
Sementara di loby apartemen, Emily yang diam diam mengikuti kemana Satria pergi lantas mendatangi petugas jaga disana, karena ingin menyusul ke tempat dimana sekarang Satria berada.
Suara stiletto heels Emily yang beradu dengan ubin apartemen menimbulkan suara derap langkah yang khas dan menggema di sepanjang koridor apartemen menuju sebuah pintu yang di yakini Emily kalau Satria pasti berada di dalam sana.
Emily menghentikan langkahnya di depan sebuah pintu, dia terdiam sejenak entah memikirkan apa, lalu dengan ragu ragu memencet bel yang terletak di sebelah kanan pintu, dia menautkan tangannya beberapa kali tanda kalau saat ini dia sedang dilanda gelisah, menunggu seseorang membuka pintu dari dalam.
Satria masih belum rela melepaskan pelukannya di tubuh mungil Melody saat bel pintu berbunyi. Tubuhnya seakan melekat erat dengan tubuh gadis cantik itu.
"Bang, ada yang datang, tapi siapa? bukankah kata mu yang tau tempat ini hanya aku, kamu dan Johan?" Panik Melody berbisik masih dalam pelukan nyaman Satria.
"Huh, ganggu kesenangan orang saja ! biarkan saja lah tak usah di buka." Ucap Satria kesal karena merasa kegiatannya bersama Melody terganggu dengan kedatangan orang di depan pintu itu.
"Ish, tapi bagaimana kalau itu--" Melody tak berani berandai andai.
"Ya sudah, sana buka pintunya." Satria melepaskan pelukan tangannya dengan berat hati.
Dengan langkah yang pelan dan ragu ragu Melodi menuju pintu depan di temani Satria yang setia mengekorinya.
Melody memutar handle pintu pelan dan menariknya.
"Lama sekali kalian membukakan pintu, sedang apa sih?" Omelan orang di depan pintu mengagetkan Melody.
"Hey, kebetulan sekali lu kesini, urusan kita belum selesai !" Bentak Satria kembali terpancing emosi saat melihat wajah Johan sang sahabat berdiri di hadapannya.
"Mas Johan, aku pikir siapa," Melody menghela nafas lega.
"Memangnya kamu pikir siapa lagi yang bisa datang kesini menemui kita selain dia, tak sembarangan orang bisa naik ke lantai ini, apalagi aku meminta pihak pengelola untuk tidak menerima tamu siapapun dan kapanpun." ucap Satria memeluk posesif Melody dari belakang.
"Aku bukan tamu, aku punya kartu ini." Johan memamerkan lartu akses berwarna hitam yang sama persis seperti milik Satria.
"Sebentar lagi akan gue sita kartu itu, agar lu gak bisa gangguin kita." cebik Satria masih dengan nada kesal.
"Dasar manusia tak tau terimakasih, sudah ku selamatkan berulang kali masih saja memaki, ayo cepat ikut aku ke kembali ke kantor, bro." Ajak Johan yang masih berdiri di ambang pintu.
"Gue males, lu aja yang balik ke kantor kerjain semua pekerjaan gue sebagai hukuman karena telah berani memeluk belahan jiwa kesayangan gue ini." Satria mengecup pipi Melody sekilas.
__ADS_1
Melodi menjauhkan wajahnya dari wajah Satria susah payah karena Satria masih mengungkung tubuhnya erat dari belakang, Melody merasa tak enak hati dan malu karena Satria bersikap seperti itu di depan Johan.
"Gak bisa bro, ada rapat yang mengharuskan presdir datang secara langsung, soalnya ini sangat penting." Johan meyakinkan Satria untuk pergi bersamanya.
"Tapi gue masih pengen disini, gue juga masih marah dan males liat muka lu." Seperti biasa mulut Satria si ular mengeluarkan kata kata pedas dan berbisanya.
"Oke, pastiin jangan nyesel ya, kalau sampai tak ikut rapat hari ini." Johan menyodorkan sebuah stopmap berisi selembar kertas.
Satria meraih dan membacanya sekilas, sedikit ada perubahan di rona wajahnya, tapi sejurus kemudian dia tersenyum iblis.
"Masih tak ingin pergi rapat?" Tanya Johan.
"Jangan sampe gue melewatkan rapat ini !" Tegas Satria penuh penekanan dan masih dengan senyum iblis yang mengerikan dan susah untuk di artikan.
"Aku ke kantor dulu, ada rapat penting yang harus aku hadiri, kamu baik baik di rumah, jangan rindu... Berat !" Goda Satria, tiba tiba moodnya berubah sangat baik dan bersemangat.
Melody mengangguk dan Satria pergi meninggalkannya setelah sebelumnya dia berpamitan lalu mengecup keningnya dalam sekali, seraya berucap,
"Do'a kan aku untuk rapat kali ini." Bisiknya, yang lalu di amini Melody tulus.
"Lu udah gue maafin, karena rapat ini. Bersiap lah mendapat bonus dari gue." Satria tersenyum penuh arti.
Saat mereka keluar dari lift dan melewati loby, langkah mereka terhenti karena di jegal seseorang.
"Apa yang kalian lakukan di dalam, setengah jam aku berdiri di depan pintu apartemen mu dan memencet bel berulang kali seperti orang bodoh, apa kalian sengaja mengabaikan ku?" Tanya Emily kesal karena selama lebih dari setengah jam dia bersiri di depan pintu apartemen Johan, tapi tak seorang pun membukakan pintu untukknya.
Dan sekarang dia melihat Johan sang pemilik apartemen dan sang kekasih pujaannya Satria yang sedari dia buntuti benar benar ada di hadapannya, di apartemen itu.
Satria dan Johan hanya saling memandang, mereka sedikit tak percaya kalau Emily nekat mengikutinya sampai ke apartemen seruni.
"Apa kamu mengikutiku? Mengintai kemana saja aku pergi ?" Satria menautkan kedua alisnya dan memandang tajam Emily yang sepertinya mulai gelagapan dengan pertanyaan Satria.
"Emh, anu, itu tadi aku tak sengaja melihatmu masuk ke apartemen ini, makanya aku menyusulmu, karena aku yakin kamu pasti di tempat Johan." Ucap Emily terbata bata.
"Kamu terlalu yakin, bisa saja aku tidak di tempat Johan !" Satria tersenyum smirk lalu melengos, lagi lagi meninggalkan Emily dengan kebingungan dan kekesalannya.
__ADS_1
"Satria ! Aku perlu bicara dengan mu, kita lama tak bertemu." Teriak Emily, bergegas mengejar langkah Satria dan Johan yang melangkah cepat ke luar loby menuju parkiran di luar apartemen, tadi Johan memarkirkan kendaraannya disana karena terburu buru mencari Satria dari kantor ke penthouse setelah membaca agenda rapat dan pembahasan yang akan di laksanakan sore ini, dia yakin ini akan sangat menarik untuk Satria, sang bos.
Satria menghentikan langkahnya dan membalikkan badannya dengan malas.
"Tolong jangan ganggu aku, aku bukan pengangguran, kerjaan ku banyak, aku sibuk, kamu mengerti !" Bentak Satria yang mulai jengah dengan sikap Emily yang semakin menempel saja padanya.
"Pantas saja Memes menyebutnya cicek, dia terus terusan nempel pada mu kapanpun dimanapun, bro !" Johan terkekeh sambil masuk ke dalam mobil mengambil alih kemudi yang lalu di susul oleh Satria masuk dan duduk di kursi penumpang di samping kirinya, tak lupa dia membanting pintu mobil dengan sekencang mungkin, sehingga Emily terperanjat kaget dan tak berani berkata kata apa apa lagi padanya karena ketakutan.
"Bro, kamu kesal sama Emily kenapa pintu mobilku yang kamu rusak ?" Protes Johan.
"Kalau perlu gue ganti mobil lu dengan yang baru," Ucap Satria ketus.
"Beneran bro ? Yes, ganti mobil baru, rejeki calon pengantin baru yang soleh, ini." Celoteh Johan kegirangan.
"Potong gaji setiap bulan." Satria datar.
"Itu namanya aku nyicil, juragan !" kesal Johan merengut.
"Apa ada kata kata gue menyatakan mau beliin lu mobil baru? gue cuma bilang kalo perlu gue ganti mobil lu dengan yang baru, itu belum selesai, ada lanjutannya. Tapi lu nyicil tiap bulan potong gaji." Ujar Satria mengelak.
Johan hanya terdiam sambil cemberut, karena bagaimana pun, tak akan ada sejarahnya dia menang berdebat dengan sahabat sekaligus bos arogannya itu, dia sudah cukup paham dengan sifat Satria luar dalam.
Sesampainya di kantor EmHa grup, Satria dan Johan langsung memasuki ruang rapat, karena semua sudah menunggu kehadiran mereka dari sekitar 10 menit yang lalu.
"Maaf semuanya, saya terlambat. Sebaiknya kita mulai saja rapatnya agar tak banyak membuang waktu." Satria membuka pembicaraan setelah mendudukan diri di kursi khusus presdir.
Ini rapat pertemuan dengan beberapa anak perusahaan EmHa grup, ada sekitar lima belas pemimpin anak perusahaan yang datang sore itu, termasuk Blue Palace dengan Bima dan Hendra yang merupakan kepala pengadaan barang di Blue Palace sebagai perwakilan hotel mereka.
Satria mendengarkan dengan serius laporan dari setiap utusan anak perusahaan EmHa grup yang sekarang di pimpinnya, dan sekarang giliran Blue Palace hotel yang menyampaikan laporan perusahaannya dan juga permohonan persetujuan pengadaan dan pergantian furnitur di Blue Palace hotel.
Satria tersenyum tipis, dia meraih proposal yang di sodorkan Hendra padanya, dia membuka dan membaca sekilas pada halaman ke dua proposal pengajuan itu, dan tanpa basa basi Satria langsung menoleh ke arah Johan yang lalu di sambut dengan anggukan Johan.
Tak ada seorang pun yang mengerti kode atau bahasa tubuh apa yang tengah mereka diskusikan, hanya mereka berdua yang tau dan mengerti.
"Proposal mu, kami terima, segera persiapkan semuanya dan setelah acara pernikahan Johan panggil pihak ke tiga, perusahaan furnitur yang akan menangani proyek itu." Ucap Satria tegas.
__ADS_1
Senyuman kemenangan pun tergambar jelas di bibir Hendra saat ini, ternyata menyakinkan Satria yang sudah menjadi presdir baru EmHa tak sesulit saat dia masih menjadi presdir Blue Palace yang terkenal cermat dan teliti pada setiap proposal pengajuan atau apapun yang menyangkut tentang proyek besar di perusahaan, Satria terkenal tegas, disiplin, dan tak akan mengampuni kecurangan walau sekecil apapun.