BUKAN CINTA SEGITIGA

BUKAN CINTA SEGITIGA
Chaos


__ADS_3

Suasana canggung di antara mereka tak dapat di hindari setelah kejadian ciuman hangat mereka beberapa menit yang lalu di dalam tenda itu.


" Maaf, itu,,, tadi..." Satria terbata bata.


" Emh, ah sudahlah, lupakan. Mungkin kita hanya terbawa suasana. Ayo ambil tanaman papah ku, dan kita pulang." Melody beranjak dari tempat duduknya.


Dia tak ingin lebih lama lagi berduaan dengan Satria disana, dia takut benih benih cinta yang mustahil terjadi dalam hatinya untuk Satria semakin tumbuh.


Satria milik Emily, terlepas dari apa pernyataan Satria kalau dia tak mencintai Emily, tapi kenyataannya, di mata orang tua mereka bahkan semua orang, mereka adalah sepasang kekasih.


Begitupun dirinya, yang masih terikat tali pertunangan tak jelas dengan Azta, meski dirinya sudah menganggap pertunangan itu tidak ada, tapi orang tuanya dan Azta sendiri masih menganggap mereka pasangan bertunangan.


Kalau Melody di tanya bagaimana perasaannya terhadap Satria saat ini, jujur saja setelah mendengar curahan hati Satria yang menanggung banyak beban berat di hidupnya di malam konser saat itu, rasa cinta itu sudah mulai ada, entah hanya karena iba atau kagum saja, tapi Melody selalu berusaha mencoba menepis dan menyangkal perasaan itu, dia yakin perasaannya salah.


Tapi sialnya, seiring berjalannya waktu rasa itu semakin tumbuh dan Melody menyimpan itu sebagai perasaan cinta yang bertepuk sebelah tangan.


Hati Melody berbunga bunga saat tadi Satria mengatakan jikalau dia menyukai nya dan juga mulai mencintai dirinya, walaupun entah itu hanya sekedar bentuk candaan atau memang benar benar yang di rasakan hatinya.


Makanya saat Satria mencium dirinya dia seolah pasrah tanpa penolakan, meski itu sebuah kesalahan karena mereka tak terikat hubungan apapun.


Mungkin itu merupakan salah satu kesalahan terindah bagi Melody.


Tapi semuanya sudah terjadi, tak mungkin juga mengulang waktu kembali, sekarang tinggal tentang bagaimana dia bersikap selanjutnya saja, mungkin berpura pura seolah tak terjadi apa apa menjadi pilihan terbaik saat ini untuk Melody, bagaimanapun dia harus membentengi diri sendiri agar tidak semakin terhanyut dalam pesona Satria dan perasaannya sendiri, agar tak terperosok pada lembah kecewa dan sakit hati yang lebih dalam.


"Nanti anterin sampe depan rumah aja ya, Bang bos gak usah mampir rumah, takutnya jadi banyak pertanyaan" Ucap Melody saat hampir sampai kawasan di rumahnya.


"Lah, tanamannya gimana? Biar aku bantu turunin ke rumah, ya !" Pinta Satria.


"Gak usah, ntar aku bawa sendiri aja." Ucap Melody lalu kembali tertunduk dan diam.


"Kenapa kita jadi awkward (canggung) gini sih? kamu marah gara gara kejadian tadi, ya?" Satria meraih tangan kanan Melody, berusaha menggenggamnya.


"Bang Bos, aku kan udah bilang, lupain." Melody tersenyum paksa, sambil melepaskan tangannya dari genggaman Satria secara halus.


"Hmmm, yayaya lupain, okay !" Wajah Satria terlihat sangat kecewa dengan apa yang di katakan Melody padanya barusan.


Dia kecewa karena ciuman mereka ternyata bukan suatu hal yang berarti buat Melody, bahkan dia meminta untuk melupakan saja.


Padahal bagi Satria ciuman itu benar benar istimewa dan tak mungkin bisa di lupakan begitu saja sampai kapanpun.


Untuk pertama kalinya dia berciuman dengan seorang wanita yang di cintainya, walaupun selama ini Emily juga sering mencuri curi ciuman darinya, tapi dia tak pernah menanggapi, Satria paling mengecup pipi atau bibir Emily sekilas di depan orang tuanya hanya agar terlihat mesra saja, demi menyenangkan ibunya yang sangat berharap dirinya menikahi Emily.

__ADS_1


Bukannya tak pernah mencoba, beberapa kali Satria mencoba mencintai Emily, tapi hatinya menolak, perasaannya untuk Emily memang tak bisa lebih dari sekedar sahabat saja, terlepas dari apapun yang telah terjadi pada mereka.


Berbeda dengan perasaan nya untuk Melody, hatinya bergetar dan menghangat saat bersamanya, jantungnya berdegup kencang, dan perasaan bahagia memenuhi hati juga pikirannya, perasaan yang tak pernah dia dapat saat bersama Emily yang bahkan sudah bersahabat dari jaman sekolah.


"Kenapa wajah mu pucet gitu ?" Tanya Satria saat mendapati wajah Melodi pias dan terdiam kaku, sesaat setelah Satria menghentikan mobilnya di depan rumah Melody.


"Ada mobil Azta," Jawab Melody pelan, menunjuk sebuah mobil suv hitam yang terparkir di halaman rumahnya.


"Aku temenin masuk ya ?" Tawar Satria.


"Tidak usah, kalau Azta liat Bang bos pasti ribut, aku bisa ngehadapinnya sendiri, tenang aja.!" Melody tersenyum mencoba menenangkan Satria yang mulai mengencangkan rahangnya.


"Tapi,,,," Ucapan Satria terhenti saat Melody tiba tiba mengelus pundaknya pelan seakan mengatakan kalau dirinya akan baik baik saja.


"Percaya sama aku, kamu pulang dan hati hati di jalan ya,,," Melody mengelus pipi Satria lalu turun dari mobil sambil membawa beberapa tanaman pesanan papahnya dari bagasi.


Satria hanya bisa menatap punggung Melody yang semakin menjauh memasuki pekarangan rumahnya dari dalam mobil sambil mengepalkan tangan, dadanya sungguh terasa sangat sesak mendengar Azta ada di sanap, kemarahannya tiba tiba membuncah, Satria sungguh khawatir dengan keadaan Melody, tapi dia tak bisa membantunya bahkan hanya untuk sekedar menemaninya menghadapi Azta disana, Satria merasa saat ini dirinya tak berguna.


Melody berjalan dengan beberapa tanaman hias yang dia tenteng di tangannya, terlihat Azta dan kedua orang tuanya sedang berbincang di teras rumah.


"Sayang, sini aku bantu.! Sopirku mencari cari keberadaan kamu di sana tapi tak ketemu, bukankah sudah ku bilang untuk menunggu ?" Azta terlihat sok pura pura perhatian di mata Melody, padahal mungkin perhatian Azta padanya tulus adanya.


"Kamu pulang sama siapa, malam malam begini? kenapa sopirnya Azta tak bisa menemukanmu di restoran itu?" Tanya Malik sang papah dengan wajah yang sudah kecut seakan tak bersahabat.


"Teman siapa ? Kenapa mengantar tak mampir dulu ? Tukang paket saja kalau ngantar barang bertemu pemilik rumah dulu, tidak sopan !" umpat Malik ketus.


"Saya yang mengantarkan Melody pulang, Om." Jawab Satria yang memutuskan untuk turun dan menghampiri Melody setelah melihat ponsel milik Melody tertinggal di jok mobilnya.


"Bang bos, !" Melodi membalikan badan ke arah suara lelaki yang baru saja mengantarkannya.


"Ponselmu tertinggal." Satria menyodorkan ponsel milik Melody.


"Kau...!? Berani beraninya mengantarkan nyawa mu sendiri kesini, mbajiingan !" Azta dengan tatapan membunuhnya langsung di serang emosi.


" Melody ! Siapa dia ?" Tunjuk Malik pada Satria dengan tatapan tak suka.


"Maaf Om, perkenalkan, nama saya...." Lagi lagi Satria tak dapat menyelesaikan kalimatnya karena Azta memotong ucapannya.


"Dia Johan, atasan Melody di hotel, dia selalu berusaha mendekati Melody padahal dia sudah punya calon istri, dan sebentar lagi akan menikah." Terang Azta sok tau dan nada sinisnya.


Malik pun tak ayal di buat membelalakan matanya tak percaya.

__ADS_1


"Tutup mulut mu, Azta !" Bentak Melody sambil menunjuk wajah Azta penuh amarah.


"Diam kamu Melody ! Dan kamu, apa yang sudah kamu lakukan pada anak saya? jangan mentang mentang kamu atasan anak saya, terus kamu bisa memperlakukannya seenaknya !" Bentak Malik mendekati Satria yang berdiri tak jauh dari Melody.


"Pah, apa yang Azta katakan barusan semua kebohongan !" Melody berdiri membelakangi Satria, dia berusaha melindungi Satria dengan menjadikan dirinya tameng hidup bagi Satria yang sepertinya akan di serang dua orang laki laki yang terbakar amarah karena dirinya.


"Apa sekarang kau hanya bisa bersembunyi di balik punggung perempuan, huh? Mana keberanianmu seperti saat di apartemen ?" Sinis Azta,


"Melody ! Jelaskan apa yang terjadi ! Apa maksudnya laki laki ini ada di apartemen mu ?" Wajah Malik merah menyala mendengar kata kata Azta yang mengatakan kalau laki laki ada itu ada di apartemen Melody.


"Azta, kamu keterlaluan !" Jerit Melody yang mulai terisak.


Anita, mamanya Melody hanya bisa menangis melihat anak dan suaminya yang biasanya saling menyayangi itu kini bertengkar hebat, sungguh hatinya hancur menyaksikan semua ini.


"Kamu yang keterlaluan, kamu sudah bertunangan, tak pantas berduaan dengan laki laki lain di apartemen, apalagi dia sudah punya calon istri, mau jadi apa kamu? Kenapa kamu sekarang jadi binal begini ?" Malik menyemprot anak kesayangannya, seakan tak ingin mendengar penjelasan apapun dari anak gadis kesayangannya itu.


"Pah, jaga bicara mu !" sentak Mama Anita mengingatkan Malik.


"Aku? Binal? Pah, apa papah tak bertanya pada calon menantu kesayangan papah ini kenapa dia meninggalkan aku sendirian begitu saja tadi siang di lembang ?" Ucap Melody dalam isak tangisnya, Satria yang yang bingung harus berbuat apa, hanya bisa mengelus lembut punggung Melody yang masih berdiri tepat di hadapannya.


"Dia ada urusan perusahaan yang mendadak dan sangat penting." jawab Malik.


"Perusahaan ? " Melody tersenyum sinis.


"Ya, bukan kah itu semua juga buat kamu nantinya, harusnya kamu mengerti dia, Azta berjuang untuk masa depan kalian, dan kamu malah berselingkuh dengan laki laki playboy ini, cih... laki laki tak setia !" Umpat Malik, dan seketika Azta pun tersenyum karena merasa dirinya di atas angin mendapatkan pembelaan Malik.


"Playboy ? Tak setia? Kalau aku suruh milih, aku pasti akan memilih dia, dari pada calon menantu kesayangan papah yang sempurna itu." Perkataan Melodi tentu saja semakin membuat Malik naik pitam di buatnya.


"Melody ! Papah akan secepatnya menikahkan kamu dengan Azta!" Ancam Malik.


"Maaf pah, Melody tidak bisa !" Tegas Melody.


"Kamu ! Berani melawan papah ? Semua gara gara kamu, berenngsekk !" Malik yang akan menyerang Satria segera di peluk Anita istrinya, menahan tubuh sang suami agar tak bertindak terlalu jauh.


"Melody, cepat pergi dari sini, cepat mama mohon !" Teriak mama Anita sebelum hal yang lebih buruk terjadi di sana.


"Mamah...papah... maafkan Ody !" Melody menarik tangan Satria dan mengajak dia untuk segera meninggalkan tempat tinggalnya.


"Melody,! Sampai kapan pun papah tak akan pernah menyetujui hubungan kamu dengan laki laki itu ! Ingat, kamu juga tak boleh lagi tinggal di apartemen papah, kamu harus segera keluar dari sana !" Teriak Malik membabi buta meluapkan amarah pada Satria dan juga Melody sang anak kesayangannya.


Azta pun hanya bisa melihat kepergian Melody yang di peluk erat oleh Satria, sepertinya kali ini dirinya akan benar benar kehilangan Melody.

__ADS_1


" Tenang saja Azta, Om akan berusaha agar kamu dan Melody secepatnya menikah." ucap Malik dengan segala keyakinannya.


__ADS_2