Buaya Darat Yang Terhormat

Buaya Darat Yang Terhormat
Nomor 20


__ADS_3

Selama dalam perjalanan Chana dan Leon mengobrol banyak hal.


Hingga tak terasa mereka telah sampai di tempat yang sangat familiar bagi Chana.


“Inikan??” Chana melihat ke arah Leon yang ada di sebelahnya.


“Iya, aku sering kesini, dan aku juga selalu menyewa kamar itu.” Leon yang begitu mencintai kenangan mereka berdua tak rela jika kamar kos Chana di tempati orang lain.


“Benarkah? Ku benar-benar sesuatu.” Chana tersenyum karena ia sendiri tak menyangka jika Leon menjaga tempat itu untuknya.


“Ayo.” kemudian Leon keluar dari dalam mobil begitu pula dengan Chana.


“Biar aku yang bawa.” Chana merasa tak enak jika Leon membawa tasnya yang sangat berat.


“Tidak apa-apa, jalan duluan saja,” ujar Leon.


“Baiklah.” Chana pun melangkahkan kakinya menuju lift.


Mata indahnya juga tak lepas melihat kesana kemari, karena tempat itu benar-benar membuat ia rindu.


Leon yang ada di belakang Chana tersenyum melihat Chana yang celingak-celinguk, hatinya juga bahagia karena ia merasa mereka seperti kembali ke masa lalu.


Setelah mereka sampai di depan lift, Chana dan Leon pun masuk masuk dan menutup pintunya.


Ting!


Sesampainya di lantai dua Leon mengambil kunci dari dalam saku jasnya.


“Ini kamar ku kan?” Chana menunjuk ke arah pintu nomor 20.


“Tepat sekali.” Leon pun membuka pintu tersebut.


Retek!


Setelah pintu terbuka lebar, Chana pun melihat kamar kosnya yang terlihat bersih dan terawat. “Masih sama seperti dulu.” Chana pun masuk lalu menuju dapur.


“Leon???” Chana menoleh ke belakangnya.


“Apa?” sahut Leon.


“Kau lucu,” ucap Chana.

__ADS_1


“Kenapa?” tanya Leon.


“Kau mencintai ku setelah aku pergi, tapi meski pun begitu aku mengucapkan terimaksih banyak.” Chana tersenyum menahan haru. Karena ia sendiri sangat merindukan tempat itu.


“Ya sudah, kau istirahatlah, aku mau pulang dulu, kalau kau masih terguncang, sebaiknya libur saja besok.” kemudian Leon meletakkan tas kerja Chana di atas meja makan.


“Baiklah.” Chana pun menggenggam tangan Leon seraya tersenyum.


“Kunci pintunya rapat-rapat, jangan buka kalau ada orang yang mengetuk pintu malam-malam, hindari biara dengan orang yang tak di kenal.” sebenarnya Leon khawatir dan enggan untuk meninggalkan Chana sendirian malam itu.


Tapi Leon juga tidak bisa tinggal, karena ia tak ingin melakukan hal-hal yang menyalahi norma adat dan agama seperti di masa lalu.


“Aku pasti melakukan apa yang kau katakan,” ucap Chana.


“Aku pulang dulu sayang.” Leon pun mengelus pipi kanan Chana, setelah itu pria tampan itu pun keluar dari kamar kos mantan kekasihnya.


Chana pun mengantar Leon sampai ke depan pintu.


“Hati-hati di jalan.” Chana melambaikan tangannya pada Leon.


“Pasti.” setelah itu Leon meninggalkan kamar kos Chana.


Chana yang masih trauma pada penyusup itu dengan cepat mengunci pintunya.


Sebelum masuk ke kamar Chana memeriksa seluruh jendela kosannya sudah terkunci atau belum.


“Syukurlah semua sudah di kunci.” karena semua sudah terkunci rapat, Chana pun masuk ke dalam kamarnya.


Ketika Chana melihat ranjang yang dulu pernah menjadi tempatnya memadu kasih dengan Leon, ia pun menjadi malu sendiri.


“Sebenarnya dia orang yang baik, tapi sayang ibunya tidak menyukai ku.” berkat pertolongan yang Leon lakukan, rasa cinta Chana menjadi tumbuh semakin besar.


“Andai semua baik-baik saja, aku pasti kembali padanya setelah aku bercerai dengan mas Stefan, oh iya... besok aku harus suntik KB lagi.” Chana hampir saja lupa jadwal suntik KB sekali 3 bulannya.


”Aku enggak boleh punya anak dengan mas Stefan, karena bagaimana pun aku enggak cinta padanya.” Chana yang ingin kembali pada Leon bertekad agar tak hamil dengan suaminya.


“Tapi bagaimana dengan Jesika? Bukannya mereka mau menikah juga?” Chana yang di lema merebahkan tubuhnya di atas ranjang


“Kalau memang jodoh, tolong satukan aku dengan Leon secepatnya ya Allah.” Chana berdo'a pada yang maha kuasa.


🏵️

__ADS_1


Leon yang baru sampai di rumah telah di tunggu oleh ayah dan ibunya di ruang tamu.


“Leon, kenapa baru pulang?!” Aminah membentak putranya yang lelah karena terbawa emosi akibat pengaduan Jesika padanya.


“Ada apa bu?” kemudian Leon pun duduk di hadapan ibu dan ayahnya.


“Hei! Kenapa kau putuskan Jesika?!” suara melengking Aminah membuat telinga Leon dan Pratama sakit.


“Bu... jangan keras-keras,” pinta Pratama.


“Bukannya Jesika sudah bilang alasannya pada ibu?” Leon tahu Jesika telah mengatakan segalanya pada ibunya.


“Karena perempuan itu?” mata Aminah melotot seorang ingin memakan anak semata wayangnya.


“Bu, ini karena diriku sendiri, aku enggak cinta pada Jesika, kenapa sih di paksa terus dari dulu?! Pada hal aku sudah berulang kali katakan aku enggak ada hati pada Jesika ibu Aminah.” Leon mengutarakan isi hatinya pada ibunya.


“Terserah kau mau bilang apa! Tapi enggak harus pelakor itu jugakan yang kau kejar?!” pekik Aminah.


“Namanya juga cinta bu,” ujar Leon.


“Cinta-cinta mata mu! Engga bisa, ibu dan ayah tidak setuju kalau itu calonnya!” Aminah dan Pratama menentang besar hubungan anak mereka dan Chana.


“Yang mau nikah itu aku, bukan ayah dan ibu, jadi jangan membuat rencana-rencana indah yang tidak ku sukai, aku kehilangan Chana juga akibat ulah ibu! Kali ini ku mohon, restui hubungan kami bu.” meski di tentang namun hati Leon tak pernah mubah dari Chana.


“Anak ini!” Aminah yang ingin menampar anaknya di hentikan oleh Pratama.


“Jangan main tangan bu.” Pratama tak suka ada kekerasan di rumah mereka.


“Ayah lihat sendirikan? Dia sangat menyebalkan! Hanya karena cinta, dia durkaha pada orang tuanya! Leon, 9 bulan aku mengandung mu, aku melahirkan mu dengan mempertaruhkan nyawa ku, hiks...” Aminah terisak karena Leon yang tak mau mendengar kata-katanya.


“Sudah bu.” Pratama tak bisa kalau melihat istrinya menangis.


“Ayah diam dulu, ibu mau bicara! Hei Leon! Ibu memberi mu asi selama 3 tahun agar kau bisa tumbuh sehat, tidur ku tak pernah nyenyak selama kau masih anak-anak, itu karena kau nakal! Tak cukup sampai disitu, aku juga merawat mu hingga sekarang, tapi hanya karena seorang perempuan yang baru kau kenal, kau melupakan segala yang ku lakukan! Hidup mu enggak akan berkah kalau masih menyakiti hati orang tua mu! Kalau kau sampai menikah dengannya, jangan anggap aku ibu mu lagi!”


Aminah yang emosional bangkit dari sofa dengan berurai air mata.


Leon yang mendengar curahan hati ibunya hanya diam tak berani melawan.


...Bersambung......


__ADS_1



__ADS_2