
Satria buru membawa Melody masuk ke dalam mobilnya, dia tak ingin ada orang lain tau kebersamaannya dengan Melody, karena itu akan membuat melodi jadi bahan pergunjingan di hotel tempatnya bekerja.
" Kamu tinggal dimana ?" Satria membuka pembicaraan.
" Aku ngekost, di daerah pancoran." ucap Melody santai.
" Astaga,,, itu jauh banget Mbul, di Jakarta Selatan,,,!" Satria menatap miris Melody
" Naik bis cuma sejam katanya, tapi semalem aku naik ojek on line berangkat kerja, soalnya kan subuh subuh males kalo harus naik bis." papar Melody.
" Hmm,,, siapa yang ngasih tau tempat jauh itu ?" tanya Satria agak kesal,
" Mbah google ! lagian harganya murah, cuma 700rb sebulan, aku harus irit, kan aku udah di buang sama..." Melody tak meneruskan kata katanya, dadanya tiba tiba terasa sesak.
" Siapa yang buang kamu ?" tanya Satria penasaran.
" Papahku, aku udah ga boleh lagi tinggal di apartemen, dan ga boleh pulang ke Bandung kecuali--" Melodi menjeda kalimatnya.
" Kecuali apa ?" Satria menoleh ke arah Melody.
" Kecuali aku setuju untuk menikah dengan Azta bulan depan." lirih Melody.
" Shiiittt !!! kamu ga boleh nikah sama laki laki brengssekk itu !" umpat Satria memukul setir yang di pegangnya.
" Aku juga gak mau, makanya aku memilih untuk keluar dari apartemen, dan bersedia untuk tak pulang, meski ini berat banget, aku kasian mama" Melody tertunduk sedih beberapa bulir air mata menjebol pertahanannya dan berjatuhan meluncur bebas di pipinya.
" ini tempatnya ?" Satria menghentikan mobilnya di sebuah bangunan yang berbentuk seperti bangunan panjang dengan banyak pintu,dan bersekat sekat, terlihat agak sedikit kumuh, jemuran baju yang bergelantungan di setiap depan pintu kamar membuat semakin terkesan kumuh menurut Satria yang di kesehariannya hanya melihat kamar kamar hotel bintang lima, apartemen mewah, rumah mewah, mungkin bisa di bilang ini pengalaman pertamanya mendatangi tempat seperti itu.
" ini kamarku, aku bahkan belum sempat mengeluarkan barang barangku dari koper." Ucap Melody sambil tersenyum manis, menyembunyikan tangisnya.
" gak usah di keluarkan, koper koper itu akan aku bawa ke mobil sekarang." larang Satria saat melihat Melody seperti akan membuka kopernya.
Sungguh Satria tak akan pernah tega membiarkan Melodi tinggal di kamar sempit yang hanya ada ranjang kayu ukuran kecil dengan kasur busa tipis, lalu lemari plastik kecil dan cermin yang bahkan tak ada meja riasnya.
Kamar mandi yang sangat sempit, bahkan terkesan sedikit jorok, tanpa shower dan toilet duduk.
" Mau di bawa kemana?" tanya Melodi ketika melihat Satria sudah mulai mengangkat kedua kopernya.
" Apartemen Seruni !" ucapnya singkat.
" tapi, aku sudah tak boleh menempati apartemen itu lagi, aku juga gak mau kalau harus nebeng Mas Johan, " tolak Melody.
" Gak di tempat mu dan gak nebeng tempat Johan juga !" tegas Satria.
" Tapi aku udah bayar buat tiga bulan kedepan, malah dapet diskon seratus ribu, jadi cuma bayar dua juta aja." rengek Melody.
" Aku ganti dengan harga satu tahun." Satria menggeret koper koper itu dan memasukannya ke dalam bagasi mobilnya.
" Bang Bos,,, aku gak mau ngerepotin siapa siapa." lirih Melody, dia takut kalau dia menjadi beban Satria nantinya, belum lagi Emily yang pasti akan sangat murka bila tau hal ini.
" Aku tak merasa di repot kan dan tolong, menurutlah untuk sekali ini, karena kalau kamu tak menurut, aku akan sangat marah !" Ancam Satria.
__ADS_1
Melody terpaksa mengikuti kemauan Satria, meski dia tak tau akan di titipkan di tempat siapa di apartemen seruni.
Melody pun berusaha untuk tak banyak bertanya pada Satria, dia lebih banyak diam.
Satria dan Melody memasuki loby apartemen seruni, Satria memasuki lift dengan kartu akses muliknya.
" Kok, kartunya beda kaya punya aku sama Memes ?" selidik Melody saat melihat kartu berwarna hitam yang di miliki Satria, sedangkan punya dirinya dan Memes berwarna putih.
" Tentu saja, unit ku tidak sama dengan punya Johan dan Pak Malik Purwanto." Cengir Satrian
" Kok tau nama papah ku ?" Melody melongo.
" Harus tau dong, masa gak tau nama calon papa mertua sendiri !" canda Satria.
" Ish, Bang Bos mah senengnya bercanda terus." Melody mengerucutkan bibirnya sebal.
Cup,,,,
Satria mengecup bibir Melodi sekilas, dia gemas melihat tingkah lucu Melody.
" Bang bos ! aku gak nangis kok di cium sih !" Melody menutupi mulut dengan sebelah tangannya.
" Siapa bilang, tadi waktu di kost kamu nangis, aku belum hukum kamu ! harusnya malah dua kali karena di jalan juga tadi kamu nangis, tapi aku diem aja." elak Satria.
" Udah, stop jangan cium cium lagi," tegas Melody, dia takut semakin tak bisa mengendalikan hatinya dan semakin menyukai Satria.
" Ayo sini," ajak Satria.
" Bang Bos, aku baru tau kalau ada lantai lain setelah lantai 50," kagum Melody melihat pemandangan dari bangunan paling atas apartemen atau sering di sebut penthouse.
Istilah penthouse dalam bahasa indonesia di sebut juga griya tawang, tak seperti tipe unit apartemen lainnya, biasanya penthouse hanya tersedia benerapa unit saja atau bahkan hanya satu unit dan mencakup seluruh lantai paling atas.
" iya lah cuma yang punya kartu berwarna hitam, yang bisa nyampe ke lantai ini." pamer Satria menyombongkan diri.
" ish, congkak sekali anda, Pak presdir ! tapi, ini penthouse punya siapa?" tanya Melody kagum dengan bangunan super mewah itu, bangunan dua lantai itu di isi dengan perabotan yang pasti harganya serba mahal, jangan lupakan pemandangan kota Jakarta yang seakan dapat terlihat semuanya saat membuka gorden ruang tengah, tak terbayang bagaimana indahnya apabila itu di lihat saat malam hari.
" Pemilik penthouse ini namanya Satria Kaisar Hamzah !" Satria mendudukan diri di sofa empuk ruang tengah yang menghadap jendela raksasa secara langsung.
" Tapi, kalau aku tinggal disini gak mampu bayar sewanya, Bang Bos," polos Melody.
" Siapa yang akan menyewakannya pada mu?" goda Satria.
" terus ngapain aku di bawa kesini ? cuma mau pamer ?" cebik Melody.
" Tinggal disini, hitung hitung merawatnya untuk ku" pinta Satria.
" Apa aku harus tinggal sendirian di tempat sebesar ini ?" tanya Melody berusaha mencari cari alasan.
" Apa perlu aku temenin ?" cengir Satria.
" Bang Bos, nanti kalau Mba Emily tau bisa berabe lho !" ucap Melody.
__ADS_1
" Tenang aja, dia atau siapaoun gak ada yang tau tentang penthouse ini. Kamu aman disini." Satria tersenyum.
"Hm, baiklah berarti aku hanya bertugas merawat tempat ini sebagai biaya tempat tinggal ?" tanya Melody.
" iya dan sekarang di tambah tugas masakin aku makanan enak, aku laper." kata Satria mengelus perutnya.
Melody berjalan menyusuri semua ruangan, dan berakhir di tempat favoritnya yaitu dapur, alat masak tertata rapi seperti tak pernah di pakai, padahal peralatan masaknya sangat lengkap, ketika membuka lemari pendingin juga terdapat beberapa sayur, daging dan bahan makanan lainnya memenuhi kulkas besar itu.
Melody memulai kegiatan paling di sukainya, memasak, kegiatan yang selalu bisa membuatnya bahagia.
Melody memasak beberapa menu makanan untuk mereka santap.
Setelah matang semua, dia menghidangkannya di meja makan, ayam kecap, tumis brokoli dan telor balado tersusun cantik di meja, hanya menu sederhana, Melody sedang ingin masak menu rumahan yang biasa mamanya masak di rumah untuk mengobati rasa rindunya pada Anita sang mama.
" Wah, kelihatannya enak sekali, kamu memang istri idaman !" puji Satria, lalu menyantap semua masakan di meja dengan lahap.
Selesai makan, Satria mengajak Melody ke balkon ruang tengah untuk menikmati semilir angin sore yang sejuk, sambil memandang hiruk pikuk ibu kota dari ketinggian.
" Mbul, makasih ya !" ucap Satria menatap Melody dalam.
" Untuk ?" Melodi mengernyitkan dahinya.
" Sudah hadir di cerita kehidupan ku, memberi warna yang lain dalam hidupku, melengkapi hati ku yang kosong, membuat aku merasakan apa yang namanya bahagia." Satria meraih tangan Melody yang duduk di kursi sebelahnya.
" Maaf Bang Bos, aku tak pantas mendapatkan ucapan terimakasih untuk semua itu, saya bukan siapa siapa Bang Bos," Melody tertunduk, dia sungguh bingung dengan kebersamaannya bersama Satria ini apa sebenarnya, dia merasa jahat karena berada di antara hubungan Satria dan Emily.
Jujur dia menyukai Satria, benih benih cinta itu mulai tumbuh, apalagi dengan sikap baik dan perhatian Satria yang selalu memperlakukan nya seperti seorang kekasih, membuat dia semakin terbuai, Satria memang pernah menyatakan kalau dia menyukai Melody, tapi, bagaimanapun saat ini Satria milik Emily, itu kenyataannya.
" Tapi aku menyukai mu, bahkan mulai mencintai mu, aku tak bisa memyimpan perasaan ini lebih lama lagi." ucap Satria memelas.
" Bang Bos, ingat,,,, kamu akan segera menikah dan menjadi suami Mba Emily." tegas Melody.
" Bukan kah sudah berulang kali aku bilang, aku tak bisa menganggap dia lebih dari sahabat,,,," bantah Satria.
" Maka cobalah untuk berusaha mencintainya !" ucap Melody meski hatinya terasa seperti teriris mengucapkan kata kata itu.
" Aku sudah mencobanya berulang kali tapi tak bisa..." Satria memejamkan matanya menahan segala emosi yang memenuhi jiwanya.
" Aku menyukaimu, aku mencintaimu, ijinkan aku menjagamu, dan tetap bersamaku." mohon Satria.
" Lalu mba Emily ?" tanya Melody.
" Aku tak bisa menjanjikan apa apa padamu, tapi aku akan berusaha memperjuangkan perasaan ku padamu, walau nyawa ku yang harus menjadi taruhannya, semoga ada keajaiban untuk kita." Harap Satria.
" Kenapa semua harus segala tentang kamu,? tentang perasaan mu ? apa Bang Bos tak ingin bertanya bagaimana perasaan ku pada Bang bos ?" cecar Melody.
Satria baru sadar, kalau selama ini, hanya dia yang selalu mengungkapkan perasaannya, perasaan sukanya, perasaan cintanya, tanpa pernah sekalipun bertanya bagaimana perasaan Melody terhadapnya.
Bisa saja dirinya hanya bertepuk sebelah tangan, karena Melody tak merasakan perasaan apapun terhadapnya. Oh, betapa selama ini dia sudah bersikap sangat egois pada Melody, pikirnya.
" Maaf kalau aku memaksakan perasaan ku, tapi itu memang perasaan ku," Lirih Satria.
__ADS_1
" Aku tau, Bang Bos hanya berusaha jujur, aku hargai itu." Melody tersenyum penuh arti.
" Bagaimana perasaan mu padaku? apa kamu menyukaiku juga atau....?" Satria tak berani meneruskan kata katanya.