
"Bos, kemarin target terlihat mengadakan pertemuan dengan Hendra, dari yang saya dengar, dia mencari informasi tentang anda, dan meminta bantuan Hendra untuk bisa di pertemukan dengan anda." Lapor seseorang yang di tugaskan oleh Satria untuk memata matai Azta.
"Baik, kerja bagus ! Lanjutkan tugasmu, laporkan setiap pergerakan mereka jangan sampai ada yang terlewatkan !" Titah Satria, yang kemudian di angguki orang itu dan langsung pamit meninggalkan ruang kerja Satria.
'Azta, kita lihat seperti apa permainan mu.' Gumam Satria menerawang menatap jauh entah kemana, dia hanya sedang merasa tidak sabar menanti pergerakan Azta selanjutnya.
Satria bukannya tak tau kecurangan Azta yang bekerja sama dengan Maya dan Hendra untuk memenangkan tender proyek pengadaan barang di Blue Palace, dia tau, namun Satria sengaja memberi jalan untuk Azta melancarkan aksinya, karena Satria yakin yang di incar Azta adalah dirinya atau yang dia kenal sebagai Johan.
Terkadang dia tak habis pikir, kenapa Azta tak mencari tahu siapa dirinya yang sebenarnya, dia dengan mudah saja percaya pada perkataan Melody dulu saat Azta mengejarnya ke apartemen dan Melody yang ketakutan salah mengira kalau yang menolongnya adalah Johan, padahal yang di peluk Melody adalah dirinya.
Satria tersenyum sendiri mengingat kejadian itu, bahkan di pertemuan pertamanya dengan Melody dia dengan sukarela mengaku kalau dirinya adalah kekasih Melody, dan di saat orang lain berkenalan dengan berjabat tangan, mereka langsung saling berpelukan erat di awal perjumpaan nya.
Betapa takdir menyapa mereka dengan indah tanpa mereka sadari.
***
Di rumah Emily,
"Emi, mami ada hal penting yang harus di bicarakan dengan mu." Rika maminya Emily menghampiri anaknya yang sedang di kamar bersiap hendak pergi.
"Ada apa sih, Mih ? Kurang uang lagi ?" Sinis Emily, karena biasanya maminya darang kepadanya kalau ada hal yang bersangkutan dengan uang.
"Beberapa hari yang lalu customer langganan mamih di salon katanya liat Satria sedang bersama perempuan di sebuah restoran cepat saji, ada juga yang pernah melihat di apartemen seruni, juga dengan seorang wanita, sebaiknya kamu berhati hati, sepertinya dia mulai berselingkuh dari mu." Ucap Rika memperingati anaknya.
"Tenang saja Mih, meskipun dia terkesan dingin pada Emi, tapi selama ini dia belum pernah bermain perempuan sekalipun, lagi pula dia sudah terikat dengan ku." Yakin Emily.
"Kamu mau kemana sekarang ?" Selidik Rika yang melihat anaknya sudah berdandan rapi dengan pakaian yang sangat ketat dan terbuka.
"Tentu saja bersenang senang, menghabiskan uang calon menantu kesayangan mu, Mih." Emily menyambar tas nya yang tergeletak di kasur.
"Jangan bilang kalau kamu akan bertemu laki laki kere itu !" Rika menatap Emily tajam.
Emily yang mendapat tatapan tajam dari Rika hanya mendengus sebal sambil berlalu tanpa menjawab pertanyaan mami nya.
"Emi ! Jangan coba coba bertemu gembel itu." Rika mengejar Emily ke luar kamarnya.
"Aku juga butuh perhatian, butuh kasih sayang, cuma dia yang bisa memberi ku itu semua, dia yang mamih bilang laki laki kere, gembel, setidaknya dia menyayangi ku tulus." Emily menghentikan langkahnya dan berbalik ke arah Rika sang mamih yang tersentak kaget karena Emily yang biasanya penurut kini berani membantah perkataannya.
__ADS_1
"Apa yang pria sialan itu lakukan sampai kamu berani membentak mamih?" Rika mengangkat tangannya ke udara hendak menampar Emily yang kini berdiri di hadapannya dengan tatapan sinisnya seakan menantang Rika.
"Apa keahlian mu hanya menyiksa dan memaksa ku mencetak uang untuk memenuhi gaya hidup mu yang tinggi itu, Mih?" Tantang Emily tak gentar sedikitpun.
Plakk,,,
Tamparan itu mendarat di pipi kiri Emily dengan sempurna, menghasilkan suara yang khas dan bukan hanya menyisakan tanda merah di pipinya, tapi juga rasa nyeri di hatinya.
"Apa uang yang aku berikan dari hasil merampok Satria masih kurang ? Apa aku menginjak harga diriku sendiri dengan mengejar dan memaksa Satria untuk menikahiku, itu masih kurang di mata mu, Mih ? Mamih mau aku sehancur apa lagi ?" Bentak Emily meneriakan isi hatinya yang selama ini dia tahan demi kebahagian Rika sang mamih.
"Emily, kau dasar anak tak tau diri, anak durhaka, kau berani melawan ku anak sial ? Aku tak mau tahu dan tak peduli bagai mana pun caranya, kau harus segera menikah dengan Satria, ku beri waktu satu bulan." Maki Rika pada Emily.
"Hahaha,,, satu bulan ? kenapa bukan Mamih saja yang menikahinya, berhenti menekanku, aku mulai berpikir untuk tidak menikahi Satria, aku tidak mau menyerahkan hidupku untuk laki laki yang tidak mencintaiku sama sekali, dan se umur hidup ku harus menghadapi suami yang selalu bersikap dingin padaku." Emily semakin memancing amarah Rika.
"Aku akan bongkar kejadian malam itu pada media sehingga mau tidak mau dia harus menikahimu, karena kalau tidak, itu akan berimbas pada perusahaannya, dan kalian akan menjadi musuh masyarakat." Ancam Rika yang mulai kehilangan akal.
"Jangan lupa kalau itu semua ide dari mu Mamih tersayang !" Emily tersenyum iblis.
"Itu semua mamih lakukan untuk kebahagian mu, di dunia ini semua hal perlu uang, cuma Satria yang bisa memberi itu semua." Pekik Rika geram.
"Kebahagiaan mamih lebih tepatnya, karena kebahagiaanku hanya bersama laki laki yang kata mamih kere itu, ingat Mih, meskipun aku sering bermain main dengan banyak laki laki, tapi hanya dia yang aku cinta, dan hanya kepada dia aku menyerahkan tubuhku, keperawananku. Tak ada laki laki lain yang pernah menyentuhku. Karena aku mencintainya !" Emily berlari menuju mobilnya dengan membawa tangis dan luka hatinya, berlalu meninggalkan Rika yang selalu menekannya, bahkan tak segan menyiksanya bila dia membantah keinginan wanita yang telah melahirkannya ke dunia itu.
***
flash back
Siang itu Rika kembali ke rumahnya karena ingin membawa barangnya yang tadi pagi saat dia berangkat ke salon tertinggal, namun saat melewati kamar anak gadis nya yang dia kira biasanya kalau siang hari sedang berada di kampus itu, mendengar suara suara aneh, seperti suara orang yang sedang melakukan hal yang biasa di lakukan pasangan suami istri.
Rika yang penasaran mencoba mendorong pintu kamar anaknya pelan, ternyata tak di kunci oleh pemiliknya, sungguh Rika kaget melihat pemandangan di dalam kamar itu, Emily anaknya sedang bergumul dengan seorang laki laki di atas kasur, tanpa mengenakan sehelai benangpun di tubuh mereka berdua, mereka terlihat seperti sedang menikmati kegiatan terlarang mereka itu.
"Ma- mamih," Emily menghentikan kegiatan nikmatnya dan membalut tubuhnya dengan selimut.
"Kau ! Siapa kau, berani berbuat hal kurang ajar dengan anak ku disini ?" Tunjuk Rika pada laki laki yang sedang memungut dan memakai pakaiannya dengan terburu buru.
"Maaf tante, saya akan bertanggung jawab. Saya akan menikahi Emily secepatnya." Ujar laki laki itu gugup.
"Cih, aku tak sudi menikahkan anak ku dengan laki laki rak jelas seperti mu, Emily sudah di jodohkan dengan anak pengusaha besar, jadi lebih baik kau jangan mendekati anak ku lagi." Umpat Rika.
__ADS_1
"Tapi Mih, aku mencintainya, kami saling mencintai." Ucap Emily memelas.
"Persetan dengan cinta ! Kau harus menurut kalau masih menganggapku sebagai orang tua mu. Hanya Satria yang boleh menjadi suami mu." Tegas Rika dengan murka.
"Mamih, Satria tidak pernah mencintai ku, aku juga tidak bisa memaksanya untuk mencintai ku." Emily menangis pilu, sungguh bukan dirinya tak mau berpacaran dengan Satria, tqpi sepertinya dia sudah kehabisan akal dan menyerah untuk berusaha menarik perhatian agar Satria mau menjadi kekasihnya, Satria selalu menganggapnya teman, sahabat tak pernah lebih, Meski Diana ibunya Satria juga sangat mendukung jika Satria, anaknya berpacaran bahkan menikah dengan Emily.
"Besok saat peresmian hotel, dia akan menjadi milikmu dan tak akan bisa mengelak untuk menikahi mu." Rika tersenyum penuh arti.
Besoknya, saat peresmian hotel rekanan Emir, mereka hadir meskipun sebenarnya tak di undang,
Emily terpaksa mengikuti rencana mamihnya karena di ancam akan di usir dari rumah dan tidak di anggap anak lagi oleh Rika.
Emily menghampiri Satria yang saat itu duduk sendirian di pesta memegangi gelas berisi wine yang entah bagaimana caranya sudah di masukan sesuatu di dalamnya oleh Rika.
"Kenapa tak bergabung bersama keluargamu?" Tanya Emily berbasa basi saat duduk di samping Satria.
"Aku sedang malas." Jawab Satria dingin seperti biasanya.
"Kemana Johan, bukankah biasanya dia selalu bersamamu ?" Emily mencari cari keberadaan Johan.
"Dia sedang menemui Ririn di luar kota." Kata Satria datar.
"Bagaimana kalau kita mencari udara segar di luar, biar ganti suasana, sepertinya kamu tak nyaman berada disini," Emily melancarkan bujuk rayunya.
Satria yang memang merasa bosan di dalam ruangan menyetujui usulan dari Emily, sepertinya berjalan jalan di luar bukan ide yang buruk, tapi dia tak tau apa yang akan terjadi padanya selanjutnya, rencana jahat Rika sudah di susun sedemikian rupa untuk menjeratnya ke dalam penjebakan terkutuk.
Baru beberapa menit di luar, Satria seperti merasa pusing yang teramat sangat, kepalanya terasa berat, pandangannya gelap dan tubuhnya terasa tak bertulang, lemas dan ringan.
Beberapa orang lelaki tegap sewaan Rika dengan sigap mengambil alih semuanya, dua orang menggotong Satria ke dalam kamar yang sudah di siapkan sebelumnya, lalu yang lain memperhatikan dan mengawasi keadaan sekitar agar tak ada yang melihat ataupun curiga dengan gerak gerik mereka.
Selanjutnya tinggal tugas Emily di dalam kamar, dia hanya perlu melucuti pakaian Satria sampai habis dan membuka seluruh pakaiannya sampai tubuh mereka polos, jangan lupa meneteskan sedikit pewarna merah di atas kasur tempat mereka tidur untuk lebih meyakinkan kalau Satria sudah merenggut kesuciannya.
Beruntung sisa sisa percintaan dengan pacarnya kemarin masih menyisakan banyak tanda merah di dada dan beberapa tempat lainnya, sehingga itu semakin membuat aktingnya terlihat sempurna.
flash back off
* yuks di like lagi biar othornya tambah semangat.
__ADS_1
Terimakasih masih setia bersama Melody dan Satria kakak kakak,
Semoga anda semua bahagia selalu... *