
Melody melenggang meninggalkan ketiga orang yang masih mematung itu di taman belakang, dia sungguh sangat muak berada di antara mereka para kalangan atas yang selalu saja menilai orang lain seenaknya, mengatakan hal hal menyakitkan, seolah orang lain tak akan pernah merasa sakit atau terluka.
Satria dan Bima berhamburan seperti sedang lomba maraton, berlari mengejar Melodi, tapi langkahnya tertahan di ruang pertemuan saat nama mereka di panggil oleh Emir sang ayah.
" Apa yang sedang kalian lakukan? kenapa kalian kejar kejaran di dalam rumah,? seperti bocah saja !" Tanya Emir menatap kedua anaknya yang sama sama terlihat gusar.
" Ayah, maaf, aku harus..." Ucap Satria saat melihat dari kejauhan Melodi sedang mengobrol dengan Emily.
Hatinya tak tenang, sungguh dia takut Emily akan semakin menyakiti perasaan Melodi dengan segala tuduhan dan kata kata kasarnya.
" Cepat kalian ikut ayah, acara akan segera di mulai, ini acara kalian, jangan sampai kalian bikin malu ayah di depan para tamu penting.!" Satria dan Bima hanya mampu menahan rasa kehawatirannya pada Melody dan mengikuti langkah Emir menuju podium.
Hari ini adalah pesta perayaan serah terima jabatan presdir Blue palace dari Satria di serahkan pada Bima.
Blue palace memang sengaja di bangun Emir untuk anak bungsunya Bima, saat dia lulus SMU, Emir berharap Bima akan tertarik untuk belajar terjun ke dunia bisnis seperti dirinya dan anak pertamanya Satria, tapi Bima malah memutuskan untuk kuliah jurusan memasak, Emir mengijinkannya, karena tadinya Emir pikir setidaknya Bima akan mengambil jurusan manajemen kuliner, dimana pelajarannya tentang pengelolaan usaha kuliner, jadi dia masih bisa mengelola hotel yang di persiapkan untuknya selepas kuliah nanti, tapi ternyata jurusan yang di ambil Bima adalah jurusan Baking and Pastry Art.
Dimana dessert, pastry, dan cake adalah fokus dari jurusan ini, disana dia belajar semua hal tentang patiseri, seperti penggunaan alat, teknik pengolahan, teknik pembuatan, bahan bahannya dan banyak lagi, selain cita rasa, tampilan yang indah juga menjadi perhatian utama dalam pembuatan kue, cake dan dessert di jurusan yang Bima ambil ini.
Berbeda dengan jurusan yang Melodi ambil yaitu tata boga, dimana jurusan itu mempelajari bagaimana menjalankan bisnis catering, dan lebih fokus pada pengolahan makanan, pengetahuan dasar makanan dan segala sesuatu tentang makanan. Bahkan, selama kuliah Melody lebih banyak memasak dan mencicipi rasa berbagai makanan. Lulusan jurusan ini biasanya banyak yang menjalankan usaha restoran sendiri, seperti impian Melody yang belum tercapai, atau menjadi koki di sebuah hotel, seperti yang di kerjakan Melody saat ini, atau koki restoran, hingga menjadi manajer restoran dan katering.
Walaupun agak sedikit kecewa, Emir akhirnya memberi ijin Bima mengambil jurusan yang di sukainya, Bima memang agak berbeda dari Satria yang selalu nurut apa yang di arahkan dan di perintahkan Emir, anak bungsunya lebih seperti pembangkang, tak bisa di atur, dan di kendalikan olehnya.
Makanya saat beberapa hari yang lalu, setelah Bima mendengar curahan hati kakaknya, dia memutuskan untuk mengelola Blue palace yang memang seharusnya menjadi tanggung jawabnya, lalu menyampaikan keinginannya pada sang ayah, Emir langsung mengadakan acara serah terima jabatan ini karena takut anak bungsunya berubah pikiran lagi.
Sementara Satria akan menjadi presdir EmHa grup menggantikan dirinya yang akan pensiun karena sudah lelah dan ingin menikmati hari tuanya dengan berkeliling dunia bersama Diana, istri tercintanya.
Acarapun berlangsung lancar,
sementara di halaman rumah mewah itu, tepatnya di dekat gerbang utama, Emily menghentikan langkah Melody.
" Tunggu, wanita tak tau diri !" teriak Emily, tapi Melodi tak menghiraukan teriakannya.
" Hey, kau, beraninya datang kesini, dasar tebal muka.!" Emily menarik belakang dres Melodi kasar.
__ADS_1
" Anda berbicara dengan saya ?" Melodi membalikan badannya.
" Tentu saja, siapa lagi wanita tak tau diri disini selain kamu ! lihatlah penampilanmu, datang ke pesta dengan dandanan seperti akan pergi ke taman hiburan !" cibir Emily sambil menatap sinis.
" Maaf, orang tua saya melarang saya untuk berbicara dengan orang asing,!" Melodi melengos hendak meninggalkan Emily yang semakin kesal.
" hey,,, sialan ! berani sekali wanita rendahan sepertimu mengabaikan ku." gertak Emily.
" Dan setauku, wanita kelas atas tak ada yang bersikap kasar dan suka memaki seperti anda, nona !" ketus Melodi.
" Ku peringatkan padamu, jangan pernah coba coba mendekati Johan ataupun Bima, karena kau akan berurusan dengan ku dan Satria, kau tahu,,, Satria sengaja mendekati mu dengan memesan makanan dari mu hanya untuk mencari informasi tentangmu saja, untuk melindungi sepupunyya Ririn, jadi jangan besar kepala merasa kalau masakan mu enak, atau bahkan kamu mengira Satria suka padamu ? MIMPI !" sinis Emily tersenyum merendahkan.
" Terimakasih telah memberi tau saya nona, tapi saya sarankan sekali lagi, tak usah sok akrab, kita tak sedekat itu, nona emily !" Melody berlalu pergi meninggalkan Emily setelah ojek on line yang di pesannya datang menjemputnya.
Sepanjang perjalanan, Melody memikirkan perkataan Emily tadi padanya, benarkah Satria mendekati dirinya hanya untuk mencari tau tentang dirinya karena masih mencurigai dirinya punya hubungan dengan Johan.
Benarkah Satria mendekatinya hanya karena ingin melindungi sepupunya,? tak terasa butiran bening berlomba turun dari matanya, meluncur bebas di pipinya.
Setelah sampai di Blue Palace, Melody segera menuju ke ruangan Bu maya, dia meminta ijin mengambil liburnya besok, dan Maya mengijinkannya karena memang minggu ini sudah masuk jatah jadwal Melody libur, hanya tinggal mengajukan kepada Maya, bila tak bentrok dengan jadwal libur rekan satu teamnya pasti akan mendapat ijin karena memang dua hari libur setiap dua minggu sekali itu hak nya.
Melody memutuskan untuk pulang ke Bandung, rasanya dia rindu mama dan papanya. Sekalian ingin menenangkan hati dan pikirannya yang terasa kacau.
***
" Pak, kemana perginya,perempuan yang tadi datang bersama Bima?" Satria menanyai satpam penjaga gerbang rumahnya, dia berlari sekuat tenaga menyusul Melodi keluar setelah acara serah terima selesai.
" Oh, perempuan cantik yang tadi berantem sama nona Emily, maksud tuan?" satpam itu balik bertanya.
" Berantem ? maksudnya ?" Satria penasaran.
" Tadi wanita cantik itu di maki maki oleh nona Emily," terang satpam itu takut takut.
" Kak,,,, lihat ini !" Bima yang menyusul Satria ke gerbang depan, berteriak memanggil kakaknya dari dalam ruang pos satpam sambil melihat beberapa layar yang terdapat di sana.
__ADS_1
Satria bergegas masuk, mendekati dimana Bima berdiri.
" Emily ! lancang sekali kamu !" umpat Satria sambil memukul dinding ruangan itu sekuat tenaga, dia begitu emosi melihat tangkapan gambar cctv, di sana terlihat Melodi yang sedang di intimidasi oleh Emily dengan kata kata yang tak pantas di dengar.
" Semua ini gara gara kamu ! coba saja kamu tak membawa Melodi datang kesini, dia tak akan mendapatkan perlakuan seperti itu.!" Tunjuk Satria pada adiknya dengan wajah memerah dan kilatan mata penuh kemaran.
" Maafkan aku kak, aku akan memperbaikinya, aku akan berbicara dengan Melody besok, karena sekarang dia pasti butuh waktu untuk dirinya sendiri." lirih Bima yang sangat merasa bersalah atas semua kejadian yang menimpa Melody hari ini.
" Kak, apa kakak menyukai Melodi.?" tanya Bima pelan.
" Sebesar apapun aku menyukainya, aku dan dia tidak mungkin bersama, karena aku harus menikah dengan Emily." Satria terduduk lemas di kursi kayu depan pos satpam.
" Apa karena paksaan ibu ?" tanya Bima merasa iba karena melihat sepertinya Satria mulai mencintai Melodi. Tapi di luar dugaannya jawaban Satria justru gelengan kepala.
" Kalau bukan karena paksaan ibu... berarti kakak mencintai kak Emily?" Sambung Bima.
" Tidak, aku tidak pernah mencintainya, aku selalu menganggapnya sebagai sahabat baik ku sejak dulu." tegas Satria.
" Lalu,,,, kenapa kakak harus menikahi Emily kalau tak pernah ada cinta dan bukan karena paksaan ibu ?" Bima semakin bingung.
" Sudah lah, ini mungkin sudah menjadi jalan ku," Satria bangkit dari duduknya dan berjalan kembali ke dalam rumah.
" Kak,,,,, jangan membohongi diri, kamu mencintai Melodi kan?" Bima menyusul langkah Satria.
" ya, sepertinya aku menyukai dia, ini pertama kalinya aku mencintai seorang wanita." Satria datar.
" Lalu perjuangkan dia, rebut hatinya, kak,! aku yakin Melodi pun mempunyai perasaan yang sama dengan mu, kak " Bima memberi kakaknya semangat.
" Tak mungkin, dan tak bisa, aku tak mau membuat hatinya semakin terluka,dia baru saja terluka karena tunangannya." Ucap Satria.
" Kamu mencintainya kak, kamu bisa menyembuhkan lukanya," yakin Bima.
" Aku memang mencintainya, tapi aku tak mungkin bisa bersamanya.!" Satria tersenyum perih.
__ADS_1