BUKAN CINTA SEGITIGA

BUKAN CINTA SEGITIGA
Ke KUA


__ADS_3

Melody baru selesai mandi sore itu, setelah sebelumnya pintu kamar Melody di ketuk terus menerus oleh Satria tanpa henti, sampai Melody yang tengah terlelap di alam mimpi, terpaksa harus terbangun dan meninggalkan mimpi indahnya.


" Mau ngajakin kemana sih, sebenernya... Aku masih ngantuk tau !" Melody berjalan keluar dari kamarnya malas malasan.


" Malem mingguan !" cengir Satria.


" Ih, nggak mau ah, ketahuan cic-- eh Mbak Emily bisa gawat," Tolak Melody.


" Pasti mau bilang cicek ya ? kenapa sih Emily di namain cicek ?" Satria penasaran


" Gak tau, orang aku mah, cuma ngikut ngikut Memes, tanya Memes aja, dia yang namain." Elak Melody


"udah, ayo cepetan,! aman, Emily di jamin gak bakalan tau." Satria menyeret paksa Melody.


***


" Kok, berhenti disini?" Tanya Melody heran karena Satria menghentikan mobilnya di depan sebuah butik mewah.


" Aku harus mengganti pakaian ku, kalau tidak... Aku akan menjadi tontonan banyak orang." Satria menunjuk kaos mickey mouse milik Melody yang saat ini masih setia melekat di tubuh atletisnya.


" Haha,,, padahal anda terlihat imut sekali memakai baju itu." Melody mengekor Satria memasuki butik mewah itu sambil tertawa lepas.


"ish, sepertinya kamu puas dan bahagia sekali kalau aku di permalukan seperti ini," dengus Satria kesal.


" Cepat pilihkan aku baju untuk di pakai malam ini !" pinta Satria, sambil mendudukan dirinya di sofa empuk yang berada di ruangan butik mewah itu.


" Kenapa tak memilih sendiri ? atau suruh salah satu karyawan memilihkan ?" tolak Melody, yang malah ikut dudk di sofa sebelah Satria.


" Ish, di suruh milihin, malah ikut duduk di sini." Lirik Satria pada Melody di sebelahnya.


" Pelayan, tolong carikan dan pilihkan baju untuk ku dan dia." Titah Satria pada seorang karyawan butik sambil menunjuk ke arah Melody.


" Tidak,,, tidak,,, untuk dia saja, aku tidak usah !" Melody menggoyang goyangkan telapak tangannya ke kiri dan ke kanan tanda menolak.


" Cepat pilihkan pakain untuk kami, waktu ku tak banyak. Ingat carikan baju untuk kami pakai ke acara formil." Tegas Satria pada karyawan butik yang masih saja berdiri di hadapannya.


" Ba- baik, Tuan," Jawab karyawan butik itu sambil berlalu pergi meninggalkan Satria dan Melody, dia bergegas melakukan apa yang di perintahkan Satria padanya.

__ADS_1


" Acara formil ? yang benar saja Bang bos, anda mau bawa saya kemana?" Melody mendadak gusar, dia takut kalau Satria membawanya ke acara yang di hadiri banyak orang, dirinya akan menjadi bahan gosip nantinya, akan ada prasangka prasangka lebih buruk lagi padanya, karena kebersamaannya dengan presdirnya itu.


" Ke KUA !" Ucap Satria asal.


" Oh, kirain kemana, ayo, siapa takut !" Tantang Melody percaya diri.


" Kamu beneran gak takut ?" heran Satria, melongo melihat Melody yang tak gentar sama sekali.


" Hahaha,,, anda tak bisa menipu ku Bang Bos, ini hari sabtu, apa lagi hari sudah malam, mana ada KUA yang masih buka !" Melody tergelak lalu menjulurkan lidah ke arah Satria tanda meledek.


" Haish,,, anak siapa sih ini, udah cantik, pinter, jago masak, gemesin lagi." Satria mencubit hidung bangir Melody dengan gemas.


" Anak papa dan mamanya lah !" Melodi mengusap hidungnya yang di cubit Satria.


" Tolong tanyakan pada mama dan papanya,kira kira kalau anaknya aku minta, boleh gak ya?" Ucap satria sambil menerima beberapa pakain yang di pilihkan karyawan butik untuknya dan untuk Melody.


" Minta ? beli....!" canda Melody.


" Wah, kalau harus beli kayanya aku gak sanggup, pasti muahaal dan tak terhingga harganya." lagi lagi gelak tawa mereka terdengar menggema di ruang ganti mereka yang bersebelahan.


***


" Apa kamu gak mau turun karena kecewa tak jadi aku ajak ke KUA? nanti kalau sudah buka, aku janji pasti membawa mu kesana.!" ucap Satria yang berdiri di sebelah kirinya membukakan pintu mobil dan mengulurkan sebelah tangannya mengajak Melody segera turun dari mobil.


" Bang bos,,, jangan bercanda, udah gak lucu lagi!" sungut Melody masih duduk di dalam mobil enggan keluar.


" Cepat turun, atau aku gendong kamu sampai dalam." Ancam Satria yang mulai tak sabaran.


Ternyata ancaman Satria benar benar bisa membuat Melody turun segera dari dalam mobil, Melody tak mau ambil resiko, dia lebih memilih mencegah kemungkinan Satria akan melakukan ancamannya itu. Satria pun tersenyum puas.


Satria dan Melody berjalan berdampingan, mereka memakai baju dengan warna serasi yang di beli di butik tadi sebelum berangkat,


kalau Satria mengenakan jas lengkap berwarna biru tua, sedangkan Melody mengenakan gaun panjang berwarna biru senada, mereka bak putri dan pangeran yang di ciptakan tuhan dengan pahatan wajah yang sempurna, Satria yang tampan dan gagah, berdampingan dengan Melody yang cantik dan elegan malam itu, mereka memasuki convension hall yang mewah.


Beberapa pasang mata tamu yang hadir mencuri pandang ke arah mereka, Melody semakin menundukan wajahnya. Ingin rasanya dia menyembunyikan wajahnya di balik topeng atau sejenisnya, dia sungguh takut dan risih dengan pandangan mata orang orang disana.


Satria menggenggam tangannya, lembut.

__ADS_1


" Angkat wajah mu, kamu cantik sempurna malam ini, apa yang kamu sembunyikan disini." Satria mengangkat dagu Melody.


Melody hanya diam dan menurut saja saat Satria membawanya ke deretan kursi bertuliskan VVIP, mereka lalu duduk bersebelahan dengan tangan mereka yang masih bertaut.


" Bang bos,,, ini acara apa ?" Bisik Melody tepat di telinga Satria.


" Sstttss,,, temani aku menonton pertunjukan musik, hanya beberapa jam saja, please !" ucap Satria pelan.


Melody pun terdiam, dia terkesima memperhatikan layar besar di depan sana yang mulai terangkat dan memperlihatkan sekelompok musisi memainkan beberapa jenis alat musik, suara merdu seorang penyanyi wanita mengalun, menyatu dengan suara musik yang indah.



Ini pengalaman pertama untuk Melody, menonton sebuah pertunjukan musik orkestra, di sepanjang hidupnya.


Sebuah pertunjukan yang bukan hanya menyuguhkan musik dan nyanyian yang indah, tapi juga menampilkan kepiawaian para pemain musik yang memanjakan mata dan telinga.


Alunan musik klasik dan suara merdu penyanyi di depan sana seolah menjadi pengiring Melody untuk memejamkan matanya dan pergi ke dunia mimpi saat itu, tanpa terasa Melody tertidur di bahu Satria.


Satria melirik Melirik Melody yang sepertinya lelap sekali di bahunya, Satria hanya tersenyum tipis, lalu memegangi kepala Melodi agar tetap di bahunya, sesekali dia mengelus lembut rambut Melody di tengah dia menikmati musik klasik.


Melody tersadar dan terbangun dari tidurnya saat suara musik sepertinya tak terdengar lagi mengalun.


" Apa acaranya sudah selesai ?" Tanya Melody mengerjapkan matanya benerapa kali, sambil melihat sekeliling, panggung sudah di tinggalkan para pemain musiknya, begitupun kursi penonton yang sudah terlihat kosong.


" Sudah dari tiga puluh menit yang lalu." Jawab Satria sambil meregangkan bahu kirinya yang terasa kebas menahan kepala Melody sepanjang pertunjukan.


" Ish,, cepat sekali pertunjukannya berakhir, perasaan tadi baru mulai." Melody masih menguap.


" Kamu tertidur tiga setengah jam lamanya di bahu ku, sampai terasa pegal." cebik Satria masih memegangi bahu kirinya.


" Hah ? ya ampun, maaf... harusnya tadi kamu bangunin aja." Melody merasa malu dan bersalah.


" Tak apa, aku tak tega membangunkan mu, sepertinya kamu benar benar membutuhkan bahu untuk bersandar, tenang saja, bahu ku siap untuk menjadi sandaran mu se umur hidup, hahaha..." Satria menepuk nepuk bahunya sambil tersenyum menggoda.


" Haish,,, seumur hidup ? baru di sandarin tiga setengah jam aja udah pegel pegel katanya tadi, susah kalo udah tua gitu mah, gak bisa di andelin !" cibir Melody.


" Melody,,, awas kamu ya !" pekik Satria menggelitik pinggang melody gemas.

__ADS_1


" Apa kalian akan disini sampai besok, dan tak berniat pulang?" Suara seorang laki laki mengagetkan mereka.


__ADS_2