
"Semua orang bebas bermimpi, jadi,,, silahkan lu bermimpi !" Satria berdiri dan meninggalkan Azta yang mengepalkan tangannya keras menahan amarah di jiwanya.
"Tunggu,! Kali ini aku masih berbicara baik baik padamu, aku minta lepaskan Melody." tegas Azta dengan sorot mata penuh kemarahan.
"Kalau gue gak mau?" Tanya Satria menajamkan tatapannya seolah menantang lawan bicaranya.
"Aku bisa menghancurkan mu sekali gus menghancurkan nama baik orang tua Melody di Bandung dengan menyebarkan skandal perselingkuhan kalian." Azta seperti orang yang sudah kehilangan akal sehatnya, dia akan melakukan apapun untuk membawa kembali Melody ke pelukannya.
"Apa ini sebuah ancaman?" Sinis Satria, masih berdiri di depan meja Azta, ingin rasanya dia melemparkan meja itu ke wajah laki laki memuakan di hadapannya itu, karena telah berani mengancamnya dan Melody, untungnya Satria masih bisa mengendalikan emosinya, dia tak ingin mempermalukan dirinya sendiri dengan membuat keributan di coffe shop itu.
"Ini bukan ancaman, tapi akan segera terjadi kalau kau masih belum mengembalikan Melody pada ku." Ancam Azta.
"Maka lakukanlah ! Ancaman remeh lu gak mempan buat gue." Satria tak ingin lebih lama berada di dekat Azta, dia segera membalikakn badannya lalu pergi dengan hati yang dongkol setengah mati.
"Johan, aku pasti akan menghancurkan mu!" Teriak Azta, menarik perhatian beberapa orang pengunjung di sana, karena merasa terganggu dengan teriakan Azta.
"Gue tunggu ! Gue gak sabar pengen tau, gue atau lo yang akan benar benar hancur." Balas Satria sambil tetap melanjutkan langkahnya tanpa menoleh sedikitpun.
"shiiittt ! lihat saja aku akan menemui Satria, bos mu di EmHa grup dan membongkar kelakuan busukmu pada istrimu yang ternyata masih sepupu bos mu, karir mu akan tamat Johan " Gumam Azta mengeraskan rahangnya, berbagai makian untuk Satria yang dia kira bernama Johan meluncur bebas dari mulutnya.pp
***
Satria kembali ke penthouse setelah bertemu Azta, saat ini dia sangat merindukan kekasih hati rahasianya itu.
"Kenapa bete gitu mukanya ?" Tanya Melody saat melihat Satria yang pulang dengan wajah di tekuk.
"Mantan pacar mu yang gila itu, rasanya ingin ku sobek saja mulutnya, berani beraninya dia mengancam ku." Satria menumpahkan kekesalannya, dari tadi dia menahan rasa marah yang memenuhi dadanya itu, karena tak ingin mempermalukan dirinya dengan membuat keributan di tempat umum dengan Azta.
"Berantem?" tanya Melody lagi, sambil berjinjit memeriksa wajah Satria mencari jejak pukulan, atau lebam dan sejenisnya di sana.
"Emang boleh, aku berantem sama dia, Mbul?" ujar Satria masih dengan wajah kesalnya.
"Boleh lah, namanya juga cowok, berantem mah wajar, apalagi sama manusia semacam Azta itu, kalau tadi yang kesana itu aku, mungkin sudah ku sisram mukanya dengan kopi panas." Melody melingkarkan kedua tangannya di pinggang Satria, dia tau saat ini laki laki yang mulai di cintainya itu pasti sedang terbakar emosi karena bertemu Azta, Melody cukup mengenal sifat Azta yang selama enam tahun bersamanya, dia tidak akan mudah menyerah untuk mewujudkan keinginannya, dia akan melakukan cara apapun untuk mendapatkan itu semua.
"Kok, di siram kopi panas?" Satria membalas pelukan Melody, dan sungguh ajaib, pelukan wanita itu bisa meredam emosinya dan membuat hatinya tenang kembali.
__ADS_1
"Salahnya dia berani ngancam kamu. Tapi emang dia ngancem apaan Bang?" Melody mendongakkan wajahnya penasaran.
"Urusan cowok, kamu tenang aja biar aku yang menghadapi dia, tugasmu hanya tetap di samping ku, itu udah cukup." Satria menundukkan wajahnya mengecup gemas pipi Melody yang masih berada dalam pelukannya.
"Ish, mulai deh kumat penyakit gombalnya !" cebik Melody melepaskan pelukannya.
"Mbul, masih pengen di peluk kamu." Rengek Satria pada Melody, dia tak terima karena wanita itu melepaskan pelukannya.
"Bukannya waktu istirahat siang sudah habis? memangnya Bang Bos gak balik ke kantor lagi?" Telisik Melody.
"Udah gak mood, gara gara ketemu Kakak Azta mu itu." Ketus Satria.
"Idih, yang minta kesana gantiin aku juga Bang Bos sendiri, aku yang di bete in." Melody mengerlingkan matanya jengah.
"Makanya peluk dulu, biar sembuh betenya." Satria merentangkan kedua tangannya ke depan.
"Mbul, aku boleh tau gak cerita kamu sama dia?" Tanya Satria yang hanya mendengar cerita Melodi dan Azta dari Memes, dia ingin mendengar langsung kisah cinta Melody dan Azta dari mulut Melody langsung.
"Gak ada yang seru buat di ceritain." Ucap Melody malas.
"Hmm, aku gak boleh tau, ya? jangan jangan kamu masih cinta dia ?" Ada raut kekecewaan di wajah Satria.
"Kenapa kamu tak menceritakan perselingkuhan dia pada orang tua mu?" Tanya Satria lagi.
"Aku gak tega membebani dan menyakiti hati mereka, saat itu. Dan untuk saat ini, apapun yang aku sampaikan tentang dia, orang tua ku pasti tak akan percaya." Jelas Melody menghela nafas dalam, teringat lagi orang tuanya, dia sungguh merindukan mama dan Papanya, tapi untuk saat ini dia harus bisa menahan semua itu, dia yakin suatu saat nanti orang tuanya, khususnya Malik sang papa akan mengetahui segala kebenarannya.
Satria terdiam, dia mencerna semua yang di katakan Melody padanya.
Pantas saja laki laki itu mengancam menggunakan orang tuanya Melody, itu karena Azta sangat tau kalau kelemahan Melody adalah orang tuanya.
Satria mendekap erat wanita di hadapannya itu yang tiba tiba terlihat murung.
"Kamu kenapa Mbul ? Kok, jadi sedih gini." Satria mengelus lembut rambut panjang Melody.
"Maaf ya, gara gara aku, Bang Bos jadi kebawa bawa dalam masalah aku." Lirih Melody merasa tak enak hati karena telah memberi banyak masalah pada laki laki itu
__ADS_1
"Hey, apa sih Mbul, kamu itu udah jadi bagian hidup aku, semua masalah kamu jadi masalah ku juga, atau kamu masih menganggap aku orang lain?" Satria membawa tubuh mungil itu duduk di sofa.
"Tapi, sepertinya aku hanya menambah masalah saja di hidup Bang Bos, maaf." Ucap Melody tak berani mengangkat wajahnya yang kini tenggelam di dada bidang Satria.
"Kamu benar benar menambah masalah dalam hidupku, Mbul. Aku jadi tak ingin pergi kemana pun saat sudah bertemu dengan mu, bahkan untuk bekerja. Ini akan jadi masalah besar dalam hidup ku, kamu mengalihkan duniaku." Satria mengecupi pucuk kepala Melody.
***
"Pak Hendra, apa anda bisa membantu saya memberi jalan agar saya bisa mengenal Pak Satria, bos besar EmHa grup ?" Tanya Azta di sela sela dirinya sedang berdiskusi masalah proyek Blue Palace dengan Hendra yang telah berhasil memuluskan jalan Azta mendapatkan tender proyek itu, Azta tak peduli dirinya harus mengeluarkan banyak uang untuk membayar Hendra guna mewujudkan keinginannya itu, baginya yang penting dia bisa berhasil menerobos masuk ke dalam jajaran penting orang orang di hotel bintang lima itu.
Namun sialnya, justru bidikannya meleset, karena Johan yang di incarnya kini malah sudah pindah ke perusahaan yang lebih besar lagi, perusahaan raksasa sekelas EmHa grup.
Tapi dirinya tak akan menyerah begitu saja, apapun rintangannya, akan dia hadapi demi mengambil kembali wanita pujaan hatinya.
Dia akan berusaha untuk masuk ke EmHa grup bagaimanapun caranya.
"Pak Satria? Sepertinya agak susah bila menembus Pak Satria, kecuali masalah pekerjaan, itupun biasanya kalau bukan dari kalangan yang di tau, paling hanya bertemu stafnya saja, atau kalau beruntung bisa bertemu asistennya, Pak Johan." Papar Hendra panjang lebar.
"Sedekat apa hubungan Johan dengan Pak Satria ?" Selidik Azta mengorek informasi.
"Mereka sangat dekat, sudah seperti saudara, mungkin karena mereka sudah bersahabat sejak mereka kuliah, di tambah lagi sekarang Pak Johan menikah dengan salah satu sepupu Pak Satria, jadi bertambah dekat tentunya karena otomatis mereka menjadi kerabat dekat sekarang." Jelas Hendra.
"Seberapa berpengaruh nya Johan di EmHa grup ?" Sambung Azta.
"Ya tentu saja sangat berpengaruh, dulu saat masih di Blue Palace, ucapan Pak Johan sudah seperti kata kata Pak Satria, tak ada yang berani membantah, bahkan calon istrinya Pak Satria yang terkenal sombong dan arogant seperti calon suaminya pun tak pernah bisa melawan kekuasaan Pak Johan." Cerita Hendra.
"Lalu siapa yang bisa melawan Johan?" Azta penasaran.
"Ya Pak Satria lah, satu satunya orang yang bisa mengendalikan nya. Tak ada yang bisa melawan sifat arogant Pak Satria, dia di takuti dan di segani semua orang, termasuk Pak Johan." Hendra menjelaskan.
Senyum tipis Azta pun tersungging jelas saat itu.
Dirinya seperti mendapat oase di tengah gurun pasir, dia semakin mantap untuk berusaha mendapat jalan agar dirinya bisa bertemu dan mengenal Satria se segera mungkin, karena sepertinya hanya dia satu satunya harapan untuknya melawan Johan, dia bertekad akan menghancurkan laki laki itu, dengan melaporkan perselingkuhannya dengan Melody, wanita yang masih sangat dia sayangi dan ingin dia rebut kembali.
'Tunggu kehancuran mu yang sebentar lagi akan segera tiba, Johan !' ucap Azta dalam batinnya.
__ADS_1
* Yuk like nya jangan lupa kakak,,,, Terimakasih sudah mampir,
Semoga anda semua selalu di beri kesehatan....*