
" Bro,,, bro,,, tenang ini salah paham." Johan yang melihat keadaan mulai tak kondusif berusaha menenangkan Satria dan Melody.
" Gue mah tenang dari tadi juga, simpenan lo tuh yang ga tenang, karena ketauan jadi pelakor, gue gak habis pikir ya, lo tega ngehianatin Ririn." Satria masih keukeuh dengan pikiran negatif nya tentang Melody.
" stop ngatain aku simpanan, mberengsek !" Melody tak dapat menahan lagi kemarahannya.
Belum habis kemarahannya karena kedatangan Azta, kini dia harus di hadapkan dengan laki laki yang menyelamatkannya tapi tiba tiba mengata ngatainya dengan kejam.
" Mas Johan, aku pulang ! maksih,,," Melody menyerah, dia merasa hatinya tak kuat menahan beban lagi, dia butuh istirahat dan menenangkan pikirannya.
" Ody !" Johan menatap kepergian Melody yang setengah berlari menuju pintu dan menghilang.
" Kejar tuh selingkuhan lo !" ucap Satria cuek
" Bro, ucapan mu keterlaluan sama dia, Ody teman Memes, bukan simpanan ku, gak mungkinlah aku selingkuh dari Ririn, tiga bulan lagi kami akan menikah." Johan menyayangkan sikap Satria yang selalu saja arogan, seenaknya dan selalu merasa paling benar.
" Lo ga usah ngeles sama gue, cewek itu datang nyariin lo, bukan nyariin Memes, dan tunangan cewek itu sampai datang kesini, mau ngelabrak kalian kan, wah parah sih lo !" Satria menggeleng gelengkan kepalanya.
" Terserah lah, apapun yang ku jelaskan pasti tak akan di terima, hanya ucapan dan pikiran mu yang benar buat mu." Johan menyerah, dia merasa buang buang waktu berdebat dengan Satria yang tak akan mungkin percaya dengan penjelasannya.
Sedangkan di apartemen Melody, dia memilih untuk tidur setelah apa yang terjadi padanya, hari ini cukup menguras emosi dan tenaganya,
sore hari dia terbangun karena suara panggilan dari ponselnya yang tak berhenti.
Terpampang nama Memes di layar ponselnya,
" Halo Mes, ada apa?" Suara Melody masih berat karena bangun tidur.
" Kamu di tunggu Bu Maya di ruangannya,katanya ada hal yang perlu di sampein." Kata Memes yang ternyata di perintah Bu Maya untuk memanggilnya ke hotel tempatnya bekerja.
" oke, setengah jam lagi aku sampai disana, makasih Mes" Melody mengakhiri pembicaraannya dengan Memes di telpon.
Setelah mandi dan merias diri menyembunyikan mata sembabnya karena menangis, dia berangkat ke Blue Palace dimana Bu Maya menunggunya.
Banyak pertanyaan muncul di benaknya, ada apa dia tiba tiba di panggil, apa dia melakukan kesalahan, atau jangan jangan masalah Azta lagi.
Melody memasuki ruang kerja Bu Maya dengan langkah ragu, benar saja, disana sudah ada Maya dan Azta yang sedang melihat ke arahnya.
Melody merasa tak mungkin untuk menghindar dari situasi saat ini, satu satunya jalan hanya harus menghadapi mereka.
__ADS_1
" Silahkan duduk !" ucap bu Maya datar.
" apa yang ingin ibu bicarakan dengan saya? apakah ini masalah pekerjaan atau pribadi?"
Ketus Melodi mengabaikan Azta yang sejak tadi tak lepas menatapnya.
" Duduklah dulu, " perintah Bu maya saat melihat Melody masih saja berdiri mematung.
Akhirnya Melody menarik agak jauh kursi di hadapan meja bu Maya, karena salah satu kursinya sudah di duduki Azta, dia tak sudi berdekatan dengan mantan tunangannya itu.
" Bukankah sudah saya bilang, untuk kalian membicarakan masalah kalian baik baik," tatapan Maya tajam ke arah Melody.
" Maaf bu, kalau bukan masalah pekerjaan, lebih baik saya permisi dulu. lagi pula saya sudah tak ada hubungan apa apa dengan saudara ibu ini." Melody menatap balik tak kalah tajam, tak ada ketakutan sama sekali di sorot matanya.
" Apa itu karena lelaki yang memelukmu itu?" Tanya Azta, menghentikan Melody yang sudah berdiri dan hendak meninggalkan ruangan Maya.
" Bukan urusan mu ! kita sudah selesai" tatapan Melody menghunus jantung Azta
" Apa kamu memutuskan pertunangan dengan Azta karena kamu punya pacar baru?" Bu Maya ikut berkomentar
" Saya tak ingin membahas tentang masalah pribadi saya." tegas Melody
" Kata Azta kamu tinggal bersama laki laki lain di apartemen mu." selidik Maya
" Mba, lihatlah bahkan dia tak menyangkalnya, tadi dia pulang ke pelukan laki laki lain, laki laki bernama Johan itu bahkan mengusir ku pergi." lapor Azta pada Maya yang merupakan kakak sepupu jauhnya.
" Apa? siapa namanya? Johan?" Maya sedikit kaget
" Tadi kamu menemui Melody di apartemen Seruni lantai berapa, unit nomor berapa?" Maya merasa ada yang aneh.
" Iya mba, apartemen Seruni lantai 45 kamar nomor 4590." Jawab Azta polos, dan seketika Maya membularkan matanya tak percaya.
" Melody, jangan bilang kamu tinggal dengan Pak Johan ?" Bu Maya menatap Melody tak percaya.Maya sempat beberapa kali mengantarkan dokumen ke apartemen Johan, jadi dia tau tempat tinggal atasannya itu.
" Iya, apa perlu saya menelponnya? atau ibu mau menghubungi Mas Johan sendiri?" Dalam hati Melody tertawa geli, kenapa jadi Johan ?
"Azta, apa kamu yakin namanya Johan?" Maya seolah tak percaya, dan di jawab dengan anggukan pasti Azta.
" Halo, Mas Johan, Bu Maya ingin bertanya sesuatu katanya." Tiba tiba terlihat Melody sedang menghubungi seseorang dan membuka load speaker percakapannya.
__ADS_1
" Ada apa Ody, aku sibuk, apa yang mau Maya bicarakan padaku, awas saja kalau Maya menanyakan hal tak penting !" ketus Johan dari seberang sana, Melody menyodorkan ponselnya ke arah Maya yang wajahnya sudah terlihat pucat pasi.
" Emh,,, anu pak, tidak ada apa apa, hanya salah paham saja.Saya hanya bertanya apa Melody mengenal Bapak, gitu." Maya terbata bata ketakutan.
" Apa pedulimu, apa masalah, buat mu? jangan gannggu dia dengan pertanyaan yang tak penting seperti itu, kamu tau kan, aku bisa membuat kamu di tendang dari Blue Palace dalam hitungan menit kalau kamu macam macam !" Semprot Johan yang merasa kalau Melodi kini tengah di tindas Maya yang terkenal jutek dan menyebalkan itu.
" Ba- baik Pak, maafkan saya." Maya mengembalikan ponsel milik Melody.
" Kamu boleh pergi Melody, jangan perpanjang masalah ini, maaf sudah ikut campur masalah kamu," Ucap Maya masih agak syok.
" Mba, kenapa di suruh pergi sih, aku belum selesai, katanya mau membantu ku?" protes Azta yang tak paham mengapa tiba tiba Maya mengizinkan Melody pergi dan tampak seperti ketakutan hanya berbicara lewat telepon dengan laki laki bernama Johan itu.
" Pekerjaan ku yang akan selesai bila aku terus membantu mu, kamu tak dengar apa kata pak Johan tadi, dia akan memecatku dalam hitungan detik kalau aku mengganggu Melody, suamiku tak bekerja, anakku masih kecil, aku sangat butuh pekerjaan ini." Maya berbalik ketus pada Azta.
" Tapi, siapa itu Johan?" Azta merasa penasaran, karena setaunya, Maya posisinya di Blue Palace juga lumayan, tapi dia begitu ketakutan dengan Johan, berarti Johan bukan orang sembarangan.
" Dia orang kepercayaan presdir Blue palace dan bahkan EmHa grup, kata katanya sama dengan titah presdir, dia bukan tandingan mu." Jawab Maya
" Tapi, dia merebut tunangan ku," Kesal Azta
" Maka uruslah masalahmu sendiri, aku tak ingin terlibat lagi !" tegas Maya
" Aku akan memberi Mba Maya uang dan jabatan bagus di perusahaan ku, kalau sampai mba Maya di pecat dari sini, tapi bantu aku." Ucapan Azta terdengar menggiurkan di telinga Maya yang merupakan pemuja uang.
" aku akan memberimu beberapa informasi, tapi itu tak gratis, " Maya tersenyum licik
" Iya, katakan, informasi apa, aku akan segera mentranfer uang padamu " Azta memperlihatkan aplikasi m- banking di ponselnya, tanda siap membayarnya.
" Sepertinya Melody hanya menjadi simpanan Pak Johan saja"
" Mbak ! jaga ucapan mu, aku mengenal baik Melody, dia tak mungkin seperti itu." Azta memotong ucapan Maya yang terdengar melecehkan Melody. Azta yakin dan tau pasti Melody bukan wanita seperti itu.
" Tapi, semua orang di kantor ini tau, kalau Pak Johan tiga bulan lagi akan menikah dengan tunangannya. Berarti Melody hanya simpanan Pak Johan saja kan?" Kata kata Maya kini berhasil membuat Azta sedikit berpikir, dia mencoba menyangkal pikiran jeleknya.Sepertinya tak mungkin Melody berubah menjadi wanita seperti itu,apa yang dia cari, uang? kemewahan? bukankah orang tuanya memberinya semua itu tak pernah kekurangan sedikitpun.
" Hanya ada satu cara untuk mengalahkan Pak Johan," Maya menuliskan nomor rekeningnya pada selembar kertas lalu menyerahkannya ke Azta,dengan senyum licik.
" Aku segera mentransfer uangnya, katakan padaku, bagai mana cara mengalahkannya dan merebut kembali milik ku.?" Azta meraih kertas berisi tulisan sederet angka.
" Kamu harus bisa mendekati presdir, kalau bisa jalin kerja sama bisnis,sepertinya akan ada penambahan dan penggantian furniture untuk hotel ini, nanti aku bantu agar kamu bisa mendapatkan proyeknya, dan itu tak gratis," lagi lagi Maya tersenyum miring, dia membayangkan akan mendapatkan banyak uang dari masalah yang terjadi pada sepupunya dengan Melody itu.
__ADS_1
" Kenapa harus begitu ?" Tanya Azta.
" Karena cuma presdir yang bisa membuat Pak Johan tak berkutik dan menuruti segala perintahnya, lagi pula, tunangan yang akan di nikahi Pak Johan masih merupakan kerabat dekat presdir, kamu tunggu kabar dari ku, aku akan mengatur semuanya, selanjutnya kamu hanya perlu mendekati presdir saja cukup untuk menyelesaikan masalahmu." Maya tersenyum penuh kemenangan saat ada notifikasi dari m- banking nya pemberitahuan ada uang masuk dengan jumlah yang lumayan besar.