
"Pak, pemenang tender proyek pengadaan barang sudah menunggu di resto hotel, bersama Pak Hendra." Ucap salah satu staf Hendra memberi laporan kepada Bima yang masih asik bermain main dengan tepung, telur dan bahan bahan lainnya di pantry dessert yang merupakan tempat favoritnya.
Meskipun sekarang Bima menjabat sebagai presdir Blue Palace, tapi dia tetap menyalurkan hobinya membuat berbagai macam makanan yang rata rata bercita rasa manis itu, meskipun tak bisa sesering seperti dulu, tapi dia selalu menyempatkan datang ke ruangan itu di sela sela kesibukannya, bagaimana pun memasak dan bermusik tak bisa dia lepaskan begitu saja dari keseharian hidupnya.
"Ya, sepuluh menit lagi aku sampai disana." Jawab Bima, masih tak mengalihkan perhatiannya pada adonan di tangannya.
"Baik, pak. Akan saya sampaikan pada Pak Hendra." Pamit laki laki suruhan Hendra itu berjalan keluar dari ruang pantry bagian dessert yang terlihat sungguh mencolok perbedaannya dengan ruangan pantry yang lain.
Di ruang dessert lebih seperti sebuah ruang dapur mewah yang di lengkapi alat alat memasak roti dan kue yang lengkap dan serba canggih, karena ruangan itu Bima sendiri yang mendisain dan mengisi barang barangnya agar semua sesuai dengan keinginannya.
Sepuluh menit kemudian,
"Maaf, anda harus menunggu lama, saya masih harus menyelesaikan pekerjaan terlebih dahulu." Bima berbasa basi sambil menyalami pemenang tender yang akan mengerjakan proyek penggantian beberapa furniture di hotelnya.
"Tidak apa apa, saya tersanjung anda sebagai presdir menyempatkan diri untuk bertemu dengan saya," Ucap laki laki yang duduk bersebelahan dengan Hendra itu.
"Ah, bukan masalah, kebetulan saya agak perfeksionis, jadi kita memang harus bertemu, semoga anda tpidak akan mendapat banyak kesulitan dengan permintaan saya nanti, Pak...?" Bima mengernyitkan dahinya.
"Azta Permana, panggil saja Azta, Pak." Azta memperkenalkan diri.
"Oh, iya Pak Azta, saya Bima." Bima tersenyum penuh misteri.
"Pak Bima? Bukannya kalau tidak salah presdir Blue Palace itu Pak Satria?" Tanya Azta mengingat ingat obrolannya beberapa waktu yang lalu dengan Maya sepupunya, dan seingatnya presdir hotel ini bernama Satria, dan hanya dia yang bisa membantunya menghadapi Johan agar mau mengembalikan Melody padanya.
"Oh, Satria kakak saya sekarang di EmHa grup, kebetulan saya yang menggantikannya disini. Anda kenal dengan kakak saya?" Tanya Bima sedikit tergelitik untuk bertanya.
"Ah, tidak. Saya hanya pernah beberapa kali bertemu asistennya, Johan. Apa beliau sekarang ikut Kakak anda ke EmHa grup, atau masih disini?" Azta mencoba mengorek keterangan tentang Johan dengan hati hati.
"Oh, Mas Johan ikut di EmHa, tapi kebetulan sekarang masih dalam masa cuti, karena kemarin baru saja melangsungkan pernikahan. Anda kenal dekat dengan Mas Johan?" Pancing Bima.
"Tidak juga, hanya saja pernah sedikit ada kesalah pahaman, syukurlah kalau ternyata beliau sudah menikah sekarang." Azta merasa lega, karena sepertinya Johan tak akan menjadi penghalang lagi bagi hubungannya dengan Melody, karena statusnya kini yang sudah beristri, Azta yakin Melody tak mungkin mengambil resiko untuk tetap berhubungan dengan Johan yang ber status suami orang itu, karena Melody selalu berusaha menjaga nama baik orang tuanya, jika dirinya masih nekat berhubungan dengan Johan, terpaksa Azta akan mengancam Melody dengan menjadikan itu berita besar di Bandung, dan pasti akan berimbas pada nama baik keluarga Malik papanya Melody yang merupakan salah satu pejabat tinggi di Bandung.
"Maaf Bos, ada apa saya di panggil kesi..." Melody yang mendapat perintah dari bu Maya agar segera menemui Bima di restoran hotel terkejut ketika melihat Azta sedang duduk dan mengobrol dengan Azta.
"Ah iya, aku mau meminta tolong padamu, catat apa saja furnitur di pantry yang perlu di ganti dan di tambah, seperti lemari penyimpanan, meja saji, atau apa pun itu, aku serahkan tugas ini padamu." Bima memberikan perintah dan pengarahannya pada Melody.
"Tapi bos, itu kan bukan tugas saya, Bu Maya sepertinya akan lebih bisa di andalkan untuk tugas ini." Tolak Melody, dia meluruskan pandangannya ke arah Bima, tak ingin sedikitpun melirik pada sosok Azta yang sejak tadi memandanginya.
__ADS_1
"Apa aku tak boleh meminta tolong padamu, aku percaya pada pilihan mu." Pinta Bima setengah memaksa.
"Baiklah bos, nanti saya catat dan segera saya laporkan pada bos." Melody mengalah, bagaimana pun juga, Bima adalah bos tertinggi di tempatnya bekerja, dia hanya pegawai biasa yang harus patuh pada perintah atasannya.
"Tidak,, tidak ! Kamu langsung saja laporkan pada dia." Tunjuk Bima pada Azta, yang lalu di sambut dengan senyuman kemenangan pada bibir Azta.
"Perkenalkan, ini Pak Azta yang akan menangani proyek pengadaan furnitur di hotel, dan Pak Azta, perkenalkan ini adalah," Belum sempat Bima menyebutkan nama Melody, Azta sudah memotong kalimatnya.
"Ody ? Oh, maaf Pak Bima kebetulan saya sudah mengenal Melody." Azta masih memandangi Melody yang berdiri di samping kirinya.
"Sudah saling kenal rupanya," Ujar Bima.
"Iya, kebetulan Melody tunangan saya." Ucap Azta dengan tak tau dirinya.
"MANTAN TUNANGAN lebih tepatnya !" Ketus Melody melirik sinis ke arah Azta.
"Baiklah, saya tak ingin ikut campur masalah pribadi, yang penting pekerjaan ini terlaksana dengan baik dan tepat waktu, silahkaan kembali bekerja Melody," Bima sengaja memerintahkan Melody untuk kembali ke pantry karena sepertinya wanita itu sangat tidak nyaman berada di antara mereka.
Pertemuan bisnis antara Bima, dan Azta pun berakhir sesaat setelah Melody meninggalkan mereka kembali ke pantry.
Sungguh Melody tak habis pikir, kenapa Bima memintanya melakukan tugas yang jelas jelas bukan bagiannya, sayangnya dia tidak bisa menolak perintah Bima itu, padahal dia kini tengah di landa kebungungan, karena dia harus bertemu dengan Azta meskipun ini hanya masalah pekerjaan.
"Aah,,,, nyebelin, kenapa harus aku sih," Melody yang sudah rapi seakan malas untuk pergi dari penthouse siang itu.
Dia janjian bertemu dengan Azta untuk menyerahkan catatan yang di tugaskan Bima padanya. Tapi dirinya malah merebahkan diri lagi di sofa, ruang tengah sambil memandang langit cerah Jakarta siang itu lewat jendela kaca besarnya.
Terdengar suara seseorang menekan kode pintu otomatisnya di luar,
Paling juga itu Satria, pikirnya. Karena kalau Johan pasti menekan bel, lagi pula Johan masih cuti.
Satria belum menemuinya lagi semenjak pulang dari menghadiri pesta pernikahan Johan, paling hanya telponan saja, sepertinya Satria sangat sibuk dan kewalahan dengan pekerjaan barunya di EmHa grup, apalagi takk ada Johan yang biasanya dia andalkan untuk membantunya.
"Mau kemana, jam segini udah cantik aja, bukannya kamu masuk shift malam?" Tanya Satria heran, dia langsung menjatuhkan diri berbaring di sofa dengan paha Melody sebagai bantalan kepalanya.
"Bima nyebelin banget," Rengek Melodi menyodorkan catatan yang harus di serahkannya pada Azta.
"Ooh, mau ketemuan si kakak Azta, makanya udah cantik gini." goda Satria yang memang sudah di beri tahu perihal masalah ini oleh Melody tempo hari lewat telepon.
__ADS_1
"Apaan sih, orang males pergi juga." cebik Melody sebal.
"Ya udah kalau males pergi, aku saja yang ngasih ini sama dia, tenang saja semua beres, aku juga gak rela kamu ketemu dia." Satria menyambar catatan yang tergelerak di meja.
"Tapi, nanti dia laporan pada Bima kalau bukan aku yang antar, aku bisa kena omel Bu Maya dan Bima." Melody ragu ragu.
"Akan aku tutup Blue Palace bila mereka berani mengomeli kamu." Tegas Satria bangkit dari sofa dan membawa catatan itu pergi bersamanya.
Di sebuah coffee shop tempat janjian bertemu, Azta sudah duduk gelisah menunggu Melody yang sudah telat satu jam dari perjanjian, namun tak kunjung datang.
Beberapa kali di hubungi juga dia tak menjawab panggilannya.
Tapi tiba tiba matanya tertuju pada sosok laki laki yang baru saja datang ke tempat itu, laki laki yang tak mungkin Azta lupakan wajah tengil nya, laki laki yang sudah memeluk Melody di depan matanya, dan menyatakan diri kalau dia pacarnya Melody.
"Gue mewakili Melody mengantarkan ini pada mu." Ucap Satria melemparkan sebuah catatan ke atas meja di hadapan Azta.
"Cih, pengantin baru,,,! Apa waktu cuti menikah mu hanya di pakai untuk mengurusi tunangan orang lain, bukankah harusnya di pakai untuk berbulan madu dengan istrimu?" Sinis Azta kecewa karena ternyata bukan Melody yang datang menemuinya untuk memberikan catatan itu, tapi malah laki laki yang sangat di bencinya.
"Mantan tunangan, lu harus sadar diri dan terima kenyataan, jangan berhalusinasi seolah olah merasa masih menjadi tunangan pacar gue." Satria menarik kursi di hadapan Azta dan duduk disana meski tak di persilahkan.
"Kau yang harusnya sadar diri, kau sudah punya istri tapi masih saja berselingkuh dengan tunanganku, Melody tunanganku sampai kapanpun dia milik ku, kami sudah enam tahun bersama, kau hanya orang yang baru saja di kenal Melody, tak tau apa apa tentang kami." Azta semakin menunjukan ketidak sukaannya pada pria di hadapannya itu.
"Waktu tak menjamin hubungan seseorang bisa bertahan atau tidak, buat gue, kami saling mencintai dan saling terbuka satu sama lain itu udah cukup untuk mempertahankan hubungan agar bertahan selamanya." Ucap Satria datar.
"Brengsekk,!! kau menjadikan Melody selingkuhan, itu sama saja kau merendahkan dia. Memberikan dia predikat perebut suami orang dan akan membuat dia di cemooh orang orang." Geram Azta kesal.
"Lalu, apa lu merasa sudah membahagiakan Melody ?" Tanya Satria masih tenang tak terpancing emosi.
"Tentu saja, kalau dia tak bahagia, tak mungkin bertahan sampai enam tahun itu fakta nya." Kilah Azta.
"Tak ada wanita manapun yang bahagia bila tepat di malam pertunangannya dia memergoki pasangannya bermesraan dengan wanita lain, faktanya Melody sudah tak sudi bersama lu lagi, sekarang." Satria tersenyum miring.
"Kau tak tau apa apa tentang aku dan Melody, dan akan ku pastikan aku akan mengambil kembali melodi kepelukanku." Ucap Azta penuh keyakinan.
"Semua orang bebas bermimpi, silahkan lu bermimpi." Satria berdiri dan meninggalkan Azta yang mengepalkan tangannya keras menahan amarah di jiwanya.
* like nya jangan lupa kakak.... terimakasih sudah mampir dan semoga kakak kakak bahagia selalu....*
__ADS_1