
Seiring berjalannya waktu, kedekatan Azta dan Melody semakin akrab, hingga mereka akhirnya memutuskan untuk berpacaran.
Bersama Melody, pelan pelan Azta bisa melupakan kisah pahitnya, mengobati luka hatinya, dan meninggalkan masa lalu.
Melody yang ceria dan selalu mengerti akan dirinya membuat hidup Azta kembali berwarna, Melody dan Azta bahkan selalu menempel kemanapun dan dimanapun mereka berada.
Tak ingin mengulang kisah dulu, kini Azta mempublikasi tentang hubungannya dengan Melody kepada semua orang, termasuk orang tua masing masing, jangan di tanya bagaimana tanggapan mereka, jawabannya mereka sangat mendukung hubungan anak anak mereka.
Cukup indah dan bahagia bukan, hubungan Azta dan Melody ?
Semua seakan berpihak padanya, lulus SMU Azta meneruskan kuliah di Universitas di kotanya, di susul setahun kemudian Melodi kuliah di tempat yang sama meski jurusan yang berbeda, Azta Manajemen Bisnis, dan Melody tentu saja jurusan tata boga.
Sudah lama orang tua Azta dan Melody menyuruh mereka untuk meresmikan hubungannya, apa lagi Azta yang kini sudah lulus dan meneruskan usaha Jaya Ayahnya, tapi Melody memilih untuk bertunangan terlebih dahulu, karena selepas dirinya lulus kuliah, dia ingin bekerja dulu sekitar satu tahunan lamanya.
Tiba lah di hari yang di nantikan, malam pertunangan Azta dan Melody.
Malam itu Azta dan Melody terlihat sangat bahagia dengan senyum selalu merekah di setiap saat, namun tiba tiba mata Azta seperti menangkap sosok yang selama bertahun tahun ini sudah dia lupakan dan kubur dalam dalam.
"Ody, aku ke toilet dulu." Pamit Azta, pada Melody malam itu, Melody hanya mengangguk tanda setuju.
Benar saja, saat dia dekati sosok perempuan itu adalah Moza, wanita masa lalunya.
Dengan hati yang bergejolak dan perasaan yang campur aduk Azta menarik tangan Moza, tanpa sepatah katapun dan Moza menurutinya begitu saja.
Karena panik, Azta membawa Moza ke kamar yang tadi di pakai Melodi untuk meruas diri, kebetulan kuncinya ada pada dia.
"Apa yang kamu lakukan disini " Tanya Azta geram.
"Aku merindukan mu." Ucap Moza lirih.
"Aku sudah melupakan mu" Azta ketus.
"Aku masih mencintai mu." tegas Moza.
"Moza cukup ! kamu keterlaluan, datang dan pergi sesuka hatimu, kamu pergi tanpa sepatah kata dan menikah dengan orang lain." Ucap Azta dalam marahnya.
"Aku tak pernah menikah dengan orang lain."
"Apa maksudmu ?" Tanya Azta.
"Kamu menyakitiku, kamu bertunangan dengan orang lain." Mata Moza berkaca kaca.
"Kamu lebih dulu menyakitiku, kamu meninggalkanku, kamu menghancurkan ku." Azta dengan amarah yang tak tertahankan.
__ADS_1
Kenapa wanita di depannya ini seolah dengan seenaknya saja mempermainkan perasaannya, dulu saat dia mencintainya begitu besar, dia seenaknya pergi, sekarang saat dirinya sudah melupakan wanita itu dan mencintai orang lain dia datang kembali ke hidupnya seolah tak ada beban dan dengan tak tau malunya dia berkata cinta, ya.. masih mencintai ucapnya, semua sudah terlambat !
"Aku tak punya pilihan lain, aku ingin tetap tinggal, tapi aku tak bisa egois, kamu pikir aku menghancurkan mu ? Setelah apa yang terjadi di antara kita ? Kamu pikir aku menyukai ini semua ?" jerit Moza di sertai derai air matanya.
"Kamu pergi dan menikah dengan orang lain !"
"Aku tak pernah menikah dengan siapapun ! aku selu menjaga cinta kita di sini. Berharap suatu hari kita bisa bersama lagi." Moza menunjuk dadanya sendiri.
"Kita tak mungkin bersama lagi, aku sudah punya seseorang yang telah menggantikan posisimu di sini., dan aku sangat mencintainya." Azta menunjuk dadanya sendiri juga.
"Tapi aku mencintaimu, tak pernah ada laki laki
lain selain kamu !" ucap Moza lantang.
"Berhenti mengucapkan kebohongan, kenyataannya kamu meninggalkan ku!" Hardik Azta.
"Aku menyelamatkan putri kita !" pekik Moza.
"Apa ? Putri kita ?Apa maksudmu ? Cerita apa yang terlewat oleh ku ?" Azta memegang kedua bahu Moza erat meminta penjelasan, dia berharap kalau dirinya saat ini salah dengar.
"Aku mengandung anak mu saat itu, dan orang tuamu memintaku untuk memilih antara kamu atau anak kita," lirih Moza
"Lalu ?"
"Bagaimana aku bisa tau apa yang terjadi, sedangkan kamu tak pernah memberiku kesempatan untuk tau.Kamu menyimpannya sendiri," Azta membalas pelukan Moza, lagi lagi Moza menghancurkan hatinya walau dengan konteks yang berbeda, mendorong Azta pada keterpurukan untuk kedua kalinya, seorang putri ? apa mungkin dirinya bisa menyangkal dan tak menerima buah cintanya dengan Moza dulu, lantas bagaimana dengan hatinya yang kini telah terpaut pada Melody ?
"Apa yang harus aku lakukan sekarang ? Kenapa mencintaimu sesakit ini ?" Ucap Moza terbata bata di sela tangisannya.
"Jawab sayang ! Apa salah ku? Bukankah kita saling mencintai ?" tangan Moza memukul dada Azta yang berada di hadapannya.
Hati Azta seakan tersayat mendengar semua kenyataan dan pernyataan Moza.
Sisa cinta itu masih ada, sisa rindu itu pun ternyata masih ada di hati Azta, dan kembali muncul saat Moza hadir di hadapannya.
Terbawa suasana, Azta tanpa sadar mencium bibir merah Moza yang meski sudah enam tahun lebih berpisah, rasanya manis bibirnya masih bisa Azta ingat dan rasakan.
Tapi tiba tiba seorang gadis berurai air mata muncul dari balik pintu kamar yang ternyata tak tertutup sempurna,
"Kak Azta..."
"Kak Azta...!" Suara lirih Melody membuyarkan lamunan panjang Azta.
"Ody, sayang... Kamu sudah sadar ? kamu membuatku takut." lontar Azta terbata bata.
__ADS_1
"Kak Azta, aku baik baik saja, hanya sedikit pusing." jawab Melody.
"Jangan pernah menghukum ku dengan cara seperti ini, aku merasa sangat sakit melihat mu sakit seperti ini." Azta mengusap lembut kepala Melody dengan sayang.
"Kak Azta, tolong biarkan aku pergi, aku mohon." Melody mengiba.
"Ada yang perlu aku jelaskan padamu, ada sesuatu di antara kita, aku salah, aku tidak berani mengungkapkan kebenaran padamu." Azta meraih tangan lemah Melody.
"Itu sudah tak penting lagi buat kita, aku sudah mencintai orang lain, Kak,,, tolong kakak mengerti, kita sudah tidak mungkin," tegas Melody meski dalam lemah nya.
"Aku hanya ingin kita bicara dari hati ke hati seperti dulu, kita yang dulu, yang di penuhi cinta" Azta menatap dalam Melody yang memalingkan wajahnya.
"Tak akan pernah terjadi selama gue masih hidup di dunia ini, bajing_an !" Suara berat dan lantang itu menggema memenuhi ruang rawat Melody.
"Kau !" Azta tak bisa menghindar dari pukulan tinju yang tiba tiba mendarat di wajahnya dengan telak hingga membuatnya tersungkur ke lantai.
"Abang !" Melody menjerit.
"Melody, sayang,,, kamu tak apa apa ? Apa yang terjadi ?" tanya Satria panik mendapati Melody tergeletak lemas di ranjang rumah sakit.
Salah seorang anak buah Satria tiba tiba mengalami keracunan makanan, sepertinya dia mengalami alergi pada sesuatu yang di makannya tanpa di sadari, sehingga Satria dan Johan membawanya ke rumah sakit segera, tapi Tuhan memang selalu berpihak padanya, nasib baik Satria malah melihat Azta yang masuk ke salah satu ruang inap sesaat setelah dia membayar administrasi untuk perawatan dan pengobatan anak buahnya.
Satria mengikuti Azta ke ruangan itu, benar saja Melody yang tergeletak lemah di ranjang itu, dia coba menahan diri untuk mendengarkan apa yang mereka bicarakan, tapi hatinya memanas saat Azta dengan lancang mengungkit kisah masa lalunya dengan Melody.
"Apa yang sudah dia lakukan pada mu ?" Satria memeluk erat Melody yang mulai terisak di dadanya, dada yang selalu membuat Melody nyaman.
"Kau, kenapa kau ada disini ?" Azta mengusap sudut bibirnya yang sedikit berdarah karena sobek kena tinju Satria.
"Pergi, sebelum gue laporin lu ke polisi, atas tuduhan penculikan. Semua bukti rekaman cctv sudah ada di tangan gue." usir Satria dengan mata yang merah menyala, andai saat ini dia tidak sedang memeluk Melody dan tidak sedang berada di rumah sakit, ingin rasanya menghajar laki laki bajingan itu sampai mulutnya tak bisa menyebutkan nama kekasih tercintanya, Melody.
"Aku tak akan menyerah semudah itu, kau akan menyesal !" ucap Azta meninggalkan Melody dan Satria di ruang rawat rumah sakit itu.
"Abang, aku takut !" isak Melody membuat hati Satria semakin meradang, apa sebenarnya yang sudah di lakukan lakinlaki itu pada kekasih tercintanya ini.
"Aku di sini sayang, tak akan ada lagi yang nyakitin kamu, maaf aku terlambat menemukan mu." Satria mengusap lembut punggung Melody dan sesekali mencium pucuk kepanya.
Satria merasa dirinya telah gagal menjaga Melody, sampai terjadi hal ini, dia sungguh tak bisa membayangkan bila sesuatu yang lebih buruk terjadi pada Melody, dia tak akan pernah memaafkan dirinya sendiri.
*Di lanjut nanti ya kakak kakak,,,
di like aja dulu kalu suka ceritanya,
Semoga kakak semuanya bahagia selalu...*
__ADS_1