
Setengah tahun kemudian,
"Sayang, cepat lah, nanti acaranya keburu selesai," teriak Azta dari dalam mobil menunggu Moza yang belum juga keluar rumah,sambil sesekali membunyikan klakson mobilnya tak sabaran, sementara Nirel sudah duduk manis di kursi belakang Azta.
"Iya, ini aku udah selesai, gimana, aku udah cantik belum ?" Tanya Moza mengibas ngibaskan baju yang dia pakai, dan berputar putar di samping pintu mobil yang terbuka lebar, gaun berwarna merah yang sengaja di buat seragam dengan gaun yang Nirel pakai, sedangkan Azta memakai setelan jas hitam dengan dalaman kemeja warna merah senada tanpa dasi saat itu.
"Hmm,," deham Azta seolah malas berkata paniang lebar.
Mobil melaju cepat, membawa mereka bertiga menuju sebuah hotel mewah di Bandung, sepertinya mereka akan menghadiri sebuah resepsi.
Ballroom sebuah hotel mewah sudah di dekor dengan megah, aneka bunga berwarna putih menghiasi setiap sudut dari ruangan itu, pelaminan yang bak singasana raja berdiri di ujung ruangan dengan pasangan pengantin yang duduk anggun layaknya raja dan ratu pada malam itu, dan menjadi pusat perhatian semua undangan yang datang.
Azta menaiki tangga pelaminan dan menghampiri kedua orang yang tengah berbahagia itu, senyumnya walau agak setengah hati tapi tetap dia sunggingkan mengaburkan perasaan kacau yang sebenarnya sedang dia rasakan saat ini.
"Selamat menempuh hidup baru, untuk kalian," ucap Azta menyodorkan tangan kanannya mengajak Satria yang malam itu terlihat sangat gagah dengan balutan jas putih.
"Terima kasih sudah menyempatkan datang," jawab Satria menerima uluran tangan Azta,
"Hai tante baik, selamat menikah ya..." ucap Nirel saat berhadapan dengan Melody yang terlihat sangat cantik dengan gaun putih panjang bak ratu kerajaan.
"Hai Nirel, terimakasih sudah mau datang," ucap Melody mencubit gemas pipi Nirel yang chuby.
Sementara Moza hanya bersalaman sambil tersenyum saja tak mengucapkan sepatah kata pun.
Azta memang datang sedikit terlambat, tamu tamu sudah tinggal sedikit dan yang tersisa hanya tinggal saudara dan kerabat dekat saja.
"Boleh aku meminjam waktu istri mu, untuk berbicara sebentar dengan ku ?" tanya Azta pada Satria yang sedikit agak mengernyitkan dahinya.
"Hanya berbicara saja, tak lebih," sambung Azta meyakinkan, karena sepertinya Satria terlihat agak keberatan.
Semenjak kejadian penculikan yang di lakukan Azta pada Melody beberapa bulan silam, mereka sudah tak pernah bertemu lagi, Azta sibuk dengan pekerjaan dan memperbaiki hubungannya dengan Moza dan mencoba menjadi ayah yang baik untuk Nirel.
Sementara Melody kembali menjalankan aktivitasnya seperti biasa di pantry hotel Blue Palace, menyalurkan hoby dan bakatnya, sambil merenda hari dengan Satria kekasih tercintanya.
__ADS_1
Melody dan Azta berjalan menuju balkon hotel, tepat di ujung sebelah kanan pelaminan, Moza dan Nirel sedang menikmati hidangan pesta.
"Selamat Ody, akhirnya kamu menemukan cinta sejati mu," ucap Azta tersenyum perih, tak munafik dirinya masih merasa berat melepas Melody yang bertahun tahun menemaninya melalui suka dan duka.
"Hm, terimakasih kak, kakak juga sudah menemukan kebahagiaan kakak bersama Moza dan Nirel kan ?" senyum Melody tulus.
"Ya, tentu saja, aku telah melakukan banyak kesalahan, aku telah menyakiti mu, menyakiti Moza, dan bahkan menyakiti Nirel putri ku. Aku tak ingin menghabiskan sisa hidupku dengan menyesali kenyataan bahwa aku menyia nyia kan kesempatan kedua untuk menjadi ayah yang baik," urai Azta panjang lebar.
"Syukurlah, aku senang kakak sudah bisa menerima Nirel, aku ikut bahagia." ucap Melody.
"Ody, aku beruntung bisa mengenal dan pernah melalui hari yang panjang dengan mu, katakan saja aku bodoh atau idiot, aku memang tak pantas mendapatkan kebaikanmu, aku seharusnya tak membiarkan kamu pergi, aku seharusnya memohon padamu untuk tetap tinggal, tapi aku sadar, aku telah menyakitimu begitu dalam, aku hanya perlu melepasmu untuk bahagia dan aku akan ikut berbahagia." lirih Azta.
"Terimakasih, bro, sudah ikhlas melepas Melody, gue janji bakal membuat dia bahagia di sepanjang umurnya," Satria tiba tiba datang dan bergabung dalam pembicaraan dua orang mantan kekasih itu.
Sedari tadi hatinya tak tenang dan dan matanya tak bisa lepas dari sosok Melody yang kini sudah sah menjadi istrinya, dadanya terasa panas melihat sang istri mengobrol berdua bersama mantan tunangannya, meski atas persetujuan darinya, makanya dia bergegas menghampiri kedua orang itu.
Azta hanya menjawab ucapan Satria dengan anggukan kepala, Moza dan Nirel pun kini sudah bergabung bersama mereka.
"Kenapa kalian mesra sekali, aku cemburu," rajuk Satria pada Melody.
"Ish, mesra dari mana, orang cuma ngobrol biasa juga." tampik Melody.
"Tetap saja aku cemburu" cebik Satria.
"Jadi abang mau marah aja nih, gara gara cemburu, beneran ?" goda Melody memeluk Satria yang cemberut.
"Wah bahaya, ntar malem aku di temani pemandangan sayap malaikat di punggung abang nih kalo ngambek gini," gumam Melody sambil mengerlingkan matanya.
"Mana ada ! Ga ada ceritanya malam pertama ngambek ngambekan, pamali" ucap Satria menyambar pinggang Melody dan merapatkan ke tubuhnya.
"Kirain, mau ngambek gara gara cemburu" ejek Melody.
"Gak ada cemburu cemburuan, kamu udah legal jadi hak milik ku sayang, jadi aku pemenangnya, yang lain cuma numpang lewat" ucap Satria seraya mengecup sekilas bibir ranum sang istri yang ada di hadapannya, dia lupa kalau tadi dirinya sendiri yang mengatakan kalau dia sedang cemburu.
__ADS_1
"Abang ! Banyak orang liatin tuh !" tunjuk Melody ke arah beberapa tamu yang masih ada di ruangan itu.
"Ya gak papa dong, kan udah halal." elak Satria.
***
Sementara di dalam perjalanan pulangnya, Moza mencoba bertanya sesuatu pada Azta,
"Kamu udah benar benar merelakan Melody ?" ucapnya sangat hati hati takut menyinggung perasaan Azta yang biasanya gampang marah.
"Ya, dia udah bahagia, aku juga ikut bahagia" ucapnya datar.
"Syukurlah, aku ikut senang mendengarnya, aku tak ingin kamu terluka lagi dan lagi." ucap Moza.
"Berjanjilah satu hal padaku, Moza !" pinta Azta.
"Janji apa ?" tanya Moza.
"Berjanjilah untuk tidak pergi lagi dari ku apapun yang terjadi." tegas Azta.
"Ya, aku janji, akan selalu bersama mu dan juga Nirel, apapun yang terjadi." janji Moza dengan suara tercekat, dia tak menyangka kalau Azta semakin melunak hatinya, dia tak lagi ketus dan marah saat bersamanya.
"Izinkan aku menebus waktu ku yang selama 6 tahun ini tak bisa menemani kalian, biarkan aku melakukan hal bermakna untuk kalian." ucap Azta, penuh keyakinan.
Azta ingin memulai semuanya dari awal lagi, dia tidak ingin mengulang kesalahan yang sama menyia nyiakan orang orang yang mencintai dan dicintainya, dia kini hanya ingin berbahagia bersama keluarga kecilnya.
Bukankah bahagia itu kita yang menentukanya !
*Terima kasih kakak kakak yang sudah mengikuti kisah ini sampai akhir, semoga kakak semua berbahagia selalu, sampai jumpa di cerita othor selanjutnya...*
Buat yang suka action romantis mampir dan intip intip cerita othor yang baru yuk, judulnya PULAU BAYANGAN.
__ADS_1