
Setengah tahun berlalu, Azta sudah bisa menjalani hidupnya dengan normal, meski dengan hati yang terkadang masih lara bila mengingat Moza, sebenarnya bukan sengaja dia mengingat, hanya saja terkadang kenangan itu tiba tiba melintas di benak nya saat dia mengunjungi tempat tempat yang kebetulan pernah dia datangi bersama Moza.
Semenjak kepergian Moza dari hidupnya, Azta juga tak pernah lagi menginjakan kakinya di panti asuhan, tempat itu terlalu menyakitkan buat Azta, terlalu banyak kenangannya bersama Moza yang sudah tak ingin lagi dia kenang.
Azta sudah duduk di bangku kelas 3 SMU saat itu, sebagai salah satu idola para murid wanita di sekolah, tentu saja banyak yang menawarkan cinta untuknya, tapi Azta sepertinya masih trauma dengan perpisahannya dengan Moza, dia selalu saja bersikap dingin dengan wanita dan memilih untuk tidak berpacaran dulu.
"Hey, ambilkan bola nya !" Ucap Azta pada seorang murid perempuan yang melintas, saat bola basket yang di mainkannya menggelinding ke luar lapangan dan berhenti tepat di dekat si siwsi yang sedang berjalan di pinggir lapangan itu.
"Bisa, minta tolong dengan cara yang baik ?" Ucap siswi yang sepertinya adik kelas Azta itu ketus.
"Cepat lemparkan bolanya jangan banyak bacot !" Umpat Azta malas untuk meladeni siswi itu.
"Tidak, selama cara meminta tolongnya tidak baik baik. Coba ucapkan 'Tolong ambilkan bolanya' seperti itu." Adik kelas itu mencontohkan pada Azta.
"Tidak akan pernah ! aku tak akan pernah memohon lagi pada siapapun dan untuk hal apapun !" Ucap Azta kesal.
"Maka ambil lah sendiri !" Perempuan itu melengos dan meninggalkan Azta dengan perasaan kesalnya sendiri di lapangan, perempuan itu orang pertama yang berani bersikap kasar, Ketus, dan melawannya secara bar bar.
"Dasar cewek songong !" Teriak Azta.
***
Hari itu ada acara Malam donasi yang akan di laksanakan di panti, Jaya dan Wina memohon pada Azta untuk datang bersama mereka ke acara itu, mengingat pentingnya acara itu untuk di hadiri.
"Maaf ayah, Ibu, Aku tak bisa ikut kalian kesana." Azta sudah menolaknya dari tiga hari yang lalu saat Wina pertama kali memberi tahu acara ini.
"Tidak ada alasan, kamu harus ikut bersama kami, kamu akan menjadi penerua usaha kami, disana akan banyak klien klien dan para pengusaha besar, kamu harus datang dan kenal dengan mereka, agar suatu hari kamu saat kamu meneruskan usaha kami, kamu sudah banyak mengenal klien klien hebat." Ucap Jaya tak ingin di bantah.
Dengan berat hati Azta mengikuti perintah orang tuanya yang memaksa dirinya untuk pergi ke tempat yang sebenarnya sangat dia hindari dan tak ingin dia datangi sampai kapan pun.
Untuk pertama kalinya setelah kepergian Moza enam bulan yang lalu, Azta datang ke panti yang suasananya tidak berubah sama sekali, setiap langkah kaki Azta saat itu disana seperti hantaman keras di dadanya, dan itu sungguh menyiksa batin Azta.
Kenangan saat dirinya bersama Moza di panti bagai potongan film pendek berputar di ingatannya.
"Azta, sini Nak," Panggil Jaya pada anaknya.
Azta datang menghampiri ayahnya yang sedang bertegur sapa dengan salah seorang pejabat tinggi di kota nya yang merupakan salah satu tamu undangan di acara itu,
Tapi tunggu, gadis ber gaun putih itu bukannya cewek songong adik kelasnya itu,? Andra melirik gadis bergaun putih di sebelah Malik salah seorang pejabat tinggi daerah di kotanya.
"Ini putraku Azta Permana," Jaya mengenalkan anaknya pada Malik.
"Oh, gagah sekali kamu nak, ini anak perempuan ku satu satunya Melody." Malik dengan bangga memperkenalkan gadis cantik kesayangannya.
"Pantas songong, anak pejabat rupanya.!" Bisik Azta di telinga Melodi.
"Ish, kamu tuh yang songong !" cebik Melody kesal.
__ADS_1
"Kalian saling mengenal ?" Tanya Malik.
"Iya." Melody
"Tidak." Azta
Melody dan Azta menjawab pertanyaan Malik secara bersamaan dengan jawaban yang berbeda.
"Saling kenal atau tidak ?" Sambung Malik.
"Dia kakak kelas Ody di sekolah, pah," Melody memicingkan matanya kesal ke arah Azta, bisa bisanya dia bilang tak saling mengenal.
"Aku tak banyak mengenal adik adik kelas, ayah !" Jawab Azta saat Jaya menatapnya tajam seolah meminta penjelasan.
Tapi tiba tiba, Melody berbisik bisik pada mamanya, dan mamanya melihat ke bagian belakang Melody, dia terlihat panik.
"Aduh, Ody pulang aja ya mah," Ucap Melody gelisah seraya menutupi bagian belakangnya dengan tas yang di genggamnya.
"Kenapa ?" Tanya Malik.
"Ody datang bulan, bajunya tembus tuh merah, mana pake gaun putih lagi." Ucap Anita mamanya Ody, ikut gelisah melihat putrinya.
"Aduh, kamu pulang naik taksi ya, papah harus memberi sambutan ini, lima menit lagi." Malik kebingungan.
"Saya antarkan saja om, kasian malam malam gini kalau harus pulang sendirian." Ucap Azta menawarkan diri, dia bersorak dalam hati, akhirnya ada alasan untuk meninggalkan tempat yang membuatnya tak nyaman ini.
"Tidak apa, biar Azta saja yang mengantar, jeng." Wina mamanya Azta menimpali.
Akhirnya Melody mau tidak mau pulang di antar oleh kakak kelas menyebalkannya itu.
"Kenapa tiba tiba sok baik menawarkan diri mengantarkan ku pulang ?" Tanya Melody pada Azta yang asik mengemudi seakan tak tertarik bahkan untuk melirik sedikitpun padanya.
"Kalau kamu tak mau aku antar pulang, kamu boleh turun dan pulang sendiri." Azta menghentikan laju kendaraannya di tepi jalan.
Melody menganga sambil membulatkan matanya, taknpercaya dengan perkataan Azta padanya barusan.
"Jenis manusia macam apa kamu sebenarnya, menurunkan perempuan di pinggir jalan seperti ini ?" Protes Melodi kesal.
"Bukan kah kamu sendiri yang tidak ingin aku antar pulang ?" Ujar Azta cuek.
"Apa kamu mengerti bahasa manusia ? aku tadi hanya tanya kenapa kamu tiba tiba sok baik mau mengantarkan aku pulang." Geram Melody menahan marah.
"Jadi di antar gak nih ?" Tanya Azta malas.
"Antar, kalau kamu masih merasa dirimu itu manusia." cebik Melodi.
Azta melajukan mobilnya lagi, membelah jalanan dalam kesunyian.
__ADS_1
"Terimakasih sudah mengantar ku pulang.!" Ucap Melody cemberut saat turun dari mobil Azta karena sudah sampai di depan rumahnya.
"Berterimakasih lah dengan cara yang benar !" Ucap Azta membalas perkataan Melody saat di sekolah sewaktu dia meminta tolong di ambilkan bola basketnya.
"Aku sudah mengucapkan terimakasih tadi, apa aku perlu menyembah mu ?" Ketus Melody masih kesal dengan perbuatan Azta tadi yang berniat menurunkan dirinya di jalan.
"Tak perlu menyembah ku walau kamu sangat ingin melakukannya, cukup beri aku makan,aku lapar." Azta turun dari mobilnya, dia sengaja mencari alasan berlama lama di rumah Melody agar tak harus buru buru kembali ke acara panti.
"Kamu pikir ini restoran, makan di acara panti sana, di sana banyak makanan enak, bukannya kamu harus menemani orang tua mu." Ucap Melody malas.
"Apa kamu manusia ? Kalau iya, kamu manusia jenis apa yang tak tau terimakasih pada orang yang sudah menolong mu ?" Ketus Azta.
"Kamu....! Kamu Menyebalkan !" Jerit Melody kesal.
"Hey, kamu tak sopan, kamu adik kelas ku, panggil aku kakak !" Azta tersenyum miring.
"Tak sudi !" pekik Melody.
"Cepat ganti baju dan bawakan aku makanan." Azta duduk di kursi teras meski tanpa di persilahkan.
Sementara Melody masuk ke dalam rumahnya dengan kesal.
Beberapa menit kemudian,
Melody yang sudah berganti pakaian keluar dan membawakan sepiring makanan dan segelas air mineral.
"Lama sekali, aku sudah kelaparan. Apa ini ?" Azta terkejut melihat piring berisi mie goreng.
"Tak ada makanan apa apa jadi aku buatkan mie instan biar cepet." Melody menahan tawanya, dia sengaja mengerjai Azta.
"Rumah orang kaya, ada tamu cuma di suguhi mie instan, pelit !" cebik Azta, tak memakan makanan yang di suguhkan Melody padanya.
"Kamu mau makan apa ? Aku bisa memasaknya untuk mu." Tantang Melody.
"Kamu ? Masak ?" Cibir Azta meragukqn kemampuan Melody yang jago masak, karena masak merupakan hobynya sejak kecil.
"Ucapkan saja apa yang ingin kamu makan, akan aku buatkan.!" Melody merasa tertantang.
"Tidak sekarang, tapi besok, besok kamu harus bawakan aku rendang yang kamu masak sendiri ke sekolah ingat, harus kamu yang masak sendiri, jangan beli." Tantang Azta, merasa Melody pasti tak akan bisa masak masakan yang rumit.
"Oke, besok akan aku bawakan !" Melody tersenyum, kalau hanya masak rendang itu hal sepele buat dia.
"Ingat, panggil aku Kakak, jangan kurang ajar !"
Azta pergi meninggalkan rumah Melody, untuk menjput orangtuanya di panti, karena sepertinya acara malam donasi itu sudah hampir selesai, terbuktk dari ibunya yang sudah beberapa kali mengiriminya pesan minta segera di jemput karena mobilnya dia pakai untuk mengantar Melody pulang.
* Jangan lupa like nya kakak kakak,,,
__ADS_1
semoga kakak semuanya sehat dan bahagia selalu...*