
Chana menatap tajam mata Leon yang selalu dingin padanya.
“Jangan egois! Aku juga ingin bahagia! Kalau kau enggak terima aku dekat dengan orang lain, biarkan aku menempel di ketiak mu!” Chana yang tadinya marah berubah menjadi manja.
Gadis cantik itu pun memeluk Leon dengan erat.
“Hiks... pada hal aku juga mau kue ulang tahun mu yang tadi, tapi kau enggak bagi pada ku, apa rasa kuenya enak?” Chana mendongak dengan berderai air mata.
“Nanti ku beli yang baru untuk mu.” ucap Leon
dengan perasaan bersalah.
“Benar ya, aku sudah lama mau makan kue bolu dan sejenisnya tapi aku enggak punya uang, kalau beli yang murah rasanya enggak enak.” kemudian Chana memeluk Leon kembali.
“Kau mabuk.” Leon pun membuka sebuah kamar kosong.
“Tidurlah, kau pasti lelah.” Leon menuntun Chana untuk duduk atas ranjang
“Iya, aku akan tidur pergilah ke bawah.” ucap Chana penuh senyuman.
“Akan ku tunggu sampai kau pulas.” Leon membantu Chana untuk merebahkan tubuh ke atas ranjang.
“Tidak usah, aku janji enggak akan keluar dan tidak akan menggangu pesta mu, oh ya... lain kali jangan undang aku menghadiri acara apapun yang kau laksanakan, aku sakit hati kau perlakukan begini, pada hal aku pacar mu, tapi kenapa perempuan jelek itu yang kau buat di samping mu, aku benci wanita itu Leon.” Chana menutup matanya karena tak ingin melihat wajah sang kekasih.
Leon pun menyeka air mata Chana. yang terus mengalir.
Aku juga enggak tahu, kenapa semakin hari aku ketagihan untuk kurang ajar pada mu, batin Leon.
...Flash Back Off...
Leon menyeka air matanya yang akan menetes, ia yang merindukan Chana memutuskan untuk tidur di kosan kekasihnya.
Hanya tempat itu yang mampu membuat ku seolah bersama mu, batin Leon.
Leon pun memakai baju kemeja biru muda pemberian Chana. Setelah itu ia berangkat menuju kosan sang kekasih.
30 menit kemudian, Leon yang telah berada dalam kosan mengambil baju Chana dari dalam lemari, kemudian ia memeluk erat baju tidur yang sering Chana pakai.
“Maafkan aku, andai aku sadar lebih cepat pasti kau masih disini bersama ku.” Leon menitikkan air matanya, ia pun baru mengerti kalau Chana lebih dari sekedar berarti untuknya.
Namun apa boleh buat nasi telah menjadi bubur, hingga 9 tahun berlalu Leon tak pernah lagi melihat bahkan mendengar kabar sang kekasih.
“Leon!” Jesika memanggil nama kekasihnya yang baru pulang dari London.
“Hei! Pagi-pagi sudah kesini, apa kau enggak ada kerjaan lain?” Leon tersenyum pada Jesika yang selalu bersemangat meski mereka LDR selama 5 tahun.
__ADS_1
“Iya dong! Aku mau lihat kau kerja di rumah sakit yang baru kau beli itu,” ucap Jesika.
“Oh, apa kau sudah makan?” tanya Leon seraya mengelus puncak kepala Jesika.
“Belum, tapi aku sudah membawa sarapan untuk kita berdua.” Jesika menunjukkan kotak bekal yang ia bawa.
“Sebentar lagi aku berangkat, apa kau sendiri enggak masuk kerja hari ini?” Leon bertanya karena saat itu adalah hari senin.
“Tidak! Aku meliburkan diri demi menjadi pasien pertama mu, hahahah!!!” Jesika tertawa cengengesan.
Ia yang suka bolos belum berubah meski sudah bertahun-tahun.
“Nanti kalau di pecat bagaiamana?” ujar Leon.
“Aku akan mencari pekerjaan baru, lagi pula mereka tidak akan berani untuk membuang ku, karena yang jago bawa berita dan editing hanya aku seorang! Eh hehehe...” Jesika bangga dengan keahliannya.
Ia yang kini menggeluti dunia entertaimen menjadikannya sebagai salah satu wanita tersohor di negeri ini.
“Baiklah kalau begitu.” Leon tersenyum, kemudian lelaki tampan itu membawa Jesika masuk ke salam rumahnya.
Sesampainya di ruang tamu Leon mempersilahkan Jesika untuk duduk.
“Tunggu aku disini, aku tidak akan lama,” ucap Leon.
“Siap!!!” Jesika mengangkat kedua jempolnya.
Leon juga membawa sebuah tas kerja di tangannya, saat ia berada di ruang tamu, ia pun melihat kedua orang tuanya berbicara akrab dengan Jesika calon tunangannya.
“Jes, jangan sering-sering libur, nanti kalau mereka dapat pengganti bagaimana?” ucap Aminah dengan nada bercanda.
“Tidak apa-apa tante, lagi pula aku memang mau berhenti, karena aku mau membangun YouTube chanel ku sendiri, tante pasti sudah lihatkan, subscriber ku sudah mencapai 1 juta lebih!” Jesika tersenyum puas dengan pencapaiannya.
“Ya-ya-ya! Tapi tetap saja kau harus bersikap profesional.” Aminah mengelus punggung Jesika yang ia anggap sebagai putrinya sendiri.
Leon merasa senang karena ibu dan ayahnya terlihat bersemangat saat berinteraksi dengan Jesika.
Setidaknya ada yang bahagia kalau kami bersama, batin Leon.
Leon yang mati rasa karena di tinggal yang ia cinta membuatnya memberikan segala keputusan mengenai jodohnya pada kedua orang tuanya.
Leon yang melihat jam di tangannya sudah menunjukkan pukul 07:30 mendatangi ketiganya yang masih asik mengobrol.
“Ayo! Aku sudah mau terlambat.” ucap Leon seraya berdiri di sebelah Jesika.
“Sudah mau pergi? Sarapan dulu nak! Ibu sudah menyiapkan menu makanan kesukaan mu!” Aminah yang jarang memegang dapur kali itu turun tangan demi putra semata wayangnya.
__ADS_1
“Kami sarapan di rumah sakit saja, lagi pula ini pertama kali aku masuk kerja bu, rasanya enggak enak kalau aku terlambat,” ujar Leon.
“Pada hal ibu mu sudah bersusah payah bangun subuh demi dirimu nak,” ucap Pratama.
“Besok saja, karena aku akan bangun lebih cepat.” meski rumah sakit Medika Raya adalah miliknya namun ia tak ingin datang sesuka hati.
Wajah Aminah nampak sedih karena keputusan anaknya.
“Sudahlah bu, lagi pula anak kita enggak akan pergi kemana-mana lagikan? Dia sudah bekerja disini, nanti sore masak lagi, oke!” Pratama membujuk istrinya yang hampir merajuk.
“Baikalah yah.” Aminah mengangguk paham.
“Kalau begitu kami berangkat dulu.” Leon pun mencium punggung tangan kedua orang tuanya.
Begitu pula dengan Jesika, setelah itu dua pasangan muda itu keluar rumah kemudian masuk ke dalam mobil mewah yang baru Leon beli dari hasil jeri payahnya.
“Kita berangkat.” ucap Leon pada Jesika yang baru selesai memasang sabuk pengaman.
“Oke!” sahut Jesika.
Bremmm!!!
Selanjutnya Leon melajukan mobil sportnya dengan kecepatan 80 km perjam.
15 menit kemudian Leon dan Jesika sampai di rumah sakit swasta terbaik di ibu kota.
Keduanya pun turun dari mobil yang parkir di basement rumah sakit.
Untuk mencapai lantai satu, Leon dan Jesika menggunakan lift.
Ting!
Ketika pintu lift terbuka Jesika dan Leon melihat banyak orang yang sedang sibuk di hadapan mereka.
Ada yang duduk, ada yang sedang masuk ke ruang radio logi, ada juga yang sedang di dorong di atas kursi roda.
Para perawat dan bidan yang sedang bertugas memberi hormat pada Leon yang kini menjadi salah satu dokter umum sekaligus pemilik rumah sakit Medika Raya tersebut.
“Selamat pagi pak Leon.” ucap setiap pekerja yang melihatnya.
“Selamat pagi juga.” sahut Leon dengan senyum ramahnya.
“Wah! Aku bangga pada mu, pada hal kau baru masuk hari ini, tapi berkat kekuatan mu sebagai pemilik, kau langsung di segani!" Jesika pun menggenggam tangan Leon dengan tujuan agar orang-orang yang ada disana tahu kalau dirinya adalah kekasih Adipati Leon.
Kalau masih ada yang berani rebut, akan ku pecat! batin Jesika.
__ADS_1
...Bersambung......