
" Huff,,,,hari senin yang melelahkan, terimakasih team, atas kerja sama kalian, sampai jumpa besok !" Bima melakukan hi five pada semua anggota teamnya, saat mengakhiri jam kerja siang itu.
Hari itu memang agak sedikit sibuk untuk team dessert karena ada tamu hotel yang tiba tiba meminta di buatkan lima buah kue ulang tahun, karena tamu ingin memberikan surprise pada pasangannya, dan dia meminta dalam waktu dua jam semua harus sudah siap. Untunglah, berkat kerjasama yang kompak, mereka dapat menyelesaikan semuanya.
" Melody, tunggu !" Bima mengejar Melody yang berjalan ke luar pintu pantry.
" Aku traktir makan siang, mau ?" ajak Bima.
" Mmmh,,, boleh, tapi aku ijin Memes dulu ya, ntar dia ngambek kalau tau kamu makan siang sama aku." Melody mengeluarkan ponsel dari tasnya, lalu menelpon Memes yang masih berada di Banyumas.
" Mes, pacarmu ngajakin aku makan siang bareng nih, boleh gak ?"
"......."
" Oke siap, kamu baik baik di sana, jangan cemburu, hahaha"
Melody mengakhiri pembicaraannya dengan Memes dan melanjutkan langkahnya mengikuti kemana arah Bima melangkah.
" Aku mau di ajak kemana nih, sebenernya?" Rengek Melody bertanya terus menerus pada Bima yang masih tetap tak mau memberi tau kemana tujuan mereka sebenarnya.
Akhirnya Bima menghentikan laju mobilnya di pekarangan sebuah rumah besar dan mewah.
Melody mengedarkan pandangannya ke sekeliling tempat itu.
" Ayo turun !" Ajak Bima membuka kan pintu mobil untuk Melody.
" Tapi ini rumah siapa ?" Tanya Melody ragu ragu untuk turun dari mobil.
" Rumah orang tua ku, gak liat apa, tulisan itu bertebaran di rumah ini?" Mata Melody mengikuti kemana arah telunjuk Bima, sebuah tulisan besar EmHa terlihat di sana, setelah di perhatikan, Melody juga menemukan tulisan serupa di beberapa tempat, antara kan di pintu gerbang depan, di dinding rumah yang menggadap ke samping juga terdapat tulisan itu.
" Ini rumah orang tuamu atau kantor EmHa grup, sih?" Tanya Melodi polos.
"Rumah orang tuaku, lah,," Jawab Bima
" Kok, banyak tulisan EmHa nya." Melodi menunjuk tulisan tulisan yang ada di sekitar rumah mewah itu.
" Kamu pikir, EmHa itu apa?" tatar Bima
" Ya,,, perusahaan besar, siapa yang gak tau dengan nama perusahaan se besar EmHa, di negeri ini." jawab Melodi santai, mulai keluar dari dalam mobil.
" EmHa itu nama ayah ku, ayah kak Satria juga, Emir Hamzah, apa kamu tak tau? ayahku lumayan narsis, perusahaannya saja harus memakai namanya, hehe." cengir Bima.
" Ayah ? itu berarti kalian anak dari pemilik EmHa grup yang terkenal itu?" kaget Melodi.
__ADS_1
" Ish, apa kamu beneran gak tau? aku pikir paling tidak kamu tau kalau kak Satria itu anak dari Emir Hamzah, secara dia kan presdir di Blue palace," cebik Bima,
" Aku tau kalau blue palace salah satu anak perusahaan dari EmHa grup, tapi aku pikir ya, cuma kerabat saja atau rekanan saja." ujar Melodi.
" Ish, dari namanya aja sudah jelas banget, Satria Kaisar Hamzah." ucap Bima jengah.
" Mana ku tau, malah tadinya aku ngira kalau Bang bos cuma temen Mas Johan, bukan Presdir blue palace, hehe" cengir Melodi.
" Bentar lagi juga udah bukan Presdir blue palace," Bima menggandeng tangan Melodi saat membuka pintu rumahnya.
" Maksudnya ? " Melodi sedikit terkejut dengan pernyataan Bima, tapi dia semakin terkejut saat melihat banyak orang berkumpul di ruangan yang mirip ballroom hotel itu.
Sepertinya sedang ada pesta di rumah mewah itu.
Melodi merasa dirinya tak percaya diri berada di tengah orang orang kelas atas dengan dandanan yang mentereng, baju bermerek, perhiasan berkilauan.
Sedangkan dirinya sekarang hanya memakai mini dres casual dengan flat shoes, dia merasa berada di tempat yang salah, saat ini.
" Acara apa ini? bukannya kamu hanya ingin mentraktirku makan siang ?" bisik Melodi sambil menggenggam erat tangan Bima, karena dia merasa tak nyaman berada di sana.
" ini acara serah terima jabatan presdir Blue palace dari kak Satria ke aku." Bima tersenyum.
" Diam lah, dan bantu aku berpura pura menjadi pasangan ku, biar ibuku tak terus menerus bertanya tentang pasangan ku." bisik Bima.
" Tak ada hubungan apa apa antara aku dan Memes." ketus Bima.
" Tapi Memes menyukai mu." cicit Melodi.
" Aku tau ! sudah lah bantu aku dulu." tegas Bima.
" haish, adik kakak sama sama otoriter, arogan dan sama sama ular, kata katanya pedas dan beracun.!" gerutu Melodi pelan.
" Hai.... sayangku, kenapa baru datang sih ?" Anita, ibunya Bima menyambut anak bungsunya yang baru saja datang dengan menggandeng seorang perempuan cantik.
" Kerjaan ku baru selesai bu, " Bima membalas pelukan ibunya.
" Dan ini ?" Diana melirik ke arah Melodi
" Oh, kenalkan bu, ini--" belum sempat Bima menyelesaikan kalimatnya, tiba tiba,
" Dia, asistennya Bima di Hotel, bu." Satria memotong pembicaraan adiknya, lalu melirik tajam ke arah Bima dan Melodi.
" Oh,,,,saya Diana, ibunya Bima dan Satria, dan ini calon istri Satria, namanya Emily," Diana memperkenalkan diri nya dan calon menantunya, lalu pergi dengan membawa serta Emily, sepertinya emily akan di perkenalkan dan di pamerkan kepada seluruh tamu yang hadir saat itu.
__ADS_1
" Saya Melody, senang berkenalan dengan anda, dan maaf, saya tidak tau kalau akan di bawa ke acara ini, jadi saya tidak ada persiapan." Melodi merasa tak enak dengan tuan rumah, takutnya di kira tak menghormati si empunya acara, karena dandanan dia yang casual, sementara yang lain terlihat sangat formil, dengan dres mewah dan setelan jas.
" Kamu,,, ikut aku !" Satria menarik kasar tangan Melodi yang di gandeng Bima, lalu menyeretnya keluar dari ruangan ramai itu.
" Bang bos,," rintih Melodi ketakutan.
" Kak,,,!" pekik Bima hampir bersamaan dengan suara rintihan Melodi.
" Diam,,,! kamu juga ikut aku !" tunjuk Satria pada adiknya.
Bima mengikuti langkah Satria yang menyeret paksa Melodi.
Satria membawa Melodi ke taman belakang rumahnya yang lebih sepi, karena semua orang berkumpul di ruangan khusus pertemuan. Rumah mereka sengaja menyediakan ruangan besar mirip seperti aula, bahkan ballroom hotel,karena orang tua mereka sering mengadakan acara pertemuan di rumah.
"Kenapa kamu bisa disini,? bersama dia, lagi?" Ketus Satria tanpa melepaskan pegangannya di lengan Melodi.
" Saya gak tau kalau mau di ajak kesini, tadi chef Bima bilang hanya mau mentraktir makan siang." Jawab Melodi sambil tertunduk, tak berani menatap ke arah Satria.
" Apa maksud mu membawa Melody kesini?" Pandangan tajam Satria beralih ke arah Bima.
" Tak ada maksud apa apa kak, aku hanya iseng saja, biar ibu gak tanya tanya pasangan terus padaku, tapi kakak malah mengatakan yang sebenarnya pada ibu, kalau Melodi itu hanya asisten ku," rajuk Bima pada kakakknya yang terlihat emosi.
" Berarti tadinya kamu akan memperkenalkan dia sebagai pacarmu, gitu ?" Satria bertambah emosi.
" Kenapa kamu marah, kak? memangnya ada yang salah kalau aku sama dia pacaran?" kilah Bima semakin membuat emosi Satria mengubun ubun.
" Kamu......!" geram Satria tidak sanggup melanjutkan kata katanya.
Sungguh dia pun tak mengerti, mengapa hatinya tiba tiba saja terasa begitu panas seperti terbakar saat melihat Melodi di gandeng mesra Bima. Setidaknya itu yang dia lihat, padahal gandengan tangan biasa, tak ada adegan mesranya.
" Tentu saja kakakmu akan sangat marah, bila kamu berpacaran dengan dia, wanita ini penuh dengan tipu daya, pesonanya memang sengaja dia tebar untuk menjerat para lelaki kaya seperti kamu, Bima" Emily tiba tiba ada di tengah tengan mereka ber tiga dan langsung menyambar obrolan.
" Emi...! cukup !" Bentak Satria yang tak sadar masih memegang erat tangan Melodi.
" Sudah lah, tak perlu kamu rahasia kan lagi pada adikmu, tentang hubungan rahasia wanita ini dengan Johan, jangan sampai adikmu jadi korbannya juga." ketus Emily melepaskan tangan Satria yang masih bertaut di tangan Melodi.
"Kalian para ular, hobi sekali merendahkan ku !" Melodi menatap Satria, Bima dan Emily bergantian.
"Melody...!" pekik Satria dan Bima bersamaan.
" Bang Bos,,,, terimakasih sudah membantu saya, dan maaf telah melibatkan anda dalam masalah saya, chef Bima,,,tolong jangan mempersulit hidup saya, saya sangat menyayangi Memes, dan tak ingin ada salah paham di antara kami nantinya," Melody tersenyum tipis pada dua kakak beradik yang terdiam itu.
" Dan anda, nona Emily, anda tak berhak menilai saya, karena anda tak tau siapa saya, tak usah sok tau, !" Melodi melirik sinis Emily yang tak mengira kalau Melody berani melawannya.
__ADS_1
Melody melenggang meninggalkan ketiga orang yang masih mematung itu di taman belakang, dia sungguh sangat muak berada di antara mereka para kalangan atas yang selalu saja menilai orang lain seenaknya, mengatakan hal hal menyakitkan, seolah orang lain tak akan pernah merasa sakit atau terluka.