BUKAN CINTA SEGITIGA

BUKAN CINTA SEGITIGA
Azta In Action


__ADS_3

"Ody,.." Azta bergumam pelan, sikapnya terlihat grogi dan serba salah.


"Kalian ?" Ucap Melody sambil menunjuk ke arah tiga orang di depannya.


"Nirel, kamu ikut bunda dulu, ayah ada urusan sama tante ini." Azta menarik lengan Melody yang masih terkesima dengan hal gila di depan matanya yang belum bisa di cerna otaknya.


"Tapi, sayang !" Protes wanita bernama Moza itu.


"Kalian pulang naik taksi,!" Tegas Azta menatap tajam wanita bernama Moza itu, wanita itu hanya menghela nafas dan terdiam tak berani membantah kata kata Azta.


Azta menarik paksa tangan Melody dan memasukannya ke dalam mobil secara paksa.


"Aku mau di bawa kemana ?" Pekik Melody yang baru tersadar kalau kini dia berada di dalam mobil Azta, kejadian tadi seakan membuat dirinya bodoh untuk sesaat.


Melody merogoh saku celananya, dia mencari ponsel miliknya, naamun sial, ponselnya dia tinggalkan di dalam tas yang di tinggalkan nya di meja bersama Memes di restoran Jepang saat dirinya hendak ke toilet tadi.


Melodi tak membawa apapun kecuali tubuhnya saja saat ini, dia berpikir keras, bagaimana caranya dia bisa lepas dari Azta yang entah akan membawa nya kemana.


"Kenapa kamu bersikap seolah tak pernah pergi dengan ku ? Bukankah dulu bahkan kita sering pergi berlibur berdua,?" Ucap Azta sambil sibuk mengemudikan kendaraannya.


"Tolong, turunkan aku disini, aku meninggalkan temanku di Mall, dia pasti hawatir dan mencari cari ku." Pinta Melody berusaha tenang.


"Siapa ? Pacar mu yang suami orang itu ?" Sinis Azta.


"Teman ku perempuan, tolong ! Aku harus bekerja malam ini." Mohon Melody, mengiba.


"Kamu tak ku ijinkan lagi bekerja, terlebih saat kamu sudah menjadi istriku. Aku bisa memenuhi semua kebutuhan mu." Ujar Azta.


"Siapa juga yang mau menjadi istri mu ?" Melody merotasi bola matanya malas.


"Kamu harus menjadi istri ku, kita sudah bertunangan." keukeuh Azta.


"Azta, sadarlah ! Kamu sudah punya anak !" Melody menatap Azta tajam.


"Kita bisa mengurus dan membesarkannya bersama." Ucap Azta enteng.


"Azta, kamu sudah gila, dia masih punya ibu, maka urus dan besarkan anakmu dengan dia !" Ketus Melody.


"Tidak, aku hanya akan membesarkan anak itu dengan mu, kita akan menikah dan membesarkan dia bersama." Mata Azta menyala nyala di bakar emosi.


"Azta !" Pekik Melody tak tau harus berkata apa lagi menghadapi kegilaan Azta saat ini.


"Panggil aku dengan benar, seperti biasanya !" Bentak Azta pada Melody yang sudah tak pernah memanggilnya lagi dengan sebutan Kak Azta pada dirinya seperti dulu.


"Kak Azta, ingat Nirel, bukankah dia cahaya mu dari surga,?" Lirih Melody.


"Kamu masih mengingatnya ?" Azta tersenyum sambil menerawang jauh, pikirannya melayang ke beberapa tahun silam, tepatnya saat dirinya dan Melody masih kuliah di kampus yang sama, dan saling mencintai saat itu tentunya.

__ADS_1


Saat itu Azta pernah berandai andai saat ngobrol berdua dengan Melody, bila suatu saat mereka menikah, dan mempunyai anak, laki laki atau pun perempuan akan dia beri nama Nirel, yang artinya Cahaya dari surga.


Makanya tadi di Mall saat anak itu menyebutkan namanya, Melody sedikit mengerutkan keningnya, tapi sedikitpun tak ada menyangka kalau ternyata itu anak dari Azta.


"Kak, tolong sadar lah, kasian Nirel dan istrimu." Melody mencoba tenang kembali.


"Dia bukan istri ku !" Tampik nya.


"Lantas Nirel ?"


"Nirel akan jadi anak kita, segera !"


"Kak Azta, aku mohon... Aku tidak bisa !" lagi lagi Melody mengiba berharap Azta akan menuruti permohonan nya.


"Kenapa Ody, kenapa ? Bukankah tadi kamu sudah akrab dengan anak itu ? Atau semua ini karena dia, karena suami orang itu,? kenapa kamu jadi seperti ini ?"


"Bukan seperti itu, ini bukan karena aku tak menyukai putri mu, tapi kamu adalah seorang ayah dan suami orang !" Terang Melody.


"Ody tolong, kembali padaku, ayo kita menikah." Oceh Azta.


"Maaf, aku sudah mencintai orang lain." Ucap Melody pelan.


"Ody,,, dia sudah punya istri, kamu rela hanya jadi simpanan laki laki bajing_an itu?" Azta memukul setir yang berada di genggamannya.


"Tidak, dia belum menikah, kamu salah mengira." Melody sudah berniat menjelaskan semuanya.


"Oke, tidak usah membahas tentang dia, tapi bisakah kamu tenang ?" Melody memberikan sebotol air mineral yang biasa berada di balik kursi penumpang, tentu saja Melody masih mengingatnya, hampir enam tahun mereka bersama, bahkan apa saja isi bagasi mobil Azta dia masih bisa mengingatnya, dua pasang sepatu, tiga setel baju ganti, dan beberapa alat kantornya.


Semua itu masih melekat di ingatan Melody, bohong bila dia bisa begitu saja melupakan segala hal tentang Azta, meski jujur perasaan cintanya untuk Azta sudah tak ada lagi tersisa.


"Bagaimana kalau kamu cerita tentang Nirel saja, apa dia benar putri mu ?" Lirih Melody saat melihat keadaan Azta sudah mulai agak tenang.


"Maaf, tapi itu benar, dia putri kandung ku." Ucap Azta dengan wajah dan perasaan bersalah nya.


"Berapa usianya ?" Tak ada sedikit pun rasa marah pada Melody saat mendengar pengakuan Azta.


"Enam tahun lebih tiga bulan." Jawab Azta.


"Bahkan anak itu sudah ada sebelum kita berpacaran." Melody tersenyum getir, kebersamaan dirinya dengan Azta saja belum genap enam tahun.


"Tapi aku mencintai mu sejak awal."


"Bagaimana dengan wanita itu, wanita benama Moza itu ?" Seperti biasa, lidah Melody seakan malas menyebut nama wanita bernama Moza itu.


"Dia hanya ibu dari putri ku, tak lebih, aku mencintai mu hanya mencintai mu !" Teriak Azta.


"Kamu billang mencintai ku, bagaimana aku bisa percaya pada mu, saat malam pertunangan kita kamu asik berciuman dengan nya, beberapa hari setelah itu, di kantor aku melihat dengan mata kepala ku sendiri kamu bermesraan dengannya, dan yang terakhir, kamu meninggalkan aku di lembang hanya karena dia menelpon mu." Papar Melody panjang lebar.

__ADS_1


"Maaf,, saat di lembang, Moza mengabariku kalau Nirel demam tinggi dan kondisinya kritis di rumah sakit, jadi aku kalut langsung pergi meninggalkan mu di sana sendirian." Azta menjelaskan kejadian saat itu.


"Oo,, aku mengerti, bagaimana pun naluri seorang ayah pasti akan begitu," Melody mencoba mengerti.


"Kamu mendua dari awal kita berpacaran ? Kamu bohong, waktu itu aku tanyakan tentang dia, kamu bilang baru setahun dekat dengan wanita bernama Moza itu." Sambung Melody.


"Aku tidak berbohong, memang seperti itu kenyataannya."Ucap Azta yang malah membuat Melody bertambah bingung dengan penjelasannya.


Mobil terus melaju masuk jalan tol, sepertinya Azta akan membawanya ke luar kota.


Melody semakin gusar, meski mencoba tak memperlihatkan kepanikannya di depan Azta, dia mencoba untuk tetap pura pura tenang padahal batinya semenjak tadi berteriak teriak memanggil Satria.


***


"Mes, apa maksudmu Melody hilang ?" Tanya Satria panik setelah beberapa menit yang lalu dia di telpon Memes menanyakan keberadaan Melody, karena tiba tiba Melody menghilang sesaat setelah dia pamit ke toilet.


Satria langsung menemui Memes di Mall itu untuk menanyakan tentang apa yang terjadi sebenarnya di sana, di temani Johan yang langsung bergerak cepat mendatangi pihak Mall untuk meminta memeriksa cctv di sana.


"Tadi dia hanya pamit akan ke toilet saja, bahkan tas dan ponselnya dia tinggal." Memes menunjukkan tas milik Melody yang kini dalam dekapannya dengan wajah yang ketakutan, dia benar benar merasa bersalah dan menyesal karena tak bisa menjaga Melody.


Johan menelpon Satria dan memintanya untuk segera datang ke ruang keamanan Mall.


"Apa sudah ketemu ?" Tanya Satria saat memasuki ruang keamanan Mall dengan terengah engah karena tadi dia berlari kesana.


Johan terlihat sedang menatap serius beberapa layar monitor yang ada di ruangan itu.


"Dia tadi terlihat pergi menuntun anak kecil, tapi setelah di ikuti kemana dia pergi, lihatlah..." Johan menunjuk ke salah satu layar monitor, disana terlihat cuplikan dimana lengan Melody sedang di tarik paksa oleh Azta.


"Bangssatt ! berani beraninya dia berbuat seperti itu pada kekasih ku." Geram Satria, dia sangat marah melihat adegan demi adegan yang tampak di monitor itu.


"Kita harus mencarinya, aku akan mengumpulkan data dari cctv sepanjang jalan ini." Ucap Johan, yang selalu bisa di andalkan seperti biasanya di saat keadaan seperti apapun.


Tak membutuhkan waktu lama, Johan sudah bisa mendapatkan informasi yang di butuhkan.


"Bro, Azta membawa Melody ke arah luar kota, sepertinya dia akan membawa Melody pulang ke Bandung." Johan menunjukkan gambar dan video cctv jalan raya yang di terima di ponselnya.


"Gue akan susul mereka, gak akan gue biarkan iblis itu membawa Melody."


"Baik lah kita susul secepatnya. Aku akan mengurusnya." Johan membawa Satria pergi keluar dari Mall itu, dia juga menghubungi beberapa anak buah dan bodyguardnya agar ikut mengawal mereka, karena khawatir Azta akan berbuat nekat dan di sana Azta pasti mempunyai banyak anak buah, jadi untuk berjaga jaga Johan membawa mereka.


Sepanjang perjalanan Jakarta Bandung, yang keluar dari mulut Satria hanya umpatan dan makian untuk Azta yang telah membawa lari Melody, pacarnya tercinta.


Johan hanya menggeleng gelengkan kepalanya melihat tingkah bos sekaligus sahabatnya yang sedang galau berat itu.


*Terimakasih masih di sini kakak,,,


lope gede banget buat kakak kakak semuanya yang selalu mendukung cerita remahan ini,

__ADS_1


Semoga kakak semua di berikaan rezeki yang berlimpah....*


__ADS_2