BUKAN CINTA SEGITIGA

BUKAN CINTA SEGITIGA
Arti Hadir Ku


__ADS_3

"Saya siap dengan syarat apapun Om, saya pasti memenuhi syarat itu demi Melody," tukas Azta penuh keyakinan.


"Om tau, kamu pasti bisa dan sanggup melakukan apapun yang Om jadikan syarat, tapi syarat Om kali ini bukan buat kamu, tapi buat Melody." jawab Malik tersenyum.


"Pah, tolong lah, gak pake syarat aja Ody gak mau, apa lagi pake syarat, ogah !" ketus Melody sebal.


"Sst, Melody dengarkan dulu papa bicara!" tegur Malik.


"Saya akan merestui kamu menikah dengan Melody dan memaafkan juga menerima masalalu mu, dengan satu syarat, Melody bersedia menikah dengan mu, tapi kalau Melody tidak bersedia menikah dengan mu, saya minta kamu mundur dengan ikhlas dan lapang dada," papar Malik.


"Om, ini tidak adil, om sudah berjanji," protes Azta.


"Maaf, tapi ini keputusan sudah menjadi keputusan final, mendengar semua kejujuran tentang cerita mu, Om bisa mengerti dan memahami, tapi,,, itu membuat Om tersadar bahwa om sudah egois dan berlaku tidak adil pada anak Om sendiri." Malik menatap penuh sesal ke arah Melody.


"Maafkan papah Melody, mulai sekarang, papah tidak akan memaksakan keinginan papah untuk hidupmu, papah percaya, kamu pasti lebih tau mana yang terbaik untuk hidup mu. Papah akan mendukung apapun yang menjadi pilihan hidupmu," Malik merentangkan kedua tangannya meminta Melody untuk datang dan memeluknya, Melody pun berhamburan menuju pelukan papanya yang sangat dia rindukan.


"Maafkan Melody yang tak berani jujur sama papah selama ini, Ody takut membuat papah dan mamah jadi terbebani dengan masalah Ody." isak Melody memohon ampun pada Malik.


"Papah tak akan melarang dan menghalangi siapapun laki laki yang kamu pilih untuk menemani hidupmu, Nak. Papah percaya pada mu." ucap Malik terharu.


"Maaf pah, tapi Ody sudah punya pilihan, dan sudah menentukan, hanya abang yang Ody mau." papar Melody.


"Ody, dia suami orang !" sergah Azta protes.


"Nak Azta, Om percaya dengan pilihan Ody, dia tau yang terbaik untuknya, dan Om akan mendukung pilihannya, Om harap Nak Azta bisa menghormati keputusan Melody." potong Malik tegas.


"Tapi dia, si johan sialan ini sudah punya istri, dia tidak pantas mendapatkan Melody, " wajah Azta berubah muram, matanya memerah menahan marah akibat ketidak puasan dengan keputusan Melody yang ternyata di dukung Malik.


"Nak Satria masih sendiri, belum menikah, belum punya istri, dan bukan suami orang," ungkap Malik.


"Satria ? Ta- tapi dia Satria" tunjuk Azta pada Johan yang baru saja datang sehabis selesai mengurus salah satu anak buahnya di rumah sakit, dan baru saja melangkahkan kaki nya memasuki ruang tamu.


"Apa ? Ada apa ? Aku baru dateng gak tau apa apa" elak Johan mengangkat kedua tangannya ke atas sejajar dengan kepalanya.


"Dia Satria, bos dari bajing_an ini." ucap Azta yakin.


"Ini Satria dan itu yang baru datang Johan, asistennya, dan Nak Azta tidak sepenuhnya salah karena johan memang sudah beristri." jelas Malik.

__ADS_1


"Apa apaan ini, kalian mempermainkan ku?" geram Azta yang merasa sedikit bingung dengan yang Malik jelaskan padanya, dia seperti sedang di permainkan dan di ledek oleh Satria dan Johan.


"Kami tak pernah mempermainkan siapa pun," Satria membuka suaranya setelah dari tadi hanya diam mendengarkan pembicaraan dan perdebatan orang orang yang ada di ruangan itu.


"Tapi, kenapa kalian bertukar nama, dan kau,,, bukan kah kau presdir EmHa yang aku temui beberapa hari yang lalu itu?" Azta menunjuk ke arah Johan yang masih berdiri di ambang pintu.


"Kami tak pernah merasa bertukar nama," elak Johan.


"Tapi... aah ini gila, kau, kalian mempermainkan ku, kalian menipu ku!" tuduh Azta meraup mukanya kasar.


"Gue gak pernah menipu lo, dari awal gue tak pernah memperkenalkan diri dengan nama Johan, begitu pun dia, tak pernah memperkenalkan diri dengan nama ku, kan ?" ujar Satria melirik Johan yang mengangguk membenarkan pernyataannya.


"Kak Azta, ini semua hanya kesalah pahaman kakkak sendiri," Melody menengahi perdebatan antara mantan tunangan dan kekasihnya itu, tapi ucapan Melody mendapat sambutan tatapan tak suka dari Satria yang sepertinya sedikit cemburu.


"Tapi waktu itu kamu memeluknya dan memanggilnya dengan nama Johan, aku tidak tuli, dan masih mengingatnya, Ody!" sergah Azta yang merasa yakin kalau dirinya tak salah dengar saat itu.


"Aku yang salah memanggil dia saat itu, aku ketakutan oleh mu, sampai memeluk dan memanggil orang yang salah." jelas Melody yang malah semakin membuat tatapan Satria semakin tidak enak dengan wajah yang merengut.


"Kalian semua mempermainkan ku, dan Om, saya tidak menyangka, anda ikut mempermainkan saya selama ini," cecar Azta membabi buta, bahkan dia juga melampiaskannya pada Malik.


"Om, juga baru tau kebenarannya kemarin saat Satria ke sini mencari Melody yang di bawa pergi oleh Nak Azta," jelas Malik meluruskan permasalahan atas tuduhan Azta padanya.


Namun tiba tiba, Satria ikut berdiri dari tempatnya duduk,


"Om, saya sudah mengembalikan Melody kesini, saya serahkan Melody pada Om, saya pamit." ucap Satria berpamitan pada Malik yang kini memijat pangkal hidungnya, karena merasa masalah putrinya


Melody yang mendengar pembicaraan Satria dengan papahnya langsung menghampiri kekasihnya itu.


"Abang, mau kemana ?" seru Melody menarik tangan Satria.


"Aku mau pulang, sayang. Aku sudah memenuhi janjiku padamu, kan. Membawa mu kembali ke pelukan papa mu." ucap Satria dengan senyum yang di paksakan.


"Jangan pergi," rajuk Melody menggoyang goyangkan lengan Satria merajuk.


"Hey, aku harus pulang sayang. Sebaiknya kamu selesaikan urusan kamu dengan dia, kalian butuk waktu untuk membicarakan masalah kalian, aku pamit ya !" ucap Satria seraya mengecup pucuk kepala Melody sekilas.


Satria dan Johan melangkah meninggalkan rumah Malik, sementara Melody hanya bisa menatap punggung Satria yang semakin menjauh dan menghilang dari pandangannya.

__ADS_1


"Apa kamu sangat mencintainya ?" lirih Azta memperhatikan wajah Melodi yang murung karena ditinggal Satria.


"Sangat mencintainya," ucap Melody sambil menduduki kursi teras berhadap hadapan dengan Azta, wajahnya terlihat muram.


"Ckk,,,secepat itu ?" decak Azta tersenyum sinis.


"Cinta tak kenal tempat dan waktu, prosesnya tak bisa kita tentukan cepat atau lama, tapi datang begitu saja," jawab Melody datar.


"Kita bersama hampir enam tahun lamanya, dan kamu memilih dia yang baru beberapa bulan saja kaamu kenal." sinis Azta.


"Ya, hampir enam tahun kita bersama, dan aku sangat mencintai juga menyayangi mu, tapi kamu menghancurkan semuanya dalam semalam." Melody tersenyum smirk.


"Ody, aku sudah menceritakan segalanya pada mu, aku salah, apa kamu tak bisa memaafkan dan memberiku kesempatan untuk memperbaiki semuanya ?" mohon Azta mengiba.


"Tak ada yang perlu di perbaiki, tidak ada yang tersisa di antara kita, sekarang kita hanya perlu memperbaiki hidup kita masing masing dengan jalan yang berbeda," pungkas Melody.


"Ody,,, aku masih menyayangimu," cicit Azta.


"Kak, ada yang lebih memerlukan kasih sayang mu, Nirel sangat mengharapkan kasih sayang ayahnya, saat itu dia bercerita pada ku waktu kami di Mall, dia sangat merindukan sosok ayahnya, sangat ingin sekedar di temani kakak bermain di rumahnya, atau di jemput ayahnya saat dia pulang sekolah." beber Melody menceritakan obrolannya dengan Nirel, putri Azta saat mereka berdua di Mall waktu itu.


"Aku sangat ingin memeluk dan menyayangi anak itu, tapi aku tidak bisa, aku terlalu kecewa dan apa yang sudah di lakukan ibunya pada ku membuat aku membenci nya teramat dalam, Moza seakan menjadi penghalang besar untuk ku menyayangi putri ku, walau aku menginginkannya," ungkap Azta mencurahkan isi hatinya.


"Tapi kak, Nirel tidak bersalah apapun pada kakak, dan wanita itu,, emh wanita bernama Moza itu dia pasti punya alasan melakukan itu semua, apa kakak sudah pernah berbicara baik baik dari hati ke hati dengannya ?" tanya Melody mencoba menyadarkan Azta, kalau Nirel sangat membutuhkan ayahnya.


Azta menggelengkan kepalanya,


"Aku tak pernah membicarakan apa apa lagi dengannya, berbicara dengannya hanya membuatku sakit !"


"Kak, terkadang kita tak bisa membedakan, antara rasa cinta dan rasa benci, karena batasnya hanya sehelai rambut saja, tipis kak !"


"Maksudnya?" heran Azta.


"Mungkin Kakak masih sangat mencintai wanita bernama Moza itu, mungkin kakak hanya mensalah artikan rasa di hati kakak." Melody tersenyum.


"Aku membencinya, sangat membencinya, dan tidak ada lagi cinta untuknya !" ketus Azta.


"Kakak tak mungkin begitu membencinya, jika kakak tak lagi menyimpan rasa cinta untuknya di hati kaka sampai saat ini."

__ADS_1


"Tidak,,, sudah tidak ada rasa cinta untuk dia disini, itu sudah lama mati," sangkal Azta.


"Lebih baik tanyakan lagi pada hati kakak, pastikan lagi bagaimana perasaan kakak terhadap wanita bernama Moza itu, dan bagaimana perasaan kakak untuk aku setelah dia datang kembali ke kehidupan kakak, apa benar kehadiran aku masih berarti di kehidupan kakak yang sebetulnya sudah sempurna dengan kehadiran cinta masa lalu kakak dan juga Nirel, buah cinta kalian ?"


__ADS_2