
Chana yang di tinggal sendiri makin bersedih, belum lagi ia kini tak punya apapun.
Malam harinya Leon datang menjenguk Chana yang masih berbaring di atas ranjang pasien.
“Kata dokter malam ini sudah bisa pulang, kau hanya kecapean dan banyak pikiran saja, dan rahim mu sudah di bersihkan,” terang Leon.
“Terimakasih banyak.” Chana pun bangkit dari ranjang.
Kemudian Leon membantu kekasihnya yang terlihat kesusahan.
“Aku sangat berhutang budi pada mu, aku juga sadar, pasti tidak mudah bagi mu untuk bersama ku lagi,” ujar Chana.
“Kau benar,” jawan Leon.
“Aku akan pergi.” Chana merelakan dirinya berhenti untuk mengejar cita-citanya.
“Tidak perlu, lanjutkan saja sekolah mu sampai selesai, masalah biaya kau tidak perlu khawatir.” walau benci namun Leon tak bisa begitu saja membiarkan Chana terlantar, apa lagi sang kekasih telah ia campuri.
Pasti mudah baginya untuk menghancurkan dirinya lagi, terlebih dia sudah tak gadis lagi, batin Leon.
“Terimakasih banyak karena sudah baik pada ku.” Chana senang karena Leon masih membuka hati padanya.
“Jangan salah sangka, karena ini bukan bantuan cuma-cuma, kau harus melakukan pekerjaan mu yang biasanya, bedanya bayaran mu hanya sebatas biaya sekolah saja, untuk bagian perut dan rumah mu cari sendiri,” ucap Leon.
Kau harus di uji! Kalau tulus akan lulus! batin Leon.
Chana yang sudah terlanjur rusak tak ingin tanggung-tanggung dalam menjalani perjuangannya.
“Aku setuju.” Chana pun menyanggupi penawaran Leon.
Sejak saat itu Leon memperlakukan Chana seenaknya, selingkuh berulang kali bahkan sering kedapatan bermesraan di mata gadis cantik itu.
Chana yang telah salah sejak awal tak dapat dengan leluasa memarahi Leon.
Perlakuan Leon yang semena-mena membuat psikis Chana terganggu.
Chana pun menjadi seorang gadis yang pendiam dan tak percaya diri, sebab para pacar dan mantan kekasih Leon yang ada di sekolah itu sering mencibir Chana yang tak mau berpisah meski telah di permainkan berulang kali.
Alhasil Chana makan hati, ingin menggeluti kerja halal dirinya hanya mendapat upah 3 juta ke bawah paling besar, sebab ia hanya tamatan SMP, tentu itu tak dapat mencukupi biaya sekolahnya yang mahal.
...Flash Back Off...
“Sampai kapan kau akan balas dendam pada ku?” gumam Chana.
Ia yang telah selesai keluar dari dalam kamar mandi.
Ia pun melihat Leon yang sedang menatap layar handphonenya seraya tersenyum dan berulang kali tertawa cengengesan.
Aroma wangi Chana yang memenuhi ruangan membuat Leon menoleh pada kekasihnya.
__ADS_1
“Lain kali jangan lama-lama, nanti kalau kau masuk angin terus sakit bagaimana?” setelah mengatakan itu Leon bangkit dari ranjang.
“Perduli apa kau pada ku? Bukankah kau ingin aku mati perlahan-lahan karena aku sudah membunuh anak mu.” ucap Chana dengan tatapan dingin.
“Mati saja kalau sudah bosan hidup, tapi lakukan saat tak bersama ku dan jangan kirim pesan konyol seperti ucapan salam perpisahan, karena itu akan membuat ku susah!” pekik Leon.
Mendapat tanggapan dingin membuat Chana merasa sesak melihat kekasihnya, ia pun menyeka sisa air mata yang menempel di kelopak matanya, kemudian Chana memakai bajunya yang ada dalam lemari.
Leon yang ingin pergi segera menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Chana yang sudah selesai memakai baju menuju dapur untuk menyiapkan makanan untuk Leon.
10 menit kemudian Leon yang telah selesai keluar dari kamar mandi dengan berpakaian rapi.
Ia yang ingin pulang mengambil handphonenya dari atas ranjang.
“Hum?” Leon tersenyum karena Jesika terlihat tertarik padanya.
“Pada hal cuma kasih beberapa jurus gombalan.” Leon pun membaca isi pesan sahabat kekasihnya.
Hari Sabtu aku mau ke tempat gym! Mau ikut enggak? Kau itu terlihat gemuk, kurangi sedikit, hehehe, ✉️ Jesika.
Baiklah, kita bertemu disana saja, ✉️ Leon.
Oke jelek! ✉️ Jesika.
Setelah selesai berbalas pesan Leon keluar dari dalam kamar.
“Aku sudah kenyang,” ucap Leon.
“Kaukan belum makan, nanti kau sakit.” Chana menunjukkan perhatiannya.
“Barusan, makan kamu.” Leon yang ingin pulang mengecup lekat bibir Chana.
“Menginap disini saja.” Chana tahu jika kekasihnya ingin bertemu wanita lain.
“Tidak, aku ada pertemuan keluarga, ibu dan ayah ku menyuruh ku pulang, lagi pula mereka jarang-jarang di rumah enggak mungkin ku tolak kan?” Leon yang rindu ibu dan ayahnya ingin segera pulang ke rumah.
“Baiklah, hati-hati di jalan.” Chana tak dapat melerai karena itu menyangkut orang tua.
Kemudian Chana mengantar Leon sampai ke depan pintu.
“Aku pergi.” Leon mengecup kening Chana.
“Iya.” Chana tersenyum tipis pada kekasihnya, setelah itu ia menutup pintunya kembali.
Ia yang tak selera makan langsung menuju kamar untuk istirahat.
“Aku sangat mencintai mu, ku mohon kembalilah seperti dulu.” Chana pun merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
__ADS_1
🏵️
Leon yang masih dalam perjalanan mendapat telepon dari Jesika.
Halo Jes? 📲 Leon.
Halo, kau dimana sekarang? 📲 Jesika.
Di jalan, ada apa? 📲 Leon.
Tidak ada apa-apa, hati-hati di jalan jangan lupa langsung pulang ke rumah ya, 📲 Jesika.
Iya, 📲 Leon.
Mendengar kata hati-hati seketika Leon mengingat sang kekasih.
“Tadi Chana juga bilang begitu pada ku.” Leon terbayang wajah Chana yang kini tak pernah ceria karena larut bersedih karenanya.
Sesampainya di rumah, Leon terkejut karena ia melihat ada mobil baru yang parkir di depan rumanya.
“Ada tamu ya?” ia yang sudah terlambat 5 menit dari waktu yang di tentukan segera masuk dan menuju ruang makan keluarga.
“Eh?” ia terkejut saat mendapati ibu dan ayahnya sedang mengobrol dengan keluarga Jesika.
“Kau sudah pulang?” sapa Pratama yang tak sengaja melihat putranya.
Sontak semua orang menoleh ke arah Leon yang berdiri di pintu masuk ruang makan.
“Iya ayah.” Leon pun mendekat ke keluarganya.
“Kau pasti kenal Jesika kan nak?” ucap Aminah ibunda Leon.
“Iya bu.” Sahut Leon seraya duduk di atas kursi, kemudian ia menjabat kedua orang tua Jesika.
“Hai, Leon.” tawa Jesika kian pecah, ia sangat senang karena Leon telah ada di antara mereka.
“Hai, Jes.” Leon membalas senyum Jesika.
“Aku enggak tahu kalau orang tua kita saling kenal Jes,” ujar Leon.
“Baru tiga bulan yang lalu, sudah lama ibu dan ayah ingin mengundang keluarga pak Rido untuk makan malam ke rumah kita, tapi baru kali ini kesampaian.” jawab Aminah mewakili ayah Jesika.
“Benar, kami sangat senang mendapat undangan dari pak Pratama.” Rido tertawa seraya menatap Leon.
“Kami juga sama pak,” ucap Pratama.
“Ayo, kita makan dulu nanti makanannya dingin,” ujar Amina.
Kemudian kedua keluarga itu pun makan
__ADS_1
seraya mengobrol santai.
...Bersambung......