BUKAN CINTA SEGITIGA

BUKAN CINTA SEGITIGA
Tolong


__ADS_3

Jam kerja Melody sudah selesai, dia terlihat ragu ragu saat akan melangkah keluar pintu pantry, dia takut kalau Azta masih menunggunya, dia masih belum siap bertemu dengan Azta lagi.


Tapi setelah dia celingak celinguk sepertinya Azta tak ada di sekitaran pantry, dia mulai keluar dengan langkah penuh hati hati,


" Mba Melody, tunangan mba dari semalem nungguin di loby, kasian banget" Kata Sarif security pantry


" Hah ? sekarang masih di loby berarti ?" panik Melody


" Sepertinya sudah pergi, saya kurang tau mba, tapi sepertinya tadi malam dia menemui Bu Maya." Ucapan Sarif menghentikan kembali langkah Melody untuk keluar dari Pantry.


Melody masuk kembali ke pantry meninggalkan Sarif dan mencari keberadaan bu Maya.


"Maaf bu, apa ada seseorang mencari saya dan menemui ibu semalam? kalau boleh tau, apa yang dia tanyakan?" Tanya Melody saat menemui Bu Maya di gudang ruang penyimpanan bahan makanan.


" Oh, itu,,, dia cuma ngobrol masalah kalian, sebaiknya segera selesaikan masalah kalian, jangan sampai tunangan mu itu mengganggu pekerjaanmu dan karyawan lain disini, sepertinya dia sangat ingin bertemu kamu." Bu Maya masih mencatat dan mengecek stok barang di gudang,tak peduli.


" Mhh... ta- tapi kami sudah..." belum sempat Melody menyelesaikan ucapannya


" Azta laki laki yang baik, dia sangat mencintai mu, temui dia, dia menunggumu di apartemen." potong Bu Maya datar.


" Apartemen ? ibu memberi tahu tempat tinggal saya? itu privasi bu, kenapa ibu begitu mudah memberi tahu alamat saya pada orang asing ?" Suara Melody meninggi,


" Dia tunanangan mu, dan dia juga masih saudara jauh saya, saya tau Azta orang baik !" Bentak Bu Maya tak kalah tinggi suaranya, dia merasa apa yang di lakukannya itu benar.


" Ah,,, ibu tak tau yang sebenarnya terjadi, seharusnya anda tidak berhak memberi tau informasi pribadi saya kepada siapapun, meski anda memegang data lengkap tentang diri saya, tapi anda tak tau apa yang terjadi pada diri saya, !" Melody sangat kecewa dengan apa yang di lakukan Bu Maya atasannya itu, dia terlalu lancang memberi tau tempat tinggalnya pada Azta yang ternyata masih saudara jauhnya.


Entah kebohongan apa yang Azta ceritakan pada Bu Maya, sehingga dia dengan begitu mudahnya memberikan informasi pribadinya pada Azta, yang seharusnya itu tak boleh dilakukan apapun alasannya. Azta bukan dari pihak kepolisian atau pihak berwenang yang boleh dan berhak mengakses informasi dirinya.


" Ada apa Ody?" Memes yang ternyata sedang bertugas mengambil beberapa bahan makanan yang di butuhkan timnya, tak sengaja mendengar semua percakapan Melody dan Bu Maya.


" Memes...Aku takut, aku gak mau ketemu dia." Melody memeluk erat,sambil menangis tertahan.


" Sudah lah, kamu berhutang cerita padaku, nanti ceritakan padaku kalau kamu sudah mau bercerita, untuk sekarang, kamu pulang ke unit apartemen ku saja , ada Mas Johan yang bisa kamu mintai tolong, kalau ada apa apa." Memes tak ingin memaksa sahabatnya untuk bercerita apa yang terjadi, lagi pula saat ini dia sedang dalam jam bertugas. Melody mengangguk tanda setuju, dia seakan mempunyai kekuatan lagi setelah mendapatkan pelukan dari Memes.


Melody berjalan dengan penuh percaya diri, dia akan pulang ke apartemen Memes yang berada tepat di sebelah unitnya, dia akan meminta tolong Johan kalau sampai Azta berbuat macam macam.

__ADS_1


Benar saja, saat Melody keluar dari lift karena telah sampai di lantai 45 tempat dirinya dan Memes tinggal, terlihat Azta mondar mandir di koridor sekitar tempat tinggalnya, sepertinya dia mendapatkan informasi lantai dimana Melody tinggal, entah dari siapa lagi dia mendapatkannya.


Melody segera berlari ke depan pintu kamar no 4590, tempat tinggal Memes dan Johan.Dia memencet bel berulang ulang tanpa henti.


" Ody,,, aku menunggumu, kita harus bicara,tolong dengarkan aku" Azta menangkap lengan kanan Melody, yang berontak sekuat tenaga tapi tak bisa melepaskan diri dari cekalan Azta.


Pintu apartemen Memes terbuka, tangan kiri Melody langsung melingkar erat di pinggang laki laki yang masih berdiri di pintu.


" Mas Johan...Tolong aku, tolong aku, aku takuuut....!" Melody menangis histeris di dada lelaki jangkung itu,dia masih berusaha melepaskan tangan kanannya dari cekalan Azta yang semakin erat.


" Hei, kau ! apa yang kau lakukan? kau menyakitinya, lepaskan tangannya !" Bentak laki laki berpostur tinggi kira kira hampir 190 cm itu, tubuh Melody yang terbilang mungil itu seperti tenggelam di pelukan laki laki gagah dan tampan itu, tinggi Melody hanya sebatas dadanya.


" Dia tunanganku, kau yang siapa memeluk tunanganku seenaknya.Aku akan membawanya" Azta menarik paksa lengan Melody dengan kasar, emosinya memuncak melihat Melody memeluk laki laki asing di depan matanya.


" Awww,,,sakit,,, ! bohong mas, dia bukan tunangan ku, dia orang gila yang selalu mengganggu ku tolong mas Johan, aku mohon,,," Tangisan Melody semakin memilukan, dia semakin mengeratkan pelukan sebelah tangannya di pinggang laki laki itu.


" Pergi, atau aku panggil security untuk melempar mu dari sini ! Lelaki itu membalas pelukan Melody berujuan melindungi dan menenangkannya, sebelah tangannya menepis tangan Azta yang memegang tangan Melody, dan berhasil, cengkeraman itu terlepas, kedua tangan Melody kini melingkar erat di pinggang lelaki itu,membelakangi Azta.


" Lepaskan dia, dia tunangan ku, siapa kau berani beraninya memeluk dia ?" Hati Azta seakan terbakar melihat laki laki itu mengelus elus punggung Melody.


" Ada apa ini, Melody... apa yang terjadi? kau apakan dia?" Tanya Johan yang datang bersamaan dengan tiga orang security karena ada penghuni lain yang melaporkan kejadian perkelahian di lantai tempatnya tinggal mereka.


" Laki laki gila itu menyakiti pacarku, dan kalian bertiga, cepat seret laki laki itu dari sini, ingat jangan pernah orang ini di izinkan masuk kawasan apartemen ini sampai kapan pun !" Bentak laki laki itu yang langsung di amini oleh ke tiga orang security yang langsung menyeret Azta dari sana.


" Pacar ?" Johan membeo


Saat merasa keadaan sudah aman dan terdengar Azta sudah tak ada di sekitarnya, Melody mulai tenang,dia masih memeluk laki laki itu sambil berjalan ke dalam apartemen milik Memes.


" Ini, minum dulu dy !" Johan menyodorkan sebotol minuman air mineral ke hadapan Melody yang masih menyembunyikan wajahnya di dada laki laki yang masih dia peluk.


" Makasih Mas Johan, " Melody mengangkat wajahnya dan melihat ke arah Johan.


Tapi tiba tiba dia seperti kebingungan.


" Mas Johan? lalu yang aku peluk dari tadi ini siapa ?" Tanya Melody menengadah melihat sosok laki laki yang dia peluk erat dari tadi, laki laki itu tidak di kenalnya, dan bukan Johan.

__ADS_1


" Aku tadi sedang mengambil berkas di kantor, dia temanku," Johan menahan tawa nya melihat lagi lagi Melody salah dalam mengira orang.


" Maaf,,, maaf mas, tadi saya benar benar tidak tau, saya pikir anda Mas Johan, maafkan saya.." Melody melepaskan pelukannya dan menjauh dari laki laki tampan yang terlihat dingin itu, lalu duduk di sebelah Johan.


" Ya ampun Melody, kamu selalu saja ceroboh, dulu aku di kira Pak Roby, dan sekarang temanku di kira aku," Johan terkekeh geli.


" Maaf mas, aku sangat ketakutan tadi jadi tak sadar kalau itu bukan mas Johan." Melody menyesap minumannya,


" Ini teman ku, namanya Satria," Johan memperkenakan laki laki yang kini sibuk dengan dokumen di tangannya.


" Terima kasih Mas Satria, maaf sudah merepotkan anda." Melody berterima kasih tulus, tapi Satria hanya meliriknya sekilas tanpa menjawab apapun.


" Mas, temennya marah sama aku, ya?" Bisik Melodi ke arah Johan.


" Gak, tenang aja,,, dia emang kaya gitu orangnya." jawab Johan dengan bisikan juga.


" ish,, serem amat !" bisik Melody lagi


" Ehem,,, serem tapi di peluk erat, sampe aku sesak tak bisa bernapas, dan ingat wajah seram ini berhasil mengusir tunangan banci mu itu!" Sinis Satria masih tanpa melirik ke arah Melody sedikitpun.


" Banci ?" beo Melody


" Iya, laki laki yang kasar pada perempuan itu pantas di sebut banci, kenapa,? tak terima, tunangan mu ku sebut banci ?" Satria menutup dokumennya dan menatap Melody tajam.


" E- enggak, lagian dia bukan tunangan ku, terserah mau kamu sebut apa, aku tak peduli." Melody grogi melihat mata elang Satria yang seperti menembus ke hatinya.


" Jangan galak galak sama pacarmu, bro,,tadi di luar di peluk peluk sambil berkata, 'dia menyakiti pacarku'!" ledek Johan.


" itu hanya untuk menyelamatkan nya saja, gue gak mungkin merebut selingkuhan lo," Satria seperti tak perduli.


" Apa,,,, selingkuhan ? hey, tolong jaga ucapan anda, aku bukan wanita murahan !" Melody menunjuk wajah Satria yang kini terlihat menyebalkan di mata Melody.


" Lalu kau ingin di sebut apa ? Simpanan? jelas jelas datang kesini mencari Johan dan asal memeluk saja, pasti kamu pikir aku itu dia kan? kau sudah biasa datang kesini dan bercumbu dengan dia kan ?" Satria dengan santainya menyampaikan apa yang ada di pikirannya dengan pandangan merendahkan.


" Heh, tuan,,, mulut anda sungguh beracun, anda keterlaluan.Jangan mentang mentang anda sudah menyelamatkan aku dari laki laki itu, anda bisa berkata se enaknya padaku" Melodi berdiri, emosinya meluap luap mendengar kata kata Satria yang di tujukan padanya.

__ADS_1


__ADS_2