
"Oh, begini ya kelakuan perempuan murahan tak tau diri kalau sedang berpacaran, menjijikan!" Emily tanpa basa basi langsung memaki Melody yang sedang asik mengobrol dengan Johan.
"Jaga mulut mu, apa setiap kali bertemu dengannya mulutmu itu tak pernah mengenal yang namanya sopan santun?" Bentak Johan membalas tatapan sinis Emily.
"Wanita murahan seperti dia tak pantas di perlakukan dengan sopan." Emily membuang muka.
"Kau Johan, apa kau berbohong padaku kemarin mengatakan kalau Satria sedang ke luar kota? Seseorang melihatnya semalam di apartemen mu!" Sambung Emily dengan nada marah karena merasa Johan telah berbohong pada dirinya dengan mengatakan kalau Satria tak pulang selama beberapa kari terakhir ini karena ke luar kota.
"Sejak kapan aku harus laporan jadwal pekerjaanku padamu? Dan untuk apa kamu datang kesini lalu membuat kekacauan?" Satria yang baru saja selesai menelpon buru buru masuk keruangan Bima setelah tadi dia melihat Emily dari kejauhan masuk ke ruangan itu.
"Satria, aku tidak membuat kekacauan, aku hanya sedang mencarimu, karena beberapa hari ini lamu tak bisa aku hubungi dan tak bisa aku temui di kantor maupun di rumah." Emily bergelayut manja di lengan Satria yang langsung melepaskan tangannya dari gelayutan Emily, karena tak ingin Melody melihat hal itu, lagi pula dia sangat risih dengan kelakuan Emily yang bermanja manja seperti itu terhadapnya.
"Emi, jaga sikap mu, ini kantor!" Ucap Satria tegas.
"Ya sudah, ayo kita pergi, aku kangen sama kamu" Rengek Emily dengan nada bicara dan suara yang di buat manja.
Satria semakin serba salah di buatnya, sungguh dia tak ingin membuat hubungannya dengan Melody yang baru saja di resmikan bahkan belum genap sehari akan jadi bermasalah.
"Ehemm, sebaiknya aku pulang, sepertinya urusan saya dengan Bos Bima sudah selesai, permisi." Melody bangkit dari duduknya dan berpamitan pada semua orang yang ada di ruangan itu dengan wajah yang di buat se datar mungkin.
Apa Melody tidak cemburu ? Oh, kalian salah besar, kalau saja bisa di gambarkan, hati melodi sekarang sedang menyala nyala seperti kebakaran besar di kilang minyak, berkobar dan panas, tapi dia cukup tau diri dengan status dan keberadaan dia.
"Aku akan mengantar mu" Ucap Bima yang semenjak keluar dari toilet tadi hanya terdiam, menonton drama percintaan rumit di ruangannya.
"Tidak perlu chef, eh bos, aku bisa sendiri." Tolak Melody halus.
"Tunggu, wanita murahan !" Teriak Emily tiba tiba menghentikan langkah Melody yang sudah membelakangi mereka dan hendak mendorong hendle pintu ruangan itu, tapi tak sedikit pun dia menolehkan wajahnya ke belakang.
"Apa kau ikut ke acara peresmian hotel di Bandung kemarin?" selidik Emily penuh curiga.
"Anda berbicara dengan saya, nona?" tanya balik Melody, sedikit menolehkan wajahnya ke belakang.
__ADS_1
"Ya, kau, memangnya siapa lagi!" ketus Emily.
"Aku? Tidak" ucap Melody singkat, lalu mendorong pintu berniat melanjutkan langkahnya keluar ruangan.
"Kau tak bisa menipuku, aku punya bukti kalau kau ada di acara itu." Emily tersenyum miring.
"Aku tidak datang ke acara itu, apa perlu aku bersumpah agar anda puas?" ucap Melody membalikan badannya menghadap Emily.
Tentu saja dia berani bersumpah, karena memang dia tak datang ke acara peresmian hotel itu, dia satang bersama Azta dan secara lebetulan bertemu Satria dan juga Johan disana.
"Ikat rambut mu, aku masih ingat, itu aku temukan di jok mobil Satria," Emily menunjuk ikat rambut berwarna merah yang kini menghiasi rambut Melody.
Deg,
Melody tiba tiba tersentak, jangan jangan Emily tau tentang hubungannya dengan Satria, dia sungguh takut bila hal ini akan membuat Satria jadi dalam masalah, dia tak takut dan tak khawatir tentang dirinya, sia justru mengkhawatirkan Satria yang bisa saja mendapatkan masalah di keluarga bahkan pekerjaannya karena hubungan mereka.
"Emi, kamu jangan menuduh sembarangan!" Satria mencoba menengahi walaupun hatinya juga sama berdebarnya dengan yang di rasakan Melody.
"Itu, ikat rambut itu yang kata Johan milik pacarnya, itu berarti benar mereka kemarin di Bandung bersama, kenapa kamu malah membela dan seakan mendukung perselingkuhan mereka, ingat, Johan akan menikah dengan Ririn sepupumu minggu depan." Emily berbalik memarahi Satria yang kini bisa bernafas lega, karena ternyata Emily masih mencurigai Johan bukan dirinya.
"Ayo sayang, kita tinggalkan tempat ini, disini terlalu sumpek!" Johan merangkul bahu Melody membawanya keluar ruangan.
"JOHAN ! APA LU MAU MATI, HAH !" Teriakan Satria menggema di ruangan itu, dia sangat marah karena Johan berani memeluk bahu Melody di depan mukanya dengan sengaja dan seolah meledek ketidak berdayaannya karena ada Emily disana.
Tapi Johan dan Melody tetap berlalu tanpa memperdulikan teriakan bahkan amukan Satria,
"Tuh, mereka kurang ajar sekali berani bermesraan bahkan di hadapan mu, Johan sudah di butakan oleh wanita itu, ayo marahi dia, kejar dia, wanita itu juga!" oceh Emily yang justru malah memancing Bima tertawa, menertawakan kebodohan Emily.
"Apa yang kau tertawakan, Bima!" Bentak Satria.
"Itu, Johan membawa pacarnya pergi ke Bandung kemarin" ledek Bima menahan tawanya sekuat tenaga, karena dia sudah tau cerita pertemuan kakaknya dengan Melody di lembang.
__ADS_1
"Aaah, siaaal, brengseeeek ! Gue bunuh lu, Johan !" Maki Satria, tak bisa mengendalikan emosinya karena cemburu melihat adegan tadi.
"Bagus, hajar saja dia!" Emily makin mengompori Satria, padahal dia sendiri bingung, kenapa Satria baru begitu marahnya dengan masalah ini, padahal kemarin kemarin dia tak semarah itu saat dirinya memberi tahu hubungan Johan dan Emily.
"Kenapa girang banget sih mbak?" Tanya Bima pada Emily,
"Iya lah biar mereka tau rasa, seenaknya saja berselingkuh" Ujar Emily seakan sok suci.
"Yakin, mereka berselingkuh?" Tanya Bima lagi masih dengan tawa yang tertahan.
"Yakin, ikat rambut itu buktinya." ucap Emily dengan keyakinan seribu persen.
" Kau diam, jangan memperkeruh keadaan, dan kau Emi, jangan berbicara seolah olah kau tak pernah berselingkuh, bisa saja kelakuan mu lebih buruk dari pikiran burukmu tentang Melody." Tegas Satria menatap tajam Emily yang sekarang tidak dapat berkutik lagi, lalu bergegas meninggalkan ruangan yang menyisakan Bima dan Emily di dalamnya.
Saat ini yang ingin Satria lakukan adalah menghajar Johan.
Tangannya terus terkepal kuat dan rahangnya mengeras menahan emosi jiwanya tang meronta ronta.
Sering dia mendapat laporan, foto foto, bahkan melihat dengan matanya sendiri Emily sedang bermesraan dengan laki laki lain, tapi tak pernah sekali pun dia merasa cemburu, apalagi sampai emosi di buatnya, paling hanya di anggap angin lalu saja oleh Satria.
Tapi tidak halnya dengan Melody, hanya Melihat dia di rangkul oleh orang yang dia sangat kenal saja bisa membuat darahnya mendidih seperti sekarang ini, padahal dia sendiri yakin kalau Johan melakukan itu hanya untuk menyelamatkan Melody dan dirinya dari amukan Emily, tapi tetap saja, bagi Satria itu membuatnya sangat cemburu.
Satria memasuki apartemen dengan muka yang masih menyimpan banyak amarah, dia menaiki lift menuju ke penthouse miliknya yang kini di tempati Melody.
Setelah memasukan benerapa kode angka di pintu, dia mendorong pintu itu dengan keras dan kasar.
"Hey, kok udah pulang, gak jadi keluar sama mba Em-" Sambut Melody dari arah dapur.
Namun ucapan Melody terhenti saat Satria buru buru menghampirinya dan bibir merah Melody tiba tiba di sumpal oleh bibir Satria dengan penuh emosi, badan mungil Melodi seakan hilang tenggelam dalam dekapan badan Satria, ciuman yang lama dan dalam, seakan melebur amarah Satria saat ini, Setelah dirasa oksigen di dadanya semakin menipis, dia melepaskan paggutannya pada bibir merah yang kini seakan menjadi candunya itu,
Nafasnya memburu, menghembus ke arah wajah Melodi yang juga tak kalah memburu nafasnya seakan mereka berlomba menghirup oksigen, kening mereka masih bertaut, dekapan Satria masih erat di pinggang Melody, pun begitu juga tangan Melody masih mengalungi leher Satria.
__ADS_1
"Maaf, aku sudah menjadi pecundang yang tak bisa melindungimu tadi." bisik Satria di telinga Melody sambil mengeratkan dekapannya seakan takut kehilangan.
Sementara di loby apartemen, Emily yang diam diam mengikuti kemana Satria pergi lantas mendatangi petugas jaga disana, karena ingin menyusul ke tempat dimana sekarang Satria berada.