
" Mah, Pah,,, Ody pulang...!" Teriak Melody saat memasuki pintu rumahnya.
" Eh, sayangnya Mamah udah di rumah aja, kok ga ngabari kalo mau pulang, malam malam gini lagi." Protes Anita, Mamanya Melody.
" Iya, tadi pulang kerja kangen mama, kebetulan giliran libur, jadi pulang dadakan deh, biar surprise,,,!" Melody memeluk mamanya lama dan erat, dia ingin melepas rindu dan kegelisahan hatinya karena apa yang terjadi di jakarta.
Karena biasanya hanya pelukan sang mama yang bisa menenangkan kegelisahan hatinya.
" Hai gadisku ! naik apa kamu pulang?" Malik sang papah bergabung di tengah pelukan istri dan anaknya.
" Eh, cinta pertamaku,,, tadi naik travel, pah." Melody melepas pelukan mamanya dan berpindah memeluk papanya dalam.
Melody terbilang sangat dekat dengan kedua orang tuanya, sangat menyayangi mereka, sehingga untuk bercerita tentang hubungannya dengan Azta yang buruk pun, Melody merasa tak sanggup karena takut menyakiti dan mengecewakan mama dan papa nya.
" Harusnya mobilmu di bawa kesana, kan gak susah kalau kamu mau bepergian." kata Malik.
" Gak usah lah pah, sementara ini belum di perlukan, Ody juga gak pernah kemana mana, berangkat kerja, jalan juga gak nyampe sepuluh menit." tolak Melody.
" ya, terserah lah, ayo makan malam dulu, setelah itu istirahat, kamu pasti cape." Malik sang papa menyerah.
***
Pagi yang cerah di kampung halamannya, Melody menghampiri papa dan mamanya di halaman rumahnya yang sangat luas, biasanya hari minggu begini, orangtuanya mengurus tanaman hias yang tertata rapi di taman yang luas itu.
Namun langkahnya terhenti di ambang pintu saat melihat sosok pria yang sangat tak ingin di lihatnya.
" Pagi, sayang !" sapa Azta yang sedang asik meminum kopi bersama Malik di kursi yang terletak di teras rumah, menghadap taman dengan pemandangan hijau yang asri.
" Kamu ! kenapa bisa kesini ?" Ketus Melody mengabaikan sapaan Azta.
" Papah yang nyuruh dia kesini, dan ngasih tau Azta kalau kamu sedang pulang." potong Malik melihat ke tidak sukaan Melody dengan kehadiran Azta disana.
"Oh, !" Melodi melengos dan kembali masuk ke dalam rumah.
" Ody,,, kesini dulu, duduk disini !" titah Malik.
" Mau ngapain, pah?" tanya Melody malas.
" Ini lhoo ada Azta, temenin dulu, lama ga ketemu kan kalian." ucap papanya.
" Yang nyuruh dia kesini kan papah, ya sudah papah saja yang temenin !" Melody membalikan lagi badannyan
" Melody.... papah bilang kesini ! duduk !" perintah Malik agak menambah volume suaranya.
Dengan malas malas Melodi menghampiri papanya dan Azta yang sedang bersantai pagi itu. Melody menarik kursi sebelah Malik, agar jaraknya dengan Azta agak jauh.
" Kalian ada masalah ? marahan ?" tanya Malik memandang Melody dan Azta bergantian.
__ADS_1
Melody dan Azta hanya menggeleng pelann
" Apa jarak menjadikan kalian menghadapi banyak kendala dalam hubungan? dari dulu, saat kalian bersama tidak pernah musuh musuhan gini." Malik seperti sedang menyidang Melody dan Azta.
"iya" Azta
"Tidak" Melody
Mereka menjawab pertanyaan Malik secara bersamaan namun dengan jawaban yang berbeda.
" Apa perlu pernikahan kalian di laksanakan segera, biar kalian akur lagi kaya dulu.?" sambung Malik.
" Pah ! kita sudah sepakat, Ody pengen ngejar karir dulu." sentak Melody saat mendengar kata pernikahan.
" Pah, sudah lah, kita jangan terlalu ikut campur dalam hubungan mereka, masalah dalam suatu hubungan itu biasa, biarkan mereka mengatasinya sendiri, agar mereka menjadi lebih dewasa." Anita sang mama yang membawa beberapa piring pisang goreng, melerai ketegangan antara suami dan anak kesayangannya di teras, pagi itu.
" Papah tidak bermaksud ikut campur, hanya saja mereka bersikap tak biasanya. papah hanya hawatir." lirih Malik.
" Tidak ada masalah apa apa antara kami, Om. mungkin hanya komunikasi kita yang kurang baik karena kesibukan masing masing saja." Azta coba menutup nutupi, padahal di antara mereka sudah tak ada komunikasi sama sekali semenjak Melody memutuskan bekerja di ibu kota.
Melodi hanya memutar matanya jengah, mendengar pembelaan Azta.
" sukurlah kalau kalian baik baik saja, ayah mau minta bantuan kalian, tolong ambilkan beberapa tanaman hias pesanan ayah di lembang, ayah agak kurang enak badan, mau kan?" pinta Malik.
" Tapi ayah, Ody lagi males kemana mana, ingin di rumah saja." Melody sungguh tak ingin pergi berdua dengan Azta.
" Tolong lah, hitung hitung kalian refreshing," Bujuk Malik.
***
Sepanjang perjalanan Melody hanya bungkam, dia tak ingin berbicara apapun pada laki laki yang dulu sangat di cintainya itu.
Begitu pun Azta, dia tak berani membuka pembicaraan, karena melihat sikap melodi yang seakan melirik padanya pun tak sudi.
Mereka tiba di lembang, sebuah dataran tinggi di kabupaten Bandung barat yang letaknya sekitar 22 kilometer dari ibukota kabupaten Bandung, udaranya yang sejuk, cenderung dingin itu menyuguhkan pemandangan yang indah serta pilihan tempat wisata yang beragam. seperti wisata perkebunan, wisata peternakan, danau, kota mini, termasuk wisata kuliner yang memanjakan lidah.
Semua tempat berlomba menyajikan tempat dengan berbagai ke khas an nya dan keunikannya, kalau anak jaman sekarang mungkin mengatakan tempat yang instagramable yang kekinian.
Di tempat ini juga berdiri beberapa bangunan villa, hotel, dengan berbagai fasilitas yang menarik, ada yang di hutan, di atas pohon, berbisnis di daerah itu memang memerlukan ide dan kreativitas yang out of the box untuk menarik para wisatawan.
" Kita langsung ke tempat teman papah saja, ambil tanamannya, lalu pulang." ketus Melodi saat Azra mengajaknya memasuki sebuah restoran.
" Aku lapar, kita makan dulu." ucap Azta yang memang belum makan apa apa dari pagi tadi.
Melodi hanya mendengus dan mengekor Azta.
" Ody, aku kangen, kenapa kita jadi seperti ini ?" lirih Azta memandang wajah Melody yang tak bisa menyembunyikan ke kejengahannya.
__ADS_1
Saat ini mereka duduk berhadapan di sebuah restoran yang berdiri di antara bukit bukit dan di kelilingi dengan pemandangan khas ekosistem alam dataran tinggi, Azta memilih duduk di area makan outdoor, seharusnya ini menjadi tempat makan dengan suasana romatis bagi pasangan kekasih, tapi sayangnya tidak untuk mereka.
" Kenapa ? bukannya jawabannya ada pada dirimu sendiri !" ketus Melody, dengan wajah yang masih menunjukan ketidak sukaannya.
" Apa perubahan sikapmu, ada hubungannya dengan laki laki bernama Johan yang kamu peluk waktu itu ?" sinis Azta.
" Astaga,,, masih saja kamu buta perasaan ya ! hubungan kita sudah seperti ini sejak malam pertunangan kita, puas ?" Melody sedikit terpancing emosinya.
" Tapi aku menyesal, aku masih sangat menyayangimu, aku tak mau kita pisah." lirih Azta.
" Menyesal katamu ? penyesalan macam apa yang kamu bilang, dimana seminggu kemudian aku memergoki mu sedang berbuat mesum setengah telanjjaang di ruang kerjamu? seperti itu bentuk penyesalan mu ?" Melodi dengan emosi meluap luap.
" itu tak seperti yang kamu pikirkan, aku bisa menjelaskan--" Azta belum sempat menyelesaikan kalimatnya,
" Aku tak butuh penjelasan apa apa dari mu. Mataku sudah cukup jelas melihatnya." potong Melody.
" Tentu saja kamu sudah tak butuh penjelasan atau apapun dariku, karena kamu sudah punya laki laki lain, si Johan yang kamu peluk itu." nada bicara Azta sungguh penuh kebencian, dia teringat kejadian dimana dia melihat Melody memeluk laki laki lain di depan matanya.
Tapi azta lupa yang dia lakukan dengan wanita bernama Moza itu lebih dari sekedar menyakiti dan melukai batin Melodi.
" Cukup, aku tekan kan padamu sekai lagi, jangan mencari cari kesalahan pada orang lain, aku tak punya hubungan apapun dengan Mas Johan atau laki laki yang ku peluk itu, sebaliknya kamu yang mempunyai hubungan dengan wanita lain di belakangku, kenapa jadi melimpahkan kesalahan padaku, huh ?" nafas Melody mulai tak beraturan menahan tangis dan amarah yang memenuhi dadanya hingga sesak.
Bagaimana bisa Azta malah balik menuduhnya mempunyai laki laki lain, hanya karena dia melihatnya memeluk laki laki lain, tanpa tau apa alasannya, lalu bagaimana dengan apa yang telah Azta lakukan dengan wanita itu, apa dia pikir itu bukan sebuah penghianatan ?
tiba tiba ponsel azta yang di simpan di atas meja berbunyi, tertera dan terlihat dengan jelas oleh Melodi, nama MOZA beserta foto wajah wanita itu di layar ponsel Azta.
Beberapa kali panggilan wanita bernama Moza itu di abaikan oleh si pemilik ponsel.
" Angkat lah, kekasih mu mungkin saja memerlukan mu.!" sinis Melody sambil melirik ponsel Azta yang posisi layarnya sekarang menelungkup karena di balik oleh Azta.
" ckk,,, dia bukan kekasihku, kekasihku cuma kamu !" Decih Azta yang terpaksa menerima panggilan dari wanita bernama Moza itu walau dengan hati kesal.
" Halo ! ada apa ? bisakah kau tak menggangguku sehari saja ?" Bentak Azta tanpa basa basi.
"..... "
" Baiklah, aku segera kesana !" Wajah Azta tiba tiba pucat pasi, dia terlihat sangat panik, entah apa yang dia dan Wanita bernama Moza itu bicarakan, tapi mata Azta juga terlihat memerah seperti menahan tangis.
Melody cukup gengsi dan benar benar tak ingin tau atas apa yang terjadi pada Azta saat ini.
" Maaf, aku harus segera pergi, nanti akan ku kirim sopir untuk menjemput mu !" ucap Azta dengan panik, dan segera berdiri dari tempat duduknya.
" Tidak usah ! aku bisa pulang sendiri." Melodi membuang muka dari tatapan Azta.
" Kamu tunggu, sopir akan menjemputmu." Azta mengulang perkataannya.
" TIDAK PERLU !" sentak Melody.
__ADS_1
" Maaf, tapi aku harus pergi. Maaf !" Azta meninggalkan Melody di tempat seindah itu sendiri dengan perasaan yang tak indah sama sekali.
" Pergilah ! dan tak usah kembali.!" gumam Melody berbarengan dengan tetesan air mata yang lagi lagi meluncur di pipinya.