BUKAN CINTA SEGITIGA

BUKAN CINTA SEGITIGA
Bang Sat


__ADS_3

Melody terbangun saat merasa dirinya tengah di selimuti seseorang, benar saja ketika dia membuka mata dia tengah tertidur di atas sofa dan berselimutkan jas yang sepertinya milik Satria.


Sementara Satria kini sedang duduk hendak membuka nasi goreng yang tadi dia pesan dan belum sempat di makan karena keburu pingsan, wajahnya masih terlihat pucat.


" Aku membangunkan mu?" Tanya Satria lirih.


" eh, aku ketiduran, jam berapa ini, siaaal jam satu malam ? aku tadi kesini belum selesai jam kerja, ah,, mati lah aku, Bu Maya besok pasti ngamuk." Melody berdiri dan terburu buru hendak meninggalkan Satria.


" Tetap disini, aku akan pecat Maya bila dia berani marah pada mu.!" Ucap Satria tegas meski suaranya tak selantang biasanya saat dia sedang tak sakit.


" Ta- tapi..." Melody menghentikan langkahnya.


" Tetap disini, ini perintah presdir langsung !" kata Satria.


" Ja- jadi kamu...?"


" iya, aku yang kamu sebut ular berbisa itu, adalah presdirmu, pemilik Blue Palace hotel." potong Satria.


" Maaf pak, saya tidak tau kalau bapak itu presdir, " Melody tertunduk, perasaannya kacau saat ini, takut, canggung dan bingung bercampur jadi satu.


Satria melihat pesan yang masuk ke ponselnya, ada puluhan pesan dan panggilan tak terjawab dari Emily, dia menghela nafas panjang, kepalanya masih terasa pusing.


" Baiklah, aku akan memaafkan kesalahan mu, tapi dengan satu syarat." Satria meletakan kembali ponselnya di atas meja.


" Kamu harus menolong ku, bawa aku ke apartemen mu." Ucapan Satria membuat Melody terperangah kaget.


" Kenapa saya harus bawa bapak ke tempat saya? dan untuk apa?" Melody ketakutan.


" Jangan berpikiran yang tidak tidak, aku hanya mencari tempat yang aman untuk bersembunyi, dan bersembunyi di tempatmu sepertinya tak akan ada yang menemukanku." ujar Satria.


" Bapak di kejar penagih hutang ?" tanya Melody polos.


" Apa aku terlihat seperti kekurangan uang ?" Sewot Satria.


" Lalu, kenapa bapak harus bersembunyi?" Melody menyelidik.


" Aku bersembunyi dari keluargaku yang terus menuntutku untuk segera menikah, dan juga bersembunyi dari...Emily, mereka semua pasti tak akan ada yang mengira aku di tempatmu." Jelas Satria.


" Oooh,, tapi saya takut mba Emily tau dan marah lagi pada saya pak," Melody ragu ragu.


" aku jamin tak akan terjadi, ayo cepat sebelum ada yang mencari ku ke sini." Satria menyambar jas dan ponselnya lalu menarik Melody keluar dari ruangannya.


" Tapi saya harus ganti baju dan mengambil barang barang saya di loker pantry." Ujar melody yang masih memakai seragamnya.


" Baik, kamu ganti baju dan ambil barangmu cepat, aku tunggu di basement." seperti kerbau di cocok hidungnya, Melody mengangguk menuruti perkataan Satria tanpa perlawanan.


Setelah berganti pakaian dan mengambil barang barangnya, Melody berjalan menuju basement sambil celingak celinguk takut ada orang lain yang melihatnya bersama Satria.

__ADS_1


" Masuk !" mobil Satria berhenti tepat di hadapan Melody, dan setelah di rasa sekeliling basement aman, Melody masuk.


Mereka menuju apartemen Seruni tempat dimana Melody tinggal.


" Silahkan masuk, Pak." Melody mempersilahkan Satria masuk.


" Tolong panaskan ini, aku lapar." Satria menyodorkan bungkusan makanan berisi nasi goreng buatan Melody yang belum sempat dia makan dari tadi.


" Astaga, kenapa nasi ini masih bapak bawa." Melody mengambil boks makanan itu.


" Pertama aku tak jadi makan karena keburu pingsan, kedua, saat aku mau makan kamu bangun dan kita bergegas kesini." Satria mendudukan dirinya di sofa ruang tengah yang di dominasi warna tosca.


Melody melangkahkan kakinya ke dapur, tiga puluh menit kemudian dia membawa sebuah nampan berisi beberapa makanan.


" Ini makan dulu pak, dan ini obat demam yang saya punya di sini, saya tak tau bapak biasanya minum obat apa." Melody menata makanan di meja makan dan meletakan sebutir obat demam.


" Mana nasi goreng ku?" Satria menatap meja makan yang hanya ada nasi dan sup ayam lalu potongan buah segar.


" Bapak demam, sebaiknya makan sup dan sayur, juga buah, agar cepat pulih." Entah dapat mukjijat darimana Melody tiba tiba berubah jadi baik dan perhatian pada lelaki yang di sebutnya si ular berbisa itu.


" Tapi aku tak suka sup ayam, dari semenjak aku kecil." Tolak Satria yang memang tak suka dengan sup ayam dari dulu.


" Ya sudah kalau tak mau makan sup, tidak usah makan, karena saya cape, ingin istirahat dan tak punya tenaga lagi untuk memasak." Melody mengambil mangkuk berisi sup ayam untuk di simpan ke lemari makanan.


" tunggu, aku lapar, simpan kembali di meja, aku akan memakannya." Satria mengambil mangkuk sup yang berada di tangan Melody.


" Silahkan, saya akan mandi dan berganti pakaian, saya juga akan menyiapkan tempat tidur bapak, setelah ini bapak bisa ber istirahat." Melody meninggalkan Satria di meja makan.


" Apa bapak se tidak suka itu dengan sup ayam ? hampir satu jam dan bapak masih belum menghabiskan semangkuk sup?" Tanya Melody mengagetkan Satria yang masih asik asik dengan makanannya.


" Ini mangkuk ke tiga, aku mengambilnya di panci belakang." Satria mengusap perutnya yang kini terasa penuh.


" Bapak bilang tak suka sup ayam dari kecil, tapi menghabiskan sup satu panci ?" Melody terbelalak saat melihat panci yang tadi terisi sup kini telah kosong.


" Ah, itu mungkin karena aku kelaparan." Ucap Satria santai.


" Baik, terserah bapak, jangan lupa obatnya di minum dan beristirahatlah di kamar sebelah kanan, itu sudah saya bereskan." Melody seperti sedang merawat anak kecil.


" Bisa kah kamu tak memanggilku Bapak ? rasanya aku seperti orang tua saja.!" sebal Satria.


" Lalu saya harus panggil apa? Bapak atasan saya, lagi pula bapak memang sudah tua." kalimat terakhir Melody ucapkan lirih.


" Kamu mengatai aku tua? aku baru 28 tahun, masih muda" Satria tak terima.


" ish, ya tua lah, yang muda itu saya, masih baru mau 23 tahun" ledek Melody.


"Pokoknya aku tak mau di panggil bapak, kalau kamu panggil aku bapak, aku gak mau minum obat dan gak mau pulang dari sini." Satria merengut.

__ADS_1


" Hah ? ancaman macam apa itu? berarti kalau saya tetap memanggil anda bapak, anda akan tinggal disini selamanya dong ?" Melody membulatkan matanya tak percaya.


Satria hanya mengangguk.


" baik, bagaimana kalau saya pangil anda, kakak, jadi kak Sat, atau saya panggil abang jadi Bang Sat ?" Melody tersenyum jahil.


" Wah, kamu kurang ajar, beraninya memaki presdir." Satria melotot ke arah Melody yang tertawa puas.


" iya, iya maaf, habisnya bingung mau panggil apa, kalau manggil kakak,,, saya jadi teringat seseorang yang tak ingin di ingat, kalau Mas, itu panggilan untuk orang jawa kayak Mas Johan, kalau orang ibu kota paling pas ya abang, saya panggil abang aja ya,,,!" Melody menyodorkan obat dan gelas berisi air mineral yang belum diminum Satria.


" terserah kamu lah ! eh,siapa seseorang yang tak ingin kamu ingat itu?" Tanya Satria setelah menelan obat dari tangan Melody.


" Kepo ! cepetan tidur, " Melody membawa Satria ke kamar yang di siapkan untuk orang tuanya kalau saat berkunjung.


Entah kenapa Melody merasa melihat sisi lain dari seorang Satria yang selama ini dia kenal selalu bermulut tajam dan menyebalkan, Satria yang saat ini seperti seseorang yang menyenangkan, manis dan manja. Dia seperti anak yang kurang kasih sayang, sehingga berpura pura menjadi pribadi yang arogan, tempramen dan sadis hanya untuk menyembunyikan kelemahan dirinya.


Jam tiga subuh alarm ponsel Melody berbunyi, rasanya belum ada sejam dia memejamkan matanya, tapi harus bersiap untuk berangkat kerja pagi.


" Mau kemana?" Tanya Satria keluar dari kamar dengan mata yang masih setengah terpejam.Satria gampang terbangun dari tidur kalau mendengar suara berisik.


" Kerja lah bang !" Melody mengikat tali sneakernya.


" Jam segini ? dan juga ini hari sabtu," kaget Satria.


" gak ada istilah weekend bagi kami para pekerja dapur, libur kami tetap dua minggu sekali selama dua hari, dan karena sekarang saya shift pagi, jadi sebelum jam 4 pagi sudah harus ada di pantry, menyiapkan breakfast untuk para tamu hotel." Melody menyambar jaketnya dan bersiap pergi.


" tunggu, aku antar kamu." Satria mengambil kunci mobilnya yang tergeletak di meja.


" Gak usah, saya jalan aja, sudah biasa kok," tolak Melody


" Aku antar, atau gak usah berangkat !" tatap Satria tajam.


Melody pun mengalah,


" Harusnya istirahat saja, bukanya bapak,, eh abang masih demam." lirih Melody di sela perjalanan nya menuju hotel.


Tapi Satria malah tertawa geli.


" Kenapa malah ketawa?" bingung Melody


" Aku cuma lagi membayangkan, aku seperti suami pengangguran, yang sedang mengantarkan istrinya kerja," Satria menggeleng kan kepalanya sambil tertawa lucu.


" ish, ngawur ! kok bisa bayanginnya yang aneh aneh gitu sih!" Melody memberikan kartu akses apartemen miliknya ke Satria.


" Ini, kunci apartemen, saya kerja dulu, baik baik di rumah, istirahat, sarapannya pesan online dulu saja ya." Pamit Melody saat keluar dari mobil Satria di seberang jalan hotel, Melody sengaja meminta di turunkan agak jauh dari hotel karena takut ada yang melihat kebersamaan dirinya dengan sang presdir dan menjadi gosip tak enak, bagaimanapun semua orang di hotel tau kalau Satria pacarnya Emily, dia tak ingin semakin di cap jelek sebagai perebut pacar orang, sementara gosip dirinya pacaran dengan Johan saja belum reda.


"oke, hati hati!" Satria mengambil kartu yang di berikan Melody.

__ADS_1


Hatinya tiba tiba menemukan rasa tenang dan nyaman yang belum pernah dia rasakan selama ini saat bersama Melody.


Satria memandang Melody sampai masuk hotel dan menghilang dari pandangannya.


__ADS_2