BUKAN CINTA SEGITIGA

BUKAN CINTA SEGITIGA
Batal Nikah


__ADS_3

"Kak, semua sudah siap." Bisik Bima pada Satria.


Satria menjawab adiknya dengan senyuman dan sedikit anggukan tanda mengerti.


Emily melirik ke arah kakak beradik yang seperti sedang merencanakan sesuatu itu, tapi dia tidak tau apa yang mereka rencanakan, lebih tepatnya dia juga tak ingin tahu rencana mereka, yang penting saat ini dia bisa menikah dengan Satria, memberi pelajaran pada Satria dan Melody bahwa dia bukan wanita yang bisa seenaknya di tindas, selain itu dengan menikahi Presdir EmHa grup itu, dia bisa menyenangkan Rika maminya, juga dirinya sendiri tentunya, dia bisa ber foya foya dengan uang milik keluarga EmHa itu.


Untuk masalah Putra, dia yakin kalau laki laki yang di cintainya itu pasti akan tetap menerima dirinya meski statusnya sudah menjadi seorang istri orang lain. Putra sangat mencintainya, begitupun dia, makanya dia memberikan kesuciannya pada Putra dulu saat masih kuliah, suatu hari nanti kalau uang yang dia dapatkan dari keluarga Satria sebagai istrinya sudah terkumpul banyak, dia akan pergi meninggalkaan Satria, dan pergi bersama Putra ke luar negeri untuk menjalani hidup berdua saja.


Begitu cita cita dan rencana Emily selama ini.


Acara akan segera di mulai, penghulu sudah siap menikahkan Satria dan Emily.


Di pojok ruangan, Melody diam diam hadir di sana berbaur dengan para tamu undangan, yang tak seorang pun menyadari kehadirannya, hanya Memes yang berdiri di sampingnya melaksanakan tugas dari Johan sang kakak untuk tetap menjaga dan di dekat Melody dimanapun dan kemanapun Melody pergi.


Melody menatap nanar Satria yang duduk tegap bersanding dengan Emily di depan sana.


Ternyata ucapanya yang pernah berkata kalau dia akan ikhlas melepaskan Satria kapanpun bila laki laki itu memilih untuk menikah dengan Emily yang memang calon istrinya itu, di sangkal dan di hianati oleh hatinya sendiri.


Jujur, hatinya sangat sedih dan nyeri saat melihat kedua calon mempelai itu, ingin rasanya berteriak memanggil nama Satria, lalu membawanya pergi dari tempat itu.


"Kenapa rasanya lebih sakit dari saat aku melihat Azta berhianat di malam pertunangan itu ?" Gumam Melody dwngan air mata yang tak mau berhenti menetes, tapi dia juga tak bisa mengalihkan pandangannya dari laki laki yang di cintainya itu.


Melody ingin menatap Satria untuk yang terakhir kalinya sebelum dia benar benar kehilngan laki laki itu karena dia akan segera sah, menjadi suami orang.


Saat acara ijab kabul akan di mulai, Emir menghentikannya, dia meminta waktu untuk berbicara di acara pernikahan putranya itu.


"Hey, kau wanita yang sedang nangis di pojokan ! Kemari !" Emir menunjuk Melody yang kaget dan langsung tertunduk karena semua mata kini tertuju padanya.


Mata Satria ikut mengarah ke seorang wanita yang menjadi pusat perhatian semua orang.


"Melody, !" Gumamnya lalu bangkit dari tempatnya duduk.


"Wanita tak tau diri, berani nya datang kesini." Emily mengepalkan tangannya, dia mencoba menahan Satria yang ingin meninggalkannya dan menghampiri Melody.


"Satria, kau diam di tempat !" Gertak Emir saat Satria hampir menggapai tangan Melody.


"Ayah ! Aku mencintai Melody, aku mencintainya," Teriak Satria, tak peduli ratusan mata menontonnya, dan berbisik bisik membicarakannya.

__ADS_1


"Maka, perjuangkan cintamu !" Ucap Emir yang mengundang amarah Rika juga Emily karena merasa di permainkan dan di permalukan oleh keluarga calon besannya itu di hadapan orang banyak.


"Apa maksud anda, Tuan Emir ?" Rika berdiri dari duduknya di susul Emily yang juga menatap tajam ke arah Emir.


"Anaku ternyata tidak mencintai anakmu, aku baru tau kebenarannya tadi pagi." Santai Emir.


"Baik jika itu pilihan anda, tuan. Disini banyak rekan bisnis dan kerabat anda, jangan salahkan saya jika mengungkap kebenaran disini, sekarang juga." Rika mengeluarkan beberapa lembar foto yang sudah di persiapkan di dalam tasnya, foto foto itu memang sengaja dia bawa hari ini untuk berjaga jaga bila Satria kabur atau menolak menikahi putrinya, tapi ternyata malah Emir yang justru menolak Emily menjadi menantunya.


Rika menyebar foto Emily dan Satria yang tak berpakaian di atas kasur dengan pose yang yang seolah olah mereka sedang bermesraan kepada pada wartawan dan tamu yang hadir disana.


Seketika ruangan menjadi sangat riuh dengan berbagai komentar dan spekulasi tentang foto foto tersebut.


"Dia, Satria Kaisar Hamzah telah merenggut kesucian anak saya Emily, dan dia juga keluarganya tak mau bertanggung jawab atas itu semua. Saya sebagai ibunya Emily meminta keadilan disini." Teriak Rika, di hadapan para tamu yang hadir, mencari simpati dari mereka.


Tapi Emir seakan santai saja, tak peduli dengan apa yang di ucapkan Rika.


Emir lantas memanggil Johan dan beberapa bodyguarnya untuk membawa beberapa orang pria tang berperawakan seperti bodyguardnya, tapi wajah mereka sudah babak belur.


"Kalian akui kejahatan apa yang sudah kalian lakukan pada anakku dan atas perintah siapa kalian bekerja?" Bentak Emir.


"Maafkan kami tuan, kami hanya bertugas membawa tubuh tuan Satria yang sudah tidak sadar karena obat tidur ke kamar atas perintah ibu Rika." Ujar salah satu dari mereka.


"Te- tentu saja, dia yang sudah mengambil kesucian ku, aku belum pernah melakukannya dengan siapapun selain dia." Jawab Emily terbata bata.


Johan yang merasa geram mendekati Emily dan memperlihatkan vidio dari ponsel nya.


Emily tercekat dia berkaca kaca saat melihat gambar Putra yang sedang di sekap di sebuah tempat dengan tangan dan kakinya yang di ikat.


"Kenapa? Apa kau mengenal pria ini, Nona ?" Tanya Johan menatap tajam wajah Emily.


"Bajing_an ! Lepaskan dia, akan ku bunuh kalian semua bila sampai dia terluka." Geram Emily, dirinya sungguh gusar menghawatirkan Putra, lelaki yang di cintainya.


"Biarkan saja laki laki gembel itu mati, Cih, tak berguna !" Decih Rika saat mengintip gambar yang ada di ponsel Johan.


"Mamih, gembel itu satu satunya alasan ku bertahan hidup, setelah papih pergi, kalau tak ada dia aku pasti sudah mati bunuh diri karena selalu di paksa untuk mengemis cinta pada anak keluarga kaya ini." Pekik Emily, dengan suara tertahan.


"Aku akan melepaskannya bila anda berkata jujur Nona Emily." Johan memberi tekanan.

__ADS_1


Emily tak bisa berpikir saat ini, semua pilihannya, dirasa tak ada satupun yang akan menguntungkan bagi dirinya, kalau dia memilih Satria, Putra terancam, tapi kalau dia memilih menyelamatkan Putra tidak menjamin dirinya akan selamat atau baik baik saja juga.


"Baik, aku akan mengaku, aku akan mengatakan yang sejujurnya," Emily akhirnya berbicara setelah beberapa saat terdiam dan berpikir.


"Emily, hentikan !" Bentak Rika menarik lengan anaknya.


"Cukup Mih, aku lelah,, saatnya aku menentukan kebahagiaanku sendiri, apapun resikonya aku akan hadapi dan jalani." Bantah Emily, menepis tangan Rika.


"Satria tak pernah melakukan apapun padaku, malam itu hanya jebakan agar Satria mau menikah dengan ku, semua ku lakukan demi uang, aku tak pernah mencintainya, puas kalian ? sekarang tolong lepaskan Putra, aku mohon," Emily! mengatupkan kedua tangannya di dada, dia tak ingin terjadi apa apa dengan pria yang di cintainya itu.


"Emily, " Putra menghampiri Emily yang sedang memohon merendahkan diri untuknya, Sungguh Putra tak tega melihatnya, dia yang sejak tadi ada di sana menyaksikan semuanya kini memeluk wanita yang di kasihinya itu.


Prokkk,,,, Prokkk,,, Prokkk


Tepuk Tangan dari Emir memecahkan kesunyian sesaat di ruangan itu,


"Uuuh... Drama percintaan yang sempurna, aku bukan orang pemaaf, terlebih setelah kalian membuat aku menghajar anak ku sendiri semalam, sepertinya aku ingin membuat kalian terutama kau,! membayar mahal atas kejadian ini." Tunjuk Emir pada Rika yang wajahnya mulai pucat ketakutan.


"Maaf kan saya tuan!" Lirih Rika tertunduk menahan takut dan malu.


"Kalian ku biayayai seluruh kebutuhan hidup kalian, dasar serakah, masih saja menginginkan lebih, mylai saat ini aku tak akan memberikan sepeser uang pun pada mu, dan salon kecantikan akan di ambil alih kembali oleh istriku, untuk di berikan pada Ririn, Keponakan ku," Tegas Emir.


"Tapi tuan !?" Protes Rika.


"Bukan kah itu lebih ringan di banding aku melaporkan kejahatan mu ke polisi ? Atau kau mau mendekam di penjara ?" Rika pun menciut tak berani membantah lagi.


"Dan kau, jangan pernah lagi menampakan diri di semua perusahaan yang berhubungan dengan EmHa grup, dan kalau kau coba mengusik kehidupan anak ku, kupastikan tak ada satu perusahaan pun yang mau menerima kalian bekerja, dan hidup kalian akan ku hancurkan dwngan tangan ku sendiri." Emir berpindah menunjuk Emily yang berada dalam pelukan Putra.


Pesta di bubarkan dan pernikahan di batalkan, Rika pulang dengan membawa kekalahan dan rasa malu, Emily memilih pergi bersama Putra, dia merasa lega karena seakan tellah melepaskan beban berat di pundaknya, kini dia tak perlu lagi menduakan cinta Putra, tak perlu lagi membohongi dan merendahkan dirinya sendiri dengan mengejar cinta Satria yang tak pernah ada untuknya.


Kalau ternyata keputusannya ini membuat Rika membencinya, dia siap menerimanya, dan kalau keputusannya ini akan membuat hidupnya tak lagi bergelimang harta karena Satria dan keluarganya sudah tak memberikan nya materi lagi, dia akan siap menjalani hidup sederhana asalkan bersama Putra.


"Hey kalian berdua, dari tadi ku lihat kalian hanya berpelukan seperti di lem saja tubuh kalian itu." Ketus Emir menatap tajam Satria dan Melody yang sedari tadi hanya diam menonton pertunjukan drama pertengkaran di acara pernikahannya yang batal di laksanakan.


"Ayah, aku tak peduli meski ayah dan ibu tak setuju, aku tetap akan memilih Melody sebagai calon istri ku, walau aku harus kehilangan semuanya." Tegas Satria menggenggam tangan Melody.


"Kau ! Kau tetap akan memilihnya walau harus meninggalkan perusahaan dan segala fasilitas tang aku berikan padamu ?" Emir membelalakan matanya murka.

__ADS_1


"Iya, ayah. Aku siap meninggalkan perusahaan dan semuanya, aku hanya butuh dia." Satria melirik dan tersenyum tipis ke arah Melody yang sejak tadi tertunduk ketakutan dengan Emir.


__ADS_2