BUKAN CINTA SEGITIGA

BUKAN CINTA SEGITIGA
Perkara Nasi Goreng


__ADS_3

Seminggu berlalu, Azta tak lagi menampakkan dirinya, semenjak terakhir kali bertemu di ruang kerja bu Maya.Mungkin dia sudah pulang kembali ke Bandung.


Malam ini Melody baru pulang kerja, dia dapat shift siang, jalanan ramai kendaraan lalu lalang, mungkin karena ini malem minggu, jadi banyak orang ingin keluar rumah sekedar melepas penat saat weekend. Melody berjalan sendiri menyusuri trotoar menuju apartemennya.


Ketika mau masuk lift menuju atas, seorang pria yang ada di dalam lift itu menatap sinis Melody, memandanginya seakan melihat sesuatu yang menjijikan.


"Wah,,, malem minggu ngapelin tunangan orang nih, gak tau malu !" ucap Satria sinis, sepertinya ucapan itu di tujukan pada Melody, karena di dalam sana hanya ada dirinya dan Melody saja, tak mungkin dia berucap untuk dirinya sendiri kan ?


Tapi Melody tak terpancing sedikitpun, dia tak memperdulikan Satria si laki laki bermulut pedas itu sedikitpun.


"Pake sok sokan budeg segala, malu ya, malem malem gini ketahuan nyamperin tunangan orang?" lanjut Satria, entah kenapap laki laki yang terkenal dingin dan irit bicara itu tiba tiba menjadi cerewet bila di hadapan Melody, mulutnya seakan gatal bila tak berkomentar tentang apa yang di perbuat Melody.


Melody masih tak menghiraukannya dan melangkah cuek keluar dari lift meninggalkan Satria yang berjalan di belakangnya.


Melody sengaja berhenti dan berdiri di antara pintu kamarnya dan pintu kamar Memes.


"Kenapa gak pencet belnya, malu ?" Satria memencet bel pintu Johan. Melody hanya tersenyum tipis, melihat tingkah Satria yang selalu saja merendahkan dirinya.


"Masuk apartemen sendiri masa pencet bel segala," Melody membuka pintu kamarnya, setelah menekan beberapa angka kode di handle pintu lalu segera masuk dan meninggalkan Satria yang bengong melihat Melody menghilang di balik pintu.


"Masuk bro, kok ngelamun, kesambet ntar ! Lagian pake pencet pencet bel segala, biasanya juga langsung masuk." ucap Johan membukakan pintu.


"Itu,,,selngkuhan lo, tinggal di sebelah?" Satria melongok ke pintu Melody yang tertutup rapat, telunjuknya mengarah ke bangunan tempat Melody tinggal.


"Dia bukan selingkuhan ku !" Tekan Johan merasa kesal karena Satria terus saja menuduhnya tanpa ampun.


Satria diam tanpa ada yang tau apa arti di balik diamnya itu, seperti merenung atau memikirkan sesuatu.


" Ada apa, tumben malem minggu kesini bro?" Tanya Johan.


" Gue lagi males ketemu Emi, gue nginep sini ya. Gue pengen istirahat!" Satria masuk ke kamar Johan, dia memang sudah biasa sesekali nginep di apartemen Johan.


" Owalah bos, rumah banyak, hotel punya, apartemen bertebaran, bisa bisanya kok, seneng banget nginep disini, " gerutu Johan menggeleng gelengkan kepalanya heran.


" gue males sendirian." jawab Satria merebahkan dirinya di kasur.


" Lha, males sendirian ? Tapi mau di samperin Emi malah kabur." cibir Johan.


" gue cape Jo, dua hari lembur belum tidur, kalo Emi dateng pasti ngajak belanja muter muter mall, mending gue kabur kesini lah.!" Satria sepertinya benar benar ngantuk, karena dia langsung terlelap di tengah percakapannya dengan Johan.


Johan memang orang yang paling dekat dengan Satria, dia tau segala tentang bos sekaligus sahabatnya itu, mereka bersahabat saat kuliah, dan berlanjut sampai sekarang, sehingga watak Satria sudah sangat dia hafal di luar kepalanya.


Walau pun bosnya itu terkesan arogan, sadis,tempramen dan bermulut tajam, tapi dia sebenarnya menyimpan banyak beban berat di hidupnya, mulai dari keluarga, pekerjaan sampai kehidupan pribadinya, makanya Johan terkadang merasa kasihan pada Satria yang selalu membantu dirinya sejak dulu.


Bisa di katakan Johan punya hutang budi pada Satria, dulu saat awal kuliah, peternakan sapi milik ayahnya bangkrut karena sapi sapinya tiba tiba mati semua entah mengapa, nyaris saja Johan berhenti kuliah dan Memes putus sekolah karena tak ada biaya, tanpa di sangka sangka Satria teman kuliah yang baru saja di kenalnya bersedia membantu usaha ayah Johan yang sudah bangkrut, Satria yang sudah menjadi sultan semenjak lahir karena merupakan anak pengusaha sukses ibu kota itu, memberinya bantuan modal tanpa syarat, tanpa meminta di kembalikan, itu benar benar dia memberikanya cuma cuma karena dia senang dengan pribadi Johan yang tulus berteman dengannya tanpa menilai dari status keluarganya yang kaya, selama ini Satria merasa muak dengan teman teman di sekitarnya yang hanya memanfaatkan dirinya, dan berteman dengannya karena harta dan status dirinya makanya Ketika dia berteman dengan Johan yang tulus dia tak segan segan memberi bantuan modal yang cukup besar sampai usaha peternakan itu berjalan kembali hingga sekarang.

__ADS_1


" Mas Johan,,, aku bawa makanan nih...!" Teriak Memes yang baru saja datang memanggil kakaknya.


" Stttsstt,,, Satria lagi tidur." Johan menaruh telunjuknya di depan mulut.


" Kak Satria nginep disini?" Tanya Memes yang kemudian di jawab dengan anggukan Johan.


"Nih makan, barusan aku mampir ke tempat Ody, dia masak nasi goreng seafood enak banget, ini aku bawain buat Mas Johan." Memes menyodorkan tempat makan berisi nasi goreng.


"Gimana dia sekarang? Mantannya dan Maya apa masih gangguin dia?" Tanya Johan hawatir.


"Mantannya kayaknya udah pulang, soalnya udah gak pernah nongol lagi. Kalau Bu Maya, sudah tak mungkin berani lagi dia, Mas Johan ku mau dia lawan, hahaha...!" Terang Memes yang beberapa hari lalu mengetahui cerita tentang percintaan Melody saat mereka curhat.


"Siapa yang di gangguin Maya ? Kamu ? Apa dia udah bosen kerja !" Suara Satria tiba tiba terdengar di meja makan, dia terbangun karena haus dan mendengar suara orang ngobrol di luar kamar.


Bukan aku kak, Tapi Melody." Memes bangkit dari duduknya meraih tangan Satria dan menyalaminya, Satria sudah Memes anggap seperti kakaknya sendiri.


"Kok bisa? Apa hubungannya Maya sama Cewek itu ?" Satria membuka tempat makan berisi nasi goreng seafood dan menyuapkan ke mulutnya.


"Mantan tunangannya Melody ternyata sepupunya Bu Maya, kak." Satria tidak merespon penjelasan Memes, dia asik memakan nasi goreng itu dengan lahap dan habis tak tersisa.


"Nasi gorengnya enak banget, beli dimana?" Satria malah tertarik mengomentari makanan yang baru saja di habiskannya.


"Gak beli, di kasih melody, tadi dia masakin aku." Jawab Memes datar.


"Cewek itu yang bikin ? Masak sendiri ? Gak mungkin !" cibir Satria tak percaya.


"Kerja di rumah makan mana?" Tanya Satria polos.


"Bukan di rumah makan kak, tapi di Blue Palace hotel." Memes hampir habis kesabaran meladeni pertanyaan Kakak angkatnya itu.


"Oooh...!" Satria manggut manggut.


"Apa ? Dia kerja di hotel gue dong !" Kaget Satria setelah ber oh ria dengan santainya.


"Emangnya ada Blue Palace hotel lain selain punya kakak?" cebik Memes.


"Jadi, dia kerja di hotel gue ? Ya mana gue tau, karyawan di hotel jumlahnya ratusan, gak mungkin gue hafal mereka satu satu kan, !" gumamnya pelan, namun masih terdengar oleh Johan dan Memes.


"Jangan macem macem sama dia bro,,!" Johan langsung mengingatkan, takut Satria akan menyulitkan Melody di tempat kerja setelah Satria tau kalau dia karyawan di hotelnya.


"Iya kak, kasian, dia benar benar sedang hancur, dia baru saja memergoki tunangannya selingkuh tepat di malam pesta pertunangan dia, lalu saat luka hatinya belum sembuh dia kembali melihat tunangannya sedang mesum di kantornya, please,,, jangan tambah lagi beban ody ya, kak,,," Memes memohon pada Satria.


"Gue ngantuk, mau terusin tidur.!" Satria tak peduli, meninggalkan kakak beradik itu tanpa komentar sama sekali.


***

__ADS_1


"Melody, tolong kamu buatkan nasi goreng seafood sekarang, kalau sudah jadi kabari saya, nanti saya ambil," perintah Bu Maya.


"Baik bu," Melody menyiapkan beberapa bahan untuk membuat nasi goreng yang sudah hampir lebih dari seminggu ini selalu di minta langsung atas perintah bu Maya, entah untuk siapa.


" Oh, ternyata kamu, chef yang masakannya di gilai pacarku ?" Emily menatap sinis Melody dari atas ke bawah dengan pandangan tak bersahabat.


"Maaf, apa maksud anda ?" Melody yang mengantarkan makanan pesanan bu Maya ke ruangannya bingung.


"Saya pacarnya presdir, apa maksud kamu selalu memberi masakan mu pada pacar saya tiap hari? ada hubungan apa kalian?" Emily menginterogasi Melody.


"Presdir ? Saya bahkan tak tau, untuk siapa makanan ini, setau saya bu Maya yang selalu memesannya. Saya bahkan tak pernah mengenal Bapak Presdir," Melody membela dirinya yang memang tak pernah tau dan tak pernah bertanya pada Maya untuk siapa masakannya itu.


"Maaf mba Emily, apa yang di sampaikan Melody memang benar adanya, dia tak pernah saya kasih tau kalau yang pesan makanan padanya tiap hari adalah pak Presdir" Jelas Maya membenarkan perkataan Melody.


Melody pun meninggalkan ruangan setelah Maya memberi penjelasan pada Emily.


Masih banyak pekerjaan menantinya dari pada harus meladeni kecemburuan Emily yang tak jelas menurutnya.


"Paling juga Pak Presdir sedang memata matai Melody, mbak !" Bisik Maya, jiwa penggosipnya meronta ronta.


"Memata matai ? Tapi untuk apa?" Emily tambah penasaran.


"Apa mbak Emily gak tau, kalau Melody simpanannya Pak Johan? " Maya mirip emak emak komplek yang sedang memberi info gosip terkini.


"Jangan ngawur kamu, Johan sebentar lagi menikah, jangan menyebar fitnah !" Emily tak percaya, karena Maya memang terkenal ratu gosip di hotel.


"Saya saksinya mbak, bahkan Melody mengakuinya, Pak Johan juga, tapi saya di ancam untuk tutup mulut, mungkin pak presdir hanya sedang mencari info tentang Melody." Lanjut Maya yang di amini Emily dengan anggukan kepalanya, padahal tak ada hubungannya sama sekali, masa iya mencari info lewat hasil masakan Melody.


Emily melenggang ke ruangan Satria, dengan membawa satu kotak makanan berisi nasi goreng sea food pesanan kekasihnya yang harus buatan Melody.


"Satria, ini makanan pesanan kamu." Emily memberikan sekotak nasi goreng ke meja Satria.


"Kok kamu yang nganterin?" Satria mengerutkan keningnya.


"Aku sengaja mengambilnya langsung ke pantry, pengen tau chef mana yang membuat kamu tak bosan memakan masakannya. Ternyata,,,, ada makasud lain di balik semua ini ?" Emily membukakan bungkusan nasi goreng yang di kemas dalam kotak makanan itu.


"Maksud lain, apa maksudnya? " Satria tergagap.


"Sudahlah aku tau, harusnya kamu bilang pada ku, aku bisa bantu cariin info tentang wanita itu tanpa harus kamu yang turun tangan sendiri. Bagaimanapun, Ririn juga sudah ku anggap saudara juga." Jelas Emily panjang lebar.


"Ririn?" Satria semakin bingung dengan apa maksud yang di sampaikan Emily.


"Iya kamu melakukan ini untuk membantu Ririn mencari informasi tentang selingkuhan Johan kan?" kata Emily dengan yakin.


"hmmmhh,,, jangan ikut campur masalah ini, dan jangan menyebarkan isu murahan, aku akan menangani masalah ini sendiri." tegas Satria.

__ADS_1


Karena tujuannya yang sesungguhnya bukanlah membantu Ririn atau Johan, tapi dia punya misi tersendiri yang tak boleh orang lain tau, apalagi Emily.


__ADS_2