggar aturan yang di buat tantenya.


“Aku beli rumah untuk mu, nanti kita tinggal berdua disana.” Leon yang punya banyak uang tidak akan rugi jika membeli sebuah rumah untuk Chana.


“Kau sakit jiwa ya?! Mana mungkin anak 15 tahun tinggal sendiri, lagi pula aku punya rumah.” Chana tidak menyangka ada orang seroyal Leon di dunia ini.


“Kalau begitu usir saja tante mu, nanti aku yang akan menjaga mu, lagi pula aku sudah 17 tahun, sudah bukan anak-anak lagi.” Leon bangga mengatakan umurnya yang lebih tua dari teman sekelasnya.


“Kau pernah tinggal kelas ya?” Chana berpikir kalau Leon anak yang bodoh.


“Bukan, dulu aku malas sekolah saja,” ucap Leon.


“Kenapa? Masa karena itu saja,” Chana menjadi penasaran pada masa lalu Leon.


“Baiklah, itu karena di sekolah ku yang sebelumnya tidak ada gadis yang secantik dirimu.” Leon mengatakan isi hatinya yang sebenarnya.


“Gombal! Sudah ah! Antar aku pulang sekarang!” Chana yang salah tingkah tak sanggup melihat wajah Leon.


“Oke, kita akan pergi kalau kau sudah mencium bibir ku!” pinta Leon dengan manja.


“Apa? Dasar genit!” Chana tak mau memenuhi permintaan Leon.


“Bukannya itu kewajiban mu ya? Aku kan sudah menggaji mu.” Leon merasa berhak karena ia telah memberi bayaran setimpal pada Chana.


“Mana ada yang ciuman di kencan pertama, harusnya kau tahu itu?” ucap Chana.


“Enggak tahu, karena kau pacar pertama ku.” Leon yang jujur malah tidak di percaya oleh Chana.


“Terserah kau mau bilang apa, ayo! Antar aku sekarang!” Chana tetap ingin menyudahi kemesraan mereka saat itu.


“Iya-iya!” Leon yang pusing mendengar rengekan kekasihnya terpaksa mengantarnya pulang meski ia masih ingin berduaan.


Leon pun dengan segera menyalakan mesin mobilnya dan meluncur membelah jalan raya yang sepi akan kendaraan.


Setelah menempuh perjalanan selama 1 jam, akhirnya mereka tiba di rumah Chana.


“Stop, stop disini!” seru Chana karena Leon hampir saja melewatkan rumahnya.


Jangan lupa tinggalkan rate 5 di sertai komentar terbaik mu readers ❤️

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2