
“Kau pergi kemana Chana?” Leon berpikir kalau Chana melakukan sesuatu yang berbahaya pada dirinya sendiri.
Sebab saat itu sedang marak kasus bunuh diri di kota yang mereka tinggali.
Leon yang ingin memastikan pun mendial nomor sang mantan kekasih.
🏵️
Ngung!!!
Getaran handphone Chana yang ada di atas meja terdengar dengan sangat jelas.
“Siapa yang menelepon mu malam-malam begini?” Stefan yang berbaring di sebelah meja mengambil handphone istrinya.
“Dokter Leon?” Stefan memikirkan nama yang terdengar familiar di telinganya.
“Dia CEO di rumah sakit ku kerja mas,” terang Chana.
“Benarkah? Apa dia biasa video call dengan mu?” Stefan merasa janggal dengan hal itu.
“Mungkin dokter ingin menanyakan dosis obat pada ku, karena di rumah sakit kami sering diskusi mengenai itu mas.” Chana sangat gugup karena takut ketahuan kalau Leon adalah mantannya.
“Begitu ya?” Leon yang tak percaya begitu saja mengangkat panggilan dari Leon.
Maaf dok, istri saya sudah tidur, apa perlu saya bangunkan dia? 📲 Stefan.
Stefan yang bertelanjang dada membuat Leon patah hati berat, pasalnya ia tahu apa yang baru saja di lalui pria asing itu bersama mantannya.
Tidak usah pak, besok saja di rumah sakit, maaf telah mengganggu waktu istirahatnya, 📲 Leon.
Baiklah kalau begitu, selamat malam dokter Leon, 📲 Stefan.
Setelah sambungan telepon terputus Stefan menoleh ke arah Chana.
“Aku belum lupa siapa dia, sayang! Jangan di ulang lagi, karena selama kau jadi istri ku, tidak ada satu pria pun yang boleh berteman dengan mu.” Stefan yang pernah melihat photo Leon di handphone Chana dengan cepat mengetahui kalau orang yang baru ia lihat wajahnya adalah mantan kekasih istrinya.
“Iya mas, maafkan aku.” Chana yang tak ingin bertengkar memenuhi permintaan Stefan meski hatinya sebenarnya tidak rela.
“Setelah urusan ku beres, kau harus berhenti kerja atau kalau kau masih ingin meniti karir, kau tak boleh di rumah sakit itu lagi.” Stefan yang cemburu tak ingin mengambil resiko kehilangan Chana.
Chana yang mendengar keputusan itu jelas tak terima, karena ia sudah terlanjur nyaman bekerja di rumah sakit Medika Raya.
“Enggak mas, jangan minta sesuatu yang tak mungkin ku lakukan.” Chana menolak permintaan Stefan.
“Aku suami mu, kau wajib menuruti apa yang ku katakan!” Stefan tetap ingin istrinya keluar dari rumah sakit Medika Raya.
“Aku enggak mau, dan sejujurnya ku katakan, aku ingin kita berpisah mas, lebih baik kau perjuangkan pernikahan mu dengan kak Sarah.” Chana yang tak suka di kekang menentang keinginan Stefan.
__ADS_1
“Aku tidak akan menceraikan mu sampai kapan pun!” Stefan yang takut khilaf memilih meninggalkan Chana.
Sebaiknya aku ke rumah Sarah, aku enggak mau kalau sampai main tangan pada Chana, batin Leon.
“Besok aku akan kesini lagi, ku harap otak mu sudah sehat saat itu, jangan memancing emosi ku, kau tahu!” setelah memakai pakaiannya Stefan keluar dari rumah istri keduanya.
Chana yang takut ada penyusup masuk mengikuti langkah Stefan ke lantai satu untuk menutup pintu.
🏵️
Leon yang masih ada di pinggir jalan meremas kuat setir mobilnya.
“Sakit!” Leon merasa sesak yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata.
“Apa aku harus melupakan mu baru benar, Chana!” Leon merasa prustasi karena peluangnya untuk bersama orang yang ia cintai sangat tipis.
“Tapi tak ada gunanya juga aku mengejar mu.” Leon yang tak ingin ibunya bersedih karenanya kembali mempertimbangkan niatnya untuk hidup bersama Chana.
Leon yang di lema memutuskan untuk pulang ke rumah orang tuanya.
🏵️
Stefan yang menyetir merasa marah pada Sarah.
“Lancang sekali dia menemui Chana diam-diam, karena dia Chana meminta cerai pada ku!” Stefan menyalahkan Sarah atas semua masalah yang terjadi padanya.
Kemudian Stefan dengan langkah yang kasar membuka pintu rumah.
“Sarah! Dimana kau!” teriakan Stefan yang membuat seisi rumah terkejut.
“Ada apa ini?” Sarah datang dari dapur dengan langkah yang tenang.
“Kenapa kau menemui Chana!” Stefan berjalan menuju Sarah.
“Apa ada masalah?” tanya Sarah dengan wajah juteknya.
Stefan yang tidak terima di remehkan lagi meremas kuat dagu Sarah.
“Karena mu, Chana meminta cerai pada ku! Apa yang sudah kau katakan padanya!” Stefan yang naik pitam mendorong tubuh Sarah ke dinding.
“Kurang ajar! Apapun yang ku katakan itu tidak ada urusannya dengan mu dan apa kau lupa? Kalau aku menyuruh mu untuk tidak datang lagi ke rumah ku laki-laki miskin?!” Sarah yang benci Stefan menghina hebat suaminya.
Plak!
Stefan yang sudah hilang kesabaran melayangkan satu tamparan di wajah Sarah.
Sontak Sarah memegang wajahnya yang terasa pegal.
__ADS_1
“Ternyata aku salah menilai mu selama ini, andai aku miskin kau pasti sudah seenaknya pada ku.” Sarah yang tak terima dengan KDRT (Kekerasan dalam rumah tangga) yang di lakukan Stefan dengan cepat beranjak ke kamarnya untuk menelepon polisi.
“Aku belum selesai! kesini kau bangsat!” Stefan mengikuti langkah Sarah.
Sarah yang takut rencananya gagal berlari ke kamarnya
Stefan yang curiga Sarah akan melakukan sesuatu berlari menyusul Sarah.
Sarah yang telah ada di kamar mencoba menutup pintu.
“Apa yang mau kau lakukan!” pekik Stefan.
“Menyingkir!” ucap Sarah seraya mendorong pintu sekuat tenaganya.
Bruk
Tapi Stefan yang lebih kuat dengan mudah menghempaskan tubuh Sarah ke lantai hanya dengan satu tendangan.
“Akhh!!!” teriak Sarah kesakitan.
“Apa kau mau lapor polisi?!” Stefan yang sudah pada batas sabarnya menutup pintu kamar mereka rapat-rapat.
“Keluar! Jangan masuk ke kamar ku!” Sarah mengusir Stefan.
“Tutup mulut sampah mu itu!” Stefan pun mencekik leher Sarah.
“Le-lepas!” Sarah yang masih duduk di lantai mencoba melawan.
Sejurus dengan itu Stefan makin mengencangkan cekikannya.
“Kau adalah wanita sakit! Meski begitu aku masih menghargai mu sebagai istri ku, tapi apa balasan yang ku terima? Kau malah mau menceraikan aku dan melaporkan ku pada polisi.” Stefan yang tak bisa mengontrol emosinya melepas cekikannya dan menarik kasar tangan Sarah yang belum bisa bernapas dengan normal.
“Uhuk uhuk uhuk, hentikan! Lepaskan aku.” Sarah yang lemah tak bisa bersuara lantang lagi.
Sedang para Art yang berkumpul di depan pintu kamar Sarah dan Stefan bingung harus melakukan apa, sebab ketiganya takut jika salah mengambil tindakan.
Sementara di dalam kamar, Stefan merebahkan tubuh Sarah di atas ranjang.
“Minta maaf pada ku atau kau akan menyesal?!” Leon kembali mencekik Sarah, bedanya sekarang Stefan menggunakan dasinya sebagai media untuk menyakiti Sarah.
“A-a!” suara Sarah tertahan karena vita suaranya terjepit hebat.
Air liur Sarah pun keluar banyak hingga membasahi area bibirnya.
...Bersambung......
__ADS_1