Buaya Darat Yang Terhormat

Buaya Darat Yang Terhormat
Tamak


__ADS_3

Sesampainya Lilis di depan pintu kamar majikannya, ia pun mencoba-coba untuk membuka handle pintu.


Krieeett!!


“Terbuka!” Lilis tertawa lebar karena keinginannya sebentar lagi akan terwujud.


Ia pun masuk ke dalam kamar dan mulai membuka lemari baju majikannya.


Reettt!!!


Setelah pintu lemari terbuka ia pun melihat baju-baju bermerek milik Sarah.


“Bisa di jual lagi nih!” Lilis yang serakah mengambil baju-baju berharga majikannya.


Setelah itu Lilis mencari keberadaan perhiasan Sarah.


“Dimana ya?” ketika Lilis sedang sibuk membongkar isi kamar majikannya, tiba-tiba Stefan yang ketinggalan handphone masuk ke dalam rumah.


“Jangan sampai ada yang mengambilnya, bisa-bisa semua rahasia ku terbongkar.” Stefan takut jika ada yang menemukan handphonenya.


Stefan yang telah ada di depan kamar merasa heran, karena pintu kamarnya telah terbuka lebar.


“Bukannya tadi sudah ku tutup?” di tengah kebimbangannya ia pun masuk.


Seketika matanya membulat sempurna saat melihat kamarnya yang berantakan banyak baju-baju yang tercecer di lantai.


Yang paling membuat emosinya meledak, Stefan mendapati Lilis yang sedang melihat isi handphonenya.


“Apa yang kau lakukan disini, Lilis!” pekik Stefan.


Teriakan sang majikan membuat Lilis tanpa sengaja menjatuhkan handphone Stefan yang ada di tangannya.


“Tu-tu-tuan.” ucap Lilis dengan suara kikuk. Tubuhnya pun bergetar karena ketakutan.


“Pencuri!” Stefan berjalan menuju Lilis.


Lilis yang ingin melarikan diri malah bingung harus kemana sebab di ruangan itu hanya ada satu pintu.


Stefan yang tak bisa memaafkan perbuatan tercela artnya langsung menjambak rambut Lilis yang di sanggul.


“Heh! Beraninya kau masuk ke dalam kamar ku, kau mau cari mati ya?!” Stefan yang marah mendorong tubuh Lilis hingga tersungkur ke lantai.


Bruk!


“Ampun tuan, maafkan aku.” Lilis menyesal telah berbuat lancang.


Kemudian Stefan mengambil handphonenya yang ada di lantai.


Ia pun melihat kalau Lilis baru saja membuka menu galeri videonya.


“Kau melihatnya? tatapan marah Stefan berhasil membuat Lilis membeku dan kakinya terasa kaku.

__ADS_1


“Tidak tuan, aku baru saja menemukan handphone tuan.” Lilis tak mengakui apa saja yang ia lihat.


Stefan yang lulusan Sarjana psikologi tentu tahu jika Lilis berbohong padanya.


“Lucu sekali, seorang asisten rumah tangga yang di perlakukan baik malah tidak tahu diri, apa yang ada di otak mu hanya ada uang?” Stefan meletakkan telunjuk kanannya ke kening Lilis.


“Maafkan saya tuan... hiks..” Lilis bersujud di kaki Stefan.


“Untung aku cepat datang, kalau tidak kau pasti memeras ku lewat video ini kan?” Stefan tersenyum saat menunjukkan video berdurasi 30 detik yang memuat tubuh Sarah di bakar api.


Lilis yang ketahuan langsung berkeringat dingin.


“Tidak tuan, saya tidak mungkin melakukan itu.” Lilis yang terancam keselamatannya memutar otak agar bisa lolos dari Stefan.


“Jangan berkilah lagi, aku tahu apa yang ada di kepala mu, dengar Lilis! Aku akan membalas setiap tindakan tidak menyenangkan yang orang lain lakukan pada ku.” Meski tak ingin namun Stefan terpaksa menghabisi Lilis, karena jika ia memaafkan wanita berkepala empat itu, maka ialah yang akan celaka.


“Maaf tuan, saya benar-benar khilaf, saya janji enggak akan mengulanginya lagi, dan saya bersumpah enggak akan mengatakan pada siapapun, hiks...” Lilis menangis ketakutan.


Ia yang tak ingin berakhir jadi korban berdarah Stefan bangun dari sujud nya.


“Terlambat Lis, sebenarnya aku juga enggak mau melakukan ini, tapi apa boleh buat, kau yang meminta maut mu sendiri.” Stefan pun mengeluarkan benda tajam yang ada dalam laci meja rias Sarah.


“Kau ingat pisau inikan?” Stefan tertawa penuh makna.


”Jangan tuan...” Lilis berdiri untuk melarikan diri.


“Aku sudah tahu, yang menyusup ke rumah Chana adalah kau atas perintah Sarah, kenapa enggak di buang saja sih buktinya?” Stefan yang ingin mempersingkat waktu mendekati Lilis.


“Aku masih mau hidup tuan!!!” teriak Lilis dengan penuh ketakutan dalam hatinya.


Stefan yang tak suka main kejar kejaran mengambil botol parfum Sarah yang masih terisi penuh, kemudian ia membidiknya ke kepala Lilis.


Puk!


Bruk!


Lilis yang malang terjatuh di mulut pintu, Stefan yang berhasil membuat lawannya tumbang tertawa puas.


“Hahaha!!!” kemudian Stefan menginjak punggung Lilis yang telentang di lantai.


“Ampuni aku tuan, aku tidak ada niat jahat untuk menyakiti nyonya Chana, nyonya Sarah hanya menyuruh ku untuk mengambil bukti pernikahan tuan dan nyonya, tujuannya untuk menjatuhkan nyonya Chana dan memberatkan tuan di persidangan.” Lilis menjelaskan semua titah Sarah padanya.


“Sayang sekali aku tidak percaya, kalau hanya untuk itu kau tak perlu bawa pisau untuk jaga dirikan? Sebenarnya aku sudah menahan untuk tidak menyakiti mu, tapi kaulah yang memancing ku untuk menghabisi mu.” Stefan yang tak dapat menahan rasa geram di dadanya menginjak keras kepala Lilis.


Puk!


“Ampun!!!” teriak Sarah.


“Harusnya pikir dulu sebelum bertindak!” Stefan dengan datar menarik kepala Lilis kebelakang hingga patah.


Tak!

__ADS_1


“Akhhh!! Sa-sakit!!!” Lilis meraung kesakitan.


Krek!!


Stefan yang perkasa memutar-mutar kepala Lilis yang sudah tak menyatu dengan tulangnya.


“Selesai!” Stefan merasa lega karena berhasil menghabisi nyawa Lilis.


“Sekarang sudah tidak ada lagi yang menghalangi kebahagiaan ku dengan Chana.” cinta Stefan yang begitu besar pada sang istri kedua membuatnya makin gelap hati.


Stefan yang ingin membersihkan tempat kejadian perkara mengambil plastik baju londrinya yang memiliki panjang 180 senti meter dari dalam lemari.


Kemudian Stefan memasukkan tubuh Lilis yang hanya 155 senti meter ke dalam plastik.


Setelah itu Stefan menyembunyikan mayat Lilis ke bawah ranjang karena ia harus merapikan kamarnya yang berantakan.


“Aku harus cepat, art baru akan datang sebentar lagi.” Stefan memasukkan semua baju Sarah ke dalam plastik untuk ia buang, selanjutnya Stefan mengepel lantai dan membersihkan semua barang-barang yang ada dalam kamar itu dengan tisu basah.


Ia bersedia repot karena tak ingin ada sidik jari Lilis yang menempel disana.


3 jam kemudian Stefan duduk di atas ranjang karena merasa kelelahan.


Stefan yang ingin mengganti baju bangkit dari ranjang, namun saat ia akan berdiri tiba-tiba pandangannya menjadi kabur dan kepalanya juga pusing.


“Astaga, asam lambung ku naik lagi.” Stefan yang sibuk menjadi lupa untuk makan teratur.


Ia yang mengidap asam lambung dan maag akut membuatnya tak bisa berkutik saat penyakit sejuta umat itu kambuh.


Alhasil Stefan merebahkan kembali tubuhnya di atas ranjang.


Ia yang juga sesak nafas berusaha mengatur pernapasannya agar lebih tenang.


Stefan yang ingin cepat sembuh mengambil obat dari dalam saku celananya, setelah itu ia langsung mengunyahnya.


Kemudian Stefan memejamkan matanya untuk istirahat sejenak.


“Semoga aku baikan sebelum Chana dan para art itu datang.” Stefan mencoba tidur sebentar agar staminanya pulih.


🏵️


Chana yang melihat Leon ingin ke kamar mandi dengan cepat berlari sebelum sang mantan masuk toilet.


“Apa kabar dok?” sapa Chana yang kini berjalan di sebelah Leon.


“Baik, maaf aku buru-buru,” ucap Leon.


“Aku cemburu melihat mu jalan dengan Lisa.” Chana yang ingin memiliki Leon mengutarakan isi hatinya.


...Bersambung......


__ADS_1



__ADS_2