
"Iya, ayah. Aku siap meninggalkan perusahaan dan semuanya, aku hanya butuh dia." Satria melirik dan tersenyum tipis ke arah Melody yang sejak tadi tertunduk ketakutan dengan Emir.
"Anak bodoh, kau lebih memilih perempuan di banding perusahaan." Cibir Emir.
"Iya ayah, Maaf. Aku tak bisa melepaskannya." Jawab Satria penuh keyakinan.
"Lalu, kalau kau mau meninggalkan perusahaan, dan kau akan menyuruh tubuh tua ini bekerja kembali mengurus semuanya,?" Kata Emir.
"Maaf Ayah, tapi-"
"Kau seorang Satria Kaisar Hamzah, kau berhak mendapatkan keduanya, perjuangkan wanita yang kau cintai, tanpa harus meninggalkan perusahaan dan keluarga, maafkan ayah mu ini yang tak pernah memberimu kebahagiaan sedari dulu." Emir melemah,
"Aku ayah yang Egois, aku hanya ingin membentukmu mu jadi pengusaha yang tak terkalahkan, dan ku akui, kamu hebat walau aku tak pernah mengatakannya padamu, nak.!" Sambung Emir.
"Ayah, !" Lirih Satria.
"Ayah sudah tau semuanya." Ucap Emir tersenyum.
Semalam saat Satria menelpon Johan, dia memang sedang dalam perjalanan menuju ibu kota bersama istri dan adiknya, karena Memes sang adik terus merengek minta di antar ke Jakarta, dia sudah sangat merindukan Bima katanya.
Saat sampai Jakarta, Johan seperti biasanya dengan cekatan mengurus dan membereskan semua kekacauan yang terjadi pada sahabatnya itu.
Johan menemui Putra, dan berhasil mengajaknya bernegosiasi, lalu dia menemui Emir menceritakan juga menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada ayah arogant itu.
Setelah mendapat penjelasan dari Johan, malam itu Emir bergerak cepat mengerahkan anak buahnya untuk mengungkap kebenaran dari kejadian yang terjadi pada anaknya.
Pagi itu sebenarnya Emir berniat meminta maaf pada anaknya dengan datang ke kamar Satria, dia merasa sangat menyesal karena telah menghajar ! anaknya tanpa mau mendengar penjelasan dari anaknya itu, tapi dia mengurungkan niatnya, saat mendengar percakapan istri dan anaknya itu, karena rasa gengsinya yang tiba tiba muncul saat itu.
***
"Mbul, kenapa kemarin kamu nekat datang ke rumah," Tanya Satria yang hari itu mendapat kejutan karena Melody datang ke kantornya di EmHa grup.
"Pengen liat kamu sama Mba Emily nikahan," Jawab Melody datar.
"Halah, pengen liat, tapi nangis di pojokan," Ejek Satria.
"Ih, sedih tau liat Bang bos duduk di pelaminan sama orang lain." Melody merengut.
"Hmm,,, Bang bos lagi,! Sumpah, risih banget denger kamu manggil aku Bang bos. Ganti kek, panggil apa gitu" gerutu Satria kesal.
"ya udah, gak aku panggil bos lagi," Melody mengalah.
"Iyalah, aku bukan bos kamu, tapi kamu yang jadi bos aku." Satria mencubit gemas hidung bangir Melody.
Tok,, tok,, tok,,
Suara pintu di ketuk dari luar,
Setelah di persilahkan masuk, nampak Johan membawa beberapa dokumen untuk di periksa dan di tandatangani Satria.
"Wuih,,, yang sedang berbahagia, gak pengen ngucapin makasih sama sang penyelamat kalian, apa?" Johan melirik Satria yang asik duduk berduaan di sofa kantor.
"Lu mah, bantuin gue itung itungan banget, Jo." cebik Satria.
__ADS_1
"Itu di luar jam kerja ku bro, harusnya masa cuti ku masih 3 hari lagi, tapi harus membereskan kisah cinta rumit mu, dan sekarang aku terpaksa masuk kerja, karena bos besar sibuk berpacaran." Sindir Johan.
"Ayolah Jo, lu udah gue kasih hadiah mobil keluaran terbaru, di hari pernikahan lu, kurang baik apa coba gue."
"Bukan kurang baik bro, tapi kurang ajar,! Curang, mobilnya di perawanin dulu buat kalian minggat, jatohnya itu bukan mobil baru lagi tapi mobil bekas, bekas di pake kalian." Sewot Johan kesal mengingat lagi kejadian di hari pernikahannya itu.
Satria dan Melody hanya saling memandang, lalu tersenyum tipis, mendengar ocehan Johan yang kesal.
"Jo, gue abis ini mau nganter Melody pulang ke penthouse, lu urus pekerjaan kantor semuanya ya.!" Titah Satria mengajak Melody pulang.
"Pacaran teroooos,,, nikain bos, halalin, jangan cuma di pacarin !" Seru Johan, membuat pipi Melody merona karena malu.
"Tenang saja, secepatnya gue akad nikah sama dia, tapi lu kadoin gue mobil baru ya !" Satria tersenyum meninggalkan Johan di ruangan kerjanya sambil menggandeng mesra kekasih satu satunya itu.
"Dihh,,, minta di kadoin Mobil, lah judulnya tukeran kado kalo gitu !" Gerutu Johan sambil membereskan dokumen yang menumpuk di meja kerja Satria.
Satria dan Melody memasuki mobil yang terparkir di basement gedung perkantoran megah itu, mereka saling bercanda dan tertawa bahagia.
Mereka tak menyadari jika sepasang mata memperhatikan mereka dengan matanya yang merah karena menahan marah melihat kebahagiaan sepasang kekasih itu dari balik kemudi mobilnya yang juga terparkir disana.
***
Tok,,, tok,,, tok,,,
Suara ketukan pintu di ruangan kerja Satria mengalihkan perhatian Johan yang sedang memerksa beberapa berkas menggantikan tugas Satria yang kini sedang berduaan dengan pacarnya, Melody.
"Maaf pak, ada tamu yang ingin bertemu dengan Pak Satria katanya ada hal yang penting sekali." Ucap ayu sekretaris Satria, menyampaikan pesan yang baru saja dia terima dari resepsionis di bawah yang menelpon nya.
"Pak Satria sedang keluar, suruh saja dia bikin janji ulang besok." Ucap Johan masih belum mengalihkan pandangannya pada kertas kertas di atas meja kerja besar itu.
"Skandal aku ? " Kaget Johan meletakkan lembaran kertas di tangannya, melirik ke arah Ayu yang ada di hadapannya, Ayu hanya menjawabnya dengan anggukan kecil.
"Siapa orang itu ? Mengganggu saja, apa dia kira semua orang di sini menganggur dan tidak sibuk, sampai harus menemui nya,?" Kesal Johan merasa kesibukannya di ganggu.
Johan juga sangat di hormati dan di segani di EmHa grup, tak ada yang berani padanya, karena bila ada yang berani macam macam pada johan, sudah di pastikan orang itu akan ber urusan langsung dengan Satria atau bahkan Emir sekalian.
"Maaf, namanya Azta Permana, Pak." Jawab Ayu dengan wajah yang tertunduk, karena takut kena semprot Johan.
"Azta Permana ?" Johan tersenyum miring.
Dia lalu menyambar ponselnya dan menghubungi seseorang, benerapa saat setelah mengakhiri pembicaraan nya, Johan tersenyum.
'Showtime...' Soraknya dalam hati.
"Suruh dia naik kesini, dan jangan banyak bicara padanya, ingat, jangan jawab apapun pertanyaan orang itu." Johan memperingati Ayu berulang kali, dan Ayu mengangguk tanda mengerti, lalu dia berpamitan keluar ruangan.
Selang berapa lama Azta telah sampai di ruang kerja Satria dengan di antar Ayu.
"Selamat siang, Pak Satria." Sapa Azta pada Johan yang sedikit menganggukan kepalanya menatap ke arah Azta, sambil tetap duduk di kursi kebesaran milik Satria, kapan lagi merasakan jadi presdir EmHa grup, pikirnya tersenyum geli dalam hati.
"Maaf, pak tapi ini bu-"
"Ayu, kembali bekerja,!" Potong Johan sebelum Ayu membongkar Akting nya sebagai Satria sang presdir EmHa grup.
__ADS_1
"Ba- baik, Pak." Ucap Ayu menuruti perintah Johan meski dirinya agak bingung, dia merasa sepertinya pendengaran nya bermasalah, karena dia tadi mendengar tamu itu memanggil Johan dengan nama Satria.
"Maaf, apa saya mengenal Anda ?" Tanya Johan menerima jabatan tangan Azta.
"Saya Azta Permana, kebetulan saya yang menggarap proyek pengadaan dan pergantian furniture di Blue Palace hotel." Azta memperksenalkan dirinya.
"Apa anda salah masuk kantor ? Ini EmHa grup, bukan Blue Palace.!" Ucap Johan datar.
"Saya memang sengaja kesini, ingin bertemu dan ada perlu dengan Bapak." Gugup Azta.
"Tapi saya tidak mengenal anda, EmHa juga tidak sedang ingin mengganti atau menambah furniture baru." Johan sebenarnya menahan tawa sekuat tenaga, dia sungguh tak kuasa melihat wajah konyol Azta saat ini yang kebingungan memulai pembicaraan, karena Johan selalu menanggapinya dengan dingin dan datar.
"Ini bukan untuk masalah pekerjaan." Ucap Azta susah payah.
"Maaf, saya hanya membahas masalah pekerjaan di kantor, pekerjaan saya sangat banyak, tak punya waktu untuk membicarakan hal lain selain pekerjaan." Johan ber akting seolah tak tertarik dengan pembicaraan Azta.
"Tapi ini tentang dia, tentang Johan, asisten anda." Azta menunjuk foto Satria yang sedang berpose bersama Johan di bingkai yang terletak di meja kerja Satria.
Hampir saja mencelos hati Johan, saat melirik foto yang di tunjuk Azta, tapi dia bisa bernafas dengan lega karena di foto itu Satria sedang bersama dirinya.
johan lantas diam diam mengedarkan pandangannya di sekitar ruangan itu, takutnya ada foto Satria yang menggantung atau sesuatu yang berhubungan dengan Satria, nisa kacau aktingnya.
"Ada masalah apa dengan asisten saya ? Tanya Johan memicingkan matanya.
"Johan merebut tunangan saya, dan berselingkuh dari sepupu bapak." Ucap Azta bercerita.
"tunangan mu ? Apa kamu yang waktu itu datang ke apartemen Johan ?" Tanya Johan menguji daya ingat Azta, karena saat itu dirinya sempat bertemu sekilas dengan Azta saat kejadian Azta mengejar Melody sampai apartemen nya.
"Iya, bapak tau kejadian itu?" Azta bertanya balik, sepertinya dia tak menyadari kalau saat itu Johan ada di sana.
"Oh, itu hanya mendengar selentingan kabar saja."
Kilah Johan.
"Lantas apa mau mu ?" Tanya Johan.
"Tolong bapak menasehati dan berbicara dengan asisten bapak itu, dia sudah ber istri, dan Melody juga sudah punya tunangan, jadi swbaiknya mereka berhenti berhubungan." Tegas Azta.
'Lah, aku kon ngomongi awake dewek' Batin Johan.
(Lah, aku di suruh menasehati diri sendiri)
"Maaf pak Astra, itu kan urusan pribadi Johan, walaupun dia asisten saya, saya tidak berhak untuk ikut campur. Jadi saya rasa Pak Astra silahkan selesaikan sendiri urusan anda berdua." Johan sengaja salah memanggil nama Azta.
"Azta pak, nama saya Azta." Protes Azta karena Johan berulang kali salah memanggil namanya.
"Oh, ya, itu. Maaf saya memang agak susah untuk mengingat nama orang asing dan tidak begitu penting buat saya, jadi suka keliru." Demi apapun Johan sudah benar benar tak kuat ingin menertawakan wajah Azta yang terlihat sangat kesal dengan ucapannya barusan yang terkesan menyepelekannya.
* hayu di like yuk kakak...
ngegosipin Azta di komen juga boleh,,,
terimakasih masih setia bersama cerita otor yang amatiran ini,
__ADS_1
semoga rezeki anda semua berlimpah ...*