
Satria terkurung di kamarnya sendiri, dengan penjagaan ketat beberapa pria berperawakan tinggi besar yang berjaga di depan pintu kamarnya.
Untunglah ponselnya masih berada di saku celananya, sehingga dia masih bisa menghubungi Melody, wanita cantik itu pasti tak bisa tidur dengan tenang karena memikirkan nasib Satria.
Setelah menelpon wanita pujaan hatinya dan menenangkan dengan berkata kalau dirinya dalam keadaan baik baik saja sekarang ini, dan meminta Melody untuk tak banyak berpikir tentang dirinya atau apapun.
"Aku baik baik saja, besok aku pasti menemui mu, love you, Mbul !" Satria mengakhiri pembicaraannya di telpon dengan Melody, dia harus menenangkan hati kekasihnya itu di tengah pikiran dan hatinya yang sekarang justru sedang kalut, di tambah lagi seluruh badannya yang kini mulai terasa nyeri akibat pukulan Emir sang Ayah yang menyerangnya membabi buta tanpa ampun.
Andai saja lawannya kemarin bukan Emir, orang itu pasti sudah di hajar balik oleh Satria sampai terkapar, sayangnya itu ayahnya sendiri yang tak mungkin dia lawan, dia tak ingin menjadi anak durhaka meski dia di perlakukan kejam dan tidak adil seperti sekarang ini.
Satria menulis dan mengirimkan pesan pada seseorang di ponselnya, setelah mendapatkan jawaban dari orang yang di kiriminya pesan itu, satria tersenyum tipis dan merebahkan dirinya di kasur yang jarang sekali di tidurinya, karena Satria lebih sering memilih tidur di kantor atau sesekali di penthouse nya di banding tidur di rumah orang tuanya.
Keesokan harinya, pagi pagi sekali Emily sudah bergentayangan di pantry Blue Palace hotel.
Waktu masih menunjukkan pukul 5 pagi, dia mencari Putra yang dari semalam belum bisa dia temui bahkan tak bisa di hubungi sama sekali, dan ternyata hari ini Putra pun tak masuk kerja, tak ada pemberitahuan sebelumnya, kata Maya yang tadi di tanyai Emily.
"Ada perlu apa Nona Emily mencari chef Putra?" Tanya Maya dengan ke kepoan tingkat tinggi nya, seorang Emily mencari Putra subuh subuh begini, pasti ada sesuatu, pikir Maya.
"Ah, itu,, aku ada urusan pekerjaan dengannya," Gugup Emily lalu bergegas pergi meninggalkan Maya yang masih belum puas dengan rasa kepo di jiwanya.
Saat berjalan menuju ke parkiran hotel, dari kejauhan dia melihat sosok wanita yang langsung membangkitkan emosinya di pagi buta itu, dia segera berlari dan menyeret paksa Melody ke tempat yang agak sepi,
"Hei wanita sial, dimana kau sembunyikan Putra, huh?" Emily to the point.
"Chef Putra ? Mana ku tau, kau kan pacarnya, kenapa bertanya kepada ku?" Sinis Melody.
"Berani juga mulut mu ya, sukurlah kalau kau tau dia pacarku, jadi kau akan tau berhadapan dengan siapa jika masih saja berani berhubungan dengan nya." Ancam Emily.
"Tentu saja aku tau, aku pernah melihat kalian berciuman di taman," Melody tersenyum miring.
"Dan kau tak akan mendapatkan Putra ataupun Satria, mereka milik ku, selamanya akan tetap menjadi milikku." Emily tersenyum penuh misteri.
"Tak tau malu, Satria bahkan sudah muak melihat wajah mu." Ejek Melody.
"Tidak lagi, karena hari ini dia akan menikahi ku." Emily tertawa puas melihat wajah Melody yang tersentak kaget.
"Menikah? Hari ini?" Melody mengulang kata kata Emily menjadi sebuah pertanyaan.
__ADS_1
"Ya, tepatnya pagi ini. Aku dan Satria akan MENIKAH.! bahkan dia tak bisa menolak permintaan orang tuanya semalam, dia langsung menyetujuinya." Emily begitu puas melihat wajah pucat Melody.
"Kau, akan kehilangan Satria, nanti akan ku sampaikan ucapan selamat tinggalmu padanya saat kami sedang di pelaminan beberapa jam kedepan." Lagi lagi Emily tertawa puas seolah mengejek Melody yang kini lututnya terasa lemas.
Emily pergi dengan tawa kemenangannya, meninggalkan Melody yang luruh badannya ke aspal, kakinya seperti tak bisa menopang badan mungilnya.
"Melody !" Teriak Memes berlari ke arah Melody yang terduduk bersimpuh di aspal, matanya berkaca kaca dan menerawang jauh kosong entah kemana.
"Memes, Satria,,, dia, dia hari ini akan menikah..." Melody tak sanggup melanjutkan kata katanya, dia lantas memeluk sahabatnya yang tiba tiba saja berada di hadapannya saat ini, dia menangis tersedu di pelukan Memes.
"Aku tau, sudahlah,,, ayo pulang dulu, mba Ririn menunggu di mobil." Memes memapah Sahabatnya dan membawanya masuk ke dalam mobil yang di kemudikan Ririn.
"Kamu tau ?" Tanya Melody.
"Semalam Kak Satria menghubungi mas Johan, kami bertiga langsung kesini, dan aku bertugas menjagamu, kamu sabar dulu ya." Memes mengusap punggung sahabatnya berusaha menenangkan.
"Semalam ? Bahkan semalam dia menelponku dan berkata semua baik baik saja, dan tak mengatakan apapun tentang pernikahan." Ucap Melody dalam isak tangisnya.
***
Di kediaman orang tua Satria,
Sebuah meja dengan beberapa kursi melingkari di sekelilingnya berhiaskan bunga bunga putih juga sudah di siapkan untuk upacara ijab kabul pernikahan.
"Satria, kamu belum bersiap siap nak,?" Tanya Diana yang datang ke kamar Satria yang masih di jaga dengan ketat itu.
Diana tampak terlihat elegan dengan gaun putih mewahnya, sementara Satria masih betah bermain ponsel sambil rebahan di kasur, dengan pakaian semalam yang masih melekat di tubuhnya.
"Satria, maafkan ayahmu, jangan benci ayah, dia berjuang membangun perusahaan dari darah dan keringatnya, Emily dan Rika mengancam akan membongkar skandal kalian bila kamu tak menikahinya, bukannya kami lebih mementingkan nama baik keluarga dan kelangsungan perusahaan dari pada kamu, tapi bukan kah ini semua untuk kalian nantinya, anak anak ku." Diana duduk di tepi kasur di sebelah Satria sambil mengelus wajah anaknya yang penuh dengan lebam akibat ulah suaminya.
"Apa ayah dan ibu tak pernah ingin mendengar versi ceritaku? Aku anak kalian, kan? Atau cerita orang lain lebih kalian percaya?" Satria meletakan ponselnya di atas kasur.
"Tapi, kamu sudah menghancurkan masa depan Emily, itu salah, nak. Kamu harus menjadi laki laki yang bertanggung jawab dengan perbuatan mu, bersikaplah satria seperti nama mu." Bujuk Diana.
"Bu, apa pernah aku menolak permintaan ayah atau ibu semenjak dulu,? Ayah memintaku apa saja aku turuti, hidupku hanya untuk perusahaan, sampai tak punya waktu untuk diriku sendiri, tak punya teman lain selain Johan, hidupku hanya untuk menaikan keuntungan perusahaan yang tak pernah mendapatkan apresiasi sedikitpun dari Ayah, dan sekarang aku juga harus menikah dengan wanita pilihan kalian yang dari dulu sama sekali tidak aku cintai, apa ibu peduli dengan perasaan ku? Ibu hanya terus menekan ku untuk menikahi Emily terus terusan kan?" Ucap Satria panjang lebar mengeluarkan segala ganjalan di hatinya.
"Cukup ! Bukan saatnya berdiskusi masalah perasaan dan cinta, kau terlalu munafik, mulut berkata tak cinta tapi kenyataannya kau meniduri Emily, mengambil kesuciannya, cih ! keturunan Hamzah tak ada yang bersikap pecundang seperti dirimu,!" Emir menerobos masuk ke dalam kamar Satria menemui istri dan anaknya yang sedang berbincang.
__ADS_1
"Apa ayah yakin aku berbuat hal itu pada Emily?" Tanya Satria sinis.
"Mata tua ku masih cukup jelas melihat foto foto bugil kalian bedua di atas ranjang, cepat bersiap sebelum foto foto itu di sebar luas oleh calon istri dan mertua mu karena kau menolak pernikahan ini." Emir keluar dari kamar itu dengan membanting pintu sekeras kerasnya.
"Ibu minta maaf, tapi ini tanggung jawab yang harus kamu jalani, semua akibat ulah mu sendiri." Diana berdiri dan menyiapkan pakaian yang akan anak sulungnya pakai di upacara pernikahannya.
"Hmmhh, baiklah, bahkan ibu pun percaya aku berbuat se bejat itu, aku akan siap dan turun 10 menit lagi. Semoga kalian bahagia." Satria berdiri dan mengambil setelan jas putih di tangan ibunya untuk dia pakai hari itu.
Emily, Rika, dan keluarga besarnya sudah hadir di ruang pertemuan itu menanti kedatangan Satria, sang calon mempelai pria.
Emily dengan kebaya putihnya duduk anggun di kursi tempat upacara akad nikah akan di laksanakan.
Beberapa menit kemudian, Satria datang memasuki ruangan itu, dengan setelan jas putih lengkap, terlihat sangat gagah, dan wajahnya meski banyak terlihat lebam disana, tidak sedikitpun mengurangi ketampanan laki laki itu.
Emily berdiri menyambut kedatangan calon suaminya yang duduk di sebelahnya.
"Kamu tampan sekali calon suamiku." Bisik Emily, saat mereka duduk bersebelahan.
Tak ada respon sedikitpun dari Satria, sikapnya tetap diam dan dingin.
"Tadi pagi aku mengundang pacarmu secara langsung untuk datang ke pernikahan kita hari ini, tapi dia hanya menitipkan ucapan selamat tinggal saja untuk mu." Bisik Emily lagi sambil tersenyum miring.
"Bajing_an, kau wanita iblis, aku sudah bilang jangan berani berani mengganggunya, kalau tidak-" Ucapan Emily tadi sungguh membangkitkan sisi iblis Satria, dia memikirkan Melody yang saat ini pasti sedang merasa sedih dan sangat terluka karena mendengar dirinya akan menikah dengan Emily hari ini.
"Kamu tak bisa mengancam ku, sebentar lagi aku sah sebagai istrimu, tidak baik mengancam istri sendiri, suamiku !" Emily semakin berani mengacak acak emosi Satria.
Satria memejamkan matanya, tangannya mengepal, dia sungguh ingin menghancurkan seluruh ruangan ini beserta isinya sampai luluh lantah tak tersisa karena ketidak berdayaan dirinya saat ini yang ingin bertemu dan memeluk Melody, wanita yang sangat di cintainya itu, hatinya tak tenang, dia ingin memastikan bagaimana keadaan belahan jiwanya itu, sungguh perasaan dan pikirannya saat ini bisa membuatnya gila.
Satria mengedarkan pandangannya melihat satu persatu para tamu undangan yang sebagian besar adalah keluarga besar nya dan keluarga besar dari pihak Emily, entah siapa yang dia cari dari banyak orang itu.
Bima yang juga sudah tampak rapi dan gagah dengan setelan jas nya mendekati tempat kakaknya duduk, hatinya benar benar hancur melihat sang kakak yang selalu menyayangi dan melindunginya seakan tak berdaya menghadapi takdir hidupnya yang terkesan begitu kejam terhadap Satria saat ini.
* yuk di like dulu kakak,,,
Saling menyapa di komen juga boleh,,,
Terimakasih masih setia disini kakak kakak...
__ADS_1
semoga hari kakak semua menyenangkan...*