BUKAN CINTA SEGITIGA

BUKAN CINTA SEGITIGA
Nikah yuk


__ADS_3

"Azta pak, nama saya Azta." Protes Azta karena Johan berulang kali salah memanggil namanya.


"Oh, ya, itu. Maaf saya memang agak susah untuk mengingat nama orang asing yang tidak begitu penting buat saya, jadi suka keliru."


Demi apapun Johan sudah benar benar tak kuat ingin menertawakan wajah Azta yang terlihat sangat kesal dengan ucapannya barusan yang terkesan menyepelekannya.


"Tapi, bukankah istrinya Johan itu sepupu anda, apa anda akan membiarkan Johan menyakiti hati sepupu anda?" Azta mencoba menghasut Johan yang di pikir itu Satria.


"Pak Astra, eh Pak Azta, saya bukan orang yang senang ikut campur dalam masalah orang lain, meskipun itu saudara saya sendiri, jadi... Silahkan selesaikan masalah anda sendiri, dan saya bisa melanjutkan menyelesaikan pekerjaan saya sendiri." Johan menunjuk tumpukan dokumen yang menggunung di atas meja di hadapannya, dan itu bisa di artikan secara tidak langsung Johan mengusir Azta untuk segera pergi dari ruangan itu.


"Baik kalau begitu, setidaknya saya sudah pernah meminta baik baik kepada anda untuk menasehati Johan asisten anda, tapi kalau anda tidak berkenan, berarti jangan salahkan saya bila saya menegur Johan dengan cara saya sendiri.!" Ketus Azta merasa lawan bicaranya tidak mendukung bahkan tidak tertarik dengan apa yang di sampaikan olehnya, dia pun berdiri dari duduknya.


"Selamat berjuang Pak Astra, semoga berhasil." Oceh Johan melambaikan sebelah tangannya.


"Hmm, permisi !" Wajah kecut Azta mengiringi langkah kaki kepergiannya keluar ruangan itu.


"Ya, silahkan."Jawab Johan sedikit tersenyum.


"Pak Azta !" Pekik Johan memanggil Azta tiba tiba.


Azta menghentikan langkahnya dan membalikan badan menoleh ke arah Johan.


"Ingat Johan itu bukan pria sembarangan, selain tampan, dia juga hebat dalam pekerjaannya, dalam percintaan nya, pokoknya dalam segala hal, saya saran kan anda harus hati hati. Semoga anda beruntung !" Ucap Johan memuji dirinya sendiri.


Azta tak menjawab apa apa, dia hanya membisu sambil melangkah keluar dengan hati yang kesal dan marah setengah mati mendengar ucapan laki laki yang menurutnya sangat menyebalkan itu.


'Sialan,! Bos dan asisten sama sama tengilnya, buang buang waktu aku menemui Presdir gila itu.' Kesal Azta yang hanya bisa dia ungkapkan dalam hatinya saja.


Azta bukan orang yang gampang putus asa, apalagi itu menyangkut Melody, wanita yang di cintainya, dia akan berjuang mengambil kembali apa yang telah menjadi miliknya itu.


Apapun dan siapapun yang menjadi halangannya, dia bertekad akan menyingkirkannya.


***


Sementara di penthouse seruni,


"Mbul, sampai kapan kamu bekerja di Blue Palace ?" Tanya Satria tiba tiba.


"Kenapa ?" Melody yang sedang bersandar di bahu Satria sampai menegak kan badannya, karena kaget tiba tiba Satria bertanya seperti itu, dia takut kalau sampai Satria melarang dirinya bekerja.


" tidak apa apa, hanya saja terkadang aku tak tega kamu bekerja siang, malam, bahkan dini hari." Ucap Satria membawa kembali tubuh Melody agar bersandar di tubuhnya.


"Emh, sampai aku bisa membuka restoran ku sendiri." Cengir Melody menyandarkan kembali kepalanya, kini di dada bidang Satria yang sedang rebahan santai di sofa.


"Kalau aku bukain restoran buat kamu gimana?" Satria mengusap lembut pipi Melody.


"Gak mau, aku mau buka resto dari hasil usaha ku sendiri." Tolak Melody.


"Bagaimana kalau aku pinjami modal, kalau kamu tak mau aku bantu." Bujuk Satria.

__ADS_1


"Aku pikir pikir dulu. Namanya buka usaha itu gak gampang Bang, banyak hal yang harus di pikirkan dan di pertimbangkan." Ucap Melody.


"Aku bisa bantu, jangan lupakan kalau pacar tampan mu ini pengusaha sukses, aku bisa memberikan bimbingan gratis untukmu cara mengelola tempat usaha, bahkan terjun langsung membantu mu di restoran." Kata Satria bersemangat.


"Iya, kekasih ku ini paling hebat. Tapi rasanya aku belum siap." Melody merasa tak percaya diri.


"Kamu bisa mengajak Memes untuk kersa sama, kalian sama sama kuliah jurusan masak dan mencintai dunia masak memasak." Ide Satria.


"Iya juga ya, dia juga baru lulus, coba nanti aku ceritaan sama dia, kali aja dia mau." Melody sedikit menerawang dan memikirkan ide yang di sampaikan Satria padanya barusan.


Satria tersenyum karena sepertinya ide yang baru saja di sampaikan pada wanita kesayangannya itu akan di pertimbangkan oleh Melody.


Bukannya Satria ingin menghambat karier Melody di Blue Palace, tapi dia benar benar merasa tak tega bila harus membiarkan Melody terus bekerja dengan dengan jam kerja yang seperti itu.


Satria ingin Melody tak lagi menjadi karyawan, tapi pengusaha sesuai dengan apa yang di cita cita kan Melody selama ini, seorang pengusaha restoran.


"Mbul, kalau kemarin aku jadi nikah sama Emily, kamu gimana?" Tanya Satria iseng.


"Kok gimana sih,? Ya gak gimana gimana, mau gimana lagi, kamunya mau !" Ucap Melody sedikit menahan kesal.


"Kamu gak berusaha melarang, atau membawa aku lari dari pelaminan gitu.? Gak ada usahanya banget." Cebik Satria.


"Ish,, mana ada cewek bawa kabur cowoknya dari pelaminan, lagi pula kalau memang abang gak mau menikah, abang kan bisa kabur dan datang sendiri ke tempat ku. Buktinya abang diem aja, berarti abang memang mau." Melody mulai Sewot.


"Tuh kan, jadi marah marah, bikin gemas saja cintaku ini." Goda Satria memeluk erat tubuh Melody yang sedang bersandar padanya, sambil menciumi pipinya gemas.


Melody yang kesal pun tak jadi marah pada kekasihnya itu.


"Setahu ku enggak, Bima tak memecat dia, tapi sepertinya dia mengundurkan diri dari Blue Palace, kenapa, kangen sama kak Putra ?" Tanya Satria agak kesal.


"Bukan seperti itu, hanya saja,,, sepertinya chef Putra orang baik, dia sangat mencintai Mba Emily, kasian kalau harus kehilangan pekerjaannya, bagi orang orang seperti kami yang mencintai dunia masak, di pisahkan dari pekerjaan itu sama halnya seperti kehilangan kekasih, sakit, rindu..." Melodi merasa kasihan dengan dengan nasib Putra, karena menurutnya, dalaam hal ini Putra tidak bisa dipersalahkan.


"Itu pilihan dia sendiri, mungkin dia sudah mempertimbangkan dan memikirkannya secara matang, dengan keputusannya. Aku juga tak pernah bilang kalau dia jahat kan ? Tapi, kalau harus aku bilang dia orang baik juga menurutku tidak tepat."


"Kenapa tidak tepat ?" Melody mengerutkan keningnya tak mengerti.


"Mungkin dia baik terhadap Emily, orang yang di cintainya, tapi karena kebaikan dan rasa cintanya pada Emily, dia menjadi kehilangan akal sehatnya, dia sengaja mendiam kan dan menyembunyikan kejahatan Emily juga Maminya, yang aku yakin seribu persen dia mengetahui kejahatan itu. Apa orang baik tega membantu menipu orang lain?" Satria menatap Melody yang sepertinya mulai mengerti maksud pembicaraan Satria.


"Hmm, ternyata sangat sulit untuk menjadi orang baik ya..." Melody menghela nafasnya dalam.


"Kamu selalu baik di mata aku, apapun yang kamu lakukan." Ucap Satria.


"Hati hati ntar kamu kehilangan akal sehat, karena terlalu cinta sama aku, bang !" Ledek Melody.


"Cuma kehilangan akal sehat ? Aku bahkan rela kehilangan semuanya, harta, jabatan, kekuasaan, bahkan nyawa sekali pun, asal bisa tetap sama kamu." Oceh Satria.


"Hadeuuh,, nih orang kalau sudah kumat gombalnya gini, bahaya !" Melody melepaskan diri dari pelukan Satria dan berdiri menjauhi Satria menuju dapur hendak memasak dan menyiapkan masakan untuk mereka makan.


"Sayang, mau kemana ?" Rengek Satria berusaha menggapai tangan Melody yang berjalan menjauh.

__ADS_1


"Kamu barusan manggil aku apa, bang ?" Pekik Melody kaget dengan panggilan Satria yang memanggilnya dengan sebutan sayang untuk pertama kalinya dia dengar dari mulut laki laki itu, lama sekali semenjak pertunangannya dengan Azta saat itu, kata panggilan sayang seakan menjadi trauma tersendiri bagi Melody.


"Sayang, kenapa memangnya ?" Heran Satria melihat perubahan wajah pada Melody yang tampak jelas.


"Selain aku, siapa lagi yang pernah abang panggil Sayang ?" Melody memicingkan matanya.


"Cuma kamu, gak ada lagi, aku kan baru pernah pacaran sama kamu."


"Mba Emily ?"


"Apa kamu pernah dengar aku manggil dia sayang ? " Elak Satria.


"Di belakang ku? bisa saja kan?" ucap Melody tiba tiba seakan bersikap posesif.


"Tidak ! Hanya kamu. Ada apa ? Ada masalah dengan panggilan itu ? Ingat seseorang ?" Satria berjalan mendekati Melody.


"Sudahlah lupakan.!" Melody melengos dan membalikan tubuhnya berjalan ke arah dapur.


Tapi Satria meraih dan menarik tangannya, lalu membalikan tubuh Melody membawanya mendekat ke tubuhnya.


"Aku ya aku, jangan samakan dengan orang lain, aku memanggilmu sayang, karena kamu memang satu satunya kekasih yang aku sayangi, tak ada dan tak akan pernah ada yang lain."


Satria meraih bahu Melody, mulai mengikis jarak di antara mereka menjadi sangat dekat, Tangan kirinya melingkar di pinggang, tangan kanannya meraih dagu Melody lembut dan mengangkatnya sehingga wajah Melodi menengadah dan semakin dekat dengan wajahnya.


Jari tangan nya menyapu pipi lalu bibir merah Melody yang sedikit terbuka menikmati aksi Satria padanya,


mata satria yang sejak tadi mengarah pada benda kenyal itu semakin sayu di kabuti keinginan yang semakin menuntut, Satria pun menyatukan bibirnya dengan benda kenyal merah milik Melody itu, tangan kanannya menahan tengkuk Melody, membuat tubuh mereka semakin merapat, sehingga bisa merasakan detak jantung mereka yang semakin memburu.


Satria semakin terlena, tangannya mulai bergerilya dan masuk ke dalam kaos yang di pakai Melodi, meraba dan meremas punggung mulus itu,


"Abang !" Melody melepaskan pagguttan mereka.


"Maaf,!" Ucap Satria yang masih menahan sesuatu dalam dirinya, dia tak bisa mengendalikan dirinya bila itu tentang Melody.


"Aku mau masak." Melody tertunduk malu, pipinya merona, sungguh Melody malu, itu ciuman terpanas yang pernah dia lakukan sepanjang kisah percintaannya.


Satria memang berbahaya, dia bisa membuat dirinya terhanyut dan terlena dengan sentuhan sentuhannya.


Hampir saja dia lupa diri.


"Melody !" Panggil Satria saat kekasihnya itu berjalan menjauh,.


Melodi berhenti dan menoleh ke arahnya.


"Nikah yuk !" Ucap Satria dengan tatapan penuh harapnya.


* di like dulu ya kakak kakak yang baik hati,


besok di lanjut lagi...

__ADS_1


Terimakasih masih setia disini ....*


__ADS_2