
Dua minggu sudah Melody bekerja sebagai asisten chef di Blue Palace, semua berjalan dengan sangat baik baik saja, Melody begitu menikmati kesehariannya, pekerjaannya, sahabat barunya, do'anya benar benar di dengar Tuhan, dia seperti terlahir kembali sebagai Melody yang baru.
Melody juga bisa tenang tanpa gangguan dari Azta dan segala kenangannya, semenjak tinggal di ibu kota, Melody mengganti nomor ponselnya, hanya mamanya, papanya, Memes,dan beberapa teman kerjanya saja yang tau nomor baru Melody, jadi Azta tak mungkin bisa menghubunginya.
Pagi ini Melody baru pulang kerja, hari masih gelap saat dia sampai di luar gedung mewah yang menjulang tinggi itu, saat ini Melody mendapat shift malam, sehingga jam 5 pagi dia baru pulang, pergantian shift di lakukan setiap seminggu sekali, dan mendapat libur setiap dua minggu sekali selama dua hari, tapi karena Melody karyawan baru, dia baru akan mendapatkan hak liburnya setelah satu bulan bekerja, itu berarti bulan depan Melody baru akan mendapat libur, dan bulan ini dia akan bekerja full tanpa libur.
Tapi Melody tak pernah merasa itu sebagai beban, karena melakukan pekerjaannya adalah kebahagiaannya, tempat dia melupakan semua masalahnya.
Melodi berjalan sendiri menyusuri trotoar, Memes mendapat shift pagi saat ini, tiba tiba Melody ingin berjalan jalan ke taman yang letaknya tak jauh dari apartemennya, sudah lama dia ingin kesana tapi tak pernah sempat, sekalian olah raga pikirnya.
Sampai di taman, beberapa orang terlihat sedang asik joging, ada juga beberapa orang yang bersepeda, bahkan ada juga yang sedang sekedar ngobrol sambil duduk duduk di kursi taman, Melody cukup kagum, di tengah kota pemerintah masih menyediakan taman se indah itu, beberapa tanaman hias dan bunga warna warni tertata rapi, dan sangat terawat.
Di saat Melody sedang asik melihat lihat bunga di sekitar taman, sepasang kekasih yang sedang berciuman di kursi taman yang letaknya agak tersembunyi menarik perhatiannya.
'Astaga,,, pagi pagi udah sarapan bibir aja mereka' Batin Melody tersenyum sambil menggeleng gelengkan kepalanya.
Si perempuan sepertinya melihat kalau Melody memperhatikan mereka, dia lalu berdiri dan mengajak pasangannya pergi dari tempat itu, mungkin mereka malu.
Setelah puas berjalan jalan di taman, dan sang surya sudah mulai menampakan dirinya, Melody memutuskan untuk pulang ke apartemennya.
Entah berapa jam Melody tertidur, dia terbangun saat bel pintu apartemennya berbunyi beberapa kali, ketika melirik jam, ternyata sudah jam 2 siang.
Melody berjalan keluar kamar dan membuka pintu, ternyata yang datang Memes.
"Ish,,, anak perawan jam segini baru bangun, mana di telpon gak di angkat angkat dari tadi, kamu tidur apa pingsan sih ?" Cerocos Memes menerobos masuk tanpa permisi.
"Aku kan shift malem, ya wajar lah siangnya buat tidur, bawa apaan tuh.? pas banget lagi laper" Melody menyambar paper bag yang di bawa Memes.
"Eitss.... itu bukan buat kamu, itu titipan buat ciceknya presdir, Mas Johan nyuruh aku ngasiin ke dia, anter yuk !" Memes menarik kembali paper bag dari tangan Melody.
"Ciceknya presdir ? presdir kita miara cicek?" Melody bingung
"Ah, bukan gitu maksudnya, buruan ganti baju, ntar aku jelasin, gak usah mandi langsung cus, cuma ke kafe seberang apartemen kok" Kesal Memes melihat Melody yang sepertinya belum loading sepenuhnya.
__ADS_1
"Ih, kenapa gak pergi sendiri aja sih, ganggu orang tidur aja !" gerutu Melody yang tetap ganti baju dan menemani Memes.
"Males tau, kamu gak tau sih, orangnya nyebelin minta ampun." Muka Memes asem banget kalau bicara menyangkut ciceknya presdir itu.
"Orang apa cicek sih sebenarnya, gak jelas banget kamu."
"Orang,,, tapi kelakuannya kaya cicek, nemplokin presdir terus kapanpun, dimanapun, kemanapun, huek...menjijikan !" Memes muntah di udara.
Saat mereka masuk ke Kafe, seorang wanita cantik berambut keriting dan berkulit agak gelap mengangkat tangannya sepertinya dia memanggil Memes.
"Ini titipannya Mba, aku langsungan ya, permisi." Memes langsung menarik tangan Melody, mereka bahkan tak sempat duduk, sepertinya Memes tak ingin berlama lama disana.
"Tuh, lihat kan kelakuannya,! bilang makasih kek.! dasar cicek !" Memes ngamuk ngamuk sendiri.
Melody seperti mengingat ingat sesuatu, lalu tertawa terpingkal pingkal.
"Ody,, kamu malah ketawa ketawa" sungut Memes tambah kesal.
"Udah gak aneh ! namanya juga cicek, aku udah bilang dia nemplok di manapun dan kapanpun" Memes memutar bola matanya malas.
"Kenapa sih, kayanya gak suka banget, dia cantik loo mirip tokoh kartun Moana," puji Melody tulus, karena memang wanita yang di sebut Memes cicek itu berparas cantik, rambutnya yang keriting menjadi daya tarik tersendiri.
"Aku gak suka sama dia, mentang mentang deket sama presdir, sikapnya sok berkuasa, sok ngatur, jutek sama sombong nya gak ketulungan." Memes ber api api
"Pacarnya presdir ?" Tanya Melody
"Semua orang sih taunya gitu, tapi aku di ceritain sama Mas Johan, hubungan mereka yang sebenarnya, aku jadi jijay banget sama dia." Memes bergidik seperti jijik
"Emang gimana, cerita dong, sekali kali gosipin presdir, hahaha" Melody kepo
"Jadi sebenernya dia tuh cuma sahabat deketnya presdir dari jaman sekolah aja, mereka dari SMU udah bareng gitu, tapi gak pernah jadian,cuma,,,ada sesuatu hal yang membuat presdir tak bisa lepas dari cicek itu, presdir menanggung biaya hidup keluarganya, sekolahnya, ibunya malah sampai di bukain usaha salon segala, hmm pokoknya azaz manfaat banget lah, !" Kesal Memes
"Presdirnya aja seneng seneng, kok kamu protes.! bisa aja presdirnya memang cinta sama dia, makanya jor joran ngasih ngasih." Bela Melody.
__ADS_1
"Menurut Mas Johan sih presdir cuma menganggapnya sahabat gak lebih, tapi,,, gak tau lah di templokin sama cicek aja diem aja gak pernah protes,!" Memes membuka pintu apartemenya,lalu Melody mengekorinya.
Mereka melanjutkan menggosip tentang presdirnya sambil menikmati makan siang yang sudah kesorean, menyantap masakan Memes yang terhidang begitu menggiurkan di meja makan.
"Mes, aku udah kenyang banget, makasih makanannya, enak banget ! aku pulang ya, mau bobo cantik lagi, lumayan masih ada waktu sebelum berangkat kerja ntar malem." Melody mengusap perutnya yang kekenyangan.
"Oke,,, molor lagi sana, biar gak ngantuk saat kerja ntar !" Memes mengantarkan Melodi sampai depan pintu.
Malam itu pukul 8 kurang seperempat, Melody sudah sampai di hotel tempatnya bekerja, dia sedikit terlambat, biasanya setengah 8 dia sudah di ruang ganti, untuk mengganti pakaiannya dengan seragam kerjanya. Dia setengah berlari menuju pantry, tapi saat matanya tertuju ke tas untuk mencari keberadaan kunci lokernya, dia menabrak seseorang di depannya,
"Aww,,, maaf !" pekik Melody mengusap keningnya yang terasa sedikit sakit karena menubruk bahu seseorang di depannya.
"Ody ! Kamu,,,, akhirnya,,,,!" orang itu malah memeluk Melody
" A- Azta,,, maaf aku terburu buru!" Melody terlihat kaget dan agak ketakutan setelah tau ternyata orang yang di tabraknya itu Azta.
"Ody... tunggu, kita harus ..." Langkah Azta terhenti, seorang security di depan pintu pantry menghalanginya.
"Maaf mas, hanya karyawan yang boleh masuk" Kata security itu dengan tegas menjegal langkah Azta.
"Karyawan ? Tapi... itu barusan tunangan saya pak, saya harus bertemu dia, ini penting!" jelas Azta memohon
"Maaf, ini peraturan, tidak boleh masuk selain karyawan, kalau memang ada perlu, silahkan tunggu sampai jam kerja selesai besok jam 5" security itu masih menghalangi
"Saya tamu di hotel ini!" Bentak Azta putus asa
"Maaf, tetap tidak bisa, silahkan keluar mas."
Azta terpaksa meninggalkan pintu masuk pantry dengan hati yang dongkol, selama dua minggu ini dia mencari keberadaan Melody, dan tanpa di sangka dia malah bertemu di hotel ini saat dirinya melakukan perjalanan bisnis.
'Ody,,, kamu bekerja disini, kenapa kamu dan orangtuamu merahasiakannya dari ku? sungguh aku gila mencari mu,' Azta mengusap wajahnya kasar, dia bertekad akan menunggu Melody sampai selesai kerja dan akan menemui dia bagaimana pun caranya, dia tak ingin kehilangan tunangannya lagi.
Dia akan mengejarnya, membawanya kembali ke pelukannya seperti dulu seberapapun sulitnya rintangan yang akan dia hadapi, itu janjinya.
__ADS_1