Buaya Darat Yang Terhormat

Buaya Darat Yang Terhormat
Di Bawah Ranjang


__ADS_3

“Apa itu suaminya?” Leon yang ingin bertamu mengurungkan niatnya untuk bertamu ke rumah Chana malam itu.


Ia pun putar arah untuk segera pulang ke rumahnya.


Bremmm!!!!


Leon yang menyetir merasa patah hati karena itu pertama kalinya ia melihat laki-laki lain bersama Chana.


“Sekarang aku mengerti bagaimana perasaan Chana waktu aku selingkuhi.” Leon yang tak pernah di duakan merasa sesak.


Rasanya ia ingin memukul pria yang ada di kamar mantannya tadi.


“Chana... Chana...” Leon yang kesal memukul stir mobilnya.


Puk!!


Ciiit!


Leon pun menghentikan mobilnya karena ia tak fokus untuk menyetir.


“Panas!” meski Ac dalam mobilnya sudah dingin namun Leon masih merasa kegerahan.


Leon yang tak bisa meredam api cemburu dalam hatinya memutuskan untuk menelepon Chana.


“Biar saja dia dan suaminya bertengkar! Nanti aku akan datang kalau Chana sudah di usir.” Leon yang ingin merusak hubungan Chana dan Stefan pun segera mendial nomor mantan kekasihnya itu.


🏵️


Chana pun bangun dari tidurnya karena mendengar bunyi dering teleponnya.


“Leon?” hatinya sedikit senang karena Leon menghubunginya dirinya.


Halo, kenapa kau menelepon malam-malam begini? 📲 Chana.


Aku rindu, apa bisa kita bertemu? 📲 Leon.


Kemudian Chana melihat ke arah jam yang ada dindingnya yang menunjukkan pukul 21:10 menit.


Datanglah, memangnya kau lagi dimana? 📲 Chana.


Chana yang ingin curhat tentang masalah yang ia alami mengizinkan Leon datang ke rumahnya tanpa penolakan.


Di dekat rumah mu? Memangnya suami mu enggak akan marah? 📲 Leon.


Dia masih di Italia, besok baru pulang, 📲 Chana.


Leon yang mendengar pengakuan Chana merasa tak percaya.


Apa kau bercanda? Bukannya dia sedang bersama mu sekarang? 📲 Leon.


Ha? Kau bicara apa sih? 📲 Chana.


Aku baru dari rumah mu, dan ku lihat ada laki-laki berpakaian serba hitam, pakai topi dan masker hitam juga, itu suami mu kan? 📲 Leon.


Deg!


Seketika jantung Chana berdetak dengan sangat hebat. Pasalnya Stefan baru pulang esok hari.


Tunggu sebentar, jangan di matikan, 📲 Chana.


Chana yang penasaran pun membuka cctv lewat handphonenya.


Halo, Chana? Apa kau baik-baik saja? 📲 Leon.

__ADS_1


Chana merasa tegang saat memeriksa orang yang di maksud Leon ke segala ruangan yang di pasang cctv.


Dimana orangnya? Apa dia sudah keluar? batin Chana.


Chana tak menemukan laki-laki itu dimana pun, hal itu benar-benar membuat Chana ketakutan.


Setelah selesai memeriksa seluruh ruangan, Chana dengan sigap mengirim pesan pada Leon.


ku mohon cepat datang! Yang tadi bukan suami ku, ✉️ Chana.


Membaca pesan itu Leon menjadi khawatir, ia pun dengan cepat balik arah dan tancap gas menuju rumah Chana.


“Jangan sampai Chana kenapa-napa.” Leon menjadi panik, ia takut kalau laki-laki itu mencelakai Chana.


Leon yang ingin menangkap penyusup itu pun menghubungi polisi agar segera datang ke rumah Chana.


🏵️


Deg!


Oh iya, tadi kan aku sudah kunci pintu, dari mana penyusunnya datang? batin Chana.


Chana yang ingin memastikan langsung bangkit dari ranjang.


“Hoam... oh iya... tadi kan aku belum makan, pantas saja perut ku rasanya lapar.” Chana berakting dengan tujuan agar bisa keluar dengan aman dari kamarnya.


Chana pun turun dengan perlahan, saat tangannya memutar handle pintu jantungnya ingin meledak.


Pasalnya pintu kamarnya masih terkunci rapat.


Apa mungkin saat aku masih di kamar mandi orang itu masuk ke kamar ku? batin Chana.


Dengan tangan gemetaran dan berkeringat, Chana membuka pintu.


Setelah pintu terbuka lebar Chana pun melihat dari kaca lemari yang tepat di hadapannya, ada seorang laki-laki dengan memegang pisau di tangan kirinya bersembunyi di bawah kolong ranjangnya.


Chana yang makin bergetar dan keeringatan hampir tak bisa menggerakkan kakinya.


Namun ia yang ingin menyelamatkan nyawanya berusaha sekuat tenaga menjauh dari kamarnya.


Chana pun menutup pintu kamar dengan sangat pelan, setelah itu ia berlari menuju teras.


Leon yang kebetulan telah sampai mengetuk pintu rumah Chana.


Tok tok tok!


“Chana, buka pintunya, ada makanan nih!” teriak Leon.


Mendengar suara mantan kekasihnya Chana pun membuka pintu dengan cepat.


Retek!


Krieeet!!


Bruk!


Chana yang ketakutan melompat ke pelukan Leon.


“Leon, hiks! Aku takut, orang itu ada di bawah ranjang ku.” Chana terus memeluk Leon tanpa henti.


“Tenanglah Chan, aku sudah disini.” Leon pun membalas pelukan Chana.


“Tangkap penyusup itu, aku takut.” ucap Chana dengan suara bergetar.

__ADS_1


“Kau enggak terlukakan?” tanya Leon dengan penuh selidik.


“Enggak, aku bersyukur banget karena enggak di apa-apakan olehnya,” sahut Chana.


“Oh... kalau gitu kita tunggu polisi buat membereskan orang itu.” Leon malas mengotori tangannya karena Chana tidak di sentuh penyusup itu.


“Nanti keburu kabur, kau gimana sih?!” Chana pun melepas pelukannya dari Leon.


“Baiklah, dasar perempuan cerewet!” Leon kesal pada Chana, karena acara berpelukan mereka harus berakhir karena penyusup itu.


Meski tak ingin namun harus tetap di lakukan, Leon pun akhirnya naik ke lantai dua di temani Chana yang berjalan di belakangnya.


“Hati-hati Leon, kau harus ambil besi yang ada di dekat lemari sebelum masuk kamar.” ucap Chana dengan suara yang redup.


“Aman,” sahut Leon.


Mereka yang telah sampai ke lantai dua langusung menuju kamar Chana yang ada di sebelah kanan tangga.


“Kau jangan sampai lengah, ingat! Penyusup itu memegang pisau,” bisik Chana.


“Apa?” Leon terkejut mendengar pengakuan Chana.


Leon yang tadinya meremehkan penjahat itu kini bersemangat mengambil besi yang ada di sebelah lemari yang Chana katakan.


Kemudian Leon dengan perlahan membuka pintu kamar Chana.


Krieettt!!


Leon pun berjongkok terlebih dahulu di depan pintu untuk melihat penyusup yang ada di kolong ranjang seperti yang Chana katakan.


Namun anehnya Leon tidak melihat siapapun disana.


Leon pun bangkit lalu dengan hati-hati masuk ke dalam kamar.


“Tunggu di luar saja.” Leon tidak mengizinkan Chana masuk karena ia tak ingin sang mantan terluka.


“Baiklah.” Chana pun menganggukkan kepalanya.


Kemudian Leon menyusuri kamar Chana, mulai dari membuka lemari, masuk ke kamar mandi tapi ia tak dapat menemukan penyusup itu dimana pun.


Saat Leon melihat ke arah jendela, ia pun mengerti bahwasanya pencuri itu pasti keluar dari sana.


“Ku rasa dia sudah pergi,” ucap Leon.


“Kau yakin?” tanya Chana dengan rasa tak percaya.


“Iya, buktinya jendela itu terbuka sedikit, pasti dia keluar lewat situ,” terang Leon.


“Ya ampun, aku jadi takut untuk tinggal disini.” Chana yang merasa tidak aman ingin pindah rumah saat itu juga.


“Makanya jangan jadi istri kedua, kalau beginikan repot, untung tadi aku iseng ke rumah mu.” Leon pun mempengaruhi Chana dengan memanfaatkan musibah yang menimpa mantannya.


“Apa hubungannya?” ucap Chana dengan tatapan sinis.


“Biar ada yang menjaga mu 24 jam Chana, kalau kau menikah dengan ku itu sudah sangat pas, karena selain kita suami istri kita juga bekerja di tempat yang sama,” Leon tersenyum pada Chana.


“Jangan mengada-ngada.” Chana tak menganggap serius apa yang Leon katakan padanya.


...Bersambung......



__ADS_1


__ADS_2