
"Mbul ku !" Panggil Satria saat baru saja memasuki penthouse nya sore itu mood Satria sepertinya sedang bagus bagusnya, terlihat dari wajahnya yang ceria dengan senyum yang tak lepas dari bibir nya.
"Ada apa Bang Bos, bahagia amat kayak nya, baru dapet proyek besar kah?" Melody keluar dari dapur menyambut Satria yang memang tadi sudah mengabari nya kalau pulang kantor akan ke penthouse dan dia minta di siapkan makanan yang di masak Melody.
"Proyek besar plus bonus besar juga pokoknya, Mbul." Satria memeluk lalu mengecup bibir Melody sekilas.
"Hmm, syukurlah. Aku ikut senang mendengarnya." Melody tersenyum tulus, dia sungguh ikut berbahagia bila kekasih gelapnya itu bahagia.
Entah apa yang terjadi seharian ini pada Satria, dia terlihat begitu ceria dan bahagia sore ini.
"Nonton yuk Mbul," Ajak Satria tiba tiba.
"Gak ah, ngeri ntar tau tau ada yang liat kita, aku gak mau Bang Bos dapet masalah lagi gara gara aku." Tolak Melody.
Sebenarnya, di dalam hati kecilnya, dia juga ingin berpacaran seperti pasangan kekasih normal lainnya, tapi dia cukup tau diri kalau dia hanya pacar rahasia buat Satria, yang tentu saja keberadaannya harus di sembunyikan dan tak boleh sampai ada orang lain yang tau, resiko punya kekasih yang sudah mempunyai calon istri.
"Mau sampai kapan kita sembunyi dari dunia luar,? kita saling mencintai," Satria menatap dalam wajah melody yang duduk menyandar di bahunya.
"Tapi, kalau sampai Mba Emily atau keluarga Bang Bos sampai tau, pasti akan jadi masalah dan menyulitkan Bang Bos nantinya." Lirih Melody.
"Aku gak peduli, aku mau mulai saat ini dunia harus tau kalau kita sepasang kekasih yang saling menyayangi." Tegas Satria sambil mengusap lembut kepala Melody yang selalu nyaman bila bersandar di bahu tegap itu.
"Bang Bos, aku belum siap di hujat dan di benci orang, karena aku menjadi orang ke tiga di antara kalian." Melody menundukkan wajahnya sedih, dia merasa sangat bersalah masuk di antara hubungan Satria dan Emily, tapi dia tak menyesal atas keputusan yang di ambilnya, baginya menjalin hubungan dengan Satria adalah hal terindah dalam hidupnya.
"Aku akan ada di sisimu, memasang badan untuk mu, tak ada yang boleh menghujat, menghina bahkan menyakitimu, karena aku akan membalasnya berjuta kali lipat lebih sakit padanya." Satria memeluk tubuh mungil itu erat.
"Ayo ganti baju mu kita pergi menonton." Titah Satria.
Melodi pun terpaksa mengikuti perintah pacar gelapnya yang otoriter itu, dia sudah pasrah apapun nanti yang akan terjadi ya terjadilah, bahkan resiko terbesar dia harus di benci banyak orang dan berpisah dari Satria sekalipun bila sampai hubungan mereka di ketahui banyak orang dan menjadi masalah nantinya.
***
"Bang Bos, di sini banyak sekali orang, aku gak nyaman, kenapa tadi tak langsung naik ke bioskop saja sih." Bisik Melody saat mereka berjalan di sebuah Mall besar menuju bioskop yang ada di Mall tersebut, bukannya langsung naik ke lantai tempat dimana bioskop itu berada, tapi Satria malah sengaja mengajak Melody turun lift di beberapa lantai sebelumnya agar bisa berjalan jalan dulu dan naik menggunakan eskalator.
Entah apa yang di rencanakan Satria, sepertinya dia sengaja ingin orang orang melihat kebersamaannya dengan wanita mungil nan cantik itu. Dia juga tak melepaskan genggaman tangannya pada tangan Melody sepanjang jalan, meski Melody berusaha keras melepaskan genggaman tangan itu.
__ADS_1
"Bang Bos, sepertinya orang orang banyak yang memperhatikan kita." Melody mulai paranoid merasa semua orang disana melihat ke arahnya.
"Diam lah, atau aku akan mencium kamu di sini sekarang juga." Ancam Satria, yang tentu saja membuat Melody semakin panik, takut kalau kalau Satria benar benar menciumnya di tempat umum itu.
Tapi tiba tiba saja dari ujung matanya dia melihat sosok Emily yang baru saja akan keluar dari toko pakaian ternama dengan membawa beberapa paper bag di tangannya, letak toko itu tak jauh dari tempatnya bersama Satria berdiri sekarang.
Secara spontan dan terburu buru Melody melepaskan tangannya dari genggaman Satria, dan melangkahkan kaki nya memberi jarak agak menjauh dari sisi Satria saat melihat Emily yang baru saja justru malah mendekat ke arah mereka berada.
"Satria, apa kamu mencariku, untuk memberikan titipan ibu untukku?" Tanya Emily mendekati Satria yang terlihat santai, Diana ibunya Satria memang tadi pagi menyuruh Satria mengantarkan tas untuk calon menantu kesayangannya sebagai oleh oleh, karena dirinya baru pulang dari luar negeri.
"Dan kamu ?! kenapa kamu bersama calon suamiku ? jangan bilang kau menggodanya karena Johan sedang cuti dan tak ada di sini." Tatapan Emily sungguh tajam mengarah ke Melody.
"Emi, jaga ucapan mu, dia..." Belum selesai Satria mengucapkan kalimatnya, Melody sudah memotong ucapan Satria segera.
"Maaf Nona Emily, tadi saya kebetulan bertemu dengan Pak Satria dan saya hanya menyapanya," Ucap Melody berusaha menutupi kegugupannya.
"Pak Bos, saya duluan, maaf mengganggu." Melody berjalan tergesa gesa meninggalkan Satria yang bengong tak menyangka Melody malah menyangkal bila pergi dengannya, sedangkan Emily hanya menatap Melody dengan pandangan sinis.
"Ah, shiiiittt ! Melody tunggu!" Satria mencoba mengejar Melody yang hilang dengan cepat dari pandangannya, tapi Emily menarik tangannya dengan paksa.
"Melody !" Seorang laki laki berkulit putih dan berperawakan tidak terlalu tinggi itu memanggil Melody yang sedang berjalan sendirian di Mall.
"Chef Putra, aku pikir siapa." Melody tersenyum saat Chef Putra ada di hadapannya saat ini.
"Panggil Putra saja, kita tidak sedang di dapur saat ini, haha" Ucap chef yang memang ramah itu.
"Ish, gak enak lah sama senior panggil nama," Elak Melody.
"Ya sudah terserah kamu saja, yang penting jangan panggil chef kalau tidak sedang bekerja, Oh iya, apa kamu sendirian?" Tanya Putra.
"Ah, tadi saya janjian sama teman, tapi sepertinya dia tak jadi datang." Jawab Melody berbohong.
"Apa kamu sudah makan? Bagaimana kalau kita makan malam bersama, kebetulan aku juga janjian dengan seorang teman, tapi sepertinya kita senasib, dia gak jadi datang." Ajak Putra, setelah beberapa menit sebelumnya dia seperti sibuk mengetik sesuatu di ponsel yang berada di genggamannya.
"Baik, aku mau asal chef, eh kak Putra yang traktir ya." Canda Melody, dia juga merasa lapar, dan harus sedikit menenangkan dirinya dari kejadian yang membuat jantungnya seakan loncat dari tempatnya tadi.
__ADS_1
Sungguh malam ini di penuhi serba kebetulan, ketika Melody dan Putra masuk ke sebuah restoran, pemandangan pertama yang Melody lihat saat itu adalah Satria yang sedang makan malam berdua bersama Emily, ingin rasanya dia keluar saja dan tak jadi masuk ke restoran itu, tapi naasnya Putra malah membawanya duduk di meja yang justru sangat berdekatan dengan meja dimana Satria dan Emily berada.
Pandangan tajam Satria seakan menembus jantung Melody, tatapannya seolah menggambarkan betapa murka nya laki laki itu.
Melody bahkan tak berani membalas tatapan matanya, dia hanya duduk dan tertunduk.
"Selamat malam, Bos, Nona Emily, senang bertemu anda berdua." Sapa Putra yang memang selalu ramah pada setiap orang, apalagi itu bos dan calon istrinya, sudah pasti dia akan menyapanya.
Satria hanya sedikit menarik sudut bibirnya miring, seraya tatapannya tak lepas dari wanita yang kini duduk berhadapan dengan Putra.
"Begitu banyak restoran di Jakarta ini, kenapa mesti bertemu dengan wanita penggoda ini. Cih, merusak selera makan ku saja !" Cibir Emily.
"Emi, kendalikan dirimu, jangan membuat ku malu di tempat umum seperti ini karena sikap kampungan mu !" Gertak Satria.
"Tapi aku tak mau berada di satu ruangan dengan wanita sial itu, ayo kita pergi saja." Rengek Emily berdiri dari tempat duduknya.
"Aku belum selesai makan, kamu diam dan duduk kembali." Titah Satria dengan wajah yang sudah terlihat seperti terbakar amarah.
"Tapi, aku..." Emily tak kuasa melawan lagi saat tatapan elang Satria seperti akan membunuhnya saat itu juga, dengan terpaksa dia memutuskan untuk kembali ke tempat duduknya semula.
"Baik, kalau begitu biar kami saja yang pergi dari tempat ini, maaf sudah membuat anda tidak nyaman dan merasa terganggu dengan kehadiran saya." Melody berdiri dan tersenyum ke arah meja tempat Satria dan Emily, dia harus segera pergi dari sana dan mengalah, sebelum Emily membuat kekacauan lebih parah lagi di restoran itu karena kehadiran dirinya.
"Tapi Melody, ini tempat umum, siapa saja boleh makan dan datang ke tempat ini," Putra merasa tak setuju dengan keputusan Melody untuk meninggalkan tempat itu.
Dia juga merasa tak habis pikir mengapa calon istri bosnya itu seperti begitu sangat tidak menyukai Melody yang menurutnya wanita yang baik, kalem, dan tak pernah neko neko meski ada selentingan gosip yang beredar di hotel bahwa dia adalah selingkuhan Johan, orang kepercayaannya Satria.
Lantas kalau memang benar Melody ada affair dengan Johan, apa hubungannya dengan Emily sampai dia begitu terlihat sangat membenci Melody, bukankan affairnya dengan Johan, bukan dengan Satria, ini terlalu aneh, pikir Putra.
"Sudahlah, benar apa yang di katakan Nona Emily tadi, begitu banyak tempat makan di Jakarta ini, jadi ayo kita pundah ke tempat lain saja." Melody masih berdiri menunggu Putra yang seperti enggan meninggalkan tempat duduknya.
"Kak Putra, ayo !" Ajak Melody lagi, ajakannya akhirnya mengalahkan Putra yang langsung berdiri dan bersedia meninggalkan tempat itu meski dengan berat hati dn perasaan yang sangat kesal.
"APA, KAK PUTRA !?!" Pekik Satria dan Emily bersamaan saat mendengar Melody memanggil chef Putra dengan panggilan 'Kak Putra' seakan tak percaya dengan pendengaran mereka sendiri.
* ayo di like lagi,,, kakak kakak yang baik hati dan tidak sombong...
__ADS_1
Othor do'a kan kakak kakak semuaanya semoga sehat selalu....*