Buaya Darat Yang Terhormat

Buaya Darat Yang Terhormat
Serakah


__ADS_3

“Yang mana? Enggak ada rumah orang susah disini.” Leon melihat satu persatu rumah besar di tepi jalan itu.


“Apa?” Chana mengernyitkan dahinya.


“Kau orang miskin kan?” Leon berpikir jika rumah kekasihnya gubuk atau tenda plastik.


“Ngomong apa sih kau! Aku susahnya cuma di uang tahu! Kalau kau enggak membantu ku mungkin aku sudah keluar sekolah, karena sekarang om dan tante ku mengambil semua harta yang di wariskan orang tua ku pada ku,” terang Chana.


“Kenapa begitu?” Leon merasa hal itu tidak masuk akal, karena harusnya Chana lah pemilik asli harta orang tuanya.


“Karena aku tidak memiliki saudara laki-laki, makanya mereka sebagain harta jadibmilik paman, pada hal aku ingat betul, kami dulu miskin sekali, kekayaan yang di dapatkan orang tua ku dari hasil keringat mereka sendiri, aku sudah mencoba membela diri, tapi adik ayah ku malah tidak mengizinkan ku untuk memiliki warisan yang di tinggalkan orang tua.” wajah sedih Chana nampak jelas di mata Leon.


“Ya sudah, kau tidak perlu khawatir, nanti ku kasih warisan yang banyak kalau kau sudah jadi istri ku, ikhlaskan saja pencarian orang tua mu, lagi pula yang makan harta anak yatim piatu pasti enggak akan berkah.” Leon mengelus puncak kepala Chana.


Ya Allah, pacar ku baik banget sih, terimakasih telah mengirim dia untuk ku ya Rahman, batin Chana.


“Memangnya orang tua mu enggak marah kalau kau boros?” tanya Chana.


“Enggak tuh, malah mereka menyuruh ku untuk selalu bersedekah, lagi pula yang ku beri pada mu pajak uang yang di hasilkan perusahaan ayah ku.” terang Leon dengan bangga.


Ya Tuhan, pacar ku alim banget, aku enggak akan melepaskan dia kalau begini, batin Chana.


Gadis cantik itu semakin tertarik dengan Leon yang terlihat seperti pemuda jujur dan setia.


“Terimakasih banyak Leon, kalau begitu aku masuk dulu.” Chana memberi senyuman terbaiknya sebagai salam perpisahan di malam penuh keindahan itu.


“Mau aku temani enggak, mana tahu kau di usir betulan, pasti kau butuh tenaga buat menyusun barang-barang mu.” Leon merasa jika Chana akan di tendang dari rumahnya malam itu.


“Jangan ngomong yang aneh-aneh, aku masih nyaman tinggal di rumah orang tua ku!” pekik Chana, ia tak suka dengan candaan Leon.


“Hahaha... baiklah pergi sana!” Leon tertawa karena Chana terlihat cantik saat marah.

__ADS_1


Ceklek!


Bam!


Chana menutup kembali pintu mobil Leon lalu masuk ke dalam rumahnya yang memiliki pagar besar yang menjulang tinggi ke langit.


Leon yang merasa khawatir memutuskan untuk menunggu selama 10 menit untuk memantau keadaan.


“Kalau cerita Chana benar, pasti keluarganya akan selalu cari-cari masalah untuk mengusirnya, parah sih... orang tuanya yang cari, orang lain yang menikmati.” Leon benci dengan sikap keluarga Chana yang serakah.


🏵️


Chana yang baru saja masuk ke dalam rumah langsung di sambut dengan kata-kata pedas.


“Dari mana saja kau anak setan! Ini sudah jam 22:00, kau jual diri atau gimana, hah?!” Laras yang duduk di atas sofa memelototi keponakan yatim piatu nya.


“Tadi acara pesta dansanya lama tan.” Chana tak berani melawan karena dirinya sudah pernah di hajar satu kali dan tak ada satu orang pun yang membelanya.


🏵️


Ia juga tak mau tahu dengan penjelasan keponakannya itu.


“Tante, aku enggak ngapa-ngapain di luar, lagi pula aku baru kali ini main malam dan terlambat pulang,” Chana membela dirinya yang selalu salah di mata keluarganya.


“Terserah, aku enggak mau tahu! Bukannya tante sudah bilang pada mu, kalau sampai melanggar aturan kau harus meninggalkan rumah ini?!” suara melengking Laras membangunkan kedua putrinya yaitu Mita dan Marni.


Mereka pun mendatangi ibu mereka yang sedang ribut di ruang tamu.


“Ada apa sih ma?” tanya Marni dengan raut wajah kesal, sebab waktu tidurnya terganggu oleh suara ibunya yang menusuk telinga.


“Ini!” Laras menunjuk ke arah Chana.

__ADS_1


“Ada apa dengannya?” Marni melihat tak ada yang salah dengan Chana.


“Dia baru pulang Marni, pada hal mama sudah bilang, tidak boleh pulang malam-malam, kalau memang ada acara paling lambat jam 19:00 malam, peraturan inikan juga berlaku untuk kalian!” pekik Laras.


“Iya, Marni tahu itu, tapi mama enggak harus teriak-teriakkan? Kalau memang mau menghukum tinggal pukul atau kurung dia di gudang!” Marni yang tak bisa tidur jika ada sedikit suara merasa keberatan dengan perbuatan ibunya.


“Diam! Dasar anak durhaka! Pada hal dulu kau enggak pernah membantah ibu, apa ini ajaran Chana?” Laras malah menyalahkan keponakannya atas perlawanan yang di lakukan putrinya sendiri.


Sontak Marni memutar mata malas, karena ia sendiri tidak suka dengan sikap ibunya yang terlalu mengekang mereka.


“Terserah mama deh mau bicara apa.” Marni yang takut mengata-ngatai ibunya memilih kembali ke kamarnya.


“Ma, sudahlah jangan terlalu keras sama kak Chana, lagi pula kitakan numpang di rumahnya.” Mita yang masih SD belum mengerti arti sebuah memiliki.


“Kau juga! Enggak Marni atau pun dirimu tak ada yang mendukung mama!” pekik Laras.


“Kalau salah enggak mungkin di dukung ma, kalau bukan karena kak Chana mungkin kita masih ngontrak di pinggir kali.” Mita mengatakan kenyataan yang sebenarnya.


“Sekali lagi kau bicara, ku patahkan leher mu!” Laras menyatukan giginya kuat-kuat.


“Mita, sebaiknya kau ke kamar mu dik.” Chana yang baik hati tak ingin jika adik sepupunya ikut kena marah karena ulahnya.


“Iya kak.” Mita pun meninggalkan ruang tamu dengan perasaan kesal di hatinya.


“Heh, kau! Keputusan ku sudah bulat, kau harus meninggalkan rumah ini! Lagi pula kau tak punya apa-apa lagi disini! Karena yang mencari semua harta ini adalah abang suami ku, bukan kau! Jadi kau tak pantas mendapat 1 persen pun!” Laras yang ingin berkuasa sampai hati mengusir Chana yang masih di bawah umur.


“Tante! Jangan melebihi batas ya! Kalian semua menguasai harta orang tua ku saja sebenarnya aku enggak terima loh! Sekarang tante yang bukan siapa-siapa ayah dan ibu ku malah mengusir ku?! Tante waras sedikit ya! Ini semua hasil keringat orang tua ku!” Chana yang sudah pada batas sabarnya meluapkan isi hatinya pada Laras.


“Siapa yang perduli! Yang jelas sekarang sudah milik kami, salah sendiri kenapa tidak saudara laki-laki!” Laras yang licik tertawa jahat pada gadis yang mereka makan hartanya.


“Aku enggak mau keluar!!!!” tangis Chana pecah, rasanya ia ingin mencekik istri omnya yang tidak tahu diri itu.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2