
Sampai sore hari hujan tak juga reda, mau tidak mau Melody bertahan menunggu bersama Satria dan Johan.
" Bro, kalau hujan sudah agak reda, malam ini aku ikut pulang bersama rombongan perusahaan, masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan." ucap Johan saat mereka bertiga sedang duduk di balkon hotel sambil melihat pemandangan sekitar yang tertutup kabut tebal, di temani secangkir teh panas.
" terus gue pulang sama siapa?" Tanya Satria.
" Bersikaplah selayaknya satria, apa kamu tega, Melody pulang sendirian ? gak ada bedanya sama cowoknya dia dong." kata Johan.
" Tapi dia nya mau gak, gue anterin pulang?" Satria melirik Melody sekilas.
" Gak usah kalo gak iklas, aku bisa naik angkutan umum besok." Melody membuang muka.
" okay, gue bakal bersikap layaknya satria sesuai dengan nama gue, lu urus pekerjaan selama gue disini." Satria membusungkan dan menepuk nepuk dadanya sendiri.
" Emangnya Bang Bos mau berapa lama disini?" Tanya Melody melongo
" Pokoknya sampai aku nganterin kamu pulang ke apartemen seruni. Libur mu selesai besok kan?" Melody hanya diam saja tak menyangkal atau meng iyakan kata kata Satria.
Malam hari cuaca tiba tiba cerah kembali, Johan sudah pulang kembali ke Jakarta bersama rombongan EmHa grup yang kemarin ikut serta dalam peresmian hotel.
" Jalan jalan yuk !" Ajak Satria
" Kemana ? Bang Bos harus nemenin aku ngambil tanaman pesenan papah, terus anter aku pulang." Ujar Melody masih bermalas malasan menonton televisi di kamar hotel.
" Iya, tapi kita jalan jalan dulu sambil nyari makan malam, mumpung langitnya cerah." Satria menarik paksa tangan Melody agar mengikutinya.
mereka berjalan jalan di bawah langit yang kini penuh bintang, belum ada pembahasan tentang pertengkaran mereka di Jakarta kemarin, mereka seakan hanya ingin menikmati malam ini saja.
" Makan di sana mau ?" Tunjuk Satria pada sebuah area seperti lapangan hijau, di atasnya berdiri beberapa tenda dan di hiasi lampu lampu kecil di sekitarnya.
Satria tertarik ketika beberapa orang terlihat menikmati suasana makan di dalam tenda lengkap dengan lilin di atas mejanya yang menambah suasana romantis saat makan bersama pasangan.
Melody tersenyum dan mengangguk tanda setuju.
Siapa yang tak tergoda untuk mencoba suasana romantis seperti itu.
Merekapun memasuki salah satu tenda yang menghadap pemandangan kerlap kerlip lampu kota dari dataran tinggi tempat mereka duduk lesehan. beberapa makanan dan minuman hangat melengkapi kebersamaan mereka.
" Kamu kemarin marah ya sama aku, sama Bima juga?" Tanya Satria hati hati.
" Aku malah lupa kemaren lagi marah sama kalian, untung di ingetin!" Melody ternyata benar benar lupa kalau kemaren dia lagi kesel sama kakak beradik itu.
__ADS_1
" ish, salah ngomong aku !" sesal Satria menepuk keningnya sendiri.
" Bang Bos masih curiga aku pacaran sama Mas Johan ?" Telisik Melody.
" Gak, dari semenjak aku minta di bikinin nasi goreng sama kamu, udah ga curiga, Johan sama Memes udah ngejelasin semuanya." Satria datar.
" Bukannya itu salah satu cara Bang Bos buat cari info tentang aku ?" tanya Melody lagi.
" Udah lah, maafkan perkataan Emily, dia kadang suka ngaco !" Satria menepis perkataan Melody.
" Kok mba Emily ?" Melody mengerutkan dahinya, hatinya agak tak suka saat Satria menyebut nama Emily.
" Karna dia yang bilang gitu ke kamu kan ? aku udah liat rekaman cctv nya, kejadian di gerbang rumah kemarin, maafin dia ya!" lirih Satria merasa tak enak.
" Aku udah lupain kok," Ucap Melody pelan.
Rasanya perih ketika Satria memintakan maaf untuk Emily padanya.
" Bang Bos udah lama pacaran sama Mba Emily?" tanya Melody.
" Emh,,, ga usah ngebahas aku sama Emily boleh?" Satria sepertinya keberatan membahas masalah pribadinya dengan Emily.
Melody hanya mengangkat kedua bahunya.
" Seru emang ya, kalo denger cerita aku ter aniyaya?" cebik Melody kesal.
" iya, seru banget kayanya, cerita yang tadi kamu di tinggalin itu dong !" goda Satria.
" ish, Bang Bos, malah ngingetin lagi, sebel banget tau, masa cuma di telpon wanita itu aja, dia langsung pergi ninggalin aku, rasanya aku ga berharga banget gitu." Melodi bercerita penuh emosi mengingat kejadian tadi siang.
" Enam tahun pacaran, harus begini akhirnya,bener bener buang waktu !" ucap Melody kesal.
" Uuh,,, enam tahun ? kalo cicilan mobil di leasing udah lunas tuh" cengir Satria.
" Tapi kan udah selesai semuanya malah lega, tapi yang aku heran, kenapa kamu masih pergi berdua sama dia ?" sambung Satria.
" Papah ku yang manggil dan nyuruh dia nemenin kesini, kalo aku udah putus komunikasi sejak malam pertunangan, masalahnya, aku belum berani bilang sama orang tua ku kalau aku dan Azta udah putus, takut ngecewain mereka, di tambah lagi Azta juga tidak mau kalau hubungan kami berakhir." Melody menghela nafas panjang.
" Azta, kakak Azta itu, ya ? kapan kamu mau berhenti panggil aku Bang bos? rasanya ga enak banget kaya lagi jalan sama sekretaris pribadi, lagi pula sekarang aku sudah bukan presdir Blue Palace, jadi bukan bos mu lagi." protes Satria.
" terua aku harus manggil apa ? Bang Sat ? Bang Kai ?" Ejek Melody geli.
" kok, Bang Kai ?" heran Satria
__ADS_1
" Bang Kaisar, nama Bang bos bukannya Satria Kaisar Hamzah?" Mereka pun terbahak bersama.
" Bang, aku waktu di tempat konser itu denger pertengkaran Bang bos sama Chef Bima, terus Bang Bos bilang kalo.... Bang Bos gak cinta sama Mba Emily, lalu..." Melody menjeda pembicaraannya ragu ragu,
" aku pernah bilang sama Memes waktu di restoran dan ada bang bos juga, kalau aku liat Mba Emily lagi itu,,,di taman sama...." Melody tak meneruskan kata katanya.
" Ciuman sama cowok lain maksudnya?" sambar Satria santai.
" Bang Bos ga marah ?" Melody tercengang melihat sikap santai Satria.
" Udah sering, dan aku menbebaskan dia untuk berhubungan dengan siapapun, bahkan menikah dengan orang lain, selama pria iti menerima Emi apa adanya." Ucap Satria datar.
" Hubungan yang aneh !" Melody geleng geleng kepala.
" Aku gak cinta dia, dia juga tau, aku sudah jutaan kali mengatakannya pada dia." Satria menyeruput kopinya,
" gak cinta, tapi masih di pertahanin. Emang ga ada sedikit aja rasa cinta gitu ?" cebik Melody.
" cinta seperti apa? kalau cinta sebagai sahabat ada, tapi kalau cinta sebagai pasangan,,,, ada tapi bukan untuk Emily." Satria menatap mata Melody dalam.
" Bang bos punya selingkuhan ? " Melody membelalakan matanya kaget.
" Mau gak ya,,, orangnya di jadiin selingkuhan, kalau kamu mau gak jadi selingkuhan ?" Satria masih menatap mata Melody.
" ih, gak mau lah !" Melody mengerutkan hidungnya.
" Yaah,,, di tolak, orangnya gak mau di jadiin selingkuhan !" Satria menunduk lemas.
" Apa sih bang bos !" Melodi memukul lengan Satria grogi.Tapi satria menangkap tangannya Melody cepat.
" Kalau aku suka kamu gimana ?" Satria menatap mata Melody dalam.
" Bang bos, jangan bercanda seperti ini, ntar ada setan lewat lo.!" Melody salah tingkah menghindari tatapan mata Satria.
" Aku suka kamu, sepertinya aku juga mulai cinta kamu !" Satria masih belum melepaskan tangan Melodi di genggamannya.
Tatapan Satria semakin intens dan menuntut, matanya sayu menatap bibir ranum di hadapannya, wajahnya semakin mendekat ke arah wajah Melody,
seperti terhipnotis, Melody spontan menutup matanya saat bibir Satria mendarat di bibir merahnya, mereka berciuman di bawah langit yang penuh bintang bertaburan, di tengah udara yang dingin mereka merasa kepanasan, setelah merasa hampir kehabisan oksigen, Melody melepaskan pagguttan mereka.
" Maaf," Ucap Satria membelai bibir Melody yang basah dengan ibu jarinya.
Melody hanya tertunduk, entah malu atau apa, yang jelas dia yakin tak merasa menyesal melakukan ciuman itu,
__ADS_1
' mungkin ini hanya terbawa suasana saja, tapi mengapa aku seolah merasa menikmatinya? apa aku sudah gila?' begitu kira kira perdebatan batin Melody saat itu.