
" Kalau Bang Bos mau bercerita yang jujur dan tak ada yang di sembunyiin, aku bakal balas perasaan Bang Bos, aku rela, walau hanya jadi sephia mu." ujar Melody benar benar nekat.
Suaranya hampir tercekat di tenggorokan, entah keberaniannya datang dari mana, sehingga dia bisa mengatakan hal senekat itu.
Satria diam, dia seperti menimbang nimbang apakah dia harus bercerita atau tidak, apa dengan menceritakannya tidak akan membuat Melody justru pergi menjauhinya?
sungguh ini benar benar dilema untuk Satria.
" Asal kamu ber janji satu hal." ucap Satria ragu.
" Berjanjilah untuk tetap bersamaku apa pun yang aku ceritakan." ucap Satria takut takut.
Melody meraih tangan Satria, menggenggamnya dan seakan menyalurkan kekuatan untuk Satria bercerita dan percaya padanya.
" Hm, aku janji, apapun itu, aku akan selalu bersama mu." Melody membulatkan tekadnya, mengumpulkan semua keberanian yang dia punya untuk mendengar dan menerima apapun yang Satria ceritakan padanya nanti.
Apa pun itu Melody sudah membulatkan hatinya, dia hanya ingin bersama Satria entah itu hanya sebagai kekasih gelap, atau selingkuhan, dia tak peduli, dan bagaimana pun hasil akhirnya nanti, selama Satria belum terikat tali pernikahan dengan siapa pun, dia siap dengan segala resikonya, kecuali kalau memang Satria sudah memutuskan untuk menikah dengan Emily, dia siap mundur dengan ikhlas kapan pun.
__ADS_1
Satria menarik nafasnya dalam, lalu mulai bercerita,
" Aku bersahabat dengan Emily sejak duduk di bangku SMU, almarhum papinya Emily dulu salah satu karyawan EmHa yang lumayan dekat dengan ayahku, tante Rika maminya juga dekat dengan ibuku, sehingga mereka sering bercanda untuk menjodohkan kami, tapi aku tak pernah punya perasaan apa pun padanya, selain layaknya seorang sahabat saja.
Sampai awal masuk kuliah papinya meninggal, dan biaya kuliah Emily serta biaya hidupnya di tanggung oleh keluargaku, karena ayah dan ibuku sudah menganggap dia anak mereka sendiri, dan tentu saja berharap suatu saat menjadi menantunya, bahkan ibuku membuka salon kecantikan yang sampai sekarang pengelolaannya di serahkan pada tante Rika, karena kedekatan keluarga yang semakin terjalin erat, aku pun semakin mendapat tekanan baik dari ibuku maupun dari tante Rika agar kami mau setidaknya bertunangan dahulu kalau belum siap menikah, namun aku selalu menolaknya dengan berbagai alasan, bahkan aku sengaja menghabiskan waktuku hanya untuk belajar dan bekerja membantu perusahaan ayah, karena memang itu juga sebenarnya tuntutan ayah, aku harus bisa menghendle semua urusan perusahaan.
Saat itu aku tak keberatan, karena dengan begitu aku jadi punya alasan untuk menghindar dari Emily dengan alasan kesibukan dan tak punya punya waktu luang.
Sampai suatu hari, ketika kami kuliah semester akhir, aku menghadiri peresmian salah satu hotel milik ayah, disana juga ada Emily dan maminya, Johan yang biasanya selalu bersama ku, hari itu sedang menemui Ririn yang kuliah di Jogja. Malam itu --" Satria tercekat, dia berhenti bercerita seolah dia berat menggali masa lalu yang sangat membuatnya sakit.
Melody mengusap lembut tangan Satria yang masih bertaut dengan sebelah tangannya, dia melihat kesedihan yang sangat dalam di mata Satria.
keesokan harinya, aku sudah berada di kamar hotel tidur berdua dengan Emily yang tak mengenakan pakaian sehelai benang pun, begitupun aku, saat aku membuka mata, Emily sedang menangis di sebelah ku, aku yang masih kaget dan syok dengan pemandangan pagi itu tak dapat berpikir apa apa, Emily bilang aku sudah merenggut kesuciannya malam itu, bahkan dia memperlihatkan noda darah di kasur tempat kami tidur, dia juga memperlihatkan kissmark yang begitu banyak di dadanya, tapi DEMI TUHAN, aku tak ingat apa pun tentang kejadian malam itu, tak sekelebat bayangan pun ada di kepalaku, aku sebagai laki laki sejati bersedia untuk bertanggung jawab atas perbuatan yang sungguh aku tak ingat, aku berjanji akan menikahinya, Emily meminta kami untuk berpacaran secara resmi sebagai tanda pengikatnya, aku menyetujuinya tapi aku membebaskan dia berhubungan dengan laki laki manapun semaunya dia aku tak akan melarangnya, kalaupun ada laki laki yang tulus mencintai dia dan bersedia menerimanya apa adanya dan mereka saling mencintai aku tak apa, karena dari awal aku sudah bilang pada Emily, aku bisa berjanji untuk menikahinya sebagai bentuk tanggung jawabku, tapi aku tak bisa berjanji bisa mencintai dan menyayangi nya, dan dia tidak boleh menuntut dan memaksaku untuk itu.
Beberapa hari setelah kejadian itu, tante Rika memanggilku, dia menuntut untuk aku segera menikahi anaknya, kalau tidak dia akan melaporkan semua ini kepada pihak yang berwajib atas kasus pemerkosaan, yang tentu saja itu akan menjadi skandal dan mencoreng nama besar keluargaku, aku meyakinkan tante Rika bahwa aku pasti akan memenuhi janjiku.
Aku benar benar merasa hancur, aku tak tau apakah ini benar terjadi, atau hanya jebakan, beberapa tahun ini aku sengaja mengulur waktu untuk menikahi Emily, karena aku dan Johan sedang mengumpulkan dan mencari bukti tentang kejadian malam itu. Inilah aku, dengan segala kekurangan dan kebodohan, dan ketidak berdayaanku, aku yang selalu mengalah untuk ketidak adilan,
__ADS_1
aku yang selalu tak berdaya saat di tekan oleh papaku untuk selalu bekerja bekerja dan bekerja tanpa ampun.
Tapi aku tak akan mengalah, tak akan berhenti berjuang, tak akan pernah lemah, untuk mempertahan kan dan memperjuangkan cintaku padamu." Satria menceritakan kisahnya bersama Emily panjang lebar.
Melody yang terkesima dengan semua cerita Satria merasa lega, karena akhirnya telah mengetahui semua cerita cinta Satria, bagianya setelah mendengar cerita itu perasaannya pada Satria justru semakin tumbuh dan sangat ingin menjadi bagian dari hidup Satria yang begitu berat, dia ingin ikut meringankan beban di pundak laki laki itu, setidaknya menjadi tempat ternyaman saat Satria ingin bercerita.
Entah kenapa Melody merasa yakin kalau saat itu Satria tidak bersalah.
Melody memandang intens Satria yang sangat tampan malam itu di bawah ribuan bintang dan pantulan sinar bulan, entah keberanian itu dari mana datangnya, tiba tiba saja bibir penuh Satria yang mempesona itu seakan mengandung magnet bagi Melody, dia mendekatkan wajahnya ke wajah Satria dan mulai mempertemukan bibirnya dan bibir Satria, ciuman yang begitu dalam, dan ternyata mendapatkan sambutan yang baik dari Satria, sebelah tangan Melody kini bergerilya ke pipi Satria lalu turun meraba dada bidang Satria, sedangkan tangan Satria kini berada di tengkuk Melody dan sebelah tangannya lagi melingkar di pinggang sampai perut Melody.
Tangan Melody semakin tak karuan meraba dada bidang itu, masuk ke celah kancing kemeja yang terbuka sebatas dada,
tanpa di sadari tangan Melody kini menyentuh kulit dada yang berdetak begitu cepat itu, untuk beberapa saat Melody masih menikmati sensasinya, tapi beberapa detik kemudian dia segera melepaskan pagguttannya, dia beringsut agak menjauh dari tempat duduk Satria,
Suasana canggung dan kikuk kini menghampiri dirinya tak dapat di hindari, entah setan mana yang merasukinya hingga dia bisa melakukan hal se berani itu, padahal dia tak pernah bersikap seperti itu sebelumnya,
saat berpacaran bersama Azta dulu paling hanya sebatas ciuman biasa saja, tak sepanas barusan, apalagi barusan dia yang memulainya.
__ADS_1
Oh, sungguh wajahnya sekarang sangat merah merona kerena malu atas apa yang di lakukannya barusan.