
Satria melajukan kendaraannya menuju sebuah tempat yang letaknya di daerah yang agak lebih tinggi lagi di banding vila tempat resepsi pernikahan Johan dan Ririn.
Memerlukan waktu sekitar tiga puluh menit untuk sampai di tempat itu.
Sampailah kini mereka di sebuah hamparan luas dengan pohon pohon yang tinggi menjulang di sekitar area itu.
Sebuah resort di sekitar bumi perkemahan baturraden adalah tempat yang di pilih Satria untuk melewati dan menikmati malam bersama Melody.
Bukan tanpa alasan mengapa Satria memilih resort di daerah bumi perkemahan yang pernah di jadikan lokasi jambore nasional gerakan pramuka pada tahun 2001 silam itu, karena resort itu menyediakan fasilitas berkemah lengkap untuk para pengunjungnya yang ingin merasakan suasana camping di alam terbuka, lokasi perkemahan itu berada di area bumi perkemahan Baturraden, bumi perkemahan yang sebenarnya kembangkan oleh perum perhutani setempat itu memang sungguh memanjakan mata para wisatawan, pemandangan yang tersaji disana sangat menakjubkan dan tak akan pernah membuat bosan untuk memandangi keindahannya.
Udara dingin langsung menyeruak seakan menelusuri sampai ke tulang saat Mereka melangkah turun dari mobil, bagaimana tidak, kawasan ini berada di sekitar 670 meter di atas permukaan laut, karena ini lah mengapa hawa dingin langsung menyelimuti tempat itu di saat malam mulai menjelang seperti sekarang ini.
"Kok, Bang Bos bisa tau tempat yang sangat indah seperti ini?" Tanya Melody sambil menggosok gosokan kedua telapak tangannya untuk mengurangi rasa dingin, sesekali mendekatkan ke mulutnya dan memberikan hembusan uap ke sela sela telapak tangannya yang bertautan.
"Dulu aku dan Johan sering camping di sini kalau kita sedang mengunjungi Ibu dan Bapaknya Johan di peternakan." Ucap Satria seraya melepaskan jas yang dia pakai lalu memakaikannya pada Melody yang terlihat kedinginan karena masih mengenakan gaun yang di pakaiannya saat di resepsi tadi siang.
"Disini dingin banget, tapi pemandangannya sungguh indah." celoteh Melody takjub.
Satria mengotak atik ponselnya, sepertinya dia sedang berkirim pesan, tapi entah dengan siapa.
Tak berapa lama Bima dan Memes datang menyusul kesana saat Melody dan Bima selesai membersihkan diri, mungkin lebih tepatnya Melody membersihkan sisa sisa rasanya make up di wajahnya.
"Kalian datang tepat pada waktunya." Satria menyambar dua paper bag besar yang ada di pegangan tangan Bima.
"Kak, kamu sukses membuat mba Emily kalangan kabut mencari cari keberadaan mu di pesta." Lapor Bima tertawa geli, mengingat Emily yang heboh dan nyaris membuat kekacauan di pesta karena mencari cari keberadaan Satria yang tiba tiba menghilang.
Saat di jalan tadi Satria sudah mengabari Bima dengan mengiriminya pesan tentang kepergiannya bersama Melody, termasuk meminta bantuan untuk mengantarkan baju untuk dirinya dan Melody yang sudah dia siapkan di bagasi mobilnya ke tempat dirinya sekarang berada.
"Biar saja, aku tak peduli." Ketus Satria tak tertarik membahas tentang Emily.
"Tapi kenapa kamu bisa sama kak Satria di sini Ody?" Tanya Memes dengan wajah polosnya, dia belum tau perihal melody yang kini sudah resmi menjadi kekasih gelap Satria.
"Tentu saja, dia kan calon kakak ipar ku." Sambar Bima.
"Apa? Kakak ipar? Itu artinya..." Memes menatap tajam Melody yang tersipu malu,
__ADS_1
"Ody kamu berhutang cerita padaku." Ucap Melody sedikit menggeram.
Satria dan Melody sudah berganti pakaian dengan celana panjang dan jaket yang tadi di bawakan Bima.
Sekarang mereka ber empat sudah berada di sebuah tenda yang di persiapkan pemilik resort, untuk mereka menikmati suasana pegunungan yang indah itu, beberapa alat bakar bakaran lengkap dengan beberapa bahan makanan seperti jagung, sosis, daging juga bumbu bumbu yang di perlukan tersedia di sana untuk makan malam mereka.
"Ody, sejak kapan kamu pacaran sama kak Satria ?" Tanya Memes saat Mereka sedang membakar jagung berdua, karena Satria dan Bima sedang mempersiapkan api unggun di samping tenda.
"Masih baru banget pokoknya lah, belum ada" sebulan." ujar Melody malu malu.
"Kok bisa sih? Bukannya kalian itu selalu bertengkar setiap kali ketemu ?" Heran Memes, karena se ingatnya Satria dan Melody saling membenci satu sama lain sebelumnya, sepertinya dia ketinggalan banyak cerita gara gara sibuk mempersiapkan acara pernikahan kakaknya Johan.
"Entah lah, aku juga gak tau bisa terjerat pesona pacar orang, hahaha." Melody dan Memes terbahak bersama."
"Lanjutkan, aku mendukung mu. Hancurkan dan usir si cicak sombong itu dari sisi Kak Satria." pekik Memes.
"Ish, jahatnya mulut mu, Mes!" Desis Melody.
"Iya lah, Memes mendukung mu sepenuhnya, karena dia juga butuh dukungan agar bisa jadian sama Bima." Ucap Satria yang tiba tiba berada di antara mereka.
"Wah, kalau itu dengan atau tanpa dukungan dari anda semua, aku tetap akan selalu setia mengejar cinta chef manis ku." Memes melirik Bima yang seperti biasa tak pernah menanggapi ungkapan cinta Memes yang selalu terkesan blak blakan itu.
"Harus mau!" Memes mengerlingkan matanya.
Kemudian di sambut gelak tawa Melody dan Satria.
Mereka duduk beralaskan tikar anyaman pandan, menikmati menu bakaran yang tadi di masak Melody dan Memes, sambil memandangi hamparan bintang dan kerlip lampu kota Purwokerto dari ketinggian, yang terlihat sangat indah dan menambah suasana semakin romantis.
"Bim, kamu gak pengen ngajak Memes kemana gitu?" Tanya Satria.
"Bilang aja minta di tinggal pengen berduaan, giliran ada butuhnya nyuruh nyuruh kesini nganterin baju, udah ga kepake di usir." Gerutu Bima pada kakaknya.
"Bang bos, jangan gitu, lagian berkemah itu enaknya ya rame rame, kalo ber dua bisa bahaya." cebik Melody.
"Ah, kamu memang calon kakak ipar idaman banget, Melody." Puji Bima mengacungkan dua jempol tangannya ke arah Melody.
__ADS_1
"Iya lah, jelas. Sama kaya aku yang juga calon adik ipar idamannya kak Satria," Ucap Memestak mau kalah.
"Iya, cuma kamu calon adik iparku satu satunya pokoknya, kalau gak pacaran sama kamu Bima tak akan ku restu sama cewek manapun, karena kamu kan, calon istri idaman Bima." Oceh Satria, di sambut dengan decakan kesal Bima atas ucapan kakaknya itu.
Rencana menghabiskan malam berdua saja dengan Melody gagal sudah, karena Bima dan Memes ikut meramaikan suasana camping mereka.
Satria ingin mengukir kenangan manis di setiap kebersamaannya dengan Melody.
Tepat tengah malam mereka turun dari bumi perkemahan itu.
Selain udara yang bertambah dingin, Satria juga memutuskan untuk pulang ke Jakarta dini hari nanti bersama Melody naik kereta, dia tak ingin pulang ke Jakarta bersama rombongan keluarganya, karena itu berarti dia harus terpisah lebih dari 10 jam lamanya dengan Melody, apalagi pasti dia harus menghadapi sikap manja Emily yang semakin menjadi bila di depan Diana, sang ibu yang selalu berbahagia bila melihat mereka terkesan mesra, dan hal itu selalu di jadikan kesempatan oleh Emily untuk bermanja dan bermesraan dengan Satria.
Bima dan Memes mengantar mereka ke stasiun Purwokerto, Mobil hadiah pernikahan untuk Johan sengaja di tinggal di resort itu, agar di ambil sendiri oleh Johan, karena Satria juga sudah mempersiapkan dan menyewa kamar khusus paket bulan madu sebagai tambahan hadiah kejutan untuk pasangan pengantin baru itu, plus permintaan maaf karena memakai mobil baru itu untuk melarikan diri dengan Melody.
"Bang Bos, ini pengalaman pertama buat aku naik kereta api, aku seneng banget, terimakasih udah mewujudkan salah satu keinginan aku sejak kecil." Bisik Melody saat duduk di kursi kereta api eksekutif sambil menyandarkan kepalanya di bahu Satria.
"Aku akan ngasih hal hal baru yang belum pernah kamu alami sebelumnya, maaf ya, aku belum bisa memperkenalkan kamu pada orang tua ku, tapi aku janji suatu hari nanti aku pasti akan bawa kamu menemui orang tua ku, sabar ya.!" Satria menghela nafas dalam, ada sedikit sesak di dadanya, jujur, ada sedikit ketakutan terbersit kalau dirinya tak akan bisa mendapatkan restu dari orang tuanya atas hubungan nya dengan Melody.
Sementara bukti bukti tentang malam itu, tentang apakah dirinya benar benar telah merenggut kesucian Emily atau tidak, masih terasa samar, dirinya dan Johan seakan mendapat jalan buntu, meski telah berusaha selama beberapa tahun mencari kebenaran itu, bahkan cctv saat malam itu pun tak bisa di akses.
Atau mungkin karena beberapa tahun kebelakang dia tak punya seseorang seperti sekarang yang seolah mengobarkan semangat lebih besar untuk mencari kebenaran, karena merasa ada seseorang yang harus dirinya perjuangkan.
"Bang Bos, aku selalu bahagia saat bersamamu, semua hal yang aku lewati bersama mu menjadi hal termanis dalam hidup ku. Bila sampai suatu saat nanti ternyata kita tak bisa bersama dan kamu harus menikah dengan mba Emily, aku tak akan pernah menyesal kamu pernah menjadi bagian dari hidupku." Melody mengangkat wajahnya memberikan senyuman termanisnya untuk Satria tulus.
Satria mengecup kening Melody sangat dalam, dadanya semakin terasa sesak dan sedikit nyeri mendengar ucapan Melody barusan.
"Sstss, tolong jangan bicara seperti itu, aku tak bisa walaupun hanya sekedar membayangkan harus berpisah dari kamu." Setetes butiran bening jatuh ke pelipis Melody tanpa persetujuan si pemilik.
"Bang Bos, kamu nangis?" kaget Melodi, menjauhkan badannya dari Satria, lalu memberi jarak agar dia bisa melihat jelas wajah Satria.
"Jangan pernah berkata seperti tadi lagi, aku akan berusaha memperjuangkan kita, meski nyawa taruhannya, aku janji." Satria membuang wajahnya dari tahapan mata Melody, menyembunyikan kesedihan nya.
"Kamu janji jangan pernah tinggalin aku apapun yang terjadi ya, please,, aku gak bisa, gak sanggup." Sambung Satria lirih.
"Ish, Bos arogant, galak, dan bertato bisa nangis juga ya." Goda Melody mengusap pipi Satria lembut.
__ADS_1
"Heh, aku tidak menangis, mungkin ac di atas kita bocor." Elak Satria seraya menengadah melihat ac yang terletak di atas kepalanya.
* Jangan lupa like nya kakak, komen juga biar bisa saling sapa, semoga hari anda semua menyenangkan.....*