
"Moza... Aku menginginkan mu.!" Bisik Azta dengan matanya yang sayu dan berkabut menahan hasrat yang membara memenuhi jiwanya.
"Tapi, aku takut,,,," Ucap Moza sangat pelan.
"Jangan takut, aku akan melindungi mu, dan tak akan pernah meninggalkan mu, bukan kah kita saling cinta ?" Bujuk Azta berbisik di telinga Moza.
Moza sekan terhipnotis, dia tak kuasa menolak kenikmatan yang Azta tawarkan kepadanya.
Ciuman panas mereka kembali terulang, tangan Azta kini malah sudah masuk dan merayap ke punggung mulus Moza dengan usapan usapan yang tak terkendali.
Sesaat Moza merasa ragu saat tangan Azta melepaskan pengait di balik punggungnya itu, namun Azta terus memancing dan mencumbunya dengan hasrat yang mengalahkan logika Moza saat itu.
Akal sehat pasangan remaja itu seakan mati, mereka saling berpacu mencari dan mengejar kenikmatan sesaat, saling meraba dan menjelajahi tubuh mereka satu sama lain, tanpa memikirkan resiko dan apa yang akan terjadi di kehidupan mereka selanjutnya, saat ini sungguh setan telah menguasai otak dan pikiran mereka.
"Azta, ini salah, bagaimana kalau nanti aku..."
"Kita akan hadapi semuanya berdua, aku pasti akan selalu berada di samping mu." Azta membawa tubuh Moza ke atas kasur, tangannya membuka kancing depan piama Moza.
Moza mengalungkan tangannya di leher Azta, saat laki laki itu meluruh di atas tubuhnya.
Ciuman panjang dan panas mereka membawa keduanya pada buaian rasa yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya.
Jeritan lirih yang tertahan dari pasangan yang sedang mendaki gairah itu menandai mereka sudah sampai pada puncak pergulatan panas mereka malam itu.
"Terimakasih, aku mencintai mu." Ucap Azta mengecup kening Moza lama dan dalam.
mereka tertidur saling berpelukan, lelah yang terasa membuat mereka terlelap dengan begitu cepatnya.
Pagi sekali Azta sudah meninggalkan kamar Moza, dia tidak ingin ada orang lain melihat kalau dirinya baru saja melewati malam panjang dengan gadis manis pujaannya, yang kini sudah tak gadis lagi itu.
"Pagi pagi begini dari mana, Nak Azta ?" Tanya Bu Mira mengejutkan Azta yang baru saja keluar dari bangunan penginapan khusus tempat menginap yang di peruntukkan untuk panitia dan pengurus panti.
"Eh, Bu Maya,, anu,, tadi saya habis jalan jalan saja." Gugup Azta,
"Sepagi ini ?" Heran Bu Maya.
__ADS_1
"Iya, kebetulan saya tadi terbangun dan gak bisa tidur lagi, permisi, Bu !" Pamit Azta meninggalkan Bu Maya sendirian dengan berjuta tanya dan keganjilan yang seakan mengganjal di hatinya.
***
Sebulan kemudian,
Di rumah Azta...
"Oh, Bu Mira, ada apa gerangan ibu dan Moza sampai datang ke sini ?" Tanya Wina ibunya Azta, ramah.
"Maaf, kebetulan saya ada perlu dengan Nyonya dan Tuan Jaya." Ucap Mira tersenyum simpul.
"Ada apa Bu Mira, apa ada masalah serius di panti ?" Jaya, ayah Azta yang siang itu kebetulan sedang pulang untuk makan siang di rumah menghampiri istri dan kedua orang tamunya.
"Apa Nak Azta Ada ?" Tanya Mira lagi mengedarkan pandangannya ke sekitar rumah mewah Jaya.
"Oh, Azta tentu saja masih di sekolah, sore dia baru pulang ke rumah. Ada keperluan apa dengan anak saya?" tanya Jaya mulai curiga, tak biasanya Mira mencari Azta, sang anak. Biasanya mereka hanya membicarakan masalah panti saja selama ini.
"Maaf sebelumnya nyonya, tuan, saya ingin meminta pertanggung jawaban Nak Azta, karena saat ini Moza tengah hamil." Mira menyampaikan maksud kedatangannya.
Bak di sambar petir di siang bolong, Jaya dan Wina merasa nafasnya terhenti seketika.
"Nak Azta dan Moza ternyata sudah berpacaran tanpa sepengetahuan saya selama hampir dua tahun, dan sekarang Moza mengandung, hasil dari perbuatan terlarang mereka berdua." Papar Mira menjelaskan.
"Apa anak ku tau kamu sedang hamil ?" Tanya Jaya mengusap wajahnya kasar.
"Ti-tidak" Lirih Moza hampir tak terdengar.
"Apa kamu yakin itu benar benar anak Azta ?" Tanya Jaya melirik ke arah Moza yang sejak kedatangannya tak berani mengangkat wajah sedetik pun, dia hanya menangis, entah apa yang dia tangisi, karena kalau menangisi perbuatan dosanya dengan Azta tentu saja itu semua sudah terlambat, karena kini dia harus menanggung semua hasil dari dosa terindahnya itu.
"Sa- saya hanya melakukannya dengan Azta," Jawab Moza dengan suara yang bergetar di antara tangis dan ketakutannya.
Wina hanya bisa menangisi kejadian yang telah di perbuat oleh anaknya.
"Bagaimana ini yah ? Mereka bahkan masih kelas dua SMU ? mau di taruh di mana muka kita, aku tak sanggup keluar rumah bila sampai hal ini di ketahui orang orang." Wina meraung raung di pelukan suaminya.
__ADS_1
"Kamu pikir aku tak malu ? Aku harus bertemu klien dan orang banyak setiap hari, anak itu benar benar telah mencoreng wajah kita." Jaya memeluk istrinya dengan sebelah tangan, sedangkan sebelah tangannya lahi memijat keningnya yang terasa pening.
"Bagagimana semua ini bisa terjadi, kenapa kalian bisa berbuat sejauh itu ?!" Ucap Wina terisak.
"Mereka saling mencintai nyonya, Nak Azta sering datang ke panti, tapi saya tak oernah curiga kalau ternyata kedatangannya untuk menemui anak kami Moza." Mira mewakili Moza yang sepertinya tak sanggup berbicara apa apa lagi, bagaimana pun Moza adalah anak asuhnya di panti, sudah seharusnya dia melindunginya.
"Aku tak bisa menerima semua ini, ini gila, aku tak bisa !" Wina menggeleng gelengkan kepalanya sambil menangis histeris.
"Sudah lah, aku sudah memutuskannya, Moza ! Apa kamu mencintai Azta ?" tanya Jaya pada Moza, yang lalu di jawab dengan anggukan kepala Moza pelan.
"Lalu apa kamu mencintai saudara saudara mu di panti ?" Tanya Jaya lagi penuh penekanan, dan Moza mengangguk lagi.
"Apa kamu mau berkorban untuk Azta, untuk saudara saudara mu di panti, untuk orang orang yang mencintaimu dan kamu cintai ?" Jaya mematap ke arah Moza yang masih tertunduk.
"Tapi Tuan,,," Protes Mira merasa tak terima karena anak asuhnya seperti sedang di intimidasi oleh Jaya.
Jaya mengangkat telapak tangannya ke arah Mira tanda kalau dia ingin Mira diam dan Mira segera menutup mulutnya, dia juga serba salah karena orang yang di hadapannya ini adalah salah satu pendiri dan donatur tetap untuk panti yang dia tempati dan kelola selama ini, dwngan kata lain Jaya adalah salah satu Bos besarnya.
"Bagaimana Moza, apa kamu mau ?"Tanya Jaya lagi.
"Saya harus berbuat apa ?" Tanya Moza ragu ragu.
"Kamu tau, Azta anak ku satu satunya, dia akan menjadi penerus usaha ku nantinya, kalau dia harus menikah dengan mu dan putus sekolah, semua akan semakin berantakan, kamu mengerti kan ? kamu ingin Azta sukse kan ?" Tekan Jaya mempenharuhi Moza yang lagi lagi hanya menjawabnya dengan anggukan.
"Hanya ada dua pilihan untuk mu, pertama... kamu gugurkan kandungan mu dan kamu boleh terus melanjutkan hubungan dengan anak ku, tentu saja Azta tak boleh tau tentang itu, kamu harus merahasiakannya, dan kalian berpacaran di bawah pengawasan kami, tidak boleh sampai hal ini terjadi lagi." Jaya menarik nafasnya dalam dadanya sungguh terasa panas dan sesak.
Rasa marah, kecewa menggulung dan bergemuruh di dadanya, bagaimana tidak, Azta anak satu satunya yang selalu dia banggakan dan dia harapkan untuk bisa menjadi penerus usahanya kelak, kini malah seolah dengan sengaja menghancurkan hidupnya sendiri.
"Pilihan kedua, kamu boleh mempertahan anak dalam perutmu, tapi kamu harus pergi jauh dari sini dan tak boleh berhubungan lagi dengan Azta, kami akan menanggung biaya hidupmu dan anakmu, karena bagaimana pun dia akan menjadi cucu kami, ingat jangan sampai Azta tau."
Pilihan yang benar benar sulit, dan itu terdengar seperti bukan pilihan, intinya pilihan pertama atau kedua di tekankan untuk agar Azta tidak boleh sampai tau kalau Moza sedang mengandung anaknya.
"Tuan, kenapa seperti terdengar hanya anak saya yang harus menanggung semua ini?" Mira berkaca kaca.
"Itu keputusan ku, dan ingat jangan sampai anak ku tau tentang ini semua, kamu tau posisi ku di yayasan kan ? Ini bukan ancaman, tapi kamu tau apa yang bisa aku perbuat jika kalian sampai membocorkan masalah ini pada anak ku." Wajah Jaya berubah terlihat sangat menakutkan, dan itu membuat ciut nyali Mira.
__ADS_1
*Buat kakak kakak, adek adek, para kesayangan othor semuanya yang masih pacaran jangan di tiru ya...
Semoga kakak kakak semuanya selalu dalam lindungan Tuhan....*